
HAK ALLAH?
Yesaya 45:1.4-6; 1Tes 1:1-5b; Mat 22:15-21
Apa yang kita rasakan, jika hak dasar kita sebagai manusia terpenuhi dan terjamin akan selalu terpenuhi? Tentu kita merasa tenang, damai dan gembira. Bisa jadi apa yang kita kerjakan dan pelayanan kita menjadi optimal. Kita tidak lagi memikirkan kebutuhan kita lