Home Blog

RENUNGAN MINGGU BIASA IV, 1 Februari 2026

Bacaan Pertama, Zef 2:3;3:12-13
Carilah Tuhan, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan Tuhan.
Dan Allah berfirman, “Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama Tuhan, yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.”
‭‭‭‭
Bacaan Kedua, 1Kor 1:26-31
Saudara-saudara, coba ingatlah bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil. Menurut ukuran manusia tidak banyak di antara kamu yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Namun apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Tetapi Allah telah membuat kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Dia Kristus telah menjadi hikmat bagi kita. Dialah yang membenarkan, menguduskan dan menebus kita. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci, ”Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.””
‭‭
Bacaan Injil, Mat 5:1-12a
Sekali peristiwa, ketika melihat orang banyak itu, naiklah Yesus ke atas bukit. Setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: ”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, sebab besarlah ganjaranmu di surga.
Renungan Padat
Porque Yo Estoy Aqui
Minggu ini, kita mengikuti kisah Yesus mulai mengajar orang banyak dan murid-murid yang datang kepada-Nya.
Siapa orang banyak yang datang itu? Kita tahu dari perikop sebelumnya di Matius 4:23-25. Berita tentang Yesus dan karya-Nya tersebar di seluruh Siria. Orang banyak datang, bahkan dari Galilea, Dekapolis, Yerusalem dan Yudea, daerah sebrang sungai Yordan.
Mereka meninggalkan rumah, pekerjaan, dan rutinitas hidupnya, lalu berbondong-bondong mencari Yesus.
Injil tidak mencatat siapa nama mereka. Yang disebut justru keadaan mereka: orang sakit, orang lumpuh, orang yang hidupnya terluka dan tidak berdaya. Mereka datang bukan dengan iman yang sudah matang, tetapi dengan harapan sederhana: ingin sembuh, ingin hidupnya sedikit lebih baik, ingin menemukan jalan keluar.
Mungkin mereka belum sungguh mengenal Yesus. Mungkin mereka hanya mendengar cerita tentang Dia. Namun jelas ada sesuatu dalam diri Yesus yang menarik mereka. Kalau tidak, mereka tidak akan rela berjalan jauh. Ada harapan, ada kegembiraan, ada kehidupan yang memanggil dari pribadi-Nya.
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, Injil Matius tidak menceritakan perasaan Yesus. Tidak dikatakan Ia tergerak oleh belas kasihan atau terharu seperti dalam Injil Lukas. Matius hanya menerangkan: Yesus melihat orang banyak itu. Seperti Allah yang melihat manusia apa adanya—dengan segala keinginan, permintaan, dan harapan yang dibawa ke hadapan-Nya.
Lalu Yesus naik ke bukit dan duduk. Ia hadir sebagai Guru. Sebagai kebijaksanaan Allah yang berbicara dengan wibawa dan otoritas yang mulia.
Ketika Yesus mulai berbicara, Ia tidak mengutip siapa pun. Ia tidak berkata, “Beginilah firman Tuhan.” Sabda itu lahir dari diri-Nya sendiri. Suara-Nya menjadi sumber ajaran itu.
Dan kata pertama yang keluar dari mulut-Nya adalah: “Berbahagialah.”
Bukan, “Berbahagialah kalau kamu sembuh.”
Bukan, “Berbahagialah kalau hidupmu aman dan berkecukupan.”
Bukan, “Berbahagialah kalau semua masalahmu selesai.”
Tetapi: berbahagialah.
Seakan Yesus berkata: berbahagialah karena engkau hidup. Karena engkau hadir. Karena engkau dilihat. Karena Aku ada di sini.
Yesus tidak menunggu hidup manusia menjadi sempurna lebih dahulu. Ia tidak menunggu semua luka sembuh dan semua masalah beres. Ia justru menyatakan bahwa kebahagiaan bisa dimulai sekarang—di tengah hidup yang masih rapuh dan belum selesai.
Sabda Bahagia bukanlah daftar syarat untuk mencapai kebahagiaan. Ia adalah pengumuman bahwa Allah dekat dengan manusia. Bahwa hidup kita, apa adanya, berada dalam jangkauan kasih-Nya.
Berbahagialah, porque yo estoy aquí.
Berbahagialah, karena Aku ada di sini.
Mungkin kebahagiaan sejati bukan selalu soal hidup yang berubah drastis, tetapi tentang kesadaran bahwa kita tidak lagi sendirian. Allah duduk di hadapan kita, melihat kita, dan berbicara kepada kita dengan kasih.
Ia melihat kita dan kita bisa datang kepada-Nya. Kita dapat memandang dan mendengar suara-Nya. Itu sudah cukup menjadi kebahagiaan kita di tengah tantangan apapun yg kita hadapi dalam hidup.

