Home Blog

RENUNGAN MINGGU BIASA XXV, 20 September 2026

Para pekerja di kebun anggur

Kemurahan hati Allah adalah KEHIDUPAN KITA

Hari Minggu Biasa XXV, Tahun A — 20 September 2026

Yes. 55:6–9; Mzm. 145:2–3,8–9,17–18; Flp. 1:20c–24,27a; Mat. 20:1–16a

Biasanya, kalau kita baca perikop Injil hari ini point of view (POV) kita langsung tertuju pada sikap pekerja awal yang protes atas kemurahan hati sang Tuan kebun anggur. Lalu munculah pesan-pesan dangkal: jangan seperti buruh pertama itu. Dia iri hati dia serakah dan egois. Atau pesan lain, jadilah seperti tuan kebun anggur itu yang murah hati kepada semua.

Sebetulnya perumpamaan ini bisa didekati lewat POV apapun. Namun, kita perlu ingat Yesus sedang mengajar tentang Kerajaan Surga. Apa yang dikehendaki Bapa-Nya dalam kerajaan itu, dan bagi keselamatan manusia. Maka lewat tulisan ini saya hendak menawarkan renungan teks dari POV yang lain.

Ini berangkat dari pertanyaan sederhana. Apa sebenernya yang menjadi motivasi sang tuan kebun anggur saat dia mencari pekerja? Sebab dia dari pagi keluar, jam sembilan keluar lagi. Jam dua belas, jam tiga lalu jam lima sore ia keluar lagi. Jadi  lima kali dia keluar dari kebun anggur untuk mencari pekerja. Dan semua yang ia ajak adalah pengangguran yang tidak dapat upah.

Mari kita coba jawab.

Kalau motivasinya sekadar untung, aneh rasanya seorang tuan tanah bolak-balik lima kali ke pasar, bahkan sampai jam lima sore — ketika hasil kerja satu jam nyaris tidak berarti apa-apa bagi kebunnya. Secara bisnis, ini tidak efisien.

Tapi kalau kita perhatikan jawaban orang-orang yang ia temui, “Karena tidak ada orang yang mengupah kami” — di situ kita menemukan jawabannya.

Sang tuan tidak sedang mencari tenaga tambahan.

Ia sedang mencari orang-orang yang terlantar, yang tanpa pekerjaan hari itu, tidak akan bisa makan hari itu.

Motivasinya bukan cari untung. Motivasinya adalah kehidupan mereka.

Dan kehidupan itu ia jamin lewat satu dinar. Bukan besar, tapi cukup — cukup bagi seorang pekerja dan keluarganya untuk hidup satu hari, berapa pun jam kerja yang mereka berikan.

Di sinilah letak kemurahan hati sang tuan yang sesungguhnya: bukan pada besarnya upah, tapi pada kepastian bahwa tidak ada seorang pun yang ia temui hari itu pulang tanpa kehidupan.

Kalau perumpamaan ini sungguh berbicara tentang Kerajaan Surga, maka sang tuan ini adalah gambaran Allah sendiri — yang terus-menerus “keluar,” tidak berhenti mencari jiwa-jiwa yang terlantar dan terlupakan, sampai tidak ada lagi yang tertinggal tanpa kehidupan.

Kemurahan hati Allah bukan sekadar sifat-Nya. Kemurahan hati Allah adalah kehidupan kita sendiri — sebab tanpa itu, kita seperti pekerja-pekerja yang berdiri saja di pasar, menganggur, menunggu seseorang yang mau memanggil kita masuk ke dalam kehidupan yang Ia tawarkan.

Kalau begitu motivasi sang tuan, ini sekaligus jadi cermin yang tidak nyaman bagi kita yang punya kuasa atas penghidupan orang lain — pemberi kerja, dan terlebih lagi pembuat regulasi ketenagakerjaan.

Sang tuan memastikan upah itu cukup untuk hidup, apa pun jam kerjanya. Bandingkan dengan kenyataan yang sering kita saksikan: harga kebutuhan pokok terus naik, tapi upah minimum tidak kunjung menyesuaikan dengan layak. Siapa yang diuntungkan dari jarak yang dibiarkan melebar itu? Bukan pekerja dan keluarganya, melainkan pemberi kerja yang labanya makin tebal justru dari selisih itu.

