Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun 2016 ini terasa istimewa karena sudah 50 tahun (Pesta Emas) hari ini diadakan dan semakin istimewa karena bertepatan dengan Tahun Suci Kerahiman Allah. Di Keuskupan Agung Jakarta Perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ini diadakan dengan misa konselebrasi bersama Uskup Agung Jakarta, Mgr. I. Suharyo, didampingi Ketua Komisi Komunikasi Sosial, Rm. Harry Sulistyo Pr beserta wakilnya Rm. Reynaldo Antoni Haryanto Pr di Katedral Jakarta (Sabtu Sore, 7 Meil 2016).
“Paus Fransiskus mengangkat tema “Komunikasi dan Kerahiman: Perjumpaan yang Memerdekakan” sebagai tema utama Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun ini”, ungkap Uskup Suharyo. Lebih lanjut Uskup mengungkapkan bahwa antara Komunikasi dan Kerahiman ada keterikatan yang kuat.
Bacaan Injil kita hari ini (Yoh 17:20-26) mengisahkan tentang Doa Yesus. Dalam doa-Nya terucap berulang kali kalimat “Supaya mereka semua menjadi satu,…” Kalimat ini membuat saya teringat akan peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Okt 1928, yaitu : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Isi Sumpah ini menunjukkan harapan menjadi “Satu”. Sangat penting bagi kita untuk menjadi Satu. Menjadi Satu membuat kita kuat dalam menghadapi tantangan masa depan. Secara khusus bahasa Indonesia menjadi alat Komunikasi yang menyatukan kita. Bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang menyatukan. Komunikasi secara khusus menjadi penuh Kerahiman ketika kita menghayati makna 3 kata “Terimakasih, Tolong dan Maaf”.
Kata “Terimakasih” menunjukkan bahwa kita menghargai dan mensyukuri kehadiran orang lain. Kata “Tolong” menunjukkan bahwa kita tidak memiliki niat untuk menggurui. Kita menunjukkan kerendahan hati kita; bahwa posisi kita setara dengan orang lain. Posisi kita bukan di atas mereka yang lain. Dan kata “Maaf” menunjukkan bahwa kita dengan rendah hati mengakui bahwa kita manusia yang penuh kekurangan dan rela menerima teguran dan melakukan koreksi atas kesalahan kita. Ketiga kata ini menunjukkan bahwa Komunikasi akan semakin berarti jika dipenuhi Kerahiman. Dan ketiga kata ini tidak dapat terpisahkan dan menampilkan pribadi orang yang sebenarnya.
Semoga hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-50 ini membuat kita sadar bahwa berkomunikasi bukan sekedar berkomunikasi kosong belaka, melainkan juga memenuhinya juga dengan Kerahiman penuh belaskasihan, seperti yang telah Allah sendiri tunjukkan kepada kita. Amin
Setelah Perayaan Ekaristi ini, semua umat terutama para Aktivis Media Komunikasi dan Wartawan diundang untuk menghadiri Malam Penganugerahan INMI AWARDS ke-5 KAJ 2016 di Aula Katedral. Pada INMI AWARDS kali ini, pemenang utama untuk kategori Best of the Best Media Cetak dan Lembaran Warta Paroki Terbaik diraih oleh Majalah “MERASUL” dari Paroki BOJONG, St. Thomas Rasul.
Misa Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-50: “Kata ‘Terimakasih, Tolong dan Maaf’ membuat Komunikasi menjadi penuh Kerahiman”
“MERASUL” DARI PAROKI BOJONG INDAH MENJADI MAJALAH TERBAIK 2016 SE-KAJ
Dengan meraih 3 Penghargaan INMI AWARDS dan menjadi nominasi hampir di semua kategori, “MERASUL” menjadi majalah paroki terbaik 2016 se-Keuskupan Agung Jakarta.
INMI AWARDS merupakan ajang penghargaan bagi insan pengelola media Paroki yang diselenggarakan oleh Komisi Komsos KAJ. Tahun ini merupakan INMI AWARDS KE-5 yang digelar pada Sabtu, 7 Mai 2016 di aula atas Katedral.
Berikut ini para pemenang INMI AWARDS Ke-5 Tahun 2016:
- Kategori Berita Terbaik: “Jalan Pulang ke Taman Kenangan” Majalah Merasul, PAROKI BOJONG INDAH, ST. THOMAS RASUL.
- Kategori Feature Terbaik: “Mensyukuri Kegetiran Hidup”, Majalah Merasul, Paroki BOJONG INDAH, ST. THOMAS RASUL.