Jadi, kamu gimana?
RA

RENUNGAN MINGGU BIASA III, 25 Januari 2026

Bacaan Pertama, Yes 8:23b-9:3
Ketika dahulu Tuhan merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain.
Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar.
Mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian.”
Bacaan Kedua, 1Kor 1:10-13.17
Saudara-saudara, aku menasihatkan kamu, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.
Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloë tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu.
Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus? Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itu pun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.
Bacaan Injil, Mat 4:12-23
Ketika mendengar bahwa  Yohanes pembaptis telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
“Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, – bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”
ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: ”Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.
Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.”
Renungan Padat
Menggenapi Kehendak Bapa, Memanggil dari Pinggir Jalan
Rekan-rekan pembaca setia renungan mingguan KAJ.
Minggu lalu kita telah melihat Yesus adalah penggenapan warta keselamatan Allah, yang ditunjuk langsung oleh nabi terakhir Perjanjian Lama – Yohanes Pembaptis. Minggu ini kita diajak bagaimana penggenapan itu berjalan secara sistematis. Itu nampak dalam pilihan dan arah hidup Yesus sendiri yang dilandaskan pada ketaatan pada kehendak Bapa.
Ketika Yohanes Pembaptis ditangkap Yesus sebenarnya bisa memilih banyak jalan. Ia bisa bertahan di Yudea, menunggu saat yang tepat. Ia juga bisa bereaksi keras, menggalang perlawanan. Namun Yesus tidak memilih jalan reaktif. Ia memilih jalan yang setia. Setia pada kehendak Bapa yang termuat dalam nubuat Yesaya.
Yesus pergi ke Galilea, ke wilayah Zebulon dan Naftali—daerah yang dianggap jauh, gelap, dan terpinggirkan.
Menariknya, sebelum Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang, Matius mencatat satu hal penting: Ia lebih dulu memanggil para murid-Nya.
Di sini kita lihat cara Ia bekerja.
Ia berjalan di “jalan pinggir laut”—pinggir danau, pinggir pantai—tempat orang lalu-lalang, bekerja, bertemu, dan hidup. Dari dulu sampai sekarang, wilayah seperti itu selalu menjadi pusat keramaian dan perjumpaan. Lihat saja kota-kota besar dan indah di dunia: Monaco, Barcelona, Porto, Lisbon, Istanbul, Jakarta, hingga New York—semuanya tumbuh di pinggir laut.
Yesus mencari murid-murid-Nya di ruang seperti itu. Ia datang ke pusat kehidupan sehari-hari kita. Di tempat orang sibuk bekerja, berjuang, dan berharap. Di sanalah Yesus berjalan, melihat, dan memanggil.
Seolah Injil ingin mengatakan: panggilan Tuhan jarang datang saat hidup kita berhenti total. Ia justru sering datang di tengah keramaian, di tengah pekerjaan, di tengah keseharian. Yesus tidak menunggu orang-orang meninggalkan dunia lebih dulu; Ia mendatangi mereka di dunia tempat mereka hidup.
Dan dari pinggir “laut” itulah, sebuah perjalanan besar dimulai. Empat murid pertama dari kehidupan nelayan dipanggil.
Mereka bukan orang berkelas, bukan tokoh agama, bukan mereka yang dianggap paling siap. Mereka hanyalah orang-orang yang sedang bekerja, setia pada kesehariannya. Namun mereka memiliki satu keberanian: meninggalkan jala dan mengikuti Yesus. Jala yang bukan hanya alat kerja, tetapi juga sumber rasa aman dan identitas hidup. Mereka diajak untuk memalingkan perhatian dari jala mereka kepada Yesus.
Hidup bukan hanya tentang jala untuk menangkap ikan. Bukan hanya bekerja terus mencari nafkah dan memuaskan keinginan. Tapi hidup juga bisa dengan meninggalkan jala, mendengarkan panggilan Yesus dan mengikuti Dia. Kita dipanggil untuk memalingkan perhatian terhadap dunia dan mengalami kehadiran Tuhan dalam setiap karya-karya yang dilakukan Tuhan.
Melalui pemanggilan murid-murid pertama ini, Injil Matius menyingkapkan cara Allah bekerja. Allah tidak menyelamatkan dunia sendirian. Ia memilih melibatkan manusia. Ia memanggil bukan yang paling sempurna, melainkan mereka yang bersedia berjalan bersama-Nya dan mempercayakan hidupnya kepada Dia.
Di situlah terang mulai bersinar.
Menerangi jalan pinggir laut
ketika orang-orang berani meninggalkan “jalanya”
dan memilih menyertai Yesus.
Jadi, Kamu Gimana?
RA