Kalau motivasi menciptakan lapangan kerja sungguh seperti motivasi sang tuan — supaya orang bisa hidup layak — maka upah bukan beban yang ditekan serendah mungkin, melainkan tanggung jawab yang harus dipenuhi selayaknya.

Yesaya mengingatkan kita hari ini: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku… seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah jalan-Ku menjulang di atas jalanmu.” Cara Allah menjamin kehidupan kita memang tidak selalu masuk akal menurut logika untung-rugi dunia. Karena rencana Allah tidak menguntungkan bagi-Nya, tapi memberi kehidupan bagi dunia.

St. Paulus, dalam bacaan kedua, menunjukkan bagaimana rasanya hidup dari kepastian itu: baginya hidup adalah Kristus, dan itu sudah cukup — ia tidak lagi menghitung apa yang “seharusnya” ia terima, sebab kehidupannya sendiri sudah dijamin oleh kemurahan hati yang jauh lebih besar dari perhitungan dunia mana pun.

Jadi, siapa pun kita hari ini — entah sedang berdiri di pasar menunggu dipanggil, atau justru sedang memegang kuasa untuk memanggil orang lain masuk bekerja — pertanyaannya sama: sudahkah kita percaya, dan sudahkah kita meneruskan, bahwa kemurahan hati Allah itu bukan sekadar berkat tambahan, melainkan kehidupan kita sendiri?

….

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XXIV, 12 September 2026

SAMPAI BERAPA KALIKAH AKU HARUS MENGAMPUNI?

Minggu Biasa XXIV, Tahun A — 13 September 2026
Sir. 27:30-28:7; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Rm. 14:7-9; Mat. 18:21-35

Saudara-saudari,

Pekan lalu kita bicara tentang menegur saudara dengan kasih. Hari ini Injil membawa satu langkah lebih jauh: bagaimana kalau saudara itu belum juga berubah, atau luka kita sendiri belum sembuh — haruskah kita tetap mengampuni? Ketika Petrus bertanya, “Sampai berapa kali? Sampai tujuh kali?” — jumlah yang sudah terasa murah hati — Yesus menjawab, “Tujuh puluh kali tujuh kali.” Ini ajakan untuk mengampuni sampai tidak perlu menghitung lagi berapa kali. Mengampuni sampai merelakan semua.

Yesus lalu bercerita tentang seorang hamba yang diampuni utangnya yang mustahil dilunasi, tapi begitu keluar dari hadapan rajanya, ia mencekik rekannya yang berutang jauh lebih kecil kepadanya.

Yang mengerikan bukan besar kejahatannya, tapi betapa cepat ia lupa: baru saja menerima pengampunan sebesar gunung, ia tak sanggup memberi pengampunan sebesar kerikil. Kitab Sirakh menegaskan hal yang sama: bagaimana mungkin kita meminta belas kasih Allah, sementara menyimpan dendam terhadap sesama?

Kita mungkin sudah bilang “saya sudah memaafkan.” Tapi ternyata luka itu diam-diam masih kita putar ulang dan pakai untuk menghukum orang itu dengan cara kita sendiri: membenci, diam, tak mau bicara, tak mau menolong lagi. Yesus meminta yang lebih berat daripada berhenti membalas: mengampuni “dari hati” — melepaskan hak untuk terus menuntut.

Paulus menegaskan alasannya: “Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” — bukan milik dendam atau milik perasaan kita sendiri. Kata Putra Sirakh, “Dendam kesumat sangat mengerikan, sebab orang berdosalah yang dikuasainya”. Dosa membuat jurang antar saudara. Sementara pengampunan membangun jembatan dengan sesama manusia.

Tuhan mau kita hidup dalam damai sejahtera.

Barangkali ada nama yang muncul saat membaca ini — seseorang yang belum benar-benar kita ampuni. Mari kita jujur soal itu, dan memohon rahmat untuk melepaskan apa yang masih kita genggam erat, sebab kita sendiri telah diampuni jauh lebih dulu dan jauh lebih besar.