- Kategori Artikel Refleksi Terbaik: “Ketika Imamat Menjadi Kisah Cinta”, Majalah Melodi, PAROKI CITRA RAYA, ST. ODILIA
- Kategori Ilustrasi/Foto Terbaik: “Mengandalkan Tuhan”, Majalah Warna, PAROKI CURUG, ST. HELENA.
- Kategori Cover Terbaik: Edisi 02/1/Sept/2015, Majalah Inspirasi, PAROKI PASAR MINGGU, KELUARGA KUDUS.
- Kategori Bahasa Indonesia Terbaik: Majalah Warta Padua, PAROKI BIDARACINA, ST. ANTONIUS PADUA.
- Kategori Tata Lay Out Terbaik
Majalah Warta Padua, PAROKI BIDARACINA, ST. ANTONIUS PADUA - Kategori Lembaran Warta Mingguan Terbaik: Warta Monika, PAROKI SERPONG, ST. MONIKA
- Kategori BEST OF THE BEST:
Majalah Merasul, PAROKI BOJONG INDAH, ST. THOMAS RASUL
Surat Himbauan kepada Seksi Liturgi tentang Perayaan Ekaristi Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Kepada,
Seksi Liturgi Paroki Keuskupan Agung Jakarta
Di Jakarta
Dengan hormat,
Seperti kita ketahui, dalam rangka hari lingkungan hidup sedunia (5 Juni), Bapak Uskup telah menetapkan bahwa hari Sabtu-Minggu, tanggal 4-5 Juni paroki-paroki dan stasi-stasi di Keuskupan! Agung Jakarta dijadikan sebagai hari Minggu Hijau’ (Green Sunday). Harapannya, pada hari itu (selain novena Kerahiman Allah sabtu pertama dengan tema peduli lingkungan hidup), seluruh kegiatan seksi-seksi diarahkan atau difokuskan pada upaya meningkatkan kesadaran umat pada lingkungan hidup. Misalnya, seksi lingkungan hidup mengadakan pameran, seksi HAAK paroki dihimbau mengadakan kerjabakti bersama masyarakat/RT-RW setempat, dan seksi katekese terutama BIA/Sekolah Minggu) mengadakan pengajaran/kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan hidup.
Terkait dengan hal itu, kami menghimbau pula kepada seksi liturgi paroki untuk mengadakan
perayaan ekaristi yang bernuansa peduli lingkungan hidup, misalnya:
a. Lagu-lagu pembuka, persembahan, komuni dan penutup dicarikan lagu yang sesuai
b. Homili akan diganti dengan pembacaan Surat Gembala Uskup, dan akan disiapkan sambutan dalam bentuk video dengan ilustrasinya. Maka akan lebih bagus jika ada tayangan pengganti homili ini, supaya kesadaran umat lebih ditingkatkan
c. Dekorasi altar diusahakan memakai tanaman hidup, dan ini akan dilombakan (lihat lampiran
tentang kriteria lomba)
d. Persembahan juga memakai simbol-simbol yang mengarahkan perhatian umat pada peduli
lingkungan hidup, misalnya tanaman
Demikianlah himbauan kami. Atas perhatian dan dukungannya, kami ucapkan banyak terimakasih. Berkah Allah selalu berlimpah.
Jakarta, 2 Mei 2016
Salamhormat,
Rm. Andang L. Binawan, SJ
(Koordinator Gerakan Habitus Bersih dan Bersih KAJ),
Rm. V. Rudy Hartono, Pr
(Ketua Komisi Kateketik KAJ), dan
Rm. Sridanto Ariwibowo, Pr
(Ketua Komisi Liturgi KAJ)
Surat Himbauan kepada Seksi Liturgi dan Para Katekis Serta Guru Sekolah Minggu
Kepada
Seksi Liturgi Paroki
dan para katekis/guru sekolah Minggu Keuskupan Agung Jakarta
Di Jakarta
Dengan hormat,
Seperti kita ketahui, dalam rangka hari lingkungan hidup sedunia (5 Juni), Bapak Uskup telah menetapkan bahwa hari Sabtu-Minggu tanggal 4-5 Juni paroki-paroki dan stasi-stasi di Keuskupan Agung Jakarta dijadikan sebagai hari ‘Minggu Hijau’ (Green Sunday). Harapannya, pada hari itu (selain novena Kerahiman Allah sabtu pertama dengan tema peduli lingkungan hidup), seluruh kegiatan seksi-seksi diarahkan atau difokuskan pada upaya meningkatkan kesadaran umat pada lingkungan hidup. Misalnya, seksi lingkungan hidup mengadakan pameran, seksi HAAK paroki dihimbau mengadakan kerjabakti bersama masyarakat/RT-RW setempat, dan seksi liturgi mengadakan perayaan ekaristi dengan tema lingkungan hidup, termasuk dekorasi altarnya.

