Home Blog

Warsen dan Tantangan Dunia Digital: Belajar Tanpa Batas, Tetap Mandiri, Aman, dan Terhubung

Perkembangan teknologi informasi (digital) yang berlangsung begitu cepat membawa banyak manfaat, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan. Lalu bagaimana dengan para lansia atau warga senior (warsen)?

Berbagai aktivitas sehari-hari kini semakin banyak dilakukan secara digital. Mulai dari berkomunikasi, memperoleh informasi, melakukan transaksi keuangan, hingga mengikuti berbagai kegiatan sosial, semuanya serba aplikasi digital. Keterbatasan akses dan literasi digital dapat membuat seseorang tertinggal dan berisiko mengalami keterasingan dari lingkungan sosialnya.

Warsen di Era Digital

Tergerak untuk memberikan edukasi mengenai perkembangan digital, Seksi Warga Senior Gereja St. Matius Penginjil yang tergabung dalam Komunitas Lansia Simeon Hana Dekenat Tangerang 1, menyelenggarakan gelar wicara bertajuk Warsen di Era Digital” dengan pembicara Sudibyo Susanto (pengamat digital) pada Sabtu (18/7/2026) di GKP Gereja St. Matius Penginjil, Bintaro, Tangerang Selatan.

Kegiatan ini bertujuan sebagai bagian dari upaya mendampingi warga senior agar tetap mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman khususnya teknologi informasi, diikuti oleh 130 warga senior Paroki Bintaro.

Diharapkan para peserta tidak takut, bingung, atau menjauh tetapi perlu mempelajari manfaat dari dunia digital antara lain :

  • Teknologi, apabila digunakan dengan bijak, dapat menjadi sarana untuk tetap terhubung dengan keluarga dan lingkungan

  • Dapat mengikuti perkembangan zaman

  • Menikmati hiburan, serta mengembangkan berbagai minat dan kegemaran

  • Dunia digital juga dapat membuka kesempatan bagi warga senior untuk tetap aktif, mandiri, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Kewaspadaan

Namun, kemajuan teknologi juga perlu diimbangi dengan kewaspadaan. Peserta diajak memahami pentingnya melindungi data pribadi, mengenali berbagai bentuk penipuan dan kejahatan siber, serta bersikap kritis terhadap informasi yang beredar di dunia maya. Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang semakin pesat turut menjadi bagian dari pembahasan, terutama mengenai manfaat dan tantangan yang perlu dihadapi secara bijak.

Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Sesi tanya jawab menjadi kesempatan bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mengangkat berbagai pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan digital sehari-hari.

Kegiatan ini menegaskan bahwa belajar tidak mengenal usia. Dengan semangat untuk terus belajar, warga senior dapat tetap mandiri, aman, produktif, dan selaras dengan perkembangan zaman.

Belajar Tanpa Batas, Warsen Makin Berkelas.
Mandiri, Aman, dan Selaras dengan Zaman.

Komlan Simeon Hana Dekenat Tangerang 2

RENUNGAN MINGGU BIASA XVIII, 2 AGUSTUS 2026

YANG TERPENTING ADALAH… 

Yes 55:1-3 — Rm 8:35, 37-39 — Mat 14:13-21

Saudara-saudari..

Minggu lalu kita diajar oleh Yesus – agar jangan lupa memohon karunia harta ilahi. Harta ilahi yang kita perlukan untuk setiap tugas-tugas ilahi yang diberikan oleh Allah. Salomo yang baru saja menjadi raja sadar bahwa statusnya diberikan oleh Allah, namun tidak dibarengi dengan kompetensi yang benar untuk menjalankannya. Ia meminta kompetensi ilahi untuk tugas yang baru saja ia emban, yaitu kemampuan untuk menghakimi dengan bijak dan adil. Namun sayang, Salomo lalai menjaga harta ilahi itu. Alih-alih ia malah mengumpulkan harta-harta lain – yang seharusnya ia lepaskan. 

Minggu ini, harta ilahi itu mendapatkan definisi yang terang benderang. Harta itu ialah relasi dengan Allah sendiri – kembali masuk dalam perjanjian kasih ilahi. 

