Home Blog

RENUNGAN MINGGU PASKAH V, 3 Mei 2026

Bacaan Pertama, Kis 6:1-7
Di kalangan jemaat di Yerusalem, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena dalam pelayanan sehari-hari pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan.
Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: ”Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.”
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.”
Bacaan Kedua, 1Ptr 2:4-9
Saudara-saudara terkasih,  datanglah kepada Kristus, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: ”Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.”
Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: ”Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.” Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang menakjubkan. 

Bacaan Injil, Yoh 14:1-12
Dalam amanat perpisahannya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ”Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.
Kata Tomas kepada-Nya: ”Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.
Kata Filipus kepada-Nya: ”Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: ”Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.
Renungan Padat
LEBIH DARI SEKEDAR MANUAL BOOK
Bayangkan sebuah koperasi kecil yang didirikan sepuluh orang. Semua berjalan lancar — sampai anggotanya membesar, kebutuhan meledak, dan para pendiri masih ingin mengurus semuanya sendiri. Itulah persis yang terjadi di Gereja perdana.
Kis 6 mencatat sebuah krisis kecil yang berbahaya: janda-janda dari kelompok Yunani diabaikan dalam pembagian harian. Muncullah sungut-sungut — kata yang berat dalam tradisi Alkitab, gema dari padang gurun. Para rasul sadar: mereka tidak bisa sekaligus melayani firman, berdoa, sekaligus mengurus distribusi sosial. Maka dipilihlah tujuh orang — dikenal baik, penuh Roh Kudus — dan ditumpangi tangan untuk pelayanan karitatif.
Hasilnya? Firman Allah makin tersebar, jumlah murid makin bertambah.
Gereja baru saja bereklesiologi yang hidupTidak ada aturan baku. Manakala masalah dan kesulitan datang, keluhan didengar, dicari solusi, semua harus terlayani. 
Surat Petrus memberikan dasarnya: setiap orang yang datang kepada Kristus dipanggil menjadi batu hidup — material pembangunan Gereja. Bukan satu batu untuk seluruh gedung. Bukan satu tangan untuk semua pekerjaan. Masing-masing batu punya posisi, punya fungsi, punya kontribusi unik dalam bangunan yang sama.

Lalu datanglah Injil, dan Tomas bertanya dengan jujur: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi. Bagaimana kami tahu jalannya?”
Tomas sedang meminta SOP. Panduan teknis. Peta jalan yang bisa dipegang. Wajar sekali — siapa pun yang akan diberi tugas besar, ingin tahu dulu prosedurnya. Yesus tidak menjawab dengan manual book. Tidak ada sistem baku, tidak ada KPI, tidak ada protokol kaku. Yesus menjawab dengan diri-Nya sendiri: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.”
Itulah yang membuat iman Kristiani berbeda dari sistem etika manapun. Bukan kepatuhan pada aturan, melainkan relasi dengan seorang Pribadi. SOP-nya adalah Yesus sendiri —yang hidup, yang hadir, yang berkarya bersama kita.
Itu persis yang Yesus tawarkan. Bukan “buang semua aturan” — tapi “kenali Aku sampai kamu tidak butuh SOP lagi, karena kamu sudah tahu bagaimana Aku berpikir dan bergerak.”
Dan Yesus melanjutkan dengan sesuatu yang mengejutkan: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan yang lebih besar.” Kepergian Yesus bukan kehilangan — melainkan distribusi. Karya yang selama ini terpusat pada satu sosok, kini tersebar ke banyak tangan, banyak profesi, banyak konteks hidup. Dokter yang merawat dengan penuh kasih. Guru yang mendidik dengan sabar. Pengacara yang membela yang lemah. Seniman yang menciptakan keindahan. Semua adalah batu hidup. Semua sedang mengerjakan “pekerjaan yang lebih besar.”

 

Kita sering gelisah — seperti para murid — ketika merasa kehilangan pegangan.
Kita ingin SOP yang jelas, petunjuk yang pasti, panduan langkah demi langkah.
Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi Yesus mengundang kita melampaui kecemasan itu: percayalah kepada-Ku.
Minggu ini, tanyakan kepada diri sendiri: di mana posisiku sebagai batu hidup dalam bangunan Gereja?
Apa “pekerjaan yang lebih besar” yang dipercayakan Tuhan kepadaku — sesuai profesi, talenta, dan panggilanku?
Dan apakah aku sudah membiarkan Yesus sendiri menjadi jalanku — bukan sekadar aturan yang kuikuti, tetapi Pribadi yang kuikuti?

‭‭–
Jadi, kamu gimana?
RA

PENDAFTARAN RUN FOR KTG (Terbuka Untuk Umum) dalam Rangka 🎉 HUT Paroki Puspa Gading ke-1 🎉

Dalam rangka memeriahkan HUT Paroki Puspa Gading yang pertama, kami mengundang seluruh umat untuk berpartisipasi dalam Run for KTG yang akan diselenggarakan di:

📍 Sedayu City Kelapa Gading 

🗓 Jadwal :
Hari Sabtu, 23 Mei 2026, Pukul : 06.00 – Selesai

HADIAH:

5K Kategori Laki & Perempuan, Masing-masing
Podium 1 – Rp. 1.500,000,-  + Medali🎖️
Podium 2 – Rp. 1.000.000,-  + Medali🎖️
Podium 3 – Rp. 750.000,-  + Medali🎖️

2K Dewasa

Medali🎖️

2K – Kids (satu kategori mix laki perempuan)
Podium 1 – Rp. 1.500,000,-  + Medali🎖️
Podium 2 – Rp. 1.000.000,-  + Medali🎖️
Podium 3 – Rp. 750.000,-  + Medali🎖️

All Finisher : Medali🎖️

 

📋 Pendaftaran :

Run for KTG terdiri dari 2K untuk anak dan 5K untuk dewasa.
Untuk pendaftaran 2K untuk anak sudah termasuk dengan pendamping dewasa 1 orang.
Silakan mengisi form pendaftaran melalui tautan di bawah ini.
Pendaftaran ditutup pada 10 Mei 2026
💰 Kontribusi Komitmen :
2k – Anak & Pendamping : Rp 300.000,-
2k – Dewasa : Rp 225.000,-

5k – Dewasa : Rp 225.000,-

📌 Pembayaran :
🏦 Bank : BCA
👤 Nama Rekening : PGDP RK ST Andreas Kim Tae Gon
🔢 No. Rekening : 6322011888

Mohon melampirkan bukti transfer saat melakukan pendaftaran.