Terkait dengan hal itu, kami menghimbau pula kepada seksi katekese paroki dan para katekis serta guru sekolah Minggu (BIA) untuk memberikan pengajaran yang berkaitan dengan lingkungan hidup kepada anak-anak dan juga kepada para katekumen.
Untuk sekolah Minggu bisa juga diadakan kegiatan-kegiatan, seperti
a. lomba menggambar/mewarnai dengan tema lingkungan hidup
b. lomba membuat mainan dari barang bekas
c. memutarkan film yang terkait dengan lingkungan hidup (bisa dicari di youtube)
Demikianlah himbauan kami. Atas perhatian dan dukungannya, kami ucapkan banyak terimakasih. Berkah Allah selalu berlimpah.
Jakarta, 2 Mei 2016,
Salam hormat,
Rm. Andang L. Binawan, SJ
(Koordinator Gerakan Habitus Bersih dan Bersih KAJ),
Rm. V. Rudy Hartono, Pr
(Ketua Komisi Kateketik KAJ), dan
Rm. Sridanto Ariwibowo, Pr
(Ketua Komisi Liturgi KAJ)
LOMBA DEKORASI ALTAR RAMAH LINGKUNGAN KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA 2016
Latar Belakang
- Dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta 2016-?2020, kepedulian pada lingkungan hidup telah ditetapkan menjadi salah satu perhatian penting dalam keterlibatan kita di tengah masyarakat. Hal ini perlu terus ditumbuhkan pada umat Katolik supaya kepedulian itu mewujud dalam tindakan dan perilaku sehari-hari (habitus). Dalam konteks ini, mengingat situasi Jakarta dan sekitarnya, kecintaan pada tanaman dan mengurangi sampah menjadi salah satu wujudnya.
- Dalam konteks itu, hari Minggu 5 Juni 2016, bertepatan dengan hari lingkungan hidup sedunia, Bapak Uskup telah menetapkannya sebagai hari Minggu Hijau, atau hari Minggu yang khusus dipakai untuk mengingatkan umat akan kepedulian pada lingkungan hidup. (Istilah ‘hijau’ disini merujuk pada istilah ‘green’ dala kosakata internasional, sebagai simbol kepedulian pada kehidupan dan lingkungan hidup. Kata ‘hijau’ menunjuk pada semangat peduli, bukan sekedar pada warna.)
- Penyadaran itu memerlukan sarana yang kreatif, dan juga pelaku yang bisa menginspirasi pihak lain dalam kerjasamanya dengan berbagai pihak. Karena itu, dekorasi altar yang tidak konvensional, yaitu dengan memanfaatkan tanaman-?tanaman hidup, bisa menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan kepedulian itu.

Bentuk Kegiatan
Mengingat hal itu, seperti juga dalam kesempatan Paskah dan Natal, Keuskupan Agung Jakarta mendorong paroki-?paroki memakai momen hari Minggu Hijau 5 Juni 2016 juga untuk penyadaran kepedulian lingkungan hidup umatnya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membuat dekorasi altar ramah lingkungan dengan memakai tanaman-?tanaman hidup.
Tujuan Lomba
Diharapkan, dengan adanya dekorasi altar yang ramah lingkungan ini
- Umat pada umumnya diingatkan akan kepedulian pada lingkungan hidup pada umumnya, serta cinta pada tanaman pada khususnya
- Tim bunga/dekorasi gereja juga belajar mengurangi sampah, terutama sampah dari oasis yang biasa dipakai untuk merangkai bunga
Peserta Lomba
Mengingat bahwa penyadaran itu perlu pelaku, untuk lomba ini peserta lombanya adalah tim bunga/dekorasi gereja.
Mengingat bahwa penyadaran itu perlu penjelasan dan sosialisasi, keterlibatan aktif pastor paroki bersama anggota dewan paroki untuk menjelaskan pada umat menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan.
Ketentuan Lomba
- Tema: “Merawat Ibu Bumi, Rahim Kehidupan”
- Yang dihias adalah altar dan mimbar
- Dekorasi menggunakan pohon dan bunga hidup (dalam pot). Boleh dengan tambahan asesori lain tidak lebih dari 30 persen.