Nabi Yesaya mengajak kita membayangkan hal yang aneh: orang tanpa uang boleh datang, makan dan minum tanpa bayar (Yes 55:1-3). Maksudnya bukan roti gratis tanpa bayar.

Yang ditawarkan adalah hubungan dengan Allah sendiri — sesuatu yang memang tidak pernah bisa dibeli. Bukan karena Allah sedang berbaik hati memberi diskon, tapi karena kasih itu bukan barang dagangan.

Masalahnya ada pada kita: sering salah alamat mencari kepuasan, menghabiskan waktu dan tenaga untuk hal yang tidak pernah benar-benar mengenyangkan.

Ketika kita benar-benar sadar betapa berharganya relasi dengan Allah, genggaman kita pada hal-hal lain pelan-pelan mengendur sendiri.

Jadi keterikatan kita dengan harta duniawi – meski masih dibutuhkan – tidak benar-benar sekuat keterikatan kita dengan harta ilahi. Dengan harta duniawi, bahkan kita rela melonggarkan, menjual dan akhirnya melepaskan. 

Paulus menambahkan satu hal: tidak ada penderitaan, bahaya, atau bahkan maut yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah (Rm 8:35, 37-39). Kalau begitu, yang bisa membuat kita menjauh dari-Nya sebenarnya cuma satu — pilihan kita sendiri untuk melepaskan.

Kisah penggandaan roti dalam Injil membuktikan semua ini bukan kata-kata kosong (Mat 14:13-21).

Yesus sendiri sedang berduka atas kematian Yohanes Pembaptis, tapi tetap tergerak hati melihat orang banyak yang lapar.

Lima roti dan dua ikan pun cukup untuk lima ribu orang. Para murid diajarkan tidak menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Masalah tetap ada, tapi mereka diminta untuk melibatkan Tuhan sendiri. Menyerahkan segalanya sambil kita tetap mencari cara untuk ‘memberi mereka makan’, tidak menyerah begitu saja. 

Allah yang berjanji lewat Yesaya, membuktikannya lewat tangan Yesus sendiri.

Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah Allah menyediakan — itu sudah pasti.

Pertanyaannya, apakah kita masih mencari roti di tempat yang salah, atau sudah mau duduk dan makan dari apa yang sudah Ia sediakan cuma-cuma. 

Jadi, kamu gimana?

RA

 

RENUNGAN MINGGU BIASA XVII, 26 Juli 2026

Memilih yang Berharga

Minggu Biasa XVII Tahun A — 26 Juli 2026

1Raj 3:5.7-12 • Mzm 119:57.72.76-77.127-128.129-130 • Rom 8:28-30 • Mat 13:44-52

Allah memberi Salomo kesempatan meminta apa saja. Ia tidak meminta umur panjang, harta, atau kemenangan atas musuh.

Ia meminta hati yang bisa mendengar, agar mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat.

Padahal Salomo bisa saja meminta apa pun yang ia mau. Ia justru memilih kemampuan untuk menimbang dan memilih dengan tepat.

Sering kali yang berharga itu berbeda dari yang disukai.

Kekayaan dan kenyamanan mudah menarik hati kita, sementara hikmat untuk melihat apa yang sungguh bernilai justru sering terlewat begitu saja.

Rasul Paulus mengingatkan bahwa sejak awal Allah sudah memanggil setiap orang menurut rencana-Nya, yaitu rencana yang mendatangkan kebaikan. Panggilan ini diberikan Allah lebih dulu, bukan hasil usaha kita.

Justru karena sudah dipanggil sejak semula, hidup kita sehari-hari menjadi proses yang terus berjalan.

Kita diajak terus mendengar, menimbang, memilah, lalu memilih arah yang sejalan dengan rencana Allah.

Ini bukan keputusan besar yang cukup diambil sekali saja, melainkan kepekaan yang terus dilatih dari hari ke hari.

Yesus menggambarkan hal ini lewat dua kisah singkat, harta terpendam dan mutiara berharga. Dalam kedua kisah itu, orang yang menemukannya segera pergi dan menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan apa yang baru saja ia temukan.

Penemuan itu datang tanpa diduga, di tengah kesibukan biasa. Begitu seseorang menyadari apa yang sungguh bernilai, ia tidak ragu menyerahkan yang lain demi hal itu.