Mari tunjukkan sportivitas dan semangat kebersamaan kita.
Ayo daftar dan ramaikan HUT Paroki Puspa Gading ke-1! 🎊👟
Pertanyaan lebih lanjut dapat hubungi Panitia Pendaftaran
Ivonne : 08161926195

“Menjaga Wajah dan Suara Kita” Refleksi atas Pesan Paus Leo XIV di Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 Tahun 2026

Ilustrasi: Gemini AI

Tahun ini, Gereja Katolik merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-60. Untuk momen itu, Paus Leo XIV mengeluarkan sebuah pesan dengan judul yang sederhana namun menghunjam: Menjaga Suara dan Wajah Manusia. Bukan panduan algoritma. Bukan tips konten viral. Tapi sebuah undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya: di tengah derasnya arus digital, apakah kita masih menjaga diri kita sendiri?

Pertanyaan itu relevan bagi semua orang — bukan hanya mereka yang aktif memposting setiap hari, tetapi juga bagi mereka yang merasa aman karena memilih untuk tidak hadir di media sosial sama sekali. Karena kenyataannya, tidak ada yang benar-benar “tidak hadir” di ruang digital. Dan dari sinilah kita mulai.

Tidak Ada Posisi Netral

Banyak orang merasa bisa memilih untuk tidak ada di media sosial sebagai bentuk perlindungan diri. Pilihan itu bisa dipahami — bahkan dihormati. Namun ada satu kenyataan yang perlu kita hadapi bersama: ruang digital tidak menunggu persetujuan kita.

Seseorang bisa memfoto kita di gereja, di jalan, di acara keluarga. Dalam hitungan detik, foto itu sudah ada di internet — dengan caption yang orang lain tulis, dengan cerita yang orang lain pilih, dengan framing yang sama sekali bukan milik kita. Wajah kita sudah ada di sana, tanpa kita minta.

Maka pertanyaannya bukan lagi: mau hadir atau tidak? Pertanyaannya adalah: siapa yang akan mendefinisikan kehadiran kita itu? Ketika kita hadir dengan sadar, kita memiliki suara untuk memberikan konteks. Ketika kita absen, wajah kita tetap muncul — hanya saja tanpa suara kita sendiri.

Tidak ada posisi netral. Yang absen pun sudah hadir, hanya saja tanpa kendali atas dirinya sendiri.

Bukan Soal Teknologi, Melainkan Soal Manusia

Yang membuat pesan Paus Leo XIV tahun ini berbeda adalah titik tolaknya. Beliau tidak memulai dari data pengguna media sosial. Tidak dari ancaman kecerdasan buatan. Beliau memulai dari pertanyaan yang paling mendasar: siapa itu manusia?

“Wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.”

– Paus Leo XIV, Pesan HKSS ke-60 –

Dalam bahasa Yunani kuno, kata untuk pribadi manusia adalah prósōpon — yang berarti wajah; sesuatu yang hadir di depan orang lain dan memungkinkan perjumpaan terjadi. Dalam bahasa Latin, persona berasal dari per-sonare — melalui suara. Kita adalah wajah kita. Kita adalah suara kita.

Tantangan terbesar era digital bukan soal apakah kita punya konten yang bagus. Tantangannya adalah ini: apakah wajah dan suara yang kita tampilkan di dunia digital itu benar-benar kita? Atau sudah menjadi versi lain — yang dibentuk oleh tekanan algoritma, oleh keinginan untuk disukai, oleh ketakutan dihakimi?

Paus mengingatkan bahwa sistem algoritmik mampu memengaruhi perilaku manusia secara halus, bahkan mengubah cara kita memandang diri sendiri — sering kali tanpa kita sadari sepenuhnya. Inilah yang dimaksud dengan tantangan yang sesungguhnya: bukan mesin yang jahat, melainkan diri kita yang perlahan kehilangan bentuknya sendiri.

Kabar yang Jarang Diberitakan

Di tengah narasi yang sering kita dengar — bahwa generasi muda meninggalkan Gereja — ada sisi lain yang jarang mendapat tempat di pemberitaan. Dan sisi lain itulah yang justru menjadi tanda zaman yang perlu kita baca dengan cermat.

Di Prancis, negara yang dikenal sebagai salah satu yang paling sekuler di Eropa, baptisan orang dewasa muda meningkat lebih dari empat kali lipat dalam empat tahun terakhir. Paskah 2025 mencatat rekor baptisan dewasa, naik 45% dari tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat, beberapa keuskupan melaporkan kenaikan konversi hampir 50%. Di kampus-kampus universitas, antrean kelas persiapan baptis mencapai rekor.

Yang lebih menarik: mereka yang masuk dan tinggal ini hadir di Misa lebih sering dari generasi di atas mereka. Lebih terlibat. Lebih berkomitmen. Ini bukan Katolik nominal — ini Katolik yang dipilih dengan sadar, dengan mata terbuka, setelah menimbang berbagai pilihan.

Apa yang mendorong mereka? Data menunjuk ke satu arah: mereka menemukan orang-orang Katolik yang hadir secara otentik di ruang digital. Bukan karena kontennya viral, melainkan karena wajah dan suara yang nyata menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan algoritma mana pun.

Ada satu tanda zaman lain yang tak kalah menarik: kebangkitan audio analog. Generasi yang tumbuh di era streaming tanpa batas justru kembali membeli vinyl dan kaset — bukan karena nostalgia, melainkan karena mereka rindu sesuatu yang memaksa kehadiran penuh. Kamu tidak bisa scroll sambil mendengarkan vinyl. Kamu harus ada, dengan seluruh dirimu.

Liturgi kita adalah analog. Dupa, air suci, piala, anggur dan air, gerakan tubuh, keheningan di depan tabernakel — semua itu hambatan yang disengaja, yang memaksa kehadiran penuh. Di tengah dunia yang serba instan dan nirkabel, Gereja adalah salah satu tempat paling “analog” yang tersisa. Dan justru itulah yang sedang dicari.

Dua Keberanian yang Dibutuhkan

Dari semua yang telah kita uraikan, ada dua keberanian yang kiranya perlu kita miliki — baik sebagai individu maupun sebagai komunitas beriman.

