Home Blog Page 122

SURAT GEMBALA HARI PANGAN SEDUNIA 2014

“Mencintai dan merawat bumi untuk pangan sehat bagi semua”

(Disampaikan sebagai pengganti khotbah, pada

Misa Sabtu/Minggu, 27/28 September 2014)

 
junk-food-vs-healthy-food
 

Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater, Kaum Muda, Remaja dan Anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

1. Setiap tanggal 16 Oktober Gereja Katolik ikut memperingati Hari Pangan Sedunia, sebagai wujud keterlibatan Gereja di tengah keprihatinan dunia sekarang ini. Saya mengajak saudari-saudara sekalian untuk ikut menyambut Hari Pangan Sedunia ini sebagai salah satu wujud iman kita.

2.1. Saat peringatan Hari Pangan Sedunia 2013 , Bapa Suci Fransiskus menyampaikan pesan yang sangat penting. Beliau mengatakan bahwa Hari Pangan Sedunia menghadapkan kita pada salah satu tantangan yang sangat serius bagi kemanusiaan, yaitu kondisi tragis adanya jutaan orang lapar dan menderita gizi buruk, di antaranya banyak anak-anak. Beliau menyebut kelaparan dan gizi buruk sebagai skandal yang mestinya menantang kesadaran pribadi dan kesadaran bersama kita untuk ikut menemukan pemecahan masalah itu secara adil dan menyeluruh, demi kebaikan seluruh umat manusia (bdk Flp 2:1-5). Ternyata sikap individualis justru tumbuh berkembang dan semakin menyebar. Kecenderungan ini mengarahkan orang pada sikap acuh tak acuh terhadap saudari-saudara yang mati atau dalam bahaya mati karena kelaparan gizi buruk. Keadaan seperti ini belum jauh berbeda dengan keadaan bumi pada abad yang lalu. Mengenai keadaan itu Mahatma Gandhi mengatakan, “Bumi menyediakan makanan cukup untuk kebutuhan setiap manusia tetapi bukan untuk keserakahannya.” Oleh karena itu, harus ada perubahan.

2.2. Apa yang dapat kita lakukan? Bapa Suci mengajak kita pertama-tama untuk sungguh-sungguh melepaskan diri dari sikap individualis, dari ketamakan atau keserakahan, dari sikap acuh tak acuh terhadap orang lain, dari sikap diperbudak oleh nafsu mencari untung sendiri. Selanjutnya beliau mengajak kita untuk mendidik diri sendiri dalam sikap belarasa, menemukan kembali nilai dan makna solidaritas dalam hubungan antar manusia. Tujuannya antara lain adalah untuk menghilangkan aneka bentuk kekurangan pangan akibat kemiskinan.

2.3. Pesan-pesan Bapa Suci sungguh pantas kita renungkan karena di sekitar kita masih begitu banyak orang lapar dan menderita gizi buruk. Menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa, kelaparan parah dialami oleh satu dari delapan orang di dunia. FAO memperkirakan 842 juta orang, atau sekitar 12 prosen pendudukan dunia, mengalami kelaparan kronis pada 2011-2013.

3.1. Sementara itu menurut Laporan Akhir tahun 2012 Komisi Nasional Perlindungan Anak, dari 23 juta anak balita di Indonesia, 8 juta jiwa atau 35 persennya mengidap gizi buruk kategori berat, yang menyebabkan tinggi badan lebih rendah dari balita normal; sementara 900 ribu bayi atau sekitar 4,5 persen dari total jumlah bayi di seluruh Indonesia mengalami gizi buruk. Menurut Dirjen FAO Jose Graziano da Silva, Indonesia merupakan satu dari 19 negara yang dinilai berhasil mengurangi jumlah penduduk kekurangan gizi; dari sekitar 20 persen total jumlah penduduk pada tahun 1990-an menjadi 8,6 persen pada tahun 2012. Angka penduduk kelaparan dan kurang gizi ini masih besar dan tentu membuat kita prihatin dan sedih.

