Home Blog

Hari Raya Semua Orang Kudus, 1 November 2026

PADA AKHIRNYA ADALAH KEBAHAGIAAN KEKAL

Why 7:2-4.9-14; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12

Yohanes, rasul pengarang Injil – menceritakan penglihatannya. Sebuah keputusan surgawi untuk merusak bumi dan laut. Namun, sebelum itu diadakan pemateraian hamba-hamba Allah. Materai menjadi tanpa luput dari kebinasaan. Disebutkan juga, kumpulan besar orang dari segala bangsa dan suku, memakai jubah putih. Bersama dengan malaikat, mereka semua melambungkan pujian kemuliaan kepada Allah dan Anak Domba.

—

Hari ini, kita, anak-anak Allah bersyukur dalam kemuliaan Allah. Kita bergembira bersama dengan semua orang kudus sebagai satu keluarga Allah. Mereka yang telah mengalami berbagai perjuangan di dunia diganjar janji Allah untuk hidup kekal. Mereka yang telah setia  dan akhirnya tercuci bersih dalam darah Anak Domba.

Perayaan hari ini menunjukkan gambaran masa depan kita juga. Kita yang telah disucikan oleh darah yang sama, dan diperkenankan masuk dalam keluarga Allah. Dan kita boleh bangga disebut sebagai anak2 Allah.

Dan sementara kita menantikan masa depan yang niscaya akan terima sebagai ahli waris, kita diundang hidup dalam antisipasi kebahagiaan kekal. Undangan untuk semua, khususnya bagi mereka yang miskin di hadapan Allah, yang murah hati, yang berdukacita, yang suci hatinya, yang membawa damai, dianiaya demi kebenaran. Berbahagialah.

—

Jadi, kamu gimana?

RA

Kolaborasi Digitalisasi Gereja, Keuskupan Agung Jakarta Menerima BINUS Creates Excellence Partnership Awards 2027

Penghargaan tersebut diterima oleh Rakadewa, Staf IT dan Data Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), yang hadir mewakili Romo Vincentius Adi Prasojo, Pr., Sekretaris Jenderal KAJ.

BINUS ALAM SUTERA, 29 Oktober 2026 — Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menerima penghargaan BINUS Creates Excellence Partnership Awards 2027 dalam rangkaian kegiatan BINUS Creates Outlook 2027 yang diselenggarakan di BINUS @Alam Sutera, Tangerang, Banten, Kamis (29/10/2026). Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas kemitraan strategis antara BINUS Creates dan KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA (KAJ) dalam pengelolaan infrastruktur serta digitalisasi data Gereja Katolik di lingkungan KAJ.

Kerja sama antara BINUS Creates dan KAJ berfokus pada pengelolaan infrastruktur dan digitalisasi data Gereja Katolik KAJ. Kolaborasi ini diinisiasi dan dipimpin langsung oleh Romo Vincentius Adi Prasojo, Pr., Sekretaris Jenderal KAJ, yang dimulai sejak pengembangan sistem data online Basis Integrasi Data Umat Keuskupan (BIDUK) pada tahun 2015 sebagai bagian dari upaya pengembangan dan penertiban Data Umat serta kapasitas organisasi melalui pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pelayanan Gereja.

BINUS Creates menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan kemitraan strategis yang telah terjalin dengan KAJ selama ini. Kemitraan tersebut dinilai sebagai wujud kolaborasi yang bernilai dalam mendukung pengembangan kompetensi dan peningkatan kapabilitas organisasi.

Penghargaan BINUS Creates Excellence Partnership Awards menjadi pengakuan atas hubungan kerja sama kedua institusi sekaligus momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam menghadapi kebutuhan pengelolaan organisasi yang semakin bergantung pada infrastruktur teknologi dan tata kelola data yang baik.

Menguatkan Digitalisasi Pelayanan Gereja

Pengelolaan infrastruktur teknologi dan digitalisasi data menjadi bagian penting dalam mendukung tata kelola organisasi Gereja. Melalui kerja sama dengan BINUS Creates, KAJ menjalin kemitraan dengan institusi di bidang teknologi dan inovasi untuk mendukung pengembangan kapasitas digital organisasi.