Keberanian pertama: menjadi diri yang asli di mana pun kita berada. Ini adalah pekerjaan yang mendahului segala strategi digital. Ruang digital hanya bisa memancarkan apa yang sudah terbentuk di kehidupan nyata. Seseorang yang dikenal jujur, hangat, dan bisa dipercaya dalam kesehariannya — ketika ada framing yang salah tentangnya di media sosial, orang-orang yang mengenalnya akan menjadi pembela paling efektif. Bukan karena diminta, melainkan karena mereka tahu: itu bukan orangnya.

Identitas yang kuat dan berakar adalah perlindungan terbaik di era deepfake dan disinformasi. Jauh lebih andal dari pengaturan privasi di akun mana pun.

Keberanian kedua: membawa wajah yang asli ke ruang digital. Bagi mereka yang terpanggil untuk hadir aktif di sana, prinsipnya satu: tampillah sebagai diri sendiri. Bukan versi yang dipoles untuk menyenangkan algoritma, bukan persona yang dibentuk oleh ekspektasi penonton.

“Menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin berarti mengubur talenta yang kita terima untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Itu berarti menyembunyikan wajah kita sendiri dan membungkam suara kita.”

– Paus Leo XIV, Pesan HKSS ke-60 –

Kita tidak perlu viral. Kita tidak perlu sempurna. Kita perlu hadir — sebagai diri sendiri, dengan seluruh kedalaman yang telah dibentuk oleh perjalanan hidup kita masing-masing.

Ilustrasi: Gemini AI

Platform Mana yang Layak Dipercaya?

Pertanyaan praktis yang sering muncul adalah: platform mana yang sebetulnya layak dipercaya sebagai sarana komunikasi yang otentik? Jawabannya bisa kita temukan dari satu pertanyaan sederhana: di platform ini, apakah wajah dan suara seseorang bisa hadir dengan utuh, atau mudah dipotong dan diframing ulang?

YouTube dan podcast adalah yang paling direkomendasikan. Video atau audio panjang memberi konteks yang utuh — penonton melihat wajah, mendengar suara, dan merasakan cara berpikir seseorang secara menyeluruh. Konten semacam ini susah dimanipulasi karena keseluruhannya ada di sana. Live streaming juga masuk kategori ini: justru karena siaran langsung, tidak bisa diedit. Yang menyaksikannya tahu bahwa mereka sedang melihat sesuatu yang nyata.

Video pendek seperti Reels atau Shorts bisa dipakai, tetapi dengan sangat selektif. Wajah dan suara masih hadir, namun konteksnya sangat terbatas. Satu kalimat yang dipotong bisa kehilangan seluruh maknanya. Format ini paling baik digunakan untuk mengundang orang menuju konten yang lebih panjang — bukan untuk menyampaikan pesan yang memerlukan kedalaman.

Teks pendek tanpa wajah dan suara — status di Twitter/X, caption singkat di Facebook — adalah yang paling berisiko. Algoritmanya dirancang untuk mendorong reaksi cepat dan emosional, bukan refleksi yang dalam. Satu kalimat bisa dicabut dari konteksnya dan diberi makna yang sepenuhnya berbeda. Untuk pesan yang penting dan bernilai — medium ini bukan pilihan yang bijak.

Waspada terhadap Sumber Tanpa Wajah dan Suara

Prinsip di atas berlaku tidak hanya bagi mereka yang memproduksi konten, tetapi juga bagi kita semua sebagai penerima informasi. Di sinilah kewaspadaan yang lebih luas dibutuhkan.

Ketika kita menerima sesuatu — berita, klaim, ajakan, peringatan — ada satu pertanyaan yang perlu kita tanyakan lebih dulu: siapa yang bicara? Ada wajahnya? Ada suaranya? Ada orangnya yang bisa dimintai pertanggungjawaban?

Akun tanpa foto profil yang jelas. Nama yang tidak bisa ditelusuri. Narasi yang kuat dan meyakinkan, tetapi orangnya tidak kelihatan. Itu bukan tanda kerendahan hati. Itu tanda bahaya.

Paus Leo XIV mengingatkan bahwa algoritma mampu memengaruhi perilaku manusia secara halus, bahkan menulis ulang cara kita memahami sesuatu — tanpa kita sadari sepenuhnya. Salah satu cara paling efektif untuk melakukan itu adalah lewat konten-konten yang tidak punya wajah. Karena ketika tidak ada wajah, tidak ada pertanggungjawaban. Ketika tidak ada suara, tidak ada perjumpaan yang nyata.

Yang tersisa hanya pesan — yang bisa direkayasa, dimanipulasi, dan disebarkan oleh siapa saja untuk kepentingan apa saja.

Maka ketika kita menerima informasi — terutama yang mengundang emosi kuat, yang mendorong kita untuk segera meneruskan — ada baiknya kita berhenti sejenak. Tanyakan: ada orangnya? Ada wajahnya? Ada suaranya? Jika tidak ada — curigai dulu. Jangan teruskan dulu.

Dan satu hal lagi yang perlu kita sadari: setiap kali kita meneruskan sesuatu, kita juga sedang meminjamkan wajah kita. Kita sedang meminjamkan suara kita — untuk pesan yang mungkin kita sendiri tidak sepenuhnya memahami asalnya.

Menjaga wajah dan suara kita berarti juga memilih dengan bijak apa yang kita teruskan — dan apa yang kita biarkan berhenti di tangan kita.

Penutup: Sebuah Undangan

“Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia. Kita perlu menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam tentang manusia, dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi.”

– Paus Leo XIV, Pesan HKSS ke-60 –

Esai ini bukan ajakan untuk semua orang tiba-tiba membuat kanal YouTube. Bukan pula ajakan untuk menghapus semua akun media sosial. Ini adalah undangan yang jauh lebih mendasar dari itu: kenali dirimu.

Ketahui siapa kamu, apa yang kamu yakini, apa yang kamu perjuangkan. Karena dari kedalaman itulah komunikasi yang sejati lahir — bukan dari strategi konten, bukan dari tips algoritma, melainkan dari perjumpaan yang nyata antara satu pribadi dengan pribadi yang lain.

Di ruang digital yang penuh wajah-wajah palsu, filter, dan konten yang direkayasa — kehadiran yang otentik adalah sesuatu yang langka. Langka berarti berharga. Dan yang berharga akan ada yang mencari.

Kamu memiliki sesuatu yang tidak bisa disimulasikan oleh mesin mana pun: dirimu yang sesungguhnya, dengan seluruh cerita hidupmu, dengan seluruh pergumulan dan keyakinanmu.