3.2. Ketidak-pedulian kita terhadap mereka yang lapar dan menderita gizi buruk tercermin dalam sikap kita terhadap makanan. Ada yang membuang-buang makanan. Ada yang hanya suka makanan enak dan menyenangkan, tanpa memikirkan asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Akibatnya banyak orang sakit dan rawan penyakit berat karena kelebihan makanan yang tidak menyehatkan, sementara yang lain kelaparan.

Saudari-saudara terkasih,

4. Tidak jarang orang mempertanyakan keadilan Tuhan ketika berhadapan dengan keadaan dunia yang buruk dan tidak menyenangkan seperti kelaparan, gizi buruk, bencana alam, atau sakit. Padahal sesungguhnya semua itu adalah akibat tindakan manusia sendiri. Tuhan menyediakan makanan cukup, tetapi manusia tidak mengelolanya dengan baik. Tuhan menyediakan makanan bervariasi yang sehat, manusia memilih yang enak dan menyenangkan saja. Kritik terhadap orang yang mempertanyakan Tuhan dan tindakan-Nya kita dengar dalam sabda Tuhan yang diwartakan hari ini. Nabi Yehezkiel mengkritik orang-orang yang cenderung membenarkan diri dan melemparkan kesalahan pada Tuhan (18:25). Sementara itu Yesus menyatakan bahwa orang yang benar dan selamat adalah mereka yang insaf dan berbalik dari segala kesalahannya (Mat 21:28-32). Yesus menuntut perubahan tingkah laku dari kita semua juga. Yang disoroti adalah orang yang berubah dari “ya” dalam perkataan menjadi “tidak” dalam kelakuan. Dalam hal percaya dan berubah, sikap orang-orang terpandang ternyata lebih buruk daripada orang yang dalam masyarakat dipandang paling jelek dan hina. Orang yang dipandang hina mau membuka diri bagi Kerajaan Allah. Sebaliknya, kaum elit atau cerdik pandai menutup diri terhadap kedatangan pemerintahan Allah dan pelaksanaan kehendak-Nya di dunia ini.

5. Apa yang bisa kita buat? Bapa Suci memberikan pesan yang sangat jelas agar kita melepaskan diri dari sikap acuh tak acuh dan serakah, serta bersikap solider terhadap mereka yang kelaparan dan menderita gizi buruk. Sikap tobat itu bisa dimulai dalam keluarga dengan tindakan nyata. Pertama, sediakanlah pangan yang sehat dan gizi yang seimbang dalam keluarga. Jangan sekedar mencari yang enak dan berlebihan. Patut diingat bahwa sehatnya masyarakat ditentukan oleh kesehatan dalam keluarga. Kedua, kita bisa membantu keluarga lain yang kelaparan dan menderita gizi buruk dengan menyisihkan sebagian pangan sehat keluarga kita untuk mereka yang kelaparan dan menderita gizi buruk dalam bentuk dana solidaritas.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

7. Solidaritas dalam bentuk lain dapat kita wujudkan dengan menjaga lingkungan hidup yang sehat. Lingkungan hidup kita yang kurang sehat dapat membuat makanan kita tercemar. Mari kita dukung solidaritas dalam menjaga lingkungan hidup agar tanah tidak makin rusak; agar air tidak makin kotor; agar udara tidak makin panas dan mengandung racun. Kita teruskan gerakan peduli sampah, mengurangi pemakaian plastik dan styrofoam dan prakarsa-prakarsa kreatif yang lain.

8. Baiklah kita juga memakai kesempatan bulan Rosario, bulan Oktober yang akan datang ini, untuk berdoa bersama dan seperti Maria, Bunda Gereja. Kita mohon agar kita semakin peduli menyediakan pangan sehat dalam keluarga kita sendiri; agar melalui gerakan solidaritas, kita semakin peduli menyediakan makanan bagi mereka yang kelaparan dan menderita gizi buruk.

9. Akhirnya, bersama-sama dengan para imam, diakon dan semua pelayan umat, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/adik-adik kaum muda, remaja dan anak-anak semua yang dengan beraneka cara terlibat dalam karya perutusan Gereja Keuskupan Agung Jakarta. Melalui gerakan Hari Pangan Sedunia kali ini, kita diajak untuk semakin peduli dengan berbagi kehidupan yang sehat dengan sesama umat kita maupun masyarakat yang lebih luas. Sambil menimba kekuatan dari teladan Bunda Maria, kita berharap bahwa gerakan pelayanan pangan sehat tetap berlanjut dan menjadi habitus umat di Keuskupan Agung Jakarta yang kita cintai ini. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga dan komunitas Anda.