RENUNGAN MINGGU BIASA II, 18 Januari 2026

Bacaan Pertama, Yes 49:3.5-6
Tuhan berfirman kepadaku: ”Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Demikianlah firman Tuhan, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya – maka aku dipermuliakan di mata Tuhan, dan Allahku menjadi kekuatanku –, firman-Nya: ”Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.””
Bacaan Kedua, 1Kor 1:1-3
Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.
‭‭
Bacaan Injil, Yoh 1:29-34
Ketika Yohanes membaptis di Sungai Yordan, ia melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: ”Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Sesudah aku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”
Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: ”Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Roh tinggal di atas-Nya. Aku pun sebenarnya  tidak mengenal-Dia, tetapi Yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”
Renungan Padat
Roh Kudus dalam Kesinambungan

Beberapa waktu lalu saya merayakan Misa di sebuah lembaga pemasyarakatan. Setelah misa, kepala lapas menawarkan: kalau ada umat Katolik yang mau mengaku dosa, dipersilakan. Lalu dibuka juga bagi saudara-saudari Kristen non-Katolik, kalau ada yang ingin datang sekadar bercerita.
Yang datang tujuh orang. Satu Katolik. Enam Kristen non-Katolik. Dan semuanya datang dengan kalimat yang sama: “Romo, saya berdosa.” Bahkan mereka yang non-katolik bercerita rinci tentang kesalahan mereka yang begitu mengganjal hati. 
Di situ saya melihat satu hal yang sangat kuat: kerinduan akan pengampunan dosa. Sebagai imam Katolik, saya hanya bisa memberikan absolusi kepada yang Katolik. Kepada yang lain, saya mendengarkan dan mendoakan. Bukan karena iman mereka kurang, tetapi karena pengampunan dosa bekerja dalam jalur yang jelas, yang dipercayakan Tuhan kepada Gereja dalam peran Imam.  Imamat ada karena Yesus yang mengadakan-Nya dan mempercayakan kepada siapa tugas penyelamatan Roh Kudus itu hadir. 
Injil hari ini membantu kita memahami hal ini. Yohanes Pembaptis berkata: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Yohanes tidak berkata: “Aku yang menghapus dosamu.” Ia menunjuk kepada Yesus. Dan ia tidak menunjuk sembarang orang.

Yohanes setia pada kehendak Allah dan taat pada otoritas-Nya. Yohanes berpegang pada otoritas Allah yang telah berfirman kepadanya, “Jika engkau melihat Roh turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dia itulah …”

Hal yang sama ditegaskan oleh Paulus dalam bacaan kedua: “Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus.” Paulus tidak mengangkat dirinya sendiri. Ia diutus.
Dan Yesaya mengingatkan bahwa urapan Roh Kudus bukan hanya untuk kepentingan internal umat beriman, tetapi untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan Tuhan sampai ke ujung bumi.
Saudara-saudari, di sinilah kita sebagai umat Katolik patut bersyukur. Kita hidup di dalam Gereja yang berada dalam otoritas yang berkesinambungan, sejak para rasul sampai hari ini. Di dalam kesinambungan itulah Roh Kudus bekerja, terutama melalui sakramen-sakramen.
Sakramen Tobat bukan sekadar formalitas. Di sanalah Roh Kudus sungguh bekerja menghapus dosa.
Maka marilah kita bersyukur atas iman Katolik kita, dan hidup seperti Yohanes Pembaptis: selalu menunjuk kepada Yesus, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.
Iman Katolik bukan soal perasaan yang naik turun, tetapi tentang rahmat Allah yang bekerja nyata dalam Gereja yang diutus dan setia sampai hari ini. Amin.
__

Jadi, kamu gimana?