Injil hari ini ditutup dengan gambaran pukat penjala, yang mengumpulkan segalajenis ikan sebelum akhirnya dipilah. Gambaran sederhana ini mengingatkan kita bahwa setiap pilihan yang kita ambil terus-menerus dalam hidup punya bobotnyasendiri. Hidup beriman adalah proses harian untuk mengenali yang berharga, lalu memilihnya dengan segenap hati, seperti Salomo yang memilih hikmat melebihi segala yang lain.

Jadi, kamu gimana?

RENUNGAN MINGGU BIASA XVI, 19 Juli 2026

BERSAHABAT DENGAN WAKTU TUHAN
Minggu Biasa XVI — Tahun A
Kebijaksanaan 12:13,16-19 | Roma 8:26-27 | Matius 13:24-43



Kitab Kebijaksanaan hari ini membuka sesuatu yang mengejutkan: kelunakan Allah adalah pilihan-Nya, justru karena Dia berkuasa penuh atas segalanya. Keadilan-Nya penuh belas kasih. Mata-Nya pada manusia yang berdosa tidak pernah berhenti melihat orang itu sebagai yang dikasihi. Dosa tidak menutup kasih Allah. Selama masih ada waktu, pintu pertobatan selalu terbuka — belum terlambat.

Santo Paulus dalam Surat Roma menambahkan sesuatu yang jujur: kita seringkali tidak tahu cara berdoa yang benar. Di titik paling rapuh itu, Roh Allah sendiri yang turun tangan, berdoa dalam diri kita lewat keluhan yang bahkan tidak bisa kita ucapkan. Allah tidak menunggu kita pandai berdoa dulu. Dia masuk ke titik paling lemah kita dan menemani dari sana — asal kita mau memohon, meminta Roh menunjukkan jalannya.

Injil hari ini memperlihatkan Allah yang membiarkan lalang dan gandum tumbuh bersama sampai panen. Bukan karena Dia tidak melihat yang salah, melainkan karena Dia tahu kapan waktunya bertindak. Pertumbuhan iman, perubahan hidup, proses penyembuhan — semuanya butuh waktu. Biji sesawi yang kecil butuh waktu jadi pohon besar. Ragi yang sedikit butuh waktu mengubah seluruh adonan. Yang lambat dan kecil sekarang, bisa berdampak jauh lebih besar nanti. Yang terpenting, benih tetap ditaburkan, ragi tetap dituang. Stabil, konstan, konsisten. 

Setiap orang diberi waktu yang sama: dua puluh empat jam sehari. Yang membedakan, apa yang kita alami di dalam waktu itu. Ada yang menjalani hari demi hari tanpa sungguh-sungguh mengalami kasih, Allah, dan kehadiran sesama — waktunya terasa singkat, bukan karena jamnya berkurang, tapi karena tidak terisi. Mengisi waktu dengan mengenal kasih Allah, hadir untuk sesama, dan membiarkan Dia hadir bagi kita — itulah artinya bersahabat dengan waktu Tuhan. Ketika waktu itu tiada, semoga kita sudah mengenal-Nya.

Jadi, kamu gimana?
RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XV, 12 Juli 2026

Minggu Biasa XV Tahun A
“Tanah yang Sedang Diolah”
(Yes 55:10-11; Rm 8:18-23; Mat 13:1-23)

 

Perumpamaan tentang penabur dalam Injil hari ini ini sering dibaca sebagai ujian: kita ini termasuk tanah yang mana.

Tanah jalan, tanah berbatu, tanah berduri, atau tanah baik. Tapi ada hal yang gampang terlewat.

Tanah baik itu bukan tanah yang dari sananya sudah subur. Tanah baik adalah hasil dari proses yang panjang. Ia dicangkul, dibuka, dibiarkan matahari masuk sampai ke akar-akarnya, sesekali diistirahatkan, dan diolah oleh organisme-organisme kecil yang bekerja diam-diam di dalamnya. Kesuburan selalu lahir dari proses, bukan dari keadaan awal.