Jangan sembunyikan itu.

Jaga wajahmu. Jaga suaramu. Karena dunia sedang sangat membutuhkan keduanya. (*)

 

KomsosKAJ · Rm. Reynaldo Antoni Haryanto, Pr

Komisi Komunikasi Sosial · Keuskupan Agung Jakarta · 2026

Memulihkan Rasa: “Gereja di Tengah Kota yang Kehilangan Kepekaan”

Ilustrasi: Gemini AI

Ada sesuatu yang diam-diam kita sedang kehilangan. Bukan benda, bukan uang, bukan waktu — tetapi rasa. Kemampuan manusiawi yang paling mendasar untuk merasakan dunia sebagaimana adanya.

Rasa adalah jembatan antara manusia dan realitas. Matahari menimbulkan panas di kulit. Es menyentuhkan dingin di jari. Jalan yang rusak menggetarkan tubuh. Hujan menyegarkan paru-paru. Semua itu bukan sekadar data sensorik — itu adalah cara kita hadir di dunia, cara kita tahu bahwa kita hidup, bahwa ada dunia di luar diri kita yang nyata dan perlu direspons.

Namun perlahan, tanpa kita sadari, lapisan demi lapisan teknologi dibangun di antara kita dan realitas itu. AC menggantikan angin. Mobil menggantikan kaki. Layar menggantikan muka. Mal menggantikan pasar. Setiap lapisan hadir dengan alasan yang masuk akal — kenyamanan, efisiensi, keamanan. Tapi akumulasi dari semua lapisan itu menghasilkan sesuatu yang mengkhawatirkan: manusia yang hidup di dalam gelembung, yang tidak lagi tahu seperti apa rasanya dunia di luar.

Di Atas Sadel, Mengenal Kota

Saya rutin bersepeda ke kantor. Setiap hari saya merasakan panas matahari Jakarta di tengkuk, keringat yang mengalir, bising kendaraan yang masuk ke telinga, polusi yang tercium, getaran jalan berlubang yang terasa di telapak tangan. Banyak orang bertanya mengapa tidak naik mobil saja.

Jawabannya sederhana: karena dengan sepeda, saya tahu Jakarta. Bukan sebagai pemandangan dari balik kaca, tapi sebagai kenyataan yang dirasakan tubuh. Jalan berlubang itu bukan statistik — saya merasakannya. Panas itu bukan data cuaca — saya menanggungnya. Dan karena saya merasakannya, saya tidak bisa berpura-pura bahwa itu tidak ada.

Inilah yang terjadi ketika rasa diputus: kita menjadi penonton, bukan peserta. Dan penonton tidak merasa perlu berbuat apa-apa.

Kota yang Dirancang untuk Tidak Merasakan

Jakarta, saya khawatir, sedang dibangun untuk mematikan rasa itu secara sistematis. Perhatikan polanya: jalan layang memindahkan kita dari jalan kampung; apartemen vertikal menggantikan gang yang hiruk-pikuk; ojek online meniadakan kebiasaan menunggu bareng di pinggir jalan sambil berbincang dengan orang asing. Semua pertemuan yang tidak direncanakan, semua kontak yang tidak nyaman, semua momen yang memaksa kita bersentuhan dengan realitas sesama — satu per satu dihapus.

Ini bukan kebetulan. Manusia yang tidak merasakan kota tidak akan marah dengan kotanya. Warga yang terisolasi dalam kenyamanan pribadi tidak akan menuntut ruang publik yang layak. Orang yang tidak pernah kepanasan tidak akan peduli dengan mereka yang tidak punya AC. Mematikan rasa adalah cara paling halus untuk mematikan kepedulian, dan akhirnya mematikan resistensi.

Sentir: Warisan Ignatian yang Terlupakan

Ignatius dari Loyola, dalam Latihan Rohani-nya, menggunakan sebuah kata yang sering luput dari perhatian: sentir — merasakan. Bagi Ignatius, perjalanan rohani bukan pertama-tama soal memahami doktrin yang benar, melainkan soal merasakan kehadiran Allah dan gerak Roh dalam kehidupan konkret. Consolation dan desolation — dua konsep kunci dalam discernment Ignatian — bukan abstraksi teologis. Mereka dirasakan di dalam tubuh dan jiwa, dalam riak perasaan yang nyata.

Karena itu, tradisi Ignatian tidak pernah mengajak kita untuk melarikan diri dari dunia demi mencapai yang rohani. Sebaliknya, semangat contemplativi in actione — berkontemplasi dalam tindakan — justru mendorong kita masuk lebih dalam ke dalam dunia dengan mata dan hati yang terbuka. Bukan pelarian ke ketenangan buatan, melainkan keterlibatan penuh dengan realitas.

Prinsip Finding God in All Things — mencari dan menemukan Allah dalam segala hal — menjadi tidak mungkin dijalankan oleh orang yang terus-menerus membentengi dirinya dari pengalaman langsung. Bagaimana kita bisa menemukan Allah dalam penderitaan sesama, jika kita tidak membiarkan diri kita benar-benar merasakan penderitaan itu? Bagaimana kita bisa menemukan Allah dalam wajah orang miskin, jika kita hanya mengenalnya sebagai data statistik dari balik layar kaca mobil?

Dan di balik semua ini berdiri misteri Inkarnasi. Allah tidak mengirim memo, tidak mengirim sinyal digital. Allah masuk ke dalam rasa yang asli — lapar, haus, lelah, panas terik di Galilea, debu jalan yang menempel di kaki. Inkarnasi adalah pernyataan paling radikal bahwa pengalaman tubuh adalah jalan yang sah menuju Allah — bukan hambatan yang harus diatasi.

Ilustrasi: Gemni AI

Gereja sebagai Ruang Pemulihan Rasa

Di tengah arus ini, gereja dipanggil untuk menjadi ruang yang melawan — bukan dengan slogan, tetapi dengan keputusan-keputusan konkret tentang bagaimana ruang ibadah itu dibangun dan dirasakan.

Karena itulah saya menahan perbaikan AC di Gereja Loyola. Bukan karena tidak peduli dengan kenyamanan umat, tetapi karena percaya bahwa gereja bukan pelarian dari dunia — gereja adalah ambang batas antara yang sakral dan yang sehari-hari. Orang masuk membawa seluruh hidupnya: kelelahan minggu ini, gerahnya perjalanan tadi, beratnya beban yang dipikul. Dan semua itu adalah bahan doa yang otentik — bukan sesuatu yang harus disterilkan sebelum masuk ke hadirat Tuhan.