RA

PESTA PEMBAPTISAN TUHAN, 11 Januari 2026

Bacaan Pertama, Yes 42:1-4.6-7
Beginilah firman Tuhan, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.
Beginilah Firman Tuhan, ”Aku ini, Tuhan, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.”
‭‭
Bacaan Kedua, Kis 10:34-38
Sekali peristiwa Allah menyuruh Petrus menemui perwira Romawi dan seisi rumahnya. Setibanya di rumah sang perwira, Petrus berkata, ”Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang. Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.”
‭‭
Bacaan Injil, Mat 3:13-17
Ketika Yohanes membaptis di sungai Yordan, datanglah Yesus dari Galilea sana untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: ”Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?” Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanes pun menuruti-Nya.
Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: ”Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.””
‭‭
Renungan Padat
Pembaptisan Yesus: Awal Perutusan
Yesus tidak membutuhkan pembaptisan Yohanes. Pembaptisan Yohanes adalah tanda pertobatan, sementara Yesus tidak berdosa. Namun pembaptisan itu tetap terjadi karena kehendak Allah. Yesus sendiri berkata, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”
Pembaptisan Yesus bukan soal ritus. Bukan pula soal penyucian diri. Peristiwa ini menyingkapkan siapa Yesus dan apa yang akan Ia lakukan.
Hal ini selaras dengan nubuat Yesaya. Allah menunjuk seorang hamba pilihan, yang kepada-Nya Ia berkenan. Roh Allah diletakkan di atasnya. Ia diutus untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa dan membawa pembebasan bagi mereka yang hidup dalam kegelapan.
Dalam pembaptisan Yesus, nubuat itu mulai digenapi. Saat Yesus keluar dari air, terdengarlah suara dari surga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Roh Allah turun ke atas-Nya dalam rupa burung merpati.
Pembaptisan Yesus menjadi awal perutusan-Nya. Dari sungai Yordan, Ia melangkah masuk ke jalan pelayanan. Ia hadir untuk membawa terang, memulihkan, dan menyelamatkan. Semua itu dilakukan dalam ketaatan penuh pada kehendak Bapa.

RA

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN, 4 Januari 2026

Bacaan Pertama, Yes 60:1-6
Beginilah kata nabi kepada Yerusalem: Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang Tuhan terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu. Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur Tuhan.”
‭‭
Bacaan Kedua, Ef 3:2-3a.5-6
Saudara-saudara, kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.
‭‭
Bacaan Injil, Mat 2:1-12
Pada zaman pemerintahan Raja Herodes, sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: ”Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: ”Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: ”Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.”
Renungan Padat

Epifani

Tuhan menampakkan diri.
Bukan dengan suara keras,
melainkan dengan tanda.

Sebuah bintang di langit.
Terang kecil,
cukup untuk menggerakkan langkah.

Herodes dan para ahli Taurat
mengenal Kitab Suci.
Mereka tahu nubuat.
Mereka tahu tempat.

Orang-orang Majus
tidak membawa Kitab,
namun membawa kepekaan.
Mereka membaca tanda
yang dekat dengan hidup mereka.

Bintang itu tidak menjelaskan segalanya.
Ia hanya mengundang untuk berjalan.
Dan mereka berjalan.

Perjalanan membawa mereka
ke Betlehem.
Ke rumah yang sederhana.
Ke seorang Bayi
yang menghadirkan damai.

Mereka bersukacita.
Mereka bersujud.
Mereka mempersembahkan hidup.

Sesudah berjumpa dengan Tuhan,
jalan mereka berubah.
Terang tidak lagi di langit.
Terang kini tinggal di hati.

Hari ini Tuhan juga menampakkan diri.
Melalui Sabda-Nya.
Melalui Ekaristi.
Melalui peristiwa-peristiwa kecil
dalam hidup kita.

Epifani mengundang kita
untuk peka,
untuk melangkah,
untuk terus mencari.

Sebab siapa yang mencari dengan setia,
akan menemukan Tuhan
yang selalu lebih dekat
daripada yang kita bayangkan.

Jadi, kamu gimana?