RA

Profil Lengkap Para Imam DIOSESAN KAJ dan OFM yang Akan ditahbiskan Besok Selasa Sore, 8 September 2026

DIOSESAN KAJ

 

 

OFM (ORDO FRATRUM MINORUM)

 

RENUNGAN MINGGU BIASA XXIII, 6 September 2026

Menegur karena Mengasihi

Minggu Biasa XXIII / Hari Minggu Kitab Suci Nasional — 6 September 2026
Yeh. 33:7-9; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 13:8-10; Mat. 18:15-20

Ada satu ketakutan yang jujur perlu kita akui: kita takut menegur orang lain.

Bukan karena kita tidak melihat kesalahannya, tapi lebih karena kita tidak mau dianggap sok suci. Tidak mau merusak hubungan. Atau kalau mau lebih jujur lagi, tidak mau repot. Lebih enak masa bodo. Bukan urusanku. Lebih gampang diam, atau lebih gampang lagi membicarakannya di belakang.

Bahkan boleh jadi, kita baru puas jika mengumumkan aib orang lain ke publik atau media sosial. Orang itu dihakimi netizen, lantas kita merasa menjadi ‘pahlawan’-nya karena telah mengungkapkan kebenaran atas kekeliruan orang lain. Benarkah perbuatan seperti itu? Kita lupa bahwa kita sendiri pun bisa berbuat salah.

Bacaan hari ini menolak dua jalan pintas itu.

Dalam bacaan pertama, Allah menjadikan Yehezkiel seorang penjaga (watchman) bagi bangsa Israel. Tugas seorang penjaga bukan menghukum, melainkan memberi peringatan.

Kalau ia diam saja melihat bahaya datang, darah orang yang celaka itu dituntut dari tangannya. Menegur, dalam kerangka ini, bukan pilihan opsional bagi orang yang peduli — itu tanggung jawab.

Injil Matius memberi kita sesuatu yang lebih konkret lagi yaitu tata cara peneguran itu.

“Kalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Baru kalau itu tidak berhasil, ajak satu dua orang. Baru kalau itu pun gagal, sampaikan kepada jemaat. Ada urutannya, dan urutan itu penting.

Yesus sedang mengajarkan sesuatu yang nyaris hilang di zaman kita: bahwa koreksi yang benar dimulai dari ruang yang paling kecil dan paling pribadi. Hati ke hati. Tidak langsung dilempar ruang yang paling ramai dan paling terbuka.

Kesalahan yang langsung dilempar ke publik tanpa adanya koreksi antar dua pribadi hanya akan mempermalukan, menghakimi bahkan merendahkan martabat yg bersalah. Bukan hanya itu, muncul penghakiman lalu memuncak pada kegaduhan liar yang tak berujung. Tujuan correctio fraterna – teguran penuh kasih yang hangat menjadi tidak tercapai.

Ini relevan sekali untuk kita yang hidup dengan layar di tangan. Budaya kita hari ini punya kecenderungan terbalik dari Matius 18, yaitu kesalahan orang lain justru pertama-tama dibawa ke ruang publik — di-screenshot, di-post, dikomentari beramai-ramai — baru kalau ributnya sudah besar, mungkin ada yang mencoba bicara langsung.

Yesus mengajarkan urutan yang justru melindungi martabat orang yang bersalah, sekaligus membuka jalan bagi pertobatan yang sesungguhnya. Menegur di muka umum lebih sering menghasilkan pertahanan diri dan rasa malu, bukan penyesalan yang tulus. Menegur empat mata memberi ruang bagi orang untuk berubah tanpa kehilangan harga dirinya.

Bukankah kita memiliki tradisi sakramen tobat. Semua diselesaikan di ruangan kudus itu. Bayangkan, jika semua yang bersalah – dihakimi di depan seluruh jemaat?

Tidak perlu dibayangkan.

Lantas ada yang lebih dalam lagi, dan itu dijelaskan Paulus di bacaan kedua: seluruh hukum itu tergenapi dalam satu kata — kasih. “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia.” Ini kuncinya. Teguran yang tidak lahir dari kasih akan terasa seperti serangan, dan biasanya memang serangan — entah untuk merasa lebih benar, lebih suci, atau sekadar melampiaskan kekesalan. Tapi teguran yang lahir dari kasih akan selalu punya satu tujuan: memenangkan saudara itu kembali, bukan mengalahkannya.

Hari ini juga Gereja membuka Bulan Kitab Suci Nasional. Ada hubungan yang tidak kebetulan antara tema bulan ini dan bacaan hari ini.

Sabda Allah bukan sekadar bacaan rohani yang menenangkan hati; Sabda itu juga cermin yang berani, yang kadang menegur kita sendiri sebelum kita sempat menegur orang lain. Membaca Kitab Suci dengan sungguh-sungguh berarti bersedia menjadi Yehezkiel sekaligus bersedia menjadi orang yang ditegur. Tuhan secara pribadi empat mata menegur kita melalui sabda-Nya.

Maka mari kita bawa pulang satu pertanyaan sederhana minggu ini: adakah seseorang yang sebenarnya sudah lama ingin saya tegur, tapi saya pilih diam atau justru saya bicarakan di belakangnya?

Yesus mengundang kita untuk berani mengambil langkah pertama yang paling sulit — bicara langsung, empat mata, dengan kasih sebagai satu-satunya alasan.
“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat. 18:20).

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XXII, 30 Agustus 2026

L

Api yang Mengakar

Bacaan I: Yer. 20:7-9
Mazmur: Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9
Bacaan II: Rm. 12:1-2
Injil: Mat. 16:21-27

Ada panggilan yang kita jawab dengan penuh kerelaan, lalu ternyata jalannya jauh lebih berat dari yang kita bayangkan. Yeremia mengalami itu. Ia menjawab panggilan Tuhan menjadi nabi dengan hati yang menunduk, mengenali siapa dirinya di hadapan Tuhan. Namun perutusan itu tidak membawanya pada kegembiraan. Ia bertemu cemooh, olok-olok, dan penolakan di sepanjang jalan.

Berkali-kali Yeremia ingin menyerah. “Aku tidak mau mengingat Dia,” katanya dalam hati, “dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya.” Tapi setiap kali niat itu muncul, ada sesuatu yang menyala di dalam dirinya, terkurung dalam tulang-tulangnya sendiri. Ia berlelah-lelah menahannya, tapi tidak sanggup. Panggilan itu sudah mengakar. Semakin ia coba memadamkannya, semakin ia sadar itu bagian dari dirinya sendiri yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Yang tadinya dijalankan dengan keterpaksaan, menjadi sebuah kerelaan. Setengah hati menjadi sepenuh hati.

Injil hari ini melanjutkan persis dari titik pengakuan iman Petrus minggu lalu. Begitu Petrus mengaku Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, Yesus mulai menyatakan apa yang akan terjadi selanjutnya: Ia harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus menariknya ke samping dan menegurnya. Ia mendengar penderitaan dan kematian, tapi kabar tentang kebangkitan seperti terlewat dari telinganya.

Bentuk tantangan seperti apa yang paling tepat untuk menguji pengakuan iman, “Engkaulah Mesias, ANAK ALLAH YANG HIDUP”?

Betul. Penderitaan dan kematian. Di sanalah pengakuan iman kita akan menancap betul dalam hati. Iman bukan cuma diucapkan tapi akhirnya menjadi pengakuan yang betul-betul mengakar.

Yesus lalu menyatakan apa yang sesungguhnya dikehendaki Allah bagi siapa saja yang mau mengikuti-Nya: menyangkal diri, memikul salib, bahkan rela kehilangan nyawa. Tapi perintah itu tidak berhenti di sana. Yesus menutupnya dengan berkata bahwa Anak Manusia—diri-Nya sendiri, sosok yang sama yang diakui Petrus minggu lalu—akan datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya untuk membalas setiap orang menurut perbuatannya. Penderitaan bukan tujuan akhir. Penderitaan adalah jalan menuju kemuliaan yang sudah dijanjikan sejak awal.

Paulus memberi jawaban yang sama dari sisi lain. “Berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Yang perlu diperbarui bukan Allah, yang selalu sama, selalu baik, selalu setia. Yang perlu diperbarui adalah budi kita, supaya sanggup mengenali kehendak-Nya bahkan ketika jalannya berat, bahkan ketika dunia di sekitar kita menawarkan jalan yang lebih mudah dan lebih masuk akal.

Yeremia yang berkali-kali ingin menyerah tetap berjalan karena api itu mengakar dalam dirinya. Petrus yang gagal memahami arah penderitaan Yesus tetap dipanggil untuk mengikuti-Nya sampai memikul salibnya sendiri. Keduanya diajak percaya pada satu hal yang sama: penderitaan yang mereka jalani bukan akhir dari kisah, melainkan jalan menuju kemuliaan yang sudah dijanjikan sejak semula.

Jadi, kamu gimana?

RA

MENYANYI SUKACITA DI SEPANJANG USIA Festival Koor Lansia Simeon Hana Antar Paroki se Dekenat Tangerang I

Tangerang – Bernyanyi bukan saja sekedar aktivitas menyenangkan tetapi juga memiliki banyak manfaat kesehatan khususnya bagi kaum lanjut usia (lansia). Selain meningkatkan suasana hati dapat memberi dampak positif bagi kesehatan baik fisik maupun mental.

Untuk itu Komunitas Lansia Simeon Hana Dekenat Tangerang I menyelenggarakan Festival Koor Lansia pada Sabtu (1/8/2026) bertempat di Gereja St. Agustinus Karawaci Tangerang, bertepatan pula dengan peringatan Ulang Tahun Paroki Karawaci ke 38 tahun. Festival ini diikuti kelompok koor dari 6 Paroki : Paroki Tangerang, Paroki Karawaci, Paroki Kutabumi, Paroki Citra Raya, Paroki Curug dan Paroki Pinang di Dekenant Tangerang 1 Keuskupan Agung Jakarta.

Acara ini dihadiri dan dibuka oleh Romo Aloysius Susilo Wjoyo, Pr moderator Komunitas Lansia Simeon Hana KAJ didampingi Ketua Umum Laurensius Irwan, Pembina Yohanes Surya serta pengurus dan didampingi pula Rm Eduardus Pausta, OSC pastor rekan dan dukungan dari pastor kepala Paroki Karawaci Rm Stefanus Suwarno, OSC

Dalam sambutan Rm Bambang Ponco Santosa, SJ selaku moderator Dekenat Tangerang 1 yang dibacakan oleh Rm Eduardus Pausta, OSC yang akrab dipanggil Rm Edo, menyampaikan beberapa manfaat bernyanyi terutama bagi lansia :

Meningkatkan kekuatan paru-paru

Bernyanyi secara rutin dapat membantu penderita penyakit paru-paru merasa lebih lega. Beberapa studi menunjukkan bernyanyi bisa memperbaiki kapasitas paru-paru, membantu pernafasan dan meringankan gejala yang berkaitan dengan penyakit pernafasan serius

Mengatasi demensia

Penelitian yang dilakukan ahli saraf Nina Kraus dari Universitas Northwestern menemukan, bernyanyi berhubungan erat dengan peningkatan fungsi otak, terutama pada sistem memori. Musik dan suara telah berevolusi selama ribuan tahun dan dapat merangsang bagian-bagian otak yang berperan dalam pengenalan dan ingatan sehingga membantu penserita demensia

Meningkatkan kesehatan mental

Sebuah penelitian dari University of East Anglia, Inggris, menemukan bernyanyi bersama dalam kelompok berdampak luar biasa pada kesehatan mental. Aktivitas ini membantu orang merasa lebih diterima secara sosial, meningkatkan kepercayaan diri dan meredakan perasaan cemas atau depresi

Mengurangi kesepian

Bergabung dalam paduan suara atau kelompok musik dapat membantu lansia mengatasi rasa kesepian. Bernyanyi menciptakan interaksi sosial yang menyenangkan. Aktivitas ini efektif membantu orang merasa lebih terhubung dengan orang lain.

Merangsang produksi hormon bahagia

Ketika bernyanyi, tubuh melepaskan hormone endorphin yang memicu perasaan bahagia, mirip seperti saat tertawa atau menikmati makanan favorit. Ketika bernyanyi hormon oksitosin atau disebut “hormon cinta” dilepaskan sehingga meningkatkan perasaan positif. Bernyanyi secara rutin terbukti menurunkan kadar hormon stress (kortisol)

Potensi mencegah kanker

Penelitian dari Tenovus Cancer Care dan Royal College of Music menemukan, bernyanyi dalam kelompok selama satu jam dapat merangsang produksi protein yang dapat membantu tubuh melawan kanker. Aktivitas ini mampu mengurang tingkat stress, yang memiliki efek baik dalam menjaga keseimbangan kesehatan tubuh.