Gereja yang terlalu dingin secara tidak sadar menyampaikan pesan: tinggalkan duniamu di luar pintu. Padahal misa justru mengundang sebaliknya — bawa duniamu ke sini, letakkan di altar, dan terimalah kekuatan untuk kembali ke sana dengan lebih utuh.

Keheningan yang Tidak Membutuhkan Kesunyian

Untuk alasan yang sama, saya menangguhkan rencana meredam suara kebisingan dari arah rel kereta Cik Di Tiro.

Suara kereta itu bukan gangguan. Suara itu adalah Jakarta yang masuk ke dalam doa. Di balik setiap rangkaian kereta ada ratusan manusia — yang lelah, yang buru-buru, yang membawa harapan dan kekecewaan. Ketika suara itu masuk ke dalam gereja di tengah keheningan misa, ia bukan memecah keheningan — ia mengisi keheningan itu dengan realitas yang harus kita doakan.

Keheningan sejati bukan absennya suara. Keheningan sejati adalah kedalaman batin yang tidak tergoyahkan oleh suara dari luar. Dan itu adalah latihan spiritual yang jauh lebih tinggi — karena keheningan yang hanya bisa hadir dalam kondisi sunyi adalah keheningan yang rapuh, bergantung pada kondisi eksternal. Keheningan yang lahir di tengah deru kota adalah keheningan yang bisa dibawa ke mana-mana: ke pasar, ke kantor, ke keluarga, ke kehidupan yang tidak pernah sunyi.

Ignatius sendiri menemukan kedalaman spiritualnya bukan di biara yang terpencil, melainkan di jalanan, di rumah sakit, di lorong-lorong kota. Contemplativi in actione bukan hanya slogan — itu adalah deskripsi nyata tentang bagaimana seorang Ignatian berdoa: dengan mata terbuka, dengan telinga yang mendengar suara dunia, dengan hati yang tetap tertambat pada Allah di tengah kebisingan.

Rasa sebagai Jembatan Menuju Tindakan

Semua ini bermuara pada satu keyakinan: rasa adalah jembatan menuju tindakan. Orang tidak bergerak karena tahu sesuatu itu benar secara intelektual. Orang bergerak karena merasakan sesuatu itu penting dengan seluruh keberadaannya.

Liturgi, dalam pengertian yang paling dalam, adalah sekolah rasa. Bukan sekadar ritual yang dijalankan, tetapi pembentukan kepekaan manusiawi yang terus-menerus. Orang masuk dengan rasa yang tumpul karena terlalu lama di dalam gelembung — dan diajak keluar dengan rasa yang diasah, siap merasakan dunia lebih dalam.

Ite, missa est. Pergilah, kamu diutus. Bukan pergilah, kamu sudah selesai. Pengutusan itu bukan sekadar kata-kata di akhir misa — ia harus terasa di tubuh, dimulai dari gereja yang tidak memutus umat dari realitas dunia di luar.

Gereja yang memulihkan rasa adalah gereja yang menolak menjadi gelembung. Gereja yang membiarkan panas, bising, dan semua ketidaknyamanan kota sedikit masuk ke dalamnya — supaya umat yang keluar tidak perlu beradaptasi lagi dengan dunia nyata, karena mereka tidak pernah meninggalkannya.

Itu gereja yang benar-benar hadir di kota. Dan dari kehadiran yang sungguh-sungguh itulah lahir kepedulian yang sungguh-sungguh — kepedulian yang tidak cukup hanya dipikirkan, tetapi harus dirasakan, dan akhirnya diperjuangkan.

Ditulis dari kegelisahan seorang pastor yang memilih bersepeda di Jakarta.

RENUNGAN MINGGU PASKAH IV, 26 April 2026

Bacaan Pertama, Kis 2:14a.36-41
Pada hari Pentakosta bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada orang-orang Yahudi: ”Seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ”Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka: ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”
Dan dengan banyak perkataan lain lagi Petrus memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: ”Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”
Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.”
‭‭
Bacaan Kedua, 1Ptr 2:20b-25
Saudara-saudara terkasih, jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Bacaan Injil, Yoh 10:1-10
Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”
Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.
Maka kata Yesus sekali lagi: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Renungan Padat
MASUK MELALUI PINTU YANG BENAR
Yesus berbicara tentang domba, kandang, dan pintu. Tapi sebelum sampai ke “Akulah Gembala yang Baik” — yang akan kita dengar minggu depan — Ia memperkenalkan diri dengan cara yang lebih mengejutkan:
“Akulah pintu.”
Bukan hanya penunjuk jalan. Bukan hanya pemandu. Pintunya sendiri adalah pribadi-Nya.
Petrus hari ini muncul di dua bacaan sekaligus — dan keduanya berbicara tentang pintu yang sama dari dua sisi yang berbeda. Di Kisah Para Rasul, Petrus berdiri di depan orang banyak dan berbicara keras: “Yesus yang kamu salibkan itu — Dialah Tuhan dan Mesias.” Tidak ada diplomasi.
Orang-orang itu tertikam hatinya dan bertanya: “Apa yang harus kami perbuat?”
Jawaban Petrus sederhana: bertobatlah dan dibaptislah. Itu pintu masuknya.
Pertobatan dan pembaptisan bukan ritual kosong — itu langkah konkret untuk melewati pintu yang bernama Yesus.
Tapi Petrus di Surat Pertamanya bicara kepada mereka yang sudah ada di dalam. Dan ternyata masuk melalui pintu yang benar bukan akhir dari perjalanan. Justru di sanalah tuntutan hidup yang baru dimulai. Jangan berbuat dosa lagi. Ketika menderita — jangan membalas. Ketika dihina — jangan mengancam. Hidup untuk kebenaran, bahkan ketika itu terasa berat.
Standar yang tinggi. Tapi Petrus tidak membiarkannya mengambang sebagai aturan abstrak. Ia menunjuk langsung pada satu teladan konkret: Yesus sendiri. Di sinilah ada ironi yang indah.
Yesus adalah pintu — tapi Ia juga yang paling tahu rasanya berada di luar. Ia yang menanggung penderitaan tanpa membalas, diam seperti domba di hadapan pencukurnya. Gembala yang menjadi domba. Pintu yang merasakan sendiri apa artinya melewati penderitaan dari arah yang paling dalam.
Maka tuntutan hidup setelah masuk melalui pintu itu bukan beban dari luar. Itu undangan untuk mengikuti jejak Dia yang sudah lebih dulu melewatinya — dari arah yang lain.
“Kamu sesat seperti domba,” kata Petrus, “tetapi sekarang kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.”
Kita semua pernah mencari pintu yang lain — pintu kenyamanan, pintu pengakuan, pintu yang tidak menuntut apa-apa. Dan kita tahu hasilnya. Pintu yang benar hanya satu. Dan di sana ada Dia yang mengenal nama kita, yang sudah lebih dulu menanggung apa yang kita takutkan, yang mengundang kita masuk — bukan untuk hidup semau kita, tapi untuk hidup seperti Dia.
Jadi, kamu gimana?
RA