+ I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Jakarta

DOWNLOAD SURAT GEMBALA HPS 2014

KAJ download

Info Gembala Baik KAJ Edisi Ke-8/Thn3/2014

 Info Gembala Baik KAJ Edisi Ke-8/Thn3/2014

View at Google


 
 

Kebaktian Kepada Hati Yesus Yang Mahakudus

Artikel Renungan Uskup Agung Jakarta, Mgr. I Suharyo ini, telah diterbitkan dalam Edisi Cetak Info Gembala Baik Agustus 2014. Silahkan lihat versi PDF-nya di Info Gembala Baik 07/03/2014

HATIKUDUSYESUS

Kebaktian kepada Hati Yesus Yang Mahakudus tersebar luas berdasarkan penglihatan-penglihatan yang diterima oleh Santa Margareta Maria Alacoque (1647-1690). Kebaktian ini terpusat pada “HATI”, yang memberi tempat luas untuk perasaan dan afeksi. Pengalaman dan perasaan manusiawi Yesus, khususnya kesengsaraan-Nya direnungkan dengan rasa haru dalam waktu yang lama, sampai seakan-akan orang beriman sendiri merasakan luka-luka tubuh dan jiwa Kristus dalam jiwa dan badan mereka sendiri. Orang terharu terutama karena kesengsaraan jiwa Yesus menunjukkan bahwa cinta-kasih-Nya yang tanpa batas tidak diterima oleh orang-orang berdosa. Oleh karena itu tumbuh keinginan dan kehendak yang sangat  kuat untuk membalas kasih Yesus dengan cinta-bakti yang bernyala-nyala.

Setelah Paus Pius IX (1856) memasukkan pesta Hati Kudus Yesus ke dalam penanggalan liturgi, beberapa Paus menulis  ensiklik berkenaan dengan pesta ini. Salah satu yang paling penting ialah yang ditulis oleh Paus Pius XII, yang menyatakan bahwa sembah bakti kepada Hati Kudus Yesus sangat bernilai dan penting dihayati oleh orang beriman.

Bentuk-bentuk kebaktian yang biasa dijalankan ialah Pesta Hati Yesus Yang Mahakudus,  (sejak Pius IX), perayaan hari Jumat pertama (sejak St.Margareta Maria Alacoque) yang terdiri dari jam kudus (dilakukan pada hari Kamis malam menjelang Jumat pertama) untuk mempersatukan diri dengan Yesus yang menderita dan ditinggalkan seorang diri di taman Getsemani, Misa dan komuni silih atas dosa terhadap Yesus dalam Sakramen Mahakudus yang tidak diperhatikan atau malahan dilukai Hati-Nya oleh dosa-dosa.

Salah satu teks Kitab Suci yang sangat erat berkaitan dengan hari raya ini ialah Yoh 19:31-37, yang menceritakan lambung Yesus ditikam, dan dari sana mengalir darah dan air (19:34). Peristiwa ini begitu penting dan ditekankan oleh Yohanes sampai ia mengatakan: “Dan orang yang melihat  hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya” (19:35). Peristiwa ini menjadi lambang yang menyatakan arti wafat Yesus di kayu salib, yang dapat dimengerti dengan baik kalau kita dapat menangkap lambang-lambang yang dipakai.

Pesta Hati Kudus mengajak kita untuk merenungkan sejarah hidup kita sebagai sejarah Allah yang memper-hati-kan kita dengan kasih-Nya yang tidak mengenal batas. Kasih itu tidak membiarkan kita berjalan menurut arah yang kita pilih sendiri. Kasih Allah mendidik kita, seperti dulu kasih yang sama mendidik umat Allah Perjanjian Lama (Hos 11:1-9) agar kita berani mengarungi samudera kehidupan. Kasih itu mendorong dan menggerakkan hati kita, agar kita pun selalu siap untuk membagikan kasih. +Mgr. Suharyo (**)

Pelatihan Guru TK se-KAJ: “Guru TK adalah Salah Satu Panutan dan Model bagi Anak sejak Dini”

“Ayo menjadi Guru TK Idaman.”