Digitalisasi data di lingkungan Gereja memiliki arti strategis karena dapat mendukung pengelolaan informasi yang lebih terstruktur, meningkatkan efisiensi proses kerja, serta menjadi landasan bagi pengambilan keputusan yang lebih baik. Di sisi lain, pengelolaan infrastruktur teknologi yang tepat juga diperlukan untuk menunjang keberlangsungan sistem dan kebutuhan pelayanan organisasi.

Dalam konteks tersebut, kolaborasi KAJ dan BINUS Creates menunjukkan pentingnya kemitraan lintas sektor dalam menjawab tantangan transformasi digital. Kerja sama ini juga membuka ruang bagi pengembangan pendekatan pengelolaan teknologi yang semakin relevan dengan kebutuhan organisasi Gereja.

BINUS Creates Outlook 2027 Bahas AI yang Berpusat pada Manusia

Penghargaan bagi KAJ diberikan dalam rangkaian BINUS Creates Outlook 2027 yang mengusung tema Human-Centric AI for an Age of Uncertainty and Sustainable Growth. Forum ini mengangkat isu pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) yang menempatkan manusia sebagai pusat perhatian di tengah ketidakpastian dan tuntutan pertumbuhan berkelanjutan.

Pada sesi pagi, acara diawali dengan registrasi peserta dan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan talkshow bertajuk “Dompet di Era AI: Lucu-Lucu Berisiko” yang berlangsung pukul 09.00–09.30 WIB. Sesi ini menghadirkan Dr. Dea Prasetyawati, S.ST.Par., M.M., dan Ligwina Hananto.

Agenda berikutnya adalah Morning Symposium bertema “Membaca Sinyal Ekonomi Masyarakat: Konsumsi, Investasi, dan Ketidakpastiannya”, yang menghadirkan Junus Koswara dan Prof. Dezie L. Warganegara, Ph.D., pada pukul 09.30–10.30 WIB.

Rangkaian sesi pagi dilanjutkan dengan agenda FM & BINUS Creates Awards pada pukul 10.30–12.00 WIB, kemudian makan siang dan kegiatan jejaring hingga pukul 13.00 WIB. Simposium ini selanjutnya dijadwalkan berlanjut dengan sesi diskusi strategis pada siang hari.

Penghargaan yang diterima KAJ menegaskan arti penting kemitraan strategis dalam pengembangan organisasi dan transformasi digital. Melalui kolaborasi yang melibatkan keahlian di bidang teknologi dan kebutuhan pelayanan Gereja, pengelolaan infrastruktur serta data diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung tata kelola organisasi yang semakin efektif dan berkelanjutan.

Tentang BINUS Creates Outlook 2027

BINUS Creates Outlook 2027 merupakan forum yang membahas perkembangan bisnis, inovasi, dan teknologi melalui tema Human-Centric AI for an Age of Uncertainty and Sustainable Growth. Forum ini menghadirkan diskusi mengenai tantangan ekonomi dan pemanfaatan teknologi dalam mendukung pertumbuhan berkelanjutan. (rk)

RENUNGAN MINGGU BIASA XXX, 25 Oktober 2026

MENGAPA MENGASIHI?

Minggu Biasa XXX TAHUN A
Kel 22:21-27, 1Tes 1:5c-10, Mat 22:34-40

Kadang kita perlu mencari alasan mengapa harus melakukan ini itu, supaya semuanya make sense.

Memandang sesama seperti diri sendiri. Kita juga merasakan apa yang mereka rasakan. Empati. Simpati. Solidaritas.

Kita bisa bertanya. Untuk apa itu semua? Untuk apa repot2? Untuk apa menuruti perintah Tuhan? Bukankah lebih enak mikirin diri sendiri. Sangat memuaskan jika memenuhi hawa nafsu pribadi. Menyenangkan jika menimbun dan menyimpan semuanya untuk kepentingan sendiri? Untuk apa mengasihi?… dan supaya apa kita taat pada yang disabdakan Tuhan pada minggu ini?

—

Dalam bacaan pertama, Allah memerintahkan, jangan menindas orang asing, janda dan anak yatim. Jangan membebankan utang terhadap kaum miskin yang meminjam uang. Kembalikan jubah satu-satunya dari orang yang menggadaikan jubahnya.

Paulus memuji jemaat di Tesalonika dengan segala kualitas mereka. Mereka penurut, menjadi teladan bagi wilayah di sekitarnya. Iman mereka menjadi kesaksian yang kuat.

Sementara itu, Injil Matius menjelaskan hukum terbesar di dalam Taurat, yakni Hukum Kasih.