RA

PESTA KELUARGA KUDUS, 28 Desember 2025

Bacaan pertama, Sir 3:2-6.12-14
Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anaknya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya. Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya.
Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu.
Bacaan Kedua, Kol 3:12-21
Saudara-saudara, kalianlah orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya. Maka, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.”
Bacaan Injil, Matius 2:13-15.19-23
“Setelah orang-orang majus yang mengunjungi Bayi Yesus di Betlehem itu pulang, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ”Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”
Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati.” Lalu Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel. Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.”
RENUNGAN SINGKAT
“Allah hadir menyelamatkan Keluarga”, demikian pesan Natal PGI – KWI di tahun 2025 ini. Tema ini seharusnya menjadi kesadaran kita juga, bahwa dalam peristiwa natal – Allah dalam Yesus Kristus datang ke dunia menjadi manusia. Bukan sebagai manusia sendiri, tapi Dia memilih untuk datang melalui komunitas keluarga. Yesus berada di tengah keluarga Nazaret, Ibu Maria dan Bapa Yosef. Ibu Maria dan Bapa Yosef dipilih Tuhan bukan dengan standar dunia memilih. Mereka keluarga sederhana dengan pergulatannya masing-masing. Pun kita tahu, sebelum dan sesudah peristiwa kelahiran mereka tidak luput dari kesulitan. Herodes hendak membunuh anak-anak di Yerusalem.
Namun, Allah hadir menyelamatkan mereka. Ia berfirman kepada Bapa Yosef sang kepala keluarga untuk menyelamatkan mereka. Bapa Yosef mendengarkan suara Tuhan itu dan pergi ke Mesir menyingkir dari kejaran Herodes. Tak hanya itu, sementara Bapa Yosef berniat kembali ke Betlehem, ia mendengarkan perintah Allah untuk membawa keluarga itu ke Nazaret di Galilea. Dan ia taat. Yesus tumbuh dan besar di sana.
Melalui peristiwa di atas kita percaya Allah berkehendak menyelamatkan setiap keluarga. Keluarga adalah tempat kehidupan manusia lahir dan tumbuh. Setiap anggota keluarga hendaknya taat pada apa yang dikehendaki Allah bagi mereka.
Bibit kerusakan, juga di dalam keluarga, akan mulai tumbuh ketika salah satu atau semua anggota keluarga memilih untuk tidak menaati kehendak Allah dalam perintah-perintah-Nya. Orang bisa memilih untuk mendengarkan isi kepalanya sendiri yang seringkali bertentangan dengan kehendak Allah.
Jadi, kamu gimana?

RA

JADWAL LENGKAP MISA NATAL 2025 DAN MISA TAHUN BARU 2026 PAROKI-PAROKI KAJ

JADWAL LENGKAP MISA NATAL 2025 DAN TAHUN BARU 2026 SEMUA PAROKI DI KAJ

 

PAROKI KATEDRAL JAKARTA

 

PAROKI CEMPAKA PUTIH

 

PAROKI CITRA RAYA

 

PAROKI KRANGGAN

 

PAROKI KRAMAT

 

PAROKI CILANDAK

 

PAROKI CIPUTAT

 

PAROKI DUREN SAWIT

PAROKI DUREN SAWIT

 

PAROKI JAGAKARSA

 

PAROKI JATIWARINGIN

 

PAROKI KAMPUNG DURI

 

PAROKI KAPUK

 

PAROKI KEMAKMURAN

 

PAROKI KOSAMBI

 

PAROKI PASAR MINGGU

PAROKI SUNTER

 

PAROKI TEBET

 

PAROKI THERESIA

 

 

PAROKI SERVATIUS

 

 

PAROKI HARAPAN INDAH

 

 

PAROKI TOMANG

 

 

PAROKI CIDENG

 

PAROKI KELAPA GADING

 

 

PAROKI TANJUNG PRIOK

 

 

PAROKI RAWAMANGUN

JADWAL LENGKAP MISA NATAL 2025 DAN TAHUN BARU 2026

RENUNGAN MINGGU ADVEN IV, 21 Desember 2025

Bacaan Pertama, Yes 7:10-14
Beginilah firman Tuhan Allah kepada Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda, ”Mintalah suatu pertanda dari Tuhan, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.” Tetapi Ahas menjawab: ”Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai Tuhan.”
Lalu berkatalah nabi Yesaya: ”Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”
‭‭
Bacaan Kedua, Rom 1:1-7
“Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus.
Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.”
‭‭
Bacaan Injil, Mat 1:18-24
“Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: ”Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.
Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.
‭‭
RENUNGAN PADAT
Imanuel: Allah Memilih Bersama
Saudara-saudari terkasih, ketiga bacaan hari ini diikat oleh satu kata: Imanuel — Allah menyertai kita.
Kata ini indah, tetapi tidak selalu mudah dirasakan, terutama ketika hidup sedang berat dan pertolongan yang kita tunggu belum datang.
Kisah Yusuf membantu kita memahami maknanya.
Saat Maria mengandung, hidup Yusuf runtuh.
Ia tidak langsung ditolong, tidak dibebaskan dari risiko.
Yang ia terima hanya satu pesan: “Jangan takut… anak itu akan disebut Imanuel.”
Artinya bukan hidupmu akan aman, tetapi Allah tidak meninggalkanmu.
Sering kali kita membayangkan penyertaan Allah sebagai solusi instan.
Padahal Injil menunjukkan sesuatu yang lain:
Allah tidak datang untuk menggantikan hidup kita, melainkan menemani kita menjalaninya.
Yesus tidak mengambil alih salib kita.
Ia datang dengan salib-Nya sendiri dan berjalan di samping kita yang sedang memanggul salib kita.