Demikian ajakan Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Jakarta (MPK-KAJ) dengan mengadakan Pelatihan Guru TK se-KAJ pada Jumat, 12 September 2014 di Aula TK St. Maria, Juanda Jakarta Pusat. Hal ini penting mengingat Guru TK adalah salah satu Panutan dan Model bagi anak-anak sejak dini. Selain itu pelatihan ini semakin penting juga, agar para Guru bisa dipercaya orang tua untuk menjadi partner dalam mendidik anak-anak mereka dalam terang iman Katolik.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber Bpk. Fidelis Waruwu. Sangat diharapkan Suster/Ibu Kepala TK mengutus seluruh gurunya ikut pelatihan ini. Info hubungi: Sr. Margriet, PIJ (08211 0480 818); Sr. Elisabeth, PIJ (0813 1034 6599); Ibu Vincent (08788 4552 467) atau Ibu Laurentia (0815 1108 5051). (**)

guru-mengajar-teacher-pendidikan-anak-usia-dini-preschooler-kindergarten-mother-teach-anak-usia-dini-tk-paud

RD Yohanes Subagyo: Pelayanan Prima, Jati Diri Gereja

 

Gereja dipanggil menciptakan budaya pelayanan penuh kasih. Spiritualitas melayani harus membadan dalam ucapan dan tindakan keseharian.

Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menggulirkan sebuah gerakan untuk semakin menghadirkan wajah Gereja yang melayani. Dalam Arah Dasar Pastoral (Ardas) KAJ 2011- 2015, tahun 2014 ini, umat KAJ diajak meng hayati dan menghidupi Tahun Pelayanan. Gerakan yang baru digulirkan ini merupakan salah satu upaya KAJ menampilkan jati diri Gereja.

Menurut Vikaris Jenderal KAJ ini, jati diri Gereja dapat dilihat dalam empat hal. Pertama, cita-cita atau visi dan misi Gereja. Kedua, struktur Gereja. Gereja Katolik dikenal memiliki struktur yang amat kuat, dari kepausan hing ga lingkungan-lingkungan. Ketiga, leadership atau kepemimpinan. “KAJ me rumuskan kepemimpinan sebagai jati diri Gereja dalam dua kata yakni par tisipatif dan transformatif,” urai Romo Subagyo. Gereja sebagai sebuah per sekutuan umat beriman dan gerakan mewujudkan Kerajaan Allah, harus melibatkan banyak pihak dalam mengambil kebijakan. Gereja juga menjadi lembaga yang terus-menerus bertransformasi, mengubah menjadi lebih baik. “Maka, tata kelola paroki harus bergerak menuju ke arah yang lebih baik,” imbuhnya.

jakarta katedral-1

Dan, keempat, adalah culture atau budaya lembaga. Gereja harus menciptakan budaya penuh kasih dan nyaman bagi siapapun. Umat harus dibuat senang dan bersyukur, karena sudah menjadi bagian Gereja. Maka, gerakan untuk menciptakan pelayanan prima di paroki-paroki merupakan upaya untuk menghadirkan suasana Gereja yang semakin dipenuhi kasih dan disemangati roh pelayanan.

Berikut petikan wawancara dengan Romo Subagyo:

Mengapa pelayanan prima?
Pelayanan prima merupakan salah satu cara untuk membentuk dan menghadirkan jati diri Gereja. Pelayanan prima ini adalah budaya yang me njadi ciri khas dari sebuah lembaga. Nah, salah satu yang khas dari lembaga Gereja adalah semangat melayani. Kadangkala, kita begitu fasih berbicara tentang semangat kasih, spiritualitas pelayanan, namun semangat dan spiritualitas itu tidak pernah membadan dalam ucapan dan perilaku kita.

2950818989_febbea8339

Bagaimana pelayanan prima ini diwujudkan?
Saat ini, hampir semua lembaga swasta ataupun instansi pemerintah berlomba-lomba menghadirkan pelayanan yang baik. Lalu, bagaimana dengan pelayanan di paroki-paroki? Kadangkala, pelayanan di sekretariat paroki tidak lebih baik dari kantor kelurahan. Birokrasinya berbelit-belit, dan pe layanannya juga tidak memuaskan.