Terbukti festival koor lansia ini mendapat respon positif dari Rm Aloysius Susilo Wijoyo, Pr dengan memberikan pengarahan atau evaluasi atas penampilan peserta. Beliau berharap festival ini dapat diselenggarakan oleh setiap dekenat komunitas lansia se Keuskupan Agung Jakarta.

Komlan Dekenat Tangerang I yang mempelopori festival ini, menyelenggarakan acara dengan konsep festival dan bukan sebagai ajang persaingan atau lomba tetapi memberi penghargaan atas prestasi dari setiap kelompok peserta.

Pada festival ini, setiap paroki mengirimkan kelompok koor dan juri yang akan menilai penampilan peserta dalam menyanyikan lagu wajib Mars Lansia dan lagu pilihan. Juri yang mewakili setiap paroki terpilih dengan latar belakang akademisi dan praktisi yang berpengalaman, memberi penilaian dengan kriteria : penampilan, kostum, harmonisasi, kekompakan, dirigen dan interpretasi dan terpilih :

Penampilan terbaik : Paroki Kutabumi

Kostum terbaik : Paroki Karawaci

Harmonisasi terbaik : Paroki Curug

Kekompakan terbaik : Paroki Citra Raya

Dirigen terbaik : Paroki Tangerang

Interpretasi terbaik : Paroki Pinang

Juri berunding dan memutuskan Paroki Kutabumi meraih Piala Bergilir Festival Koor Lansia tahun 2026. Diharapkan festival ini dapat terus berlanjut diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang. Acara berlangsung meriah, penuh keakraban dan kebersamaan dan sukacita tanpa persaingan, karena semua peserta telah menampilkan yang terbaik.

 

Komunitas Lansia Simeon Hana Dekenat Tangerang I

Atiek

Keuskupan Agung Jakarta Akan Menggelar Misa Tahbisan Imamat bagi 10 Diakon pada Selasa, 8 September 2026, Pk. 17.00 WIB

JAKARTA – Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) bersukacita menyambut pelayan-pelayan umat yang baru dengan akan digelarnya penerimaan Sakramen Tahbisan Imamat bagi 10 orang Frater Diakon. Perayaan Ekaristi tahbisan ini akan dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo.

Berdasarkan surat pengumuman resmi yang dikeluarkan pada tanggal 26 Agustus 2026 oleh Wakil Sekretaris KAJ, Rm. Thomas Ulun Ismoyo, Pr, Misa Tahbisan Imamat ini akan diselenggarakan pada:

  • Hari, Tanggal: Selasa, 8 September 2026

  • Waktu: Pukul 17.00 WIB

  • Tempat: Gereja Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga – Paroki Katedral Jakarta

Kesepuluh calon imam yang akan ditahbiskan terdiri dari 4 Frater Diakon projo Keuskupan Agung Jakarta dan 6 Frater Diakon dari Ordo Saudara Dina (OFM). Mereka adalah:

  1. Frater Diakon Benidiktus Enrico Gunawan

  2. Frater Diakon Thomas Aryangga Abimanyu

  3. Frater Diakon Victor Galih Pratiknyo

  4. Frater Diakon Yohanes Febriyanto Rete

  5. Frater Diakon Agustinus Noning, OFM

  6. Frater Diakon Agustinus Alanersase Vanri, OFM

  7. Frater Diakon Tarsisius Mardi Sudirman, OFM

  8. Frater Diakon Polikarpus Wiglis Bria, OFM

  9. Frater Diakon Andreas Ivan Setiawan, OFM

  10. Frater Diakon Teofilus Armando Gadong, OFM

Menyambut momen penuh rahmat ini, pihak KAJ memohon dukungan doa dari seluruh umat Katolik bagi kesepuluh calon imam tersebut. Kabar gembira ini juga akan dibacakan dalam pengumuman Gereja pada Perayaan Ekaristi akhir pekan tanggal 29–30 Agustus 2026 dan 5–6 September 2026.