—

Kalau dengan demikian, For what is worth?

Dalam Kitab keluaran, Allah menjelaskan apa yang worth it – karena kamu pernah di posisi menderita seperti itu. Dan itu tidak nyaman. Menjadi orang asing, janda, yatim piatu, berhutang dan kedinginan. Menderita tanpa perlindungan. Kita diundang untuk ikut menyingkirkan penderitaan itu pada diri sesama. Karena kalau hal yang sama terjadi pada diri kita, kita juga pasti cari pertolongan. Sebelum kita cari, beri lebih dulu pertolongan itu kepada yang lain.

Paulus, menunjukkan mengapa worth it – Seperti juga kejahatan menular, kasih juga menular. Karena dirasakan dari hati yang satu menyentuh hati yang lain, dan begitu seterusnya. Sampai semua dipenuhi cinta kasih. Itu menyenangkan.

Injil Matius lebih simpel knapa worth it – Karena itu hukum yang terbesar. Kalau memang kamu beriman, menyembah Allah, dan mau menaati perintah-Nya, maka inilah hukum itu. Tidak perlu bertanya lagi mengapa harus mengasihi.

—

Jadi, masih perlu bertanya mengapa aku harus mengasihi?

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XXIX, 18 Oktober 2026

HAK ALLAH?

Yesaya 45:1.4-6; 1Tes 1:1-5b; Mat 22:15-21

Apa yang kita rasakan, jika hak dasar kita sebagai manusia terpenuhi dan terjamin akan selalu terpenuhi? Tentu kita merasa tenang, damai dan gembira. Bisa jadi apa yang kita kerjakan dan pelayanan kita menjadi optimal. Kita tidak lagi memikirkan kebutuhan kita lagi karena semua sudah terjamin akan terpenuhi. Kita hanya fokus pada apa yang harus kita lakukan.

Pernah saya baca di sebuah berita tentang terjadinya penurunan permainan sebuah tim sepakbola yang dulunya pernah juara. Ternyata, banyak pemain yang hak gajinya belum dibayarkan, sehingga mereka tidak bisa bermain secara optimal dan memberikan yang terbaik.

—

Injil hari ini juga bicara soal hak. Pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang Farisi melalui orang-orang Herodian untuk mencobai Yesus. “Bolehkah kami membayar pajak kepada kaisar atau tidak?”. Kita semua tau, Yesus menjawab, berilah kepada kaisar apa yang menjadi hak-nya, dan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah.

Yang wajib diberikan kepada Kaisar/Negara merupakan hak negara. Jawaban berdasarkan koin berwajah Kaisar. Ini bisa dibaca dalam konteks pengantar di atas, supaya penyelenggaraan negara demi kesejahteraan rakyat dapat berjalan dengan berhasil. Idealnya demikian.

Lalu apa yang berwajah Allah – sehingga wajib diberikan kepada Allah. Sementara Allah tidak butuh apa-apa sehingga harus diberikan. Hanya ada satu penjelasan dalam kitab Kejadian, Manusia adalah gambar Allah. Dengan demikian, manusia sejak awal dipanggil untuk menampakkan kemuliaan Allah. Kita memberikan hak Allah untuk menampakkan kemuliaan-Nya dengan jalan semakin menjadi manusia.

Menjadi semakin manusia artinya menjadi sebagaimana tujuan ia diciptakan. Hidup berdampingan dan harmoni dengan alam ciptaan, mengelola dan merawatnya. Hidup bersatu dengan sesama manusia yang lain, mengasihi dan mencintai.

Paulus membingkai wajah kemanusiaan yang menampakkan kemuliaan Allah itu dengan tiga kata: iman, kasih, pengharapan — persis itulah yang dilihatnya hidup dalam jemaat Tesalonika.”

—

Jadi, kamu gimana?

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XXVIII, 11 Oktober 2026

Pakaian Pesta

Hari Minggu Biasa XXVIII, Tahun A — 11 Oktober 2026

Yes. 25:6-10a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Flp. 4:12-14,19-20; Mat. 22:1-14

Nabi Yesaya menubuatkan gambaran yang begitu indah tentang apa yang Allah janjikan bagi umat manusia: sebuah perjamuan di Gunung Sion, dengan makanan dan minuman terbaik, bagi segala bangsa. Di sana, Tuhan akan menghapus air mata dari segala muka, dan maut akan ditelan untuk selama-lamanya. Ini bukan sekadar pesta duniawi. Ini gambaran kepenuhan hidup bersama Allah sendiri — tempat kesedihan tidak lagi punya kuasa.