‭‭

RENUNGAN MINGGU PASKAH III, 19 April 2026

Bacaan Pertama, Kis 2:14.22-33
Pada hari Pentakosta, bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: ”Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.
Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.
Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.”
‭‭
Bacaan Kedua, 1Ptr 1:17-21
Saudara-saudara terkasih, Allah yang menghakimi semua orang menurut perbuatannya tanpa pandang muka, kamu sebut Bapa. Maka hendaklah kamu hidup dengan takwa selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi – karena kamu – Ia baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.”

Bacaan Injil, Luk 24:13-35
Pada hari itu sabat sesudah Yesus dimakamkan, dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
Yesus berkata kepada mereka: ”Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: ”Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?”
Kata-Nya kepada mereka: ”Apakah itu?” Jawab mereka: ”Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”
Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
Sementara itu mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: ”Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: ”Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: ”Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.” Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.”
Renungan Padat
SALAH KUNCI, SALAH PAHAM, SALAH ARTI
Salah paham terjadi ketika kita keliru mengartikan makna asli dari perkataan dan tindakan seseorang. Ia berangkat dari gagal paham. Dan karena kita tidak nyaman tinggal dalam ketidakmengertian, kita cepat-cepat mengambil kesimpulan sendiri — yang belum tentu benar.
Di antara dua belas rasul, ada satu yang paling layak disebut Rasul Salah Paham. Ia ikut berjalan di atas air — lalu tenggelam. Ia menegur Yesus — lalu dikatai Iblis. Ia bersumpah setia sampai mati — lalu menyangkal tiga kali. Bukan karena ia jahat. Tapi karena ia terus-menerus bertindak dari pemahamannya sendiri tentang siapa Yesus seharusnya.
Ia adalah Petrus.
Petrus bukan satu-satunya yang gagal paham. Dua murid dalam Injil hari ini pun demikian. Fakta dan data ada semua di tangan mereka — Yesus disalibkan, makam kosong, kesaksian para perempuan. Tapi mereka tetap pergi meninggalkan Yerusalem dengan wajah muram. Pintu hati mereka tertutup. Mereka masih memakai kunci mereka sendiri: “Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.”
Kunci yang salah tidak akan pernah bisa membuka pintu yang benar.
Kepada mereka — dan kepada kita — Yesus memilih untuk berjalan bersama. Ia tidak menunggu kita kembali dulu. Ia masuk ke dalam perjalanan kita yang salah arah, dan di sana Ia menjelaskan semuanya. Perlahan, pintu itu terbuka. Hati mereka mulai berkobar di jalan. Dan di meja makan, ketika Ia memecah roti, mata mereka terbuka sepenuhnya. Bukan karena argumen — tapi karena kehadiran yang tinggal bersama.
Petrus yang muncul dalam dua bacaan hari ini bukan lagi Petrus yang salah paham. Ia membiarkan dirinya dipenuhi Roh Kudus — Roh yang memberi pengertian akan kebenaran. Maka seorang nelayan biasa tiba-tiba berteologi dengan sangat indah: bahwa salib Yesus adalah tanda Allah yang mahaadil sekaligus maharahim. Allah yang menjatuhkan hukuman kepada siapapun — tapi serentak melepaskan manusia dari hukuman itu. Yesus mengambil alihnya dengan menumpahkan darah-Nya sendiri.
Keadilan dan kerahiman, hadir serentak di satu titik yang sama: salib.
Pertanyaannya bukan apakah kita pernah salah paham. Pasti pernah.
Pertanyaannya adalah: apakah kita mau berhenti memakai kunci kita sendiri, dan membiarkan Roh membuka pintu itu dari dalam?
Karena hanya dari Dia kita mendapat pengertian yang sebenarnya. Dan hati yang akhirnya mengerti — akan berkobar.
Dan kembali ke Yerusalem.
Jadi, kamu gimana?
RA
 

Renungan MINGGU PASKAH II (Kerahiman Ilahi) – 12 April 2026

Bacaan Pertama, Kis 2:42-47
Orang-orang yang menjadi percaya dan memberi dirinya dibaptis bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”

Bacaan Kedua, 1Ptr 1:3-9
“Saudara-saudara, terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, berkat rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.”
‭‭
Bacaan Injil, Yoh 20:19-31
Setelah Yesus wafat di salib, pada malam pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ”Damai sejahtera bagi kamu!” Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Maka kata Yesus sekali lagi: ”Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: ”Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
Pada waktu Yesus datang itu Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ”Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ”Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”
Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ”Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ”Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: ”Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: ”Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”