Iman kita berjalan dengan cara yang sama. Kesuburan hati tidak datang dari usaha kita membuat diri sendiri jadi baik. Ia datang dari kesediaan membiarkan diri diolah — oleh pengalaman yang menyakitkan sekalipun, oleh orang-orang yang kehadirannya sepertinya biasa saja, oleh percakapan kecil yang tidak terasa istimewa saat itu terjadi.

Saya pernah menemani seseorang yang bertahun-tahun merasa imannya tidak berkembang, sampai ia sadar bahwa justru masa-masa sepi dan sulit itulah yang sedang membentuknya, pelan-pelan, tanpa ia rencanakan.

Inilah yang dimaksud Paulus ketika berbicara tentang penderitaan yang sekarang ini. Penderitaan menjadi bagian dari cara Allah mencangkul, membuka, dan menyuburkan tanah hati kita, sehingga kemuliaan yang dijanjikan justru tumbuh lewat proses itu. Sama seperti firman Tuhan yang turun seperti hujan dan salju, selalu menghasilkan sesuatu meski prosesnya tidak kelihatan seketika.

Yang diminta dari kita hanya satu: tidak mengeras. Tidak keras hati atau kerasa kepala.

Membiarkan diri tetap terbuka terhadap tangan yang mengolah, meski caranya kadang terasa seperti luka.

Tanah yang baik adalah tanah yang terus bersedia dicangkul.

Jadi, kamu gimana?

RA

 
 

Gali Nilai Fransiskan, SKP se-KAJ Gelar Aksi Nyata “Laudato Si’” di TPST Bantargebang

JAKARTA – Langkah konkret untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan mempertegas kepedulian sosial kembali digaungkan. Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Jakarta (KKP KAJ) sukses menyelenggarakan acara bertajuk “Temu Koordinasi dan Inspirasi SKP se-KAJ” pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Mengangkat tema besar “Laudato Si’ Bersemi di Paroki, Beraksi di Bantargebang: Menggali Nilai Fransiskan dalam Menjaga Bumi dan Sesama”, kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai ruang diskusi, melainkan sebuah refleksi yang diwujudkan melalui aksi nyata dari ensiklik Paus Fransiskus tentang lingkungan hidup, Laudato Si’.

Semangat perubahan itu sudah terasa sejak pagi hari. Pukul 08.00 WIB, para peserta yang merupakan penggerak Seksi Keadilan dan Perdamaian (SKP) dari berbagai paroki di KAJ telah berkumpul di Gereja Katedral Jakarta. Menariknya, komitmen ramah lingkungan langsung ditunjukkan sejak awal; seluruh peserta kompak mengenakan pakaian berwarna hijau sebagai simbol kelestarian alam dan membawa tumbler (botol minum) pribadi demi menekan produksi sampah plastik sekali pakai.

Dari Katedral, mereka memulai sebuah perjalanan inspiratif yang sarat akan nilai spiritualitas lingkungan.

Tujuan pertama rombongan langsung mengarah ke jantung persoalan sampah ibu kota: Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Di sana, para peserta melakoni dua agenda utama. Aksi diawali dengan sentuhan kemanusiaan melalui Aksi Amal Kasih, di mana mereka membagikan makanan kepada para pemulung yang sehari-hari menggantungkan hidup di tengah gunungan sampah.

Tidak berhenti pada aksi karitatif, para peserta kemudian melakukan studi edukasi dengan mendapatkan penjelasan langsung dari pengelola TPST Bantar Gebang tentang bagaimana proses pengolahan sampah modern di Bantar Gebang, khususnya mengenai operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Lewat kunjungan ini, peserta belajar bagaimana teknologi dapat diterapkan secara optimal untuk mengurai masalah ekologi secara ramah lingkungan. Proses ini memberikan pelajaran penting dimana ketika sampah dapat dipilah dengan baik maka sebenarnya sampah dapat diolah dengan cepat tanpa lahan yang besar dan sebaliknya tidak terpilah dengan baik semakin lama prosesnya dan tidak sedikit lahan yang dibutuhkan.

Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian KAJ, Romo Agustinus Heri Wibowo, Pr, yang memimpin langsung perjalanan ini menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi dari aksi turun ke lapangan tersebut.