Injil hari ini meneruskan gambaran itu lewat sebuah perumpamaan. Kerajaan surga, kata Yesus, seumpama seorang raja yang mengadakan pesta kawin untuk anaknya. Orang-orang yang sejak awal sudah diundang menolak datang — mereka sibuk dengan ladang dan urusan dagang mereka sendiri. Bukan karena mereka tidak mampu datang, tapi karena mereka memilih hal lain yang dianggap lebih penting. Mereka menolak bukan pesta biasa, melainkan gambaran sukacita sebesar yang dinubuatkan Yesaya — demi urusan yang jauh lebih kecil.

Tapi di tengah pesta yang sudah penuh itu, raja mendapati seorang tamu yang tidak mengenakan pakaian pesta. Ini bukan soal kemampuan — pakaian pesta pada masa itu lazimnya disediakan bagi tamu, bukan sesuatu yang harus dibeli sendiri. Tamu itu gagal bukan karena tidak mampu memantaskan diri, melainkan karena tidak mau repot melakukannya. Ia menikmati tempat duduk dan jamuan raja, tapi memperlakukan semuanya sebagai hal biasa saja — diterima begitu saja, tanpa penghargaan.

Memakai pakaian pesta adalah respons syukur atas undangan yang diterima cuma-cuma. Ia datang belakangan, bukan sebagai syarat masuk, melainkan sebagai buah dari hati yang sungguh menghargai apa yang sudah diterima. Justru karena undangan itu gratis, ada kewajaran untuk tidak menerimanya begitu saja — jangan sampai taken for granted.

Rasul Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, menunjukkan seperti apa hati seorang tamu yang sudah memantaskan diri itu. Ia belajar untuk berkecukupan dalam segala keadaan — entah kenyang atau lapar, berkelimpahan atau kekurangan — karena kekuatannya datang dari Kristus, bukan dari keadaan di luar dirinya. Itu sikap syukur yang tidak menuntut, tidak taken for granted, selalu cukup dalam Dia yang memberi kekuatan.

—

Perjamuan surgawi itu kita rasakan dalam Perayaan Ekaristi. Undangan Tuhan berlaku setiap hari, mana kala Ekaristi juga dirayakan setiap hari. Lalu, apakah aku juga masih menolak datang atas undangan perjamuan Tuhan yang disediakan di dunia ini sebagai antisipasi perjamuan surgawi yang sebenarnya. Bagaimana, jika kelak Perjamuan Surgawi paripurna itu tidak dapat kita hadiri?

Jadi, kamu gimana?

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XXVII, 4 Oktober 2026

Kebun untuk Damai Sejahtera

Hari Minggu Biasa XXVII, Tahun A, 4 Oktober 2026

Yes. 5:1-7; Mzm. 80:9,12,13-14,15-16,19-20; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43

Minggu ini Yesus masih berbicara dengan perumpamaan kebun anggur dan para pekerjanya.

—

Dalam nubuat Yesaya, Allah digambarkan seperti orang yang menyiapkan kebunnya dengan penuh kasih: mencangkul, membuang batu, menanam pokok anggur pilihan, membangun menara jaga. Semuanya untuk satu tujuan, yaitu supaya kebun itu berbuah baik. Buah yang dimaksud bukan hanya untuk kebun itu sendiri, tapi keadilan dan kebenaran yang dinikmati semua orang. Paulus menyebut hasil akhirnya damai sejahtera Allah. Itulah rencana Allah sejak awal: seluruh ciptaan tumbuh dan berbuah, dalam damai, bagi semua.

Tapi Yesaya mencatat, yang muncul justru buah asam: kelaliman, bukan keadilan; jeritan orang tertindas, bukan kebenaran. Injil hari ini menceritakan hal yang sama lewat para penggarap. Kebun itu baik, tuannya baik. Masalahnya ada pada penggarap. Ketika hamba-hamba dikirim mengambil hasil, mereka dipukul dan dibunuh. Ketika anak sang tuan dikirim, mereka berkata, “Marilah kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.”

Di situ akar penolakannya: rasa memiliki. Kebun yang dipercayakan mereka anggap milik sendiri, dan buahnya mereka tahan. Padahal justru itu yang memecah damai sejahtera.