Lalu kita bisa bertanya: mengapa Allah repot-repot datang ke dunia?
Sejujurnya, demi efisiensi, Allah tidak perlu datang.
Ia bisa berfirman saja dan dunia langsung diperbaiki.
Namun Allah tidak memilih cara itu.
Ia memilih lahir sebagai manusia, hidup terbatas, berjalan kaki, mengenal lelah dan penolakan.
Mengapa?
Karena Allah tidak ingin manusia hanya mengalami hasil karya-Nya,
tetapi mengalami diri-Nya sendiri—Allah yang hadir, dekat, dan penuh kasih karunia.
Allah lebih memilih bersama daripada sekadar efektif dan efisien.
Saudara-saudari,
ini penting bagi kita yang hari ini lelah dan bertanya,
“Kalau Tuhan menyertai, mengapa masalahku belum selesai?”
Injil tidak menjanjikan jalan pintas.
Injil menjanjikan kehadiran.
Itulah sebabnya Allah memilih jalan yang panjang:
memilih murid-murid yang rapuh, membiarkan Gereja bertumbuh pelan,
karena kasih sejati tidak tergesa-gesa menyelesaikan,
tetapi setia menemani.
Mungkin hari ini salib kita belum diangkat.
Namun Adven IV mengingatkan: Allah tidak pergi. Ia hadir dan berjalan bersama kita.

RA

Cantica Sacra Indonesia Mengadakan Twilight Concert Maria Immaculata di Jakarta

[1]  Pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 2025, pukul 17.00-20.00 WIB bertempat di Sport Hall Kolese Kanisius, Menteng Jakarta, komunitas Cantica Sacra Indonesia mengadakan Twilight Concert Maria Immaculata.  Konser dilaksanakan dalam rangka peringatan Hari Raya Santa Maria Dikandung Tanpa Noda (Maria Immaculata) yang jatuh pada tanggal 8 Desember 2025.

[2]  Konser khusus penghormatan kepada Bunda Maria Immaculata ini merupakan yang pertama di Indonesia. Konser membawakan 17 nomor komposisi yang memusat pada penghomatan kepada Maria Immaculata dan puji-syukur kepada Tuhan Allah yang telah mengaruniakan Bunda Maria bagi dunia. Uniknya secara khusus konser mempersembahkan empat  komposisi “Ave Maria” dari masa yang berbeda, yaitu karya-karya  Johan Sebastian Bach – Charles Gounod (musik era Barok dan melodi era Romantik), Franz Shubert (era Romantik), Pietri Mascagni (era Romantik Akhir/Modern Awal), dan Guilio Caccini (era Modern Akhir).

[3] Selain untuk penghomatan kepada Maria Immaculata, konser ini juga dimaksudkan untuk pembelajaran musik liturgi Gereja Katolik bagi umat.  Pembelajaran musik liturgi melalui konser adalah salah satu program Cantica Sacra Indonesia, suatu komunitas umat Katolik di Jakarta, yang mendedikasikan kegiatannya untuk pengembangan musik liturgi yang benar, baik, indah, dan ilahiah (verum, bonum, pulchrum, et divinum) sesuai arahan Vatikan melalui ensiklik Sacrosanctum Concilium (1963) dan Musicam Sacram (1967).  Untuk itu konser-konser Cantica Sacra dirancang sebagai konser interaktif dengan penonton.

[4] Lagu-lagu yang dibawakan dalam konser ini sebagian besar adalah lagu-lagu yang sudah akrab di telinga umat Katolik.  Dalam rangka pembelajaran musik liturgi, melalui konser ini Cantica Sacra Indonesia bermaksud menunjukkan bahwa dengan teknik vokal dan cara bernyanyi yang benar, lagu-lagu liturgi yang sudah terbiasa didengar dan dinyanyikan umat akan terdengar dan terasakan menjadi berbeda, lebih indah dan megah.  Secara khusus konser ini menunjukkan bagaimana cara membawakan lagu-lagu liturgi Gregorian dan polifonik sebagai persembahan dan pujian kepada Allah, bukan sebagai pertunjukan untuk mengundang aplaus.