“Melalui acara ini, kami ingin menghidupkan kembali semangat Santo Fransiskus Asisi dalam merawat bumi sebagai rahim bersama dan melayani sesama yang paling rentan. Kita tidak hanya berdiskusi di dalam ruang paroki, tetapi langsung turun ke lapangan untuk melihat realita ekologis kita,” ujar Romo Heri hangat saat memberikan pengantar di awal penyampaian materi studi.

Usai menyerap realitas dan edukasi di Bantar Gebang, perjalanan spiritual dan ekologis berlanjut menuju Paroki Harapan Indah, Bekasi. Di sana, para peserta menuju ke Taman Doa St. Fransiskus Asisi yang berada di lingkungan Gereja Santo Albertus untuk menaikkan doa dengan khusyuk.

Petualangan hari itu ditutup dengan melihat pemanfaatan lahan secara produktif. Para peserta diajak mengunjungi perkebunan yang dikelola secara mandiri oleh umat di sebelah gereja. Di lokasi ini, mereka memanen inspirasi (insight) baru mengenai teknik penanaman sayur dan budidaya ikan lele yang berkelanjutan.

Sebagai penutup rangkaian acara yang berkesan, seluruh peserta bersama-sama menikmati makan siang di area perkebunan lain yang juga hijau dan dikelola apik oleh umat setempat.

Melalui perjumpaan, doa, dan aksi nyata ini, para penggerak SKP se-KAJ diharapkan membawa pulang api semangat Fransiskan untuk disemai kembali di paroki masing-masing—demi bumi yang lebih hijau dan sesama yang lebih sejahtera.

“Pax et Bonum” (Damai dan Kebaikan)

RENUNGAN MINGGU BIASA XIV, 5 Juli 2026

Datanglah kepada-Ku

Minggu Biasa XIV — Tahun A · 5 Juli 2026
Bacaan I: Zakharia 9:9–10 • Mazmur Tanggapan: Mazmur 145:1–2, 8–9, 10–11, 13–14 •
Bacaan II: Roma 8:9, 11–13 • Injil: Matius 11:25–30


Zakharia menubuatkan raja yang datang naik keledai, dan kedatangan itu membawa konsekuensi yang jelas: kereta perang dilenyapkan, panah perang dimusnahkan. Ratusan tahun kemudian, gambaran itu hidup dalam diri Yesus, terutama pada saat Ia ditolak. Kota-kota yang pernah disinggahi-Nya menutup pintu. Tanggapan-Nya justru melebar: “Datanglah kepada-Ku, semua yang berbeban berat.” Penolakan dari sebagian orang malah jadi pintu undangan bagi semua orang.


Di ayat selanjutnya Ia menambahkan, “Pikullah kuk yang Kupasang.” Kuk membuat orang menunduk, diikat jalannya, diatur oleh yang memasangnya. Orang yang tinggi hati akan menolak kuk semacam itu, sebab ia ingin tetap memegang kendali atas jalannya sendiri. Kesediaan dipikul itulah yang melahirkan sikap yang disebut Yesus sebagai lemah lembut dan rendah hati — buah dari mau ditundukkan oleh tangan yang memegang kuk itu.


Inilah yang Paulus maksud ketika ia bicara soal daging dan Roh. Hidup menurut daging adalah hidup yang berusaha mengamankan dirinya sendiri dengan kekuatannya sendiri — logika yang sama dengan kereta perang dan panah yang harus dilenyapkan dari hadapan Sang Raja. Hidup menurut Roh adalah hidup yang membiarkan diri dituntun. Roh yang membuat Kristus mau dipikul oleh kehendak Bapa-Nya kini tinggal dalam diri kita, menuntun kita untuk mau dipikul juga.

jadi, kau gimana?

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XIII, 28 Juni 2026

Bukan dirimu yang disambut

Minggu Biasa XIII Tahun A — 28 Juni 2026

Kita biasa menyambut orang berdasarkan siapa yang datang. Kedatangan uskup ada protokolnya. Pastor agak lebih sederhana. Umat biasa yang datang sendirian, kadang cuma dapat anggukan. Kita sudah terbiasa menyambut berdasarkan kedudukan. Bacaan Minggu ini mengajak kita berhenti sebentar. Yang sebenarnya kita sambut itu apa — orangnya, atau yang dibawanya?