Melihat kondisi ini, menurut saya, diperlukan sebuah transformasi, sebuah perubahan. Tidak mengubah semua, tetapi mengubah menjadi semakin lebih baik. Dan, proses ini dimulai dari mereka yang berada di garis depan pelayanan umat, yakni para pegawai sekretariat paroki. Mereka perlu dibekali dengan pola pikir dan keterampilan-keterampilan dalam melayani umat. Mulai dari hal-hal yang paling sederhana, seperti cara menerima telepon, berbusana, menyapa tamu, menghadapi beragam keluhan umat, dan yang lain. Pola pikir mereka juga harus terarah kepada pelayanan yang ramah dan tulus hati.

Saya menyadari, ini akan mengubah budaya atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dan sudah mapan selama ini. Tapi, ini harus dilakukan untuk menampilkan Gereja yang semakin ramah, Gereja yang semakin melayani. Melalui pelayanan yang prima dari para pegawai sekretariat paroki, diharapkan umat akan semakin merasakan kehadiran Allah secara nyata.

jakarta_cathedral_02_by_altamirano-d4vrdp1

Apa harapan terhadap gerakan ini?
Gerakan yang baru dimulai ini bisa memberikan dampak yang besar.Semo ga gerakan ini juga terus bergulir di paroki-paroki di KAJ, atau bahkan me nular ke keuskupan lain. Saya yakin, Roh Kudus akan terus berkarya, mungkin dengan cara-cara yang sederhana, untuk mengubah wajah Gereja sebagai persekutuan dan gerakan yang semakin melayani. Karena, jati diri Gereja adalah persekutuan umat beriman yang melayani.

Aprianita Ganadi (hidupkatolik.com)

Luar Biasa: Para Lansia akan Berlomba Paduan Suara, Ayoo Kita Dukunggg!

 
 
lomba koor lansia
 
Dalam menggalang kerjasama antar paroki, menghidupkan komunitas lansia paroki dan menyalurkan hobi para lansia, maka Komunitas Pastoral Adi Yuswa (Lansia) Siemon Hanna, mengundang para lansia mengikuti Lomba Paduan Suara memperebutkan Piala Bergilir Uskup Agung Jakarta pada Sabtu, 13 September 2014, Pk. 09.00 di Aula Katedral Jakarta. Pemenangnya akan tampil dalam Misa Lansia Sedunia 1 Oktober 2014.
Tambahan Hadiah:
Juara 1: Piala dan dana pembinaan Rp. 5.000.000,-
Juara 2: Piala dan dana pembinaan Rp. 3.000.000,-
Juara 3: Piala dan dana pembinaan Rp. 1.500.000,-
Tema Lomba: Semangat Berkarya tak Lekang Usia
Lagu yang dilombakan:
Tingkat Dekenat maupun KAJ: Menyanyikan 1 Lagu Wajib dan 1 Lagu Pilihan

  1. Lagu Wajib: Hymne “Komunitas Pastoral Adi Yuswo KAJ. Dinyanyikan 2 kali, dimana bagian pertama 1 suara dan pengulangannya 4 Suara (SATB)
  2. Lagu Pilihan: Diaransemen SAT, Bila ada anggota bersuara B yang merasa ketinggian untuk menyanyikan suara T, bisa ikut menyanyikan melodi suara S. Lagu Pilihannya:

–          Mars Lansia, Cipt. CB. Hardjowiyono (1 kali saja)
–          Masa Tua Bahagia, Cipt. Christoforus (1 kali saja)
–          Sampai Masa Tuamu, Cipt. Drs. Ec. Elly (2 kali)
Ketentuan:

  1. Minimum berjumlah 25 orang/grup, maksimum 35 orang termasuk dirigen, namun tidak termasuk pengiring musik.
  2. Pengiring musik tidak harus dari lansia
  3. Dirigen adalah lansia dari grup tersebut
  4. Lagu Wajib dan Pilihan dinyanyikan secara Acapela (tanpa iringan) atau hanya dgn 1 iringan alat musik saja. Di tahap final (Tingkat KAJ) panitia hanya menyediakan Keyboard Yahama.
  5. Nada dasar boleh disesuaikan
  6. Iringan, pakai teks atau tidak, pakaian, dan gerakan/gaya tidak termasuk dalam penilaian.
  7. Panitia memberikan subsidi kepada masing-masing dekenat: Rp. 1.500.000,- dan 1 piala.