KAJ juga mengundang seluruh pastor di lingkungan Keuskupan Agung Jakarta untuk dapat menghadiri acara Misa Tahbisan Imamat ini dengan membawa jubah/alba masing-masing.

RENUNGAN MINGGU BIASA XXI, 23 AGUSTUS 2026

KUNCI YANG DISERAHKAN

Bacaan I — Yes. 22:19-23
Mazmur Tanggapan — Mzm. 138:1-2a.2bc-3.6.8bc
Bacaan II — Rm. 11:33-36
Bait Pengantar Injil — Mat. 16:18
Injil — Mat. 16:13-20

Kita semua pernah diberi kepercayaan. Apapun bentuknya. Misalnya kehidupan, yang dipercayakan oleh Tuhan, meski kita tak pernah meminta. Tapi nyatanya itu diberikan. Dan kita terima begitu saja. Bisa kita pandang sebagai beban, tapi bisa juga sebagai sebuah anugerah. Diberikan karena kita dipandang mampu dan sanggup. Sehingga, apa yang diberikan ini dapat mendatangkan anugerah bagi ciptaan yang lain. 

— 

Namun, cita-cita ideal di atas bisa merosot juga nilainya. Ketika ada pergeseran cara pandang kita terhadap apa yang diberikan. Ada godaan halus yang datang bersama kepercayaan semacam itu: pelan-pelan menganggap hidup itu milik kita. Lalu digunakan untuk membangun kemuliaan pribadi di atasnya. Lupa bahwa yang memberikan itu bisa juga menariknya kembali. Saat kehidupan itu diambil, baru kita sadar apa yang selama ini kita kumpulkan tak berarti apa-apa. 



Dalam bacaan pertama, Yesaya mencatat kisah seorang pejabat istana bernama Sebna yang jatuh ke godaan itu. Ia dipercayakan kunci rumah Daud. Alih-alih melaksanakan tugas itu dengan bertanggungjawab, Ia memahat kuburan mewah bagi dirinya sendiri, memakai jabatannya untuk membesarkan nama sendiri.

Pada akhirnya Tuhan mencabutnya dan menyerahkan kunci rumah Daud kepada Elyakim, hamba yang setia. Kunci itu bukan harta yang bisa direbut siapa saja. Kunci itu amanah yang dipikul di bahu, diberikan oleh Sang Pemilik kepada siapa yang Ia percaya. Kunci itu harus dijaga bahkan dengan nyawa sendiri. 

Injil hari ini membawa kita pada penyerahan kunci yang lebih besar lagi.

Di Kaisarea Filipi, daerah terluar dari tanah Israel, jauh dari pengaruh agama tradisi Yahudi. Meski demikian, di tempat itu banyak ilah-ilah tandingan lain. Di sana,  Yesus bertanya perihal siapakah yang dimaksud dengan “Anak Manusia”, yang terdapat dalam nubuatan Daniel. Kepada-Nya diserahkan kemuliaan dan tahta Kerajaan Surga. 

Para murid – meski sudah di tempat yang jauh dari banyak orang – masih membawa pemahaman tradisional mereka – anggapan orang-orang. Yohanes, Elia, dan para nabi yang lain. Di Kaisarea Filipi – Yesus mengajak mereka melihat siapa yang di depan mereka. 

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?”. Dengan bahasa lain, Menurut-Mu dan bukan kata orang-orang, Apakah Aku ini “Anak Manusia” itu?

Simon mewakili yang lain menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Engkau adalah Kristus, Yang diurapi, Yang bertahta bersama Allah dalam kerajaan-Nya. Yang mereka lihat Yesus – seorang manusia bertubuh. Tapi iman melampaui apa yang mereka lihat. 

Itulah mengapa, jawaban itu disebut lahir dari pewahyuan Bapa, bukan dari kepintaran manusia.

Di atas pengakuan itulah Yesus mendirikan Gereja-Nya, dan kepada Simon yang mengaku itu Ia menyerahkan kunci Kerajaan Surga. Sang pemilik “rumah surgawi” memberikan kuncinya kepada pihak manusia. Bukan sembarang manusia – tapi sekumpulan manusia yang berdiri di atas iman yang satu. 