2 Raja-raja 4:8-11.14-16a

Perempuan Sunem awalnya tidak tahu siapa Elisa. Ia hanya melihat seorang nabi yang sering lewat. Setiap kali lewat, ia mampir makan. Tidak ada mukjizat yang diceritakan. Tidak ada kata-kata yang meyakinkan. Hanya kehadiran yang sama, berulang-ulang, sampai perempuan itu sendiri menyimpulkan: ini abdi Allah yang kudus. Pengenalannya butuh waktu, bukan satu kesan saja. Begitu ia mengenali, responsnya pun berubah. Dari sekadar menjamu makan, ia membangun kamar permanen untuk Elisa di rumahnya sendiri.

Matius 10:37-42

Yesus mengajarkan hal serupa, tapi lebih tajam, kepada murid-murid-Nya. Sebelum bicara soal penyambutan, Ia lebih dulu menuntut mereka melepaskan segalanya. Bahkan ikatan keluarga. Bahkan nyawa sendiri. Pesan-Nya jelas: bawalah Aku, bukan dirimu sendiri. Soal diterima atau tidak, itu urusan belakangan. Sebab kata-Nya sendiri, “siapa menyambut kamu, menyambut Aku.” Mulai saat itu, mereka membawa nama-Nya, bukan nama sendiri. Murid tetap disebut “yang kecil” sampai akhir. Yang berubah bukan ukuran diri mereka, tapi nama yang mereka bawa.

Roma 6:3-4.8-11

Itu juga yang dikatakan Rasul Paulus dalam Bacaan Kedua. Lewat baptisan, kita sudah mati dan bangkit bersama Kristus, sekali untuk selamanya. Identitas baru itu bukan hasil usaha kita. Itu sudah selesai dikerjakan-Nya. Tugas kita hanyamenghidupinya.

Maka orang yang menyambut “yang kecil” itu, sebenarnya sedang menyambut Kristus sendiri. Bukan karena yang kecil itu meniadakan dirinya. Ia tetap punya nama, wajah, dan riwayat hidupnya sendiri. Hanya saja yang ingin dikenali bukan lagi dirinya. Menyambut Kristus berarti melihat lebih dalam dari sekadar siapa yang berdiri di depan pintu kita.

— 

Jadi, kamu gimana?

RENUNGAN MINGGU BIASA XII, 21 Juni 2026

 

Yer 20:10-13 | Mzm 69 | Rm 5:12-15 | Mat 10:26-33

 

Minggu lalu kita diingatkan akan satu kebenaran yang mengubah segalanya: Tuhan mengasihi kita lebih dulu — sebelum kita beres, sebelum kita layak, sebelum kita membuktikan diri. Saat kita masih berdosa, saat kita masih jauh, kasih-Nya sudah lebih dulu tiba.

Minggu ini, Paulus melanjutkan: kasih itu datang sebagai kasih karunia yang dilimpahkan. Satu pelanggaran Adam membawa maut bagi semua. Tetapi satu perbuatan kasih Kristus membawa kelimpahan jauh melampaui itu. Kita berangkat sebagai orang yang sudah penuh — penuh karena Dia sudah lebih dulu memberikan diri-Nya.

Dari kelimpahan itulah Yesus mengutus kita. Dan Ia tahu ke mana kita pergi. “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang. Dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.”

Ini undangan bagi orang yang sudah tahu — sudah tahu bahwa mereka dikasihi, sudah tahu bahwa mereka tidak sendirian, sudah tahu bahwa nyawa mereka ada di tangan yang lebih besar dari tangan manusia mana pun.

Yeremia tahu itu. Ia dikepung dari segala sisi — sahabat-sahabatnya sendiri menunggu ia tersandung, musuh-musuhnya mengintai celah untuk merobohkan dia. Ancamannya nyata. Tetapi di ayat terakhir bacaan hari ini, ia justru memuji Tuhan — karena hatinya merdeka.