[5] Nomor-nomor komposisi lagu dalam konser dibawakan oleh Cantica Sacra Female Choir, dengan dukungan penampilan khusus dari Persevera Choir Kolese Kanisius dan Paduan Suara SMP Penabur Cipinang. Secara khsusu Cantica Sacra Female Choir (CSF Choir) adalah kelompok paduan suara bentukan komunitas Cantica Sacra Indonesia.   Anggota CSF Choir diseleksi dan dipilih secara terbuka dari kalangan anggota paduan suara musik liturgi di sejumlah paroki di wilayah Keuskupan Agung Jakarta.  Anggota sekarang berasal dari paroki-paroki St. Agustinus Karawaci, St. Nicodemus Cipuitat, St. Bartolomeus Bekasi,  St. Ignatius Loyola Jakarta, St. Leo Agung Jatiwaringin, dan St. Servatius Kampung Sawah.

[6] Cantica Sacra Female Choir dibentuk sebagai model Schola Cantorum, kelompok paduan suara dan pemazmur inti musik liturgi di gereja-gereja Katolik, sesuai dengan amanat Sacrosanctum Concilium (artikel 114) dan Musicam Sacram (artikel 19-20).  Melalui kegiatan pelatihan dan tutorial, serta penanaman anggota CSF Choir sebagai agen pembelajaran di paroki asalnya, Cantica Sacra Indonesia akan mereplikasi model Schola Cantorum tersebut di paroki-paroki gereja Katolik se-Indonesia, untuk menjadi bagian integral yang menganimasi misteri agung Misa Kudus .  Untuk itu Cantica Sacra Indonesia membangun jaringan kemitraan dengan Komisi Liturgi KWI dan Komisi Liturgi keuskupan-keuskupan di Indonesia.

[7]  Twilight Concert Maria Immaculata oleh Cantica Sacra Indonesia ini didukung oleh sejumlah pelaku dan pendukung musik liturgi dengan peran yang saling-mengisi.  Pelatih dan konduktor utama sekaligus direktur artistik konser adalah Jay Wijayanto. Turut mendukung adalah Leonard Joseph (Konduktor/Pianis), Mikha Ogung J. Panggabean (Konduktor), Ignatius Martono (Pelatih Kanisius), Sirma Ulina Ginting (Konduktor SMP Penabur Cipinang), Angelica Liviana (Pianis), Andreas Galih Pamungkas (Organis), dan Theresia Friska Ratih Sagita (Pianis/Organis).  Juga didukung oleh tim multi-media digital yang diawaki oleh Martin Tanubrata, Remigus Isworo, dan Muchammad Husein.

[8]  Konser disaksikan sekitar 400 orang penonton, terdiri dari para rohaniwan, pegiat musik liturgi, dan umat awam dari paroki-paroki di Keuskupan Agung Jakarta.  Konser mendapat dukungan dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, Kementerian Agama RI, Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), dan Komisi Liturgi Keuskupan Agung Jakarta.

[9]  Demikian siaran pers ini disampaikan untuk dapat disebar-luaskan kepada khalayak.  Terimakasih.

 