- Nuansa warna disesuaikan dengan warna liturgi dan disesuaikan dengan kaidah liturgi.
- Total biaya tidak melebihi Rp 750.000,-
- Dikerjakan oleh tim bunga/dekorasi paroki
- Yang dinilai: kreativitas, keindahan (keserasian dan kombinasi warna), serta kerjasama dan keterlibatan pastor/dewan paroki
Syarat penilaian
- Mengirimkan LINK di Youtube.com yang berisi
- rekaman video tentang proses pembuatan,
- hasil akhir karya (diambil dari beberapa sudut),
- sambutan/homili pastor dan tanggapan setidaknya dua umat terkait dengan pesan yang mau disampaikan dalam dekorasi altar ramah lingkungan ini
- Panjang rekaman tidak lebih dari 7 menit. (untuk mempermudah, video diberi judul: DEKORASI ALTAR RAMAH LINGKUNGAN KAJ 2016 Paroki / Stasi …… (sebut nama paroki/stasi-nya)
- Mengirimkan (a) sketsa rencana, (b) tautan (link) di Youtube, (c) rincian pengeluarannya, dan jika ada juga (d) artikel di majalah paroki mealui email ke pemukat@gmacom paling lambat 15 Juni 2016
Lain-lain
Panitia akan membentuk tim juri (Ibu Els Tiwar, Bapak Andy Djati Utomo dan satu anggota Komisi Liturgi KAJ) dan akan mengumumkan pemenang sebelum akhir bulan Juli 2016 melalui media sosial dan website KAJ.
Tiga pemenang pertama akan mendapat hadiah uang dan sertifikat dan tujuh pemenang harapan (yang masuk dalam 10 besar) akan mendapatkan sertifikat.
Pemenang akan mendapatkan hadiah piagam dan uang: a. Pemenang 1 hadiah uang sebesar Rp 7.000.000,-? b. Pemenang 2 hadiah uang sebesar Rp 5.000.000,- c. Pemenang 3 hadiah uang sebesar Rp 3.000.000,-?
Sekretariat Panitia
Panitia Lomba Dekorasi Altar Ramah Lingkungan KAJ 2016 d.a. Kantor Pemikat, Gedung Karya Pastoral KAJ, Jl. Katedral 7 Jakarta, Telp. 0213519193 ext. 205, HP 0818754842, Email pemukat@gmail.com
Download Informasi Lengkapnya:
1 Mei 2016 Launching Rosario Merah Putih di Paroki Katedral dihadiri Ribuan Umat
Bulan Maria di tahun 2016 ini diawali dengan moment spesial yaitu launching Rosario Merah Putih oleh Uskup Agung Jakarta Mgr Suharyo di Gereja Katedral Jakarta pada hari Minggu, 1 Mei 2016 pukul 16.25.
“Rosario Merah Putih” merupakan salah satu wujud gerakan “Amalkan Pancasila” dari Arah Dasar 2016-2020,” ungkap Uskup Suharyo dalam sambutan saat me-launching Rosario Merah Putih. Acara launching ini dihadiri oleh ribuan umat dari berbagai paroki se-KAJ dan bahkan ada yang dari keuskupan lain.
Acara diawali dengan perarakan Rosario Merah Putih dan Patung Bunda Maria dari pintu utama oleh 57 anak-anak SD St. Maria yang membawa Patung Bunda Maria dan Rosario Merah Putih besar ke dalam gereja kemudian dilanjutkan dengan pembacaan arti Rosario Merah Putih oleh Rm Sridanto dan PEMBERKATAN dan PERESMIAN penggunaan Rosario Merah Putih oleh Mgr Suharyo.
Rosario merah putih adalah salah satu penanda gerakan “Amalkan Pancasila” sesuai arah dasar 2016 – 2017 Keuskupan Agung Jakarta.
Launching ini juga serentak dilakukan di beberapa paroki se-KAJ, berikut link-linknya:
Paroki Katedral Jakarta: https://www.facebook.com/katedraljakarta/
Paroki Serpong, St. Monika: http://paroki-monika.org/index.php/86-news/kegiatan-paroki/3845-foto-foto-launching-rosario-merah-putih
Paroki Kapuk, St. Philipus Rasul: https://instagram.com/p/BE6IyI_mQhw/
Paroki Kampung Duri, Damai Kristus: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10206266209282364&id=1479684736
Paroki Bidaracina, St. Antonius Padua: https://www.facebook.com/FP.Paroki.Santo.Antonius.Padua/photos/?tab=album&album_id=610422892441003
Paroki Kelapa Gading, St. Yakobus: http://www.yakobus.or.id/?p=25708 dan http://www.yakobus.or.id/?p=25520
Ayoo Ikutilah Lomba Desain Logo BIDUK KAJ, Raih Hadiah Menarik!