Kriteria Penilaian:

  1. Materi Suara, pengolahan suara, blending (suara menyatu, tidak ada yang menonjol) dan ketepatan nada.
  2. Teknik menyanyikan, pengaturan pernafasan, kekompakan dan teknik vokal
  3. Penjiwaan, kesesuaian penampilan/interpretasi lagu terhadap isi maupun nuansa lagu

Info hubungi: Sdr. Clemens Simanullang (0816 1964 585) dan PEMIKAT KAJ: 021-3519193
 

Jumat 22 Agustus 2014 Peringatan Wajib SP Maria Ratu

Bacaan: Yeh. 37:1-14; Mzm. 107:2-3,4-5,6-7,8-9; Mat. 22:34-40; BcO Pkh. 8:5 – 9:10


Bacaan Injil Mat. 22:34-40:
34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka 35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: 36 “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” 37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Renungan:
Hari ini saya kembali kagum pada kemampuan Yesus merangkum ajaran dan hukum yang ditemui. Rangkuman ajaran itu adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:40). Rangkuman Yesus ini pasti memudahkan para murid, juga kita, dalam memahami ajaranNya dan membingkai pengajaran kita.

Sebagai seorang murid saya selalu senang kala guru/dosenku memberikan rangkuman materi pengajarannya. Sebaliknya sebel dan males kalau guru/dosen ngajarnya berbelit-belit dan tidak jelas.

Salah satu dosen yang kuingat selalu membuat skema materi pengajaran yang gampang kupahami adalah Rm Sudiarjo SJ. Jujur (maaf ya MoDipo dosen dan sahabatku), lebih mudah membaca skema beliau daripada mendengarkan beliau kala ngajar. Dan untungnya beliau murah hati, selalu meninggalkan skemanya kala istirahat dan aku boleh melihatnya. Aku pun mempelajari skema beliau dan kemudian membuat sendiri setelah selesai kuliah.

Belajar dari Yesus marilah kita belajar merangkum dengan baik segala pengajaran yang kita terima dan merumuskannya kembali sebagai rumusan yang gampang dimengerti. Membuat yang rumit jadi sederhana dan tidak memperumit yang sederhana. 

Kontemplasi: Bayangkan Yesus lagi mau dijebak dengan pertanyaan. Yesus tenang dan malah memberi jawaban yang membuat para penjebaknya terkagum2. Coba padankan dengan salah satu pengalamanmu.

Refleksi: Tulislah pengalamanmu kala menanggapi jebakan2 yang pernah kaualami.

Doa: Yesus, terima kasih atas pengajaranMu yang menjadi patokan hidup kami: mengasihi Tuhan dan sesama. Semoga banyak guru/dosen sungguh membantu siswa-siswinya memahami yang diajarkan bukan memperumitnya. Amin.

Perutusan: Aku akan terus belajar mempermudah yang rumit dan tidak menjadikan rumit yang mudah.

(www.sesawi.net)

Gereja Katolik Tegas Menolak Aborsi: “Kisah Kunjungan Paus Fransiskus ke Kuburan Para Bayi Korban Aborsi”

Dalam pandangan Gereja Katolik terkait dengan aborsi yaitu kita menolak tegas dilakukannya aborsi. Sudah banyak dokumen Gereja yang berbicara tentang penghargaan atas kehidupan dan bahkan yang secara khusus dan tegas mengatakan menolak aborsi.

Katekismus Gereja Katolik yang dipromulgasikan dalam rangka memperingati 30 tahun pembukaan Konsili Vatikan II (11 Oktober 1992) oleh Paus Yohanes Paulus II meringkas secara padat ajaran Gereja Katolik mengenai aborsi pada nomor 2270-2279. Pertama-tama disampaikan masalah perlindungan terhadap janin, “Hidup manusia haruslah dihormati dan dilindungi secara absolut sejak dari saat pembuahan. Sejak saat pertama keberadaannya, seorang manusia haruslah diakui bahwa dia mempunyai hak sebagai seorang pribadi-diantaranya adalah hak untuk hidup yang merupakan hak yang tidak bisa diganggu gugat bagi orang yang tak bersalah.”