Di sinilah inti dari bacaan hari ini. Yesus berkata: jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh. Ada sesuatu dalam diri kita yang tidak bisa dijangkau oleh tekanan dari luar — hati yang hidup dari kasih karunia Allah. Ketakutan yang paling berbahaya adalah ketakutan yang membuat kita bungkam saat harus bicara, diam saat harus berdiri, pura-pura setuju saat hati kita tahu yang benar.

Ketakutan yang pelan-pelan membelenggu kita dari dalam — sampai tubuh kita bebas bergerak ke mana-mana, tetapi hati kita tidak lagi merdeka. Lebih baik menderita di tubuh, tetapi hati tetap merdeka — daripada tubuh bebas, tetapi hati terbelenggu.

Kita diutus sebagai orang yang sudah dilimpahi. Dan dari kelimpahan itu, keberanian sudah ada — menunggu untuk kita percayai.

Jadi, kamu gimana?

RA

PERTAMA DI INDONESIA, CANTICA SACRA MENGGELAR KONSER PENTAKOSTA

Untuk pertama kalinya di Indonesia, di luar kelaziman, Cantica Sacra Indonesia menggelar konser musik liturgi bertema Pentakosta. Lazimnya konser sejenis mengambil tema Paskah dan Natal.

Cantica Sacra menilai peristiwa Pentakosta, momen turunnya Roh Kudus atas para rasul, sangat layak diperingati dengan menggelar sebuah konser khusus. Sekaligus konser itu diniatkan untuk merayakan Pentakosta sebagai hari lahir Gereja Katolik.

Melalui konser ini Cantica Sacra hendak menunjukkan bahwa musik liturgi bertema kedatangan Roh Kudus sudah menjadi bagian dari kegiatan ibadah sekaligus kekayaan musik Gerejawi sejak Abad Pertengahan.

Mengambil tajuk Twilight Concert Pentakosta: Veni Creator Spiritus, Cantica Sacra menggelar konser tersebut di gedung Gereja Lama Paroki Santa Perawan Maria Ratu (SPMR), Blok Q Jakarta Selatan pada Selasa 16 Juni 2026 pukul 17.00-19.30 WIB.

Musik Liturgi Lintas Zaman

Penampil dalam konser adalah Cantica Sacra Choir dengan formasi SATB. Kelompok paduan suara ini adalah model Schola Cantorum yang dibentuk guna melestarikan tradisi musik liturgi yang benar, baik, indah, dan suci menurut ajaran Gereja Katolik. Sejumlah 44 orang anggota paduan suara ini berasal dari 19 paroki Keuskupan Agung Jakarta dan 2 paroki Keuskupan Bogor. Setiap orang dari mereka diniatkan menjadi benih Schola Cantorum untuk parokinya.

Tampil memukau di bawah pengabaan konduktor Jay Wijayanto dan Mikha Ogung Panggabean, Cantica Sacra Choir membawakan 16 komposisi musik liturgi bertema Roh Kudus dengan indah dan menggetarkan. Cantica Sacra Choir membawakan lagu-lagu itu dengan formasi yang variatif: SATB, female choir, duet, dan solo. Sebagian nomor dibawakan secara acapella, tanpa iringan instrumen musik.

Enambelas nomor itu mewakili kekayaan khazanah musik liturgi Katolik lintas zaman, mulai dari Abad Pertengahan sampai Era Modern dan Kontemporer. Dari Abad Pertengahan (500-1400) ditampilkan Veni Creator Spiritus –Datanglah Roh Maha Kudus (Rabanus Maurus) dan De Spiritu Sancto (Hildegard von Bingen).

Lalu ada Miserere Mei Deus (Gregorio Allegri) dari Masa Renaisans Akhir (1400-1600)/Barok Awal (1600-1750), Laudamus Te (A. Vivaldi) dari Masa Barok, dan Exultate Jubilate (W.A. Mozart) dari Zaman Klasik (1750-1820). Dari Era Romantik (1820-1910) ditampilkan Laudate Pueri (F. Mendelssohn), O For The Wings of a Dove (F. Mendelssohn), dan O Divine Redeemer – (C. Gounod).