Sekretariat KAJ mengadakan Lomba Desain LOGO BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan) April – Mei 2016. BIDUK merupakan program aplikasi yang dibuat untuk memenuhi tuntunan pelayanan berbasis data. Lomba ini tidak dipungut biaya.
Desain akan dinilai berdasarkan: originalitas, relevansi dengan semangat BIDUK KAJ, Kreatifitas dan estetika, tingkat kemudahan aplikasi (dapat diubah ukurannya dan tetap jelas terlihat, dibuat dalam hitam putih atau warna). Info hub. Sekretariat KAJ: logobiduk2016@gmail.com dan telp. 021-381.3345.
Persyaratan lengkap lomba dapat didownload di bawah ini:

Dialog FKUB DKI MGR. SUHARYO: ”PERLU ADA INGATAN BERSAMA”
Waktu baru menunjukkan hampir jam 9.30 pagi pada 16 April 2016 lalu. Tetapi ruang aula Sekolah Tarsisius Kemakmuran, Jakarta Barat sudah ramai pengunjung. Padahal acara dialog dan doa bersama bertitel: “Persaudaraan Sejati Antar Umat Beragama Dalam Mengamalkan Pancasila Untuk Jakarta Damai” baru akan dimulai pukul 10.00 WIB. Ini ujud dari antusiasme para peserta untuk menghadiri acara yang dirancang bersama Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi DKI (FKUB DKI) dan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ini. Para peserta adalah perwakilan dari pimpinan FKUB DKI maupun wilayah-wilayah, Majelis Agama-agama, para alumni Sekolah Agama-agama dan Bina Perdamaian (SABDA) angkatan I hingga III yang berjumlah kurang lebih 220 orang.
Tepat pukul 10 acara dialog dimulai. Tampil sebagai narasumber utama adalah Mgr. I. Suharyo, Uskup Agung Jakarta (sekaligus tuan rumah yang dipercayakannya ke paroki Bunda Hati Kudus, Kemakmuran). Kemudian penanggap adalah Ketua FKUB DKI Prof. Kiyai Ahmad Syafi’i Mufid, Kadin Depag Abdurrahman serta perwakilan Kabiro Dikmental Hendarto dan perwakilan Kakesbangpol Benny. Selain penanggap yang duduk satu meja di pentas bersama Mgr. Suharyo ada penanggap lain yaitu perwakilan dari Majelis Agama-agama.

Dalam paparannya Mgr. Suharyo menyitir sejarah pembebasan umat Allah dari perbudakan yang dipimpin oleh Musa. Kisah pembebasan yang dimuat dalam Kitab Keluaran Perjanjian Lama dinyatakan oleh uskup wajib dibacakan setiap perayaan Paskah katolik. Sebab menurut Mgr. Suharyo kisah ini bukan sekedar sejarah masa lampau tetapi juga merupakan :”Ingatan Bersama” dari nenek moyang yang diceritakan secara turun temurun. Apa maksudnya? “Kisah pembebasan ini merupakan identitas dasar umat Allah sekaligus berfungsi sebagai sumber kekuatan umat Allah dalam menghadapi berbagai persoalan, tantangan dan permasalahan hidup,” tandas Mgr. Suharyo. Ingatan bersama adalah sebuah ungkap teknis yang juga bisa diartikan sebagai pengikat kebersamaan umat Allah dalam menuju pembebasan.
Nah, lanjut Mgr. Suharyo, bangsa kita Indonesia juga memiliki “ingatan bersama” yaitu hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. “Ini hanya merupakan puncak dari seluruh perjuangan dan proses yang sangat lama. Untuk lebih ringkas saya mulai saja dari 1908 yaitu lahirnya Budi Utomo yang kemudian diabadikan menjadi hari kebangkitan nasional Indonesia. Pada saat itu penjajah mengijinkan anak bangsa ini studi lanjut. Dalam kesempatan itu mereka mulai berdialog, berdiskusi yang memunculkan lahirnya nasionalisme baru oleh Dowes Dekker,” ungkap Mgr. Suharyo.

Kemudian aksi ini berlanjut hingga pada 1928 melahirkan semangat kebersamaan yaitu mengikrarkan Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Akhirnya puncaknya adalah Proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 yang sebelumnya diawali dengan melahirkan Pancasila 1 Juni 1945. “Disini ada semangat ingatan bersama yang menjadi kekuatan dan identitas dasar bangsa Indonesia. Sama seperti ingatan bersama dan identitas dasar umat Allah. Inilah konsep iman yang kami terjemahkan dalam hidup berbangsa dan bernegara serta mengamalkan Pancasila,” tegas Mgr. Suharyo.
Bagaimana umat KAJ mengejawantahkannya? Lambang KAJ adalah : Hendaklah kamu murah hati seperti Bapamu murah hati adanya. “Untuk lima tahun ke depan (2016-2020) kami jabarkan lebih kongkrit dalam memaknai nilai-nilai Pancasila dan pesan-pesannya yaitu : Kerahiman Allah Memerdekakan. Amalkan Pancasila. Secara kongkrit kami akan melakukan doa Rosario dengan menggunakan Rosario Merah-Putih yang akan dimulai dan diluncurkan pada 1 Mei 2016,” jelas Mgr. Suharyo. Semua Rosario terdiri dari 50 manik-manik yang dibagi dalam lima kelompok masing-masing 10. Tiap kesepuluhan Rosario itu akan direnungkan sila-sila Pancasila. “Selain itu kami juga sedang mempersiapkan sebuah lagu Pancasila Rumah Kita, Pancasila Cinta Kasih. Lagu ini akan juga dibagikan ke sekolah-sekolah katolik agar menjadi gerekan bersama meujudkan nilai-nilai Pancasila,” harapa Mgr. Suharyo.

Mgr. Suharyo juga menjelaskan bahwa program 5 tahun ke depan ini adalah lanjutan dari program lima tahun lalu yang dirumuskan : Semakin beriman, semakin bersaudara dan semakin berbelarasa. Iman yang benar akan melahirkan persaudaraan sejati. Persaudaraan sejati membuahkan confession atau belarasa. “Rumusan ini kemudian diperkaya dengan nilai-nilai Pancasila untuk kami ujudkan dalam karya-karya kongkrit selama 5 tahun ke depan,” lanjutnya.
Menanggapi paparan Mgr. Suharyo ini, Ketua FKUB DKI Prof Kiyai Ahmad Syafi’I Mufid mengatakan sangat terkesan dengan persaudaraan sejati yang diungkapkan oleh Mgr. Suharyo. “Persaudaraan sejati itu hanya bisa kita ujudkan antarumat beragama kalau kita terus menerus membangun dialog. Saya semakin optimis bahwa dialog seperti ini akan semakin bergaung yang telah kita mulai sejak 2012 lalu dan hasilnya kita bukukan agar dapat diikuti oleh semua pihak,” lanjut Syafi’i.
Kiyai Syafi’i menandaskan bahwa sejarah telah juga membuktikan bahwa toleransi dan persaudaraan sejati telah meujudkan NKRI saat ini. “Sumpah pemuda yang dilansir Mgr. Suharyo tadi dilahirkan oleh tokoh-tokoh pemuda dari berbagai suku dan agama. Sumbagnan besar telah diberikan oleh katolik yaitu Gedung Sumpah Pemuda saat ini adalah milik katolik yang disumbangkan menjadi asset Negara. Demikian juga isi Sumpah Pemuda yang awalnya dalam konsep Muhamad Yamin Berbahasa Satu Bahasa Melayu. Tetapi oleh anak muda Betawai Muhammad Tabrani diminta diganti menjadi Berbahasa SAtu Bahasa Indonesia. Ketika dikatakan bahwa tidak ada Bahasa Indonesia, M. Tabrani justeru mengusulkan agar pemuda membuatnya,” ungkap Kiyai Syafii. Lebih jauh Kiyai Syafii mengatakan bahwa bangsa ini telah lahir jauh sebelum proklamasi oleh kelompok-kelompok agama dan suku. “Peran penting kelompok agama dalam merumuskan Pancasila juga sangat besar. Mereka tidak merumuskan Pancasila atas dasar agama. Ini pengorbanan yang sangat besar dari para tokoh agama,” tandas Kiyai Syafii.

Kyai Syafii berharap peran tokoh agama itu akan tetap tampil kini dan dimasa yang akan dating. “Kalau Katolik sudah coba membuat Rosario Merah Putih, ke depan kita harapkan dialog seperti ini akan terus berkesinambungan untuk mengatasi kebuntuan dan masalah bangsa ini. Terutama yang menjadi masalah besar saat ini yang disebut extraordinary crime adalah korupsi, narkoba dan terorisme. Kita harus bergandeng tangan mengatasi hal ini,” harap Kyai Syafii.