140628_wn_pope_0639_16x9_992

Berikut adalah kisah sikap penolakan Paus Fransiskus terhadap aborsi dengan merencanakan akan mengunjungi kuburan para bayi korban aborsi di Korea Selatan. Selama perjalanannya ke Korea Selatan, Paus Fransiskus mengunjungi dan berdoa di Pemakaman untuk Bayi-bayi yang di aborsi” sebagai bagian dari kunjungan ke Wisma Kkottoghnae untuk orang sakit.

Juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombardi juga menyampaikan dalam konferensi pers belum lama ini bahwa Bapa Suci akan memberikan pidato dalam bahasa Inggris dan akan mengikuti adat istiadat setempat seperti melepas sepatu sebelum memasuki tempat-tempat tertentu.

Wisma Kkottongnae terletak di Keuskupan Cheongju, Korea Selatan, yang didirikan tahun 1976 oleh Pastor John Oh, pendiri Saudara-Saudari Yesus Kkottongnae.

Cemetery_in_Kkottongnae_South_Korea_Credit_Andy_Prima_Kencana_wwwandyprimacom_CNA_8_8_14

Imam itu mendirikan wisma itu terinspirasi oleh seorang pengemis jalanan bernama Choi Dong Gwi yang memberi makan kepada 18 pengemis yang sakit meskipun ia sendiri mengalami cacat fisik.

Wisma ini memberikan bantuan kepada para tunawisma, orang cacat, dan pecandu alkohol. Saat ini ia melayani sekitar 5.000 orang.

Pemakaman untuk bayi-bayi aborsi tersebut terletak di belakang wisma itu dan termasuk sebuah patung Keluarga Kudus yang dikelilingi oleh salib-salib yang dipasang di makam-makam para bayi aborsi.

Diumumkan oleh Vatikan pada Maret, Paus akan mengunjungi Korea dari tanggal 13 hingga 18 Agustus menyusul undangan dari Presiden Republik Korea Selatan, Park Geun-hye, dan para uskup dari Korea.

Bertajuk “Rise Korea, clothe yourself in light, the Lord’s glory shines upon you,” kunjungan Paus itu dimulai dengan keberangkatannya dari Roma pada malam Rabu (13/8). (ucanews.com)

Bahan Bulan Kitab Suci KAJ (BKS) 2014 oleh Komisi Kitab Suci KAJ

 
Sdr/sdri Terkasih dalam Kristus, berikut ini kami berikan Bahan Bulan Kitab Suci (BKS) KAJ 2014 dari Komisi Kitab Suci KAJ:
 

 
 
KAJ download
 
 

Gua Maria Hadir di Rutan Cipinang Jakarta

Di tengah terik mentari dan kencangnya tiupan angin, 6 Agustus 2014 Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta memberkati Gua Maria di Rutan Kelas 1 Cipinang Jakarta. Demikian kencangnya angin sehingga lilin altar pun padam semua. “Tidak perlu harus dinyalakan kembali lilin itu karena pasti akan mati lagi. Yang penting mari kita hidupkan hati kita masing-masing merayakan pemberkatan Goa Maria Pengantara Segala Rahmat ini,” ajak Mgr. Suharyo sebelum meneruskan kotbahnya yang didampingi oleh Rm. Yohannes Subagio (mantan Vikjen KAJ), Rm. Antonius Gunardi MSF dan Rm. Antonius Suyata MSF.

Mgr. Suharyo mengingatkan kita bahwa dalam Pesta Penampakan Kemuliaan Tuhan Yesus Kristus di Gunung Tabor, Yesus berpesan agar Petrus dan kawan-kawannya tidak menceritakan kejadian itu. Sebab kemulian yang mereka lihat itu belum sempurna. Justru kemuliaan itu sempurna setelah penyaliban Yesus. Tampaknya paradoksal tetapi sebenarnya tidak. Kita menganggap paradox karena hal mulia itu kita bayangkan dan artikan sebagai sesuatu yang luar biasa. Kemuliaan Tuhan itu justru tampak juga dalam kelemahan, kekalahan dan penderitaan. Kemuliaan itulah yang disaksikan Petrus dan kawan-kawan hingga di kayu salib, penderitaan yang begitu hebat tetapi yang menampakkan kasih yang begitu sempurna.