Sebagai catatan:

Kunci itu satu. Dipegang satu orang. Sebelas yang lain juga percaya, juga mengaku Yesus sebagai Mesias, tapi kunci itu tidak diperbanyak atau diduplikat sesuka hati sebelas kali. Sebelas pintu tidak dibuka dengan sebelas kunci yang berbeda-beda.

Kalau setiap orang beriman merasa berhak membuat kunci sendiri, iman yang satu itu pecah jadi sebelas versi, lalu seratus, lalu tak terhitung. Gereja tetap berdiri sebagai satu tubuh justru karena semua yang percaya ikut kepada kunci yang sama, yang sudah diserahkan itu. Bukan menciptakan kunci tandingan, melainkan tunduk bersama pada satu kunci yang sudah dipercayakan kepada satu pengakuan dan atas satu dasar batu yang sama. 

Kita sebagai Gereja berdiri kokoh ribuan tahun di atas pernyataan iman yang tak pernah berubah. “Ia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Bapa Yang Mahakuasa. Dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan mati”.

Sementara kita menantikan kedatangan-Nya, Yesus memercayakan kunci – yang melepas dan mengikat segala sesuatu – di dunia dan di surga. Gereja mengemban tugas mempersiapkan banyak orang untuk menerima anugerah yang lebih besar di dalam Kerajaan Surga nanti. 

Jadi, kamu gimana?

RA

HARI RAYA ST. PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

Diangkat Karena Setia

Why. 11:19a;12:1-6a.10ab — 1Kor. 15:20-26 — Luk. 1:39-56

Sebelum Maria diangkat ke surga, ia lebih dulu berdiri di depan pintu rumah Elisabet dan mengucapkan Magnificat. Jiwaku memuliakan Tuhan. Kalimat itu keluar justru ketika Maria baru saja menerima kabar yang mengubah seluruh hidupnya secara tidak terduga. Kemuliaan yang kita rayakan hari ini berakar di sana — pada kesediaan seorang perempuan muda untuk berkata ya, jauh sebelum ia tahu ke mana ya itu akan membawanya.

Wahyu 12 melukiskan perempuan berselubung matahari yang berhadapan dengan naga besar. Kemuliaan Maria hadir di tengah ancaman, tumbuh justru dari pergumulan yang nyata. Ini yang sering luput dari cara kita membayangkan kekudusan. Maria menunjukkan bahwa kekudusan sejati justru teruji dalam keadaan yang sulit — kesetiaan yang bertahan ketika situasi tidak menjanjikan kepastian apa pun.

Paulus menyebut Kristus sebagai buah sulung dari kebangkitan, dan mereka yang ada di dalam-Nya akan menyusul. Maria menjadi bukti pertama janji itu digenapi, sekaligus jaminan bagi setiap orang yang menjalani kesetiaan yang sama — dalam skala yang jauh lebih kecil dan lebih sunyi.

Saya pernah mendampingi seseorang yang bertahun-tahun merawat anggota keluarganya yang sakit, tanpa sorotan, tanpa penghargaan, tanpa kepastian kapan semua akan berakhir. Ia menjalani semua itu dengan diam, sebagai bagian biasa dari kasihnya. Kesetiaan seperti itulah yang dirayakan hari ini lewat diangkatnya Maria — kesetiaan yang dijalani dalam ketidaktahuan, dan yang pada akhirnya diangkat Tuhan ke tempat yang layak baginya.

Hari Raya ini menegaskan bahwa kemuliaan adalah upah bagi mereka yang tetap berkata ya di tengah perjuangan yang panjang.



RA

[LINK LIVE] RIP Rm. Adrianus Andy Gunardi,Pr – Misa Requiem | Selasa, 11 Agustus 2026, Pk.19.00 di RD Carolus

REST IN PEACE:

Rm. Adrianus Andy Gunardi, Pr

Misa Requiem Selasa, 11 Agustus 2026, Pk. 19.00 di Rumah Duka Carolus

dipersembahkan oleh +Uskup Ignatius Kardinal Suharyo bersama Para Imam KAJ

#KAJ #KeuskupanAgungJakarta #RmAndy #MisaRequiem #KardinalSuharyo

Terbaru

Populer