—

Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan mereka sendiri sadar bahwa merekalah yang dimaksud. Ini teguran nabi dari dalam kepada para pemimpin umat, bukan penolakan terhadap seluruh bangsa Israel. Dan cermin yang sama kini diarahkan kepada kita semua yang dipercayakan sesuatu: imam, pengurus, orang tua, atasan. Apa pun yang kita pegang, itu kebun titipan.

Belum lama ini saya menghadiri penjubahan seorang orang muda yang saya dampingi. Ia masuk seminari tinggi. Benih panggilan itu sudah ada sejak ia kecil, tapi sempat terhimpit banyak hal. Tugas saya hanya membantu membersihkan apa yang menghimpit, supaya benih itu tumbuh lagi. Saya tidak menanamnya, dan bukan saya yang membuatnya bertumbuh. Justru itu sukacitanya: ia pergi ke kebun lain, dan buahnya bukan untuk saya. Buahnya untuk sementara ia nikmati dan pada saatnya nanti akan dibagikan untuk banyak orang.

Kabar baiknya, penolakan tidak mengalahkan rencana Allah. Batu yang dibuang tukang bangunan justru menjadi batu penjuru. Kebun itu tetap akan berbuah, dan Paulus mengajak kita melepaskan kekuatiran serta menyerahkan segalanya kepada Allah. Sebab hanya penggarap yang tahu bahwa kebun itu bukan miliknya yang bisa hidup dalam damai dan bersukacita melihat buahnya dipetik untuk banyak orang.

Jadi, kebun apa yang dipercayakan kepadamu? Dan kamu sedang menjaganya sebagai penggarap, atau sebagai pemilik?

—

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XXVI, 27 September 2026

Waktu yg tepat untuk berbalik

Minggu Biasa XXVI, Tahun A — 27 September 2026
Yeh. 18:25-28; Mzm. 25:4bc-5,6-7,8-9; Flp. 2:1-11; Mat. 21:28-32

Masih dalam suasana syukur atas kemurahan hati Tuhan. Nubuat Yehezkiel menyatakan, “kalau orang fasik bertobat dan kefasikannya, lalu ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia pasti hidup tidak akan mati”.

—

Saudara-saudari yang dicintai Tuhan. Minggu ini dalam Injil Matius, Yesus menceritakan lagi sebuah perumpamaan. Tapi kali ini bukan untuk kita, tapi ditujukan untuk para imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Di akhir cerita Yesus juga menegaskan bahwa pemungut cukai dan para pelacur akan mendahului mereka masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kok bisa?

Bedanya ada di keputusan para imam kepala untuk tetap tidak percaya atas jalan kebenaran yang ditunjukkan Yohanes. Yesus Kristus-lah jalan kebenaran itu. Sebaliknya, mereka yang dianggap berdosa waktu itu percaya dan memperbarui hidupnya seturut dengan Dia yang mereka percaya.

—

Jadi, menurut saya. Ini tidak sedang bicara tentang orang yang tidak berdosa dan mereka yang berdosa. Tetapi, kuncinya ada pada kemampuan kita untuk menyediakan ruang kosong untuk selalu bertanya: apakah jalan hidup yang kupilih ini sesuai dengan jalan yang dikehendaki Allah. Lalu setelah menemukan jawabannya, kita berbalik. Kapan saat yang tepat untuk berbalik? Jawabannya jelas: sekarang juga.

—

Paulus, menulis surat supaya jemaat Filipi berjuang terus untuk hidup sehati sejiwa, satu tujuan dalam satu kasih. Dalam kehidupan bersama hendaklah kamu bersikap seperti Kristus Yesus. Yesus yang dengan sadar dan bebas, memilih jalan pengosongan diri. Mengambil rupa seorang hamba, menjadi taat sampai mati. Jalan kebenaran dari Bapa yang dengan bebas merdeka dipilih dan dilaksanakan dengan penuh oleh Yesus. Ini adalah jalan kasih yang Tuhan lakukan saat itu juga.

—

Maka pertanyaannya bukan “aku orang baik atau berdosa,” tapi lebih mendasar: sudahkah aku membuka ruang kosong untuk memeriksa jujur, apakah jalanku sesuai kehendak Allah — atau aku sudah terlalu penuh oleh kepastian diri sendiri untuk menyisakan ruang bagi-Nya?