Kasih sempurna seperti itu pula yang pernah diungkapkan oleh Beata Theresia Benedicta dari Salib. Gadis berdarah Jahudi – Jerman ini sejak 14 thn telah memutuskan untuk tidak percaya lagi pada Tuhan dan tidak mau berdoa lagi. Padahal dia lahir dari keluarga yang sangat agamis agama Yahudi. Setelah dewasa dia menjadi perawat di PD I dan mahasiswa ilmu filsafat. Pada suatu hari dia melayat temannya yang baru kehilangan suami karena sakit. Dalam catatan harian dia menulis :”Saya baru melihat ketabahan kekuatan dan ketabahan ilahi dalam diri temannya yang kehilangan suami.” Pada saat itu juga keputusannya yang dia buat pada usia 14 thn dia ditinggalkan. Dia menjadi Katolik dan masuk ke pertapaan Karmel. Theresia menjadi korban perang karena sebagai orang Yahudi dia diseret dan ikut dibantai. Dicatatan hariannya yang lain dia tuliskan :”Kekuatan ilahi dan ketabahan ilahi dalam diri teman saya itu dianugerahkan Kristus bagi orang-orang yang mengalami salib agar mampu disatukan dengan salib Kristus sendiri.”

P1080165

Mgr. Suharyo menandaskan untuk bisa mengalami kemulian Allah, tidak perlu dicari jauh, tidak perlu ke Gunung Kawi atau ke Gunung Tabor. Kalau kita punya kepekaan hati maka akan sangat mudah kita dapatkan di kehidupan sehari-hari. Bahkan St. Irenius mengatakan :”Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup!” Jadi kemulian Alllah dapat kita lihat dan harus kita lihat di dalam diri saudara-i kita siapa pun dia dan dalam keadaan apapun dia. Kita adalah cermin kemuliaan Tuhan. Seperti cermin ada yang baru, ada yang kabur dan bahkan ada yang sudah tidak memberikan cermin. Tugas kita adalah memulihkan kembali cahaya cermin itu. Itulah yang dilakukan oleh Komunitas Persaudaraan Rosario dengan mempersembahkan Goa Maria Pengantara Segala Rahmat di Rutan Cipinang ini.

Goa ini dipersembahkan untuk mencerahkan kembali cermin itu. Maria adalah Ratu kita, dan dia menyimpan segala peristiwa hidup yang dialaminya di dalam hatinya. Seperti Maria, banyak pengalaman dan peristiwa hidup yang tidak kita mengerti. Maria tidak tahu pasti tugas yang akan dia emban ketika dipanggil Allah menjadi bunda Yesus. Tetapi bagi Maria peristiwa apapun yang melintas di hidupnya dia yakin pasti ada rencana Tuhan disana yaitu supaya cermin itu terang kembali.

Dalam Bahasa Jawa di Goa ini kita memiliki kesempat untuk eng, ing, ung. Kita duduk tenang berdoa dan berdevosi. Atau kita sekedar duduk berdiam diri dalam hening. Dalam keheningan kita bisa kembali bening sehingga kita dimampukan untuk kembali ke jati diri kita dan tujuan arah hidup kita yaitu menuju gunung suci tempat kemuliaan itu.

Sejalan dengan harapan Mgr. Suharyo, kepala rutan Cipinang Agus Haryanto juga berharap Goa Maria Pengantara Segala Rahmat dapat membawa manfaat dan menambah keimanan bagi orang Kristen khususnya umat Katolik. “Karena itu saya berharap semua pihak menjaga dan merawat tempat ibadah ini agar tetap dapat digunakan pihak-pihak yang membutuhkan layanan,” ungkap Agus dalam pidato peresmian pembukaan goa itu.

Sonar Sihombing

Terbaru

Populer