Kyai Syafii juga menceritakan bahwa pada 2015 lalu di bawah Tugu Proklamasi Bung Karno dan Bung Hatta kita kembali meneguhkan komitmen kebangsaan kita. “Ini juga akan kita ujudkan lewat program pencetakan kader-kader perdamaian melalui program SABDA. Kini telah kita lakukan hingga angkatan ke-3 dan semua Majelis Agama mendukungnya. Kalau kita bisa berdamai akan muncul persaudaraan sejati itu,” lanjutnya.
Abdurrahman, Kakanwil Depag pun sangat menyambut baik upaya para pemuka agama dalam menciptakan persaudaraan sejati yang merupakan ujud dari toleransi. “Sebagai pemerintah kami akan tetap mendukung dan memasilitasi apa yang dilakukan oleh pemuka agama dan FKUB DKI terutama di grassroot. Yang pasti Pancasila itu sudah final. Sehingga kami menjamin setiap umat beragama bebas melaksanakan ajaran agamanya dan semua memiliki kesempatan yang sama. Kita boleh berbeda aliran politik dan pilihan tetapi semangat persaudaraan kita harus tetap kita jaga,” tandasnya.
Sonar Sihombing
Pengurus Komisi Komsos KAJ
Mereka Menerapkan Laudato Si
Sambungan Artikel: Pertemuan Komsos Regio Jawa: MEMAKNAI PERAN KOMSOS
Tekad warga desa Tegalsalam, Kec. Baturaden, Kab. Banyumas, Jawa Tengah sudah bulat. “Kami ingin menjadikan desa kami ini menjadi sebuah desa wisata. Selain didukung alam yang indah permai kami juga dianugerahi tempat-tempat menarik untuk dikunjungi seperti curug (air terjun) yang ada dua yaitu Curug Tiga dan Curug Tebela,” jelas Sisworo ketua dusun yang kerap menjadi humas desa itu. Desa ini terdiri dari dua dusun dan berjarak 17 km dari kota Purwakerto.
Ternyata kesiapan warga untuk menjadikan desa mereka sebagai desa wisata tidak hanya angan-angan. “Kami telah menargetkan tiap tahun akan menanam 2.000 batang pohon untuk menghijaukan lokasi-lokasi yang mulai erosi dan gundul. Kami juga mengajak para pengunjung apabila punya waktu untuk ikut serta menanam pohon,” lanjutnya.

Kini hasil dari merawat curug itu telah juga nyata. Perusahaan Air Minum Daerah (PAMD) telah memanfaatkan air salah satu dari Curug Tiga sebagai sumber air. Air dari Curug itu langsung ditangkap dan dialirkan ke pengolahan air minum. Tentu saja desa ini mendapatkan pembagian keuntungan atas usaha ini.
Keterlibatan yang jauh lebih nyata dalam meujudkan desa wisata adalah kesiapan tiap keluarga menjadi induk semang bagi para pengunjung yang ingin menginap di desa itu. “Kami sudah terbiasa hidup bersama para pengunjung di rumah ini. Kami sajikan makanan desa apa adanya kepada mereka. Tetapi kami tetap berupaya menyajikan makanan yang sehat dan bersih,” ungkap Solidah yang hidup berdua bersama suaminya Tri Supriyanto penisunan PNS. Anak-anak mereka sudah pergi merantau karena kuliah dan yang lain telah berkeluarga.
Menurut Solidah kunjungan ke desa mereka lumayan ramai. Baru saja desa mereka menerima para mahasiswa yang melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN). “Mei mendatang menurut informasi akan ada lagi rombongan pengunjung ke desa ini selama sebulan. Kami sudah siap untuk menerima mereka seperti kami menerima rombongan bapak Komsos Keuskupan Sejawa ini,” ungkap Solidah. Solidah mengaku suaminya juga senang mendapat kunjungan seperti itu. “Karena sebagai pensiunan PNS kami tidak punya sawah dan keahlian bertani. Jadi ketimbang menganggur lebih baik ada kegiatan melayani tamu-tamu itu sekalian untuk menambah sumber pendapatan,” ungkap Tri Supriyanto.