Jadi, kamu gimana?

RENUNGAN MINGGU BIASA XXV, 20 September 2026

Para pekerja di kebun anggur

Kemurahan hati Allah adalah KEHIDUPAN KITA

Hari Minggu Biasa XXV, Tahun A — 20 September 2026

Yes. 55:6–9; Mzm. 145:2–3,8–9,17–18; Flp. 1:20c–24,27a; Mat. 20:1–16a

Biasanya, kalau kita baca perikop Injil hari ini point of view (POV) kita langsung tertuju pada sikap pekerja awal yang protes atas kemurahan hati sang Tuan kebun anggur. Lalu munculah pesan-pesan dangkal: jangan seperti buruh pertama itu. Dia iri hati dia serakah dan egois. Atau pesan lain, jadilah seperti tuan kebun anggur itu yang murah hati kepada semua.

Sebetulnya perumpamaan ini bisa didekati lewat POV apapun. Namun, kita perlu ingat Yesus sedang mengajar tentang Kerajaan Surga. Apa yang dikehendaki Bapa-Nya dalam kerajaan itu, dan bagi keselamatan manusia. Maka lewat tulisan ini saya hendak menawarkan renungan teks dari POV yang lain.

Ini berangkat dari pertanyaan sederhana. Apa sebenernya yang menjadi motivasi sang tuan kebun anggur saat dia mencari pekerja? Sebab dia dari pagi keluar, jam sembilan keluar lagi. Jam dua belas, jam tiga lalu jam lima sore ia keluar lagi. Jadi  lima kali dia keluar dari kebun anggur untuk mencari pekerja. Dan semua yang ia ajak adalah pengangguran yang tidak dapat upah.

—

Mari kita coba jawab.

Kalau motivasinya sekadar untung, aneh rasanya seorang tuan tanah bolak-balik lima kali ke pasar, bahkan sampai jam lima sore — ketika hasil kerja satu jam nyaris tidak berarti apa-apa bagi kebunnya. Secara bisnis, ini tidak efisien.

Tapi kalau kita perhatikan jawaban orang-orang yang ia temui, “Karena tidak ada orang yang mengupah kami” — di situ kita menemukan jawabannya.

Sang tuan tidak sedang mencari tenaga tambahan.

Ia sedang mencari orang-orang yang terlantar, yang tanpa pekerjaan hari itu, tidak akan bisa makan hari itu.

Motivasinya bukan cari untung. Motivasinya adalah kehidupan mereka.

Dan kehidupan itu ia jamin lewat satu dinar. Bukan besar, tapi cukup — cukup bagi seorang pekerja dan keluarganya untuk hidup satu hari, berapa pun jam kerja yang mereka berikan.

Di sinilah letak kemurahan hati sang tuan yang sesungguhnya: bukan pada besarnya upah, tapi pada kepastian bahwa tidak ada seorang pun yang ia temui hari itu pulang tanpa kehidupan.

Kalau perumpamaan ini sungguh berbicara tentang Kerajaan Surga, maka sang tuan ini adalah gambaran Allah sendiri — yang terus-menerus “keluar,” tidak berhenti mencari jiwa-jiwa yang terlantar dan terlupakan, sampai tidak ada lagi yang tertinggal tanpa kehidupan.

Kemurahan hati Allah bukan sekadar sifat-Nya. Kemurahan hati Allah adalah kehidupan kita sendiri — sebab tanpa itu, kita seperti pekerja-pekerja yang berdiri saja di pasar, menganggur, menunggu seseorang yang mau memanggil kita masuk ke dalam kehidupan yang Ia tawarkan.

—

Kalau begitu motivasi sang tuan, ini sekaligus jadi cermin yang tidak nyaman bagi kita yang punya kuasa atas penghidupan orang lain — pemberi kerja, dan terlebih lagi pembuat regulasi ketenagakerjaan.

Sang tuan memastikan upah itu cukup untuk hidup, apa pun jam kerjanya. Bandingkan dengan kenyataan yang sering kita saksikan: harga kebutuhan pokok terus naik, tapi upah minimum tidak kunjung menyesuaikan dengan layak. Siapa yang diuntungkan dari jarak yang dibiarkan melebar itu? Bukan pekerja dan keluarganya, melainkan pemberi kerja yang labanya makin tebal justru dari selisih itu.