Renungan Padat
Berada bersama Komunitas yang “telah melihat Tuhan”
Membaca Injil Yohanes perlu teliti dan tekun. Sebab Penulis Injil Yohanes biasanya menaruh pesan-pesannya secara tersembunyi di dalam kisah naratif. Kita tidak bisa membacanya sambil lalu, atau merasa sudah tau. Seperti Bacaan Injil hari ini dari Yoh 20:19-31. Kita mungkin biasa melihat gambar terkenal, Tomas Rasul yang mengulurkan tangan dan berusaha mencucukkan jarinya ke luka lambung dan tangan Yesus. Kalau kita lihat dalam Injil Yohanes, adegan itu tidak pernah ada. 
Iya betul. Tomas tidak pernah melakukan itu meski awalnya ia berniat melakukannya. Yohanes menulis, setelah Yesus memperlihatkan luka-luka-Nya kepada Tomas. Tomas mengungkapkan pengakuan imannya, “Ya, Tuhanku dan Allahku”, tanpa adegan, dan gerakan apapun. Spontan saya pun bertanya. Kok bisa Tomas seperti itu? Semudah itukah Tomas melakukan lompatan iman sedemikian masif?
Ternyata kalau kita lebih teliti lagi, jawabannya tidak. Keputusan iman Tomas tidak didapatkan dalam semalam. Tapi dalam 8 hari.
Setelah Yesus wafat di salib, murid-murid berkumpul di satu rumah dengan pintu terkunci, bukan untuk berdoa dan bersekutu, tapi karena takut kepada orang-orang Yahudi. Jadi mereka berkumpul karena dipaksa oleh ketakutan. Coba, komunitas macam apa itu? Komunitas yang terbentuk karena orang-orang di dalamnya mengalami ketakutan dan keterpaksaan. Tomas mungkin merasa komunitas ini toxic. Mereka datang karena terpaksa. Tomas mungkin malas juga berada bersama-sama dengan orang-orang itu. Maka wajar Tomas tidak ada di sana kala itu. 
Sebelum mengembalikan Iman Tomas, Yesus lebih dulu datang memperbaiki iman murid-murid-Nya. 
Dalam penampakkan-Nya yang pertama, Yesus menjumpai murid-murid-Nya. Pada kesempatan pertama itu, Yesus mengucapkan doa damai, dan menghembuskan Roh Kudus kepada murid-murid, kuasa dan wewenang untuk mengampuni dosa. Para murid ini menjadi komunitas penuh damai sejahtera, dipimpin dan disatukan oleh Roh Kudus dan beri kuasa saling mengampuni dosa. 
Sayangnya, saat itu Tomas tidak ada bersama mereka. 
Sebelum penampakkan yang kedua, Yohanes mencatat, delapan hari kemudian murid-murid berada kembali di rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Siapa mereka? Yang jelas murid-murid ini sudah bertransformasi. Murid-murid berada kembali berada di rumah – tanpa terkunci, tanpa takut dan tanpa terpaksa. Mereka kembali berkumpul atas inisiatif dan kehendak sendiri. 
Murid-murid kini memiliki damai sejahtera, kuasa mengampuni dosa – dan lebih dari itu komunitas yang ‘telah melihat Tuhan”. Itu kesaksian yang mereka bilang pada Tomas. Tomas yang tadinya meragukan kesaksian komunitas toxic ini. Namun selama delapan hari Tomas berada bersama komunitas yang juga bertransformasi. Dan kita bisa bayangkan apa yang juga akan ia alami. Damai, pengampunan, dan komunitas yang telah melihat dan mengenal Tuhan, yang berkobar-kobar seperti kisah dua murid Emmaus di Injil Lukas. Iman Tomas mulai tumbuh di sana dan berakar kuat. 
Tomas yang tadinya berniat dengan jarinya menyentuh luka di lambung dan tangan Yesus, ternyata sedang dan telah menyentuh Yesus yang terluka itu saat berada bersama murid-murid yang lain. Sehingga nanti, Tomas tidak perlu lagi menyentuh Yesus – yang ia perlu lakukan adalah membuat pengakuan iman. 
Maka, penampakan Yesus yang kedua di hadapan Tomas dan murid-murid yang lain semakin mempertegas apa yang sudah Tomas lebih dulu alami dalam komunitas itu. Penampakkan Yesus yang terluka seperti mau bicara, “Ini Aku, sekarang yang terluka hadir bersama komunitas ini – yang selalu mengusahakan damai sejahtera, memberi pengampunan karena mereka selalu melihat Aku di tengah-tengah mereka”.
Jadi, lompatan iman Tomas tidak berangkat dari ruang kosong. Tapi lahir lagi, terbentuk dan terpelihara karena dia berada bersama komunitas murid-murid Yesus itu. 
Orang-orang yang menjadi percaya dan memberi dirinya dibaptis bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
Jadi, sampai kapan kamu merasa cukup beriman sendirian?
RA

HR RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN – MINGGU, 5 April 2026

Bacaan Liturgi Misa Sore
Bacaan Pertama, Kis 10:34a.37-43

“Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ”Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret:

bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib.

Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.””

Bacaan Kedua, Kol 3:1-4

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”

Bacaan Injil, Lukas 24:13-35

“Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: ”Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”

Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: ”Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Kata-Nya kepada mereka: ”Apakah itu?” Jawab mereka: ”Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”

Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: ”Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: ”Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: ”Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.” Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.”

RENUNGAN PADAT

EMMAUS: MAKAN UNTUK MENGENALI 

Saya senang makan sate padang — bukan karena saya suka rasanya, tapi karena setiap suapnya membawa saya kembali bersama Ayah saya yang sudah almarhum. Ia yang dulu sering mengajak saya makan sate padang waktu kecil. Rasanya memang aneh di lidah saya, tapi saya selalu memesan. Karena bukan soal rasanya — tapi soal siapa yang hadir di balik makanan itu. Makanan bisa membangkitkan kehadiran seseorang yang sudah pergi.

Itulah yang terjadi di Emmaus. Dua murid berjalan meninggalkan Yerusalem dengan hati yang hancur. Mereka membawa rencana mereka sendiri yang sudah mereka anggap mati — “kami tadinya berharap…” Yesus datang berjalan bersama mereka, mendengar, membuka Kitab Suci. Tapi sepanjang perjalanan itu, mata mereka tetap tertutup. Sesuatu yang lain diperlukan.

Mereka tiba di Emmaus dan mengundang orang asing itu makan. “Tinggallah bersama kami.” Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya — dan di situlah mata mereka terbuka. Gerakan tangan itu. Mereka pernah melihatnya sebelumnya. Memori itu bangkit. Ia hadir. Nyata. Hidup. Dan begitu mereka mengenali-Nya, Ia lenyap — karena Ia tidak perlu ada secara fisik lagi. Mereka sudah tahu: Ia selalu ada.

Inilah undangan Ekaristi yang paling dalam. Bukan sekadar ritual, bukan sekadar kewajiban Minggu. Tapi momen pengenalan — saat kita duduk di meja yang sama dengan Dia yang kita kenal, dan mengizinkan memori itu bangkit. Dalam sepotong roti kecil yang dipecah, Ia hadir. Tangan yang sama. Kasih yang sama. Dan dari meja pengenalan itu, seperti dua murid yang berlari kembali ke Yerusalem, kita pun diutus pergi — dengan hati yang berkobar-kobar.

Selamat Paskah.