Model ini menurut Supriyanto sangat baik dikembangkan sehingga tidak perlu investasi mendirikan hotel di desa ini. Terlalu banyak risiko karena kehadiran hotel nantinya. Bisa saja mereka membeli lahan luas kemudian membuat berbagai kegiatan yang sama sekali tidak melibatkan masyarakat. Atau bias juga kehadiran hotel menghadirkan perilaku negatif seperti pelacuran, mabuk-mabukan, makanan berlimpah sia-sia. “Dengan model menginap di rumah penduduk ini distribusi pendapatan bisa lebih baik,” tanggap Tri Supriyanto. (Boleh jadi ini juga bagian dari konsep riil dari sharing economy (ekonomi berbagi) yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan.)
Tetapi konsep ramah lingkungan ini sudah merupakan pengejawantahan dari konsep Ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si yang diterbitkan pada 18 Juni 2015 lalu. Paling tidak dalam enseklik ini ada 10 ajakan Paus Fransiskus. Salah satu ajakan itu dan kebetulan pula berada di nomor satu adalah kewajiban kita memikirkan bumi seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang. Jawabannya tentu adalah bumi yang tetap berkesinambungan memelihara segala isinya termasuk manusia.
Selain menjaga lingkungan, warga desa inipun berupaya juga menyuguhkan budaya nenek moyang kepada pengunjung. Ada tari-tarian, ada minuman khas dari nira rebus dan juga ada cara penyuguhan makanan zaman dahulu kala dan yang sudah sempat menghilang. Untuk makanan nasi kotak telah mereka ganti dengan nasi bungkus dengan daun tanaman palma dari pinggir hutan. “Memang zaman dahulu memberi makan orang tua akan jauh lebih hormat bila makanan yang disuguhkan kepada mereka dikemas dalam daun itu. Hilangnya kebiasaan membungkus makanan dengan daun palma itu seiring dengan semakin langkanya tanaman itu. Karena itu sekarang di pinggir-pinggir sungai dan curug sudah mulai dihidupkan kembali penanamannya agar ada dipakai untuk melanjut kebiasaan itu ke depan. Karena sistim bungkus seperti itu hanya ada di desa ini,” jelas Tri Supriyanto.
Tri juga melanjutkan bahwa keberadaan G. Slamat di desa mereka menjadi salah satu daya tarik tersendiri. “Selain gunung paling tinggi di Asia Tenggara, G. Slamat juga memberikan signal kepada kami di sisi setiap ada pergantian pimpinan Negara,” cerita Tri. Ketika pergantian Soeharto dulu, gunung ini meletus dan batuk-batuk terus. Menurut Tri karena memang sempat kacau. BEgitu juga ketika pergantian SBY dengan Jokowi. “Kami saksikan gunung ini batuk cukup lama karena waktu itu memang situasinya sangat menegangkan. Tetapi begitu pemilu selesai gunung ini diam kembali,” tambah Tri.
Sonar Sihombing
Anggota Komsos KAJ

Box :
10 Ajakan Paus Fransiskus Mengenai Perubahan Lingkungan (Laudato Si)
1.Think of Future Generation : Dunia seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang?
2.Embrace Alternative Energy Sources : segeralah gantikan penggunaan teknologi berbahan bakar energy fosil yang polutif seperti batu bara, bbm dengan gas yang lebih bersih dan jangan ditunda lagi.
3.Consider Pollution Effect on the Poor : sentuhlah hati mereka yang hanya berusaha mencari keuntungan dan merugikan orang miskin dan bumi.
4.Take the bus : prioritaskanlah pengadaan dan pembenahan transportasi publik.
5.Be Humble : kita bukan Allah. Bumi telah ada sebelum kita.
6.Don,t become a slave of your phone : karena itu akan membuat mental anda terpolusi.
7. Don’t Trade Online Relationships for real one: relasi nyata kini telah digantikan dengan relasi maya (komunikasi internet) yang memungkinkan kita memilih dan menghilangkan hubngan dengan siapa saja
8.Turn off the lights, Recycle and Don’t Waste Food : tanggungjawab lingkungan dapat secara signifikan memengaruhi bumi di sekitar kita, seperti menolok menggunakan plastic, kertas, mengurangi konsumsi air, separating refuse, memasak makanan seperlunya untuk dikonsumsi, memadamkan lampu yang tidak dibutuhkan.
9.Educate Yourself : karena pendidikan mampu membawa prubahan nyata dalam gaya hidupmu
10.Believe you can make a difference : kita harus yakin bahwa kita saling membutuhkan saling memiliki tanggungjawab kepada orang lain dan bumi ini.

