Kalau motivasi menciptakan lapangan kerja sungguh seperti motivasi sang tuan — supaya orang bisa hidup layak — maka upah bukan beban yang ditekan serendah mungkin, melainkan tanggung jawab yang harus dipenuhi selayaknya.

—

Yesaya mengingatkan kita hari ini: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku… seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah jalan-Ku menjulang di atas jalanmu.” Cara Allah menjamin kehidupan kita memang tidak selalu masuk akal menurut logika untung-rugi dunia. Karena rencana Allah tidak menguntungkan bagi-Nya, tapi memberi kehidupan bagi dunia.

St. Paulus, dalam bacaan kedua, menunjukkan bagaimana rasanya hidup dari kepastian itu: baginya hidup adalah Kristus, dan itu sudah cukup — ia tidak lagi menghitung apa yang “seharusnya” ia terima, sebab kehidupannya sendiri sudah dijamin oleh kemurahan hati yang jauh lebih besar dari perhitungan dunia mana pun.

Jadi, siapa pun kita hari ini — entah sedang berdiri di pasar menunggu dipanggil, atau justru sedang memegang kuasa untuk memanggil orang lain masuk bekerja — pertanyaannya sama: sudahkah kita percaya, dan sudahkah kita meneruskan, bahwa kemurahan hati Allah itu bukan sekadar berkat tambahan, melainkan kehidupan kita sendiri?

….

RA

RENUNGAN MINGGU BIASA XXIV, 12 September 2026

SAMPAI BERAPA KALIKAH AKU HARUS MENGAMPUNI?

Minggu Biasa XXIV, Tahun A — 13 September 2026
Sir. 27:30-28:7; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Rm. 14:7-9; Mat. 18:21-35

Saudara-saudari,

Pekan lalu kita bicara tentang menegur saudara dengan kasih. Hari ini Injil membawa satu langkah lebih jauh: bagaimana kalau saudara itu belum juga berubah, atau luka kita sendiri belum sembuh — haruskah kita tetap mengampuni? Ketika Petrus bertanya, “Sampai berapa kali? Sampai tujuh kali?” — jumlah yang sudah terasa murah hati — Yesus menjawab, “Tujuh puluh kali tujuh kali.” Ini ajakan untuk mengampuni sampai tidak perlu menghitung lagi berapa kali. Mengampuni sampai merelakan semua.

Yesus lalu bercerita tentang seorang hamba yang diampuni utangnya yang mustahil dilunasi, tapi begitu keluar dari hadapan rajanya, ia mencekik rekannya yang berutang jauh lebih kecil kepadanya.

Yang mengerikan bukan besar kejahatannya, tapi betapa cepat ia lupa: baru saja menerima pengampunan sebesar gunung, ia tak sanggup memberi pengampunan sebesar kerikil. Kitab Sirakh menegaskan hal yang sama: bagaimana mungkin kita meminta belas kasih Allah, sementara menyimpan dendam terhadap sesama?

—

Kita mungkin sudah bilang “saya sudah memaafkan.” Tapi ternyata luka itu diam-diam masih kita putar ulang dan pakai untuk menghukum orang itu dengan cara kita sendiri: membenci, diam, tak mau bicara, tak mau menolong lagi. Yesus meminta yang lebih berat daripada berhenti membalas: mengampuni “dari hati” — melepaskan hak untuk terus menuntut.

Paulus menegaskan alasannya: “Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan” — bukan milik dendam atau milik perasaan kita sendiri. Kata Putra Sirakh, “Dendam kesumat sangat mengerikan, sebab orang berdosalah yang dikuasainya”. Dosa membuat jurang antar saudara. Sementara pengampunan membangun jembatan dengan sesama manusia.

Tuhan mau kita hidup dalam damai sejahtera.

—

Barangkali ada nama yang muncul saat membaca ini — seseorang yang belum benar-benar kita ampuni. Mari kita jujur soal itu, dan memohon rahmat untuk melepaskan apa yang masih kita genggam erat, sebab kita sendiri telah diampuni jauh lebih dulu dan jauh lebih besar.

—
RA

Profil Lengkap Para Imam DIOSESAN KAJ dan OFM yang Akan ditahbiskan Besok Selasa Sore, 8 September 2026

DIOSESAN KAJ

 

 

OFM (ORDO FRATRUM MINORUM)

 

Terbaru

Populer