RA

 

HR Minggu Palma (Mengenangkan Sengsara Tuhan), 29 Maret 2026

Bacaan Pertama, Yes 50:4-7

Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan Allah telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.”

Bacaan Kedua, Flp 2:6-11

Saudara-saudara, walaupun dalam rupa Allah, Kristus Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

Bacaan Injil, Mat 26:14-27:66

RENUNGAN PADAT

HADIR dan MENEMANI YESUS

Saudara-saudari terkasi, hari ini kita memulai sebuah perjalanan.  Sebuah perjalanan yang mendalam. Masuk ke dalam misteri cinta Allah. Selama sepekan ke depan — Pekan Suci — Gereja tidak meminta kita untuk memahami segalanya. Kita juga tidak dituntut untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar. Gereja hanya mengundang kita untuk melakukan satu hal:

Menemani. Hadir. Datang.

Dalam kisah yang akan kita dengar hari ini, ada satu hal yang menyentuh hati saya — justru orang-orang yang paling dekat dengan Yesus, para murid-Nya, gagal melakukan satu hal itu. Yudas berkhianat. Petrus menyangkal. Mereka tertidur. Mereka lari. Mereka mengikuti dari jauh. Yesus seorang diri namun tegar karena Bapa selalu menyertai-Nya.

Yang menemani sampai akhir adalah mereka yang diam-diam hadir — dan tidak pergi.

Maka selama sepekan ini, saya mengundang Saudara-saudari untuk hadir. Datang. Bukan hanya Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah — tapi juga Senin, Selasa, Rabu. Namanya juga Pekan Suci — Semana Sancta — seminggu penuh, bukan tiga hari saja. Jangan cuma hadir sebagian, jumat saja, sabtu saja atau malah minggu Paskah saja.

Datang ke Misa harian. Duduk sebentar di depan Sakramen Mahakudus. Ikuti perjalanan ini hari demi hari.

Bukan karena kita sudah mengerti segalanya. Tapi justru karena kita belum mengerti — dan kita mau menemani.

Kehadiran kita sendiri sudah merupakan sebuah doa.

Mari kita mulai perjalanan ini.

RA

Renungan Minggu Prapaskah V, 22 Maret 2026

Bacaan Pertama

Yehezkiel 37:12-14 TB
Berginilah Firman Tuhan Allah, “Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. [13] Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. [14] Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, yang mengatakannya dan membuatnya.”

Bacaan Kedua

Roma 8:8-11 TB
Saudara-saudara, mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. [9] Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. [10] Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. [11] Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

Bacaan Injil

Yohanes 11:1-34, 36-45 TB
[1] Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. [2] Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. [3] Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: ”Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” [4] Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: ”Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” [5] Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. [6] Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; [7] tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: ”Mari kita kembali lagi ke Yudea.” [8] Murid-murid itu berkata kepada-Nya: ”Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” [9] Jawab Yesus: ”Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. [10] Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” [11] Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: ”Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” [12] Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: ”Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” [13] Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. [14] Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: ”Lazarus sudah mati; [15] tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” [16] Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: ”Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” [17] Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. [18] Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. [19] Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. [20] Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. [21] Maka kata Marta kepada Yesus: ”Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. [22] Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” [23] Kata Yesus kepada Marta: ”Saudaramu akan bangkit.” [24] Kata Marta kepada-Nya: ”Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” [25] Jawab Yesus: ”Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, [26] dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” [27] Jawab Marta: ”Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” [28] Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: ”Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” [29] Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. [30] Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. [31] Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. [32] Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: ”Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” [33] Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: [34] ”Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: ”Tuhan, marilah dan lihatlah!”
[36] Kata orang-orang Yahudi: ”Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” [37] Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: ”Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” [38] Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. [39] Kata Yesus: ”Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: ”Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” [40] Jawab Yesus: ”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” [41] Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: ”Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. [42] Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” [43] Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: ”Lazarus, marilah ke luar!” [44] Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: ”Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” [45] Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.

Renungan Padat

HIDUP — LEBIH DARI SEKADAR BERNAPAS

Saudara-saudari terkasih, 
Ada yang bilang, manusia paling takut bukan pada kematian — tapi pada hidup yang terasa sudah mati. Masih bernapas, tapi kosong di dalam. Masih bangun pagi, tapi tidak tahu untuk apa.
Minggu ini Yesus mengajak kita masuk ke Betania. Ke sebuah rumah yang berduka. Ke depan sebuah kubur.
Lazarus bukan orang asing bagi Yesus. Ia sahabat. Keluarga. Dan ketika Lazarus sakit, Marta dan Maria mengutus orang untuk memberitahu Yesus — dengan harapan Ia akan segera datang.
Tapi Yesus tidak langsung datang. Dan Lazarus mati.
Empat hari kemudian Yesus tiba. Marta menyongsong-Nya dengan kalimat yang mungkin pernah juga kita ucapkan: “Tuhan, seandainya Engkau ada di sini lebih awal…”
Kalimat orang yang percaya — tapi sedang tidak mengerti. Kita semua pernah ada di situ.

Yang terjadi kemudian mengejutkan. Yesus tidak langsung bertindak. Ia tidak langsung berkhotbah. Ia melihat Maria menangis, melihat semua orang berduka —
dan Yesus menangis.
Dua kata dalam bahasa Yunani: ἐδάκρυσεν ὁ Ἰησοῦς. Ayat terpendek dalam Alkitab. Tapi dalamnya luar biasa. Allah kita bukan Allah yang menonton dari jauh. Ia masuk ke dalam duka kita. Ia merasakan apa yang kita rasakan.
Lalu Ia berdiri di depan kubur dan berteriak: “Lazarus, keluarlah!”
Bukan “hai orang mati.” Tapi nama. Lazarus. Personal. Spesifik.
Dan Lazarus keluar — masih terbungkus kain kafan, tapi hidup.
Mereka meminta Lazarus sembuh. Yesus memberi Lazarus bangkit dari kematian. Skala yang berbeda sama sekali.

Doa kita sering meminta kesembuhan. Tuhan kadang memberi kebangkitan. Dan itu butuh melewati kematian dulu.
Apa “kubur” dalam hidupmu hari ini? Mimpi yang sudah lama dikubur. Hubungan yang sudah membeku. Iman yang hampir padam. Atau dirimu sendiri yang dulu — yang entah sejak kapan hilang.
Yesus tidak berpaling dari kubur itu. Ia menangis bersamamu — dan kemudian Ia memanggil namamu.
Namamu. Bukan nama orang lain.
Keluarlah.

Jadi, kamu gimana?
RA

 

 

Terbaru

Populer