
MENGAPA MENGASIHI?
Minggu Biasa XXX TAHUN A
Kel 22:21-27, 1Tes 1:5c-10, Mat 22:34-40
Kadang kita perlu mencari alasan mengapa harus melakukan ini itu, supaya semuanya make sense.
Memandang sesama seperti diri sendiri. Kita juga merasakan apa yang mereka rasakan. Empati. Simpati. Solidaritas.
Kita bisa bertanya. Untuk apa itu semua? Untuk apa repot2? Untuk apa menuruti perintah Tuhan? Bukankah lebih enak mikirin diri sendiri. Sangat memuaskan jika memenuhi hawa nafsu pribadi. Menyenangkan jika menimbun dan menyimpan semuanya untuk kepentingan sendiri? Untuk apa mengasihi?… dan supaya apa kita taat pada yang disabdakan Tuhan pada minggu ini?
—
Dalam bacaan pertama, Allah memerintahkan, jangan menindas orang asing, janda dan anak yatim. Jangan membebankan utang terhadap kaum miskin yang meminjam uang. Kembalikan jubah satu-satunya dari orang yang menggadaikan jubahnya.
Paulus memuji jemaat di Tesalonika dengan segala kualitas mereka. Mereka penurut, menjadi teladan bagi wilayah di sekitarnya. Iman mereka menjadi kesaksian yang kuat.
Sementara itu, Injil Matius menjelaskan hukum terbesar di dalam Taurat, yakni Hukum Kasih.
—
Kalau dengan demikian, For what is worth?
Dalam Kitab keluaran, Allah menjelaskan apa yang worth it – karena kamu pernah di posisi menderita seperti itu. Dan itu tidak nyaman. Menjadi orang asing, janda, yatim piatu, berhutang dan kedinginan. Menderita tanpa perlindungan. Kita diundang untuk ikut menyingkirkan penderitaan itu pada diri sesama. Karena kalau hal yang sama terjadi pada diri kita, kita juga pasti cari pertolongan. Sebelum kita cari, beri lebih dulu pertolongan itu kepada yang lain.
Paulus, menunjukkan mengapa worth it – Seperti juga kejahatan menular, kasih juga menular. Karena dirasakan dari hati yang satu menyentuh hati yang lain, dan begitu seterusnya. Sampai semua dipenuhi cinta kasih. Itu menyenangkan.
Injil Matius lebih simpel knapa worth it – Karena itu hukum yang terbesar. Kalau memang kamu beriman, menyembah Allah, dan mau menaati perintah-Nya, maka inilah hukum itu. Tidak perlu bertanya lagi mengapa harus mengasihi.
—
Jadi, masih perlu bertanya mengapa aku harus mengasihi?
RA