Jakarta, 13 Desember 2025

Cantica Sacra Indonesia

Jay Wijayanto, Direktur Artistik Konser

RENUNGAN MINGGU ADVEN III, 14 Desember 2025

Bacaan Pertama, Yes 35:1-6a.10
Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan Tuhan, semarak Allah kita.
Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: ”Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!”
Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; dan orang-orang yang dibebaskan Tuhan akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.”
Bacaan Kedua, Yak 5:7-10
Saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan, seperti petani menantikan hasil tanahnya yang berharga: Ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!
Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.
‭‭
Bacaan Injil, Mat 11:2-11
Sekali peristiwa Yohanes Pembaptis mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: ”Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Yesus menjawab mereka: ”Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Setelah murid-murid Yohanes pergi, mulailah Yesus berbicara kepada orang banyak itu tentang Yohanes: ”Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.
Aku berkata kepadamu: Camkanlah, di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis. Namun demikian, yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar daripada Yohanes.”
‭‭
RENUNGAN PADAT
SUKACITA YANG TAK PERNAH PADAM
Saudara-saudari yang terkasih,
biasanya kita bersukacita ketika ada hal baik terjadi di dalam lingkaran hidup kita.
Entah itu dalam keluarga kita, pekerjaan kita, pelayanan kita, atau rencana-rencana kita yang berjalan sesuai harapan.
Tetapi hari ini saya mau mengajak kita bertanya lebih dalam:
apakah kita masih bisa bersukacita, ketika hal baik itu justru terjadi di luar hidup kita?
Ketika kebaikan itu tidak melibatkan kita,
bahkan ketika kita sendiri tidak diajak ikut mengalaminya?
Inilah pertanyaan yang kita temukan dalam Injil hari ini,
melalui pengalaman Yohanes Pembaptis.
Yohanes sedang berada di penjara.
Bukan hanya penjara fisik, tetapi juga penjara batin:
sendirian, terpinggirkan, menunggu akhir hidupnya.
Padahal dialah yang membuka jalan bagi Tuhan,
dialah yang mempersiapkan hati banyak orang,
dialah yang dengan berani bersaksi demi kebenaran.
Dan dari dalam penjara itu, Yohanes bertanya:
“Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan orang lain?”
Ini bukan pertanyaan orang yang kehilangan iman.
Ini pertanyaan orang yang lelah namun jujur.
Seolah Yohanes berkata:
“Apakah hidupku ini salah arah?
Apakah semua yang kulakukan sia-sia?”
Menariknya, Yesus tidak menjawab dengan mengatakan,
“Ya, Akulah Mesias.”
Yesus justru berkata:
“Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan dengar:
orang buta melihat, orang lumpuh berjalan,
orang bisu berbicara, orang mati dibangkitkan,
dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”
Yesus menunjuk indikator-indikator kehidupan yang sedang dipulihkan.
Yesus seperti berkata:
“Jangan nilai Aku dari bayanganmu tentang Mesias.
Lihatlah apa yang sedang dikerjakan Allah.”
Dan di situlah letak penghiburan Yohanes.
Bukan karena ia akan dibebaskan.
Bukan karena hidupnya akan diperpanjang.
Tetapi karena ia tahu:
Tuhan sungguh sedang bekerja — meski bukan melalui dirinya, dan bukan di tempat ia berada.
Yang paling menyakitkan dari posisi Yohanes justru ini:
ia tidak bisa ikut menyaksikan sendiri pemulihan yang sedang terjadi.
Ia hanya mendengar kabarnya.
Ini mengingatkan kita pada Musa,
yang memimpin umat begitu lama,
tetapi tidak diperkenankan masuk ke Tanah Terjanji.
Ia hanya melihat dari kejauhan.
Setia, tetapi tidak menikmati buahnya.
Berjuang, tetapi tidak ikut merayakan hasilnya.
Dan di sini kita belajar sesuatu yang sangat dalam:
bahwa pada satu titik,
seseorang dipanggil untuk rendah hati,
mempersilakan Tuhan tetap berkarya,
bahkan ketika karya itu tidak lagi melalui dirinya.
Inilah saat di mana sukacita mudah sekali padam.
Bacaan pertama dari Nabi Yesaya menyebut keadaan itu sebagai tawar hati.
Bukan marah, bukan memberontak,
tetapi lelah berharap.
Dan kepada orang-orang seperti itu Tuhan berkata:
“Kuatkanlah hatimu, jangan takut.”
Tuhan tidak langsung mengubah keadaan.
Ia lebih dulu menjaga bagian dalam hati,
agar api tidak padam.
Surat Yakobus hari ini juga berbicara tentang hal yang sama.
Ia mengajak kita bersabar seperti petani yang menantikan hasil tanahnya yang berharga.
Petani tidak memaksa panen datang lebih cepat,
tetapi ia juga tidak meninggalkan ladangnya.
Ia menunggu dengan setia.
Yakobus memperingatkan kita:
“Jangan bersungut-sungut dan jangan saling mempersalahkan.”
Karena sungut-sungut adalah tanda bahwa hati mulai pahit,
bahwa sukacita mulai bocor.
Lalu Yesus menutup dengan kalimat yang sangat tajam:
“Berbahagialah orang yang tidak kecewa dan tidak menolak Aku.”
Artinya:
berbahagialah orang yang tidak tersandung
ketika Tuhan bekerja tidak sesuai harapannya.
Saudara-saudari,
Minggu ini kita merayakan Minggu Sukacita, Minggu Gaudete.
Tetapi sukacita yang kita rayakan bukanlah sukacita yang dangkal.
Bukan karena semua masalah selesai.
Bukan karena hidup kita menjadi pusat perhatian.
Sukacita Kristen adalah sukacita yang berkata:
Tuhan tetap setia.
Tuhan tetap bekerja.
Dan itu cukup.
Bahkan ketika aku tidak lagi menjadi pusat cerita.
Bahkan ketika aku tidak ikut menyaksikan hasilnya.
Bahkan ketika hidupku terasa kecil dan sunyi.
Karena Kerajaan Allah lebih besar dari hidup kita masing-masing.
Maka hari ini kita diajak untuk bersukacita —
bukan karena penjara hidup kita langsung dibuka,
tetapi karena kita tahu:
di luar sana, Tuhan tetap memulihkan kehidupan.
Dan berbahagialah kita,
jika kita tidak tersandung oleh cara Tuhan bekerja.

RA

Terbaru

Populer