Melengkapi nomor-nomor dari era lama, ada komposisi-komposisi Era Modern (1910-1975) dan Kontemporer (1975-sekarang. Nomor Ubi Caritas (M. Durufle) dipilih mewakili Zaman Modern. Lalu dari Era Kontemporer dipilih Open Thou Mine Eyes (J. Rutter), The Lord Bless You (J. Rutter), Fanfare for Pentecost (J. Purifoy), dan Cantate Domino (J. Elberdin).

Secara keseluruhan, rangkaian 16 komposisi tersebut menceritakan penantian kedatangan Roh Kudus, sukacita karena kedatangan-Nya, dan harapan agar tetap hidup dalam bimbingan Roh Kudus.

Konser Edukasi dan Katekese

Istimewanya, semua komposisi musik liturgi itu dibawakan tanpa dukungan sound system. Paduan suara murni mengandalkan potensi resonansi rongga mulut, hidung, dan tenggorokan dan dukungan sistem akustik gereja lama SPMR Blok Q.

“Cantica Sacra ingin membagikan pengalaman spiritual membawakan musik liturgi Gereja dengan vokal murni seperti dahulu pada Abad Pertengahan.” Jay Wijayanto, konduktor, pelatih, dan direktur artistik konser menjelaskan alasannya. Terbukti, pilihan pendekatan itu menghasilkan sajian musik liturgi yang teralami lebih sakral.

Berbeda dari konser yang umumnya searah, Konser Pentakosta digelar dengan pendekatan interaktif dan partisipatif. Jay Wijayanto tampil menjelaskan sejarah dan makna lagu-lagu liturgi yang dibawakan, dan membuka ruang tanya-jawab dengan penonton. Tujuannya untuk edukasi musik liturgi Katolik di lingkungan umat.

Selain fungsi edukasi, Konser Pentakosta ini juga membawakan fungsi katekese musik liturgi. Untuk itu secara khusus hadir Mgr. Vitus Rubianto Solichin SX, Uskup Padang dan Ketua Komisi Seminari KWI, Romo Nikasius Jatmiko Pr, Sekretaris Eksekutif KWI, Romo FX Dedomau da Gomez, SJ, Pastor Paroki SPMR Blok Q, dan Romo Fransiskus Yance Senga Pr, Sekretaris Komisi Liturgi KWI. Mereka berkenaan memberikan katekese tentang aspek teologis musik liturgi.

“Musik liturgi penting untuk membangun Gereja Katolik,” kata Mgr. Vitus saat memberikan katekese singkat. Gereja Katolik yang dimaksud di situ adalah tubuh spiritual yakni Tubuh Kristus.

“Melalui musik liturgi, terjadi pertemuan antara kata-kata manusia dari tempat rendah dan melodi Tuhan dari tempat tinggi,” kata Romo Yance. Itulah hakikat Gereja, perjumpaan intim antara umat dan Tuhan lewat nyanyian liturgis.

Konser Pentakosta ini dihadiri sekitar 250 orang penonton. Selain para klerus, mereka yang hadir menyaksikan konser adalah para bruder, suster, tokoh Katolik Jakarta, dan aktivis paroki lingkar KAJ dan Keuskupan Bogor, khususnya pegiat musik liturgi atau paduan suara gereja.

Konser kali ini didukung oleh berbagai pihak. Dukungan iringan musik datang dari Angelica Liviana (piano), Maria Miselsi (organ), dan Billy Aryo (cello). Theresia Sagita tampil sebagai manajer panggung (stage manager). Sejumlah tokoh Katolik sukarela memberikan dukungan finansial dan natura untuk membiayai persiapan dan pelaksanaan konser.

Konser Pentakosta ini merupakan konser ketiga dari Cantica Sacra Indonesia, suatu komunitas awam Katolik KAJ yang mendedikasikan kegiatannya untuk pengembangan musik liturgi di Indonesia. Konser kali ini adalah salah satu dari sekian program untuk tahun 2026. Program-program lainnya adalah pelatihan, publikasi, tutorial, dan pelayanan misa. Target program adalah seminari dan paroki. Untuk itu Cantica Sacra menjalin kerja sama dengan Komisi Liturgi dan Komisi Seminari baik di tingkat Keuskupan maupun KWI. 

Cantica Sacra Indonesia/MT Felix Sitorus

Terbaru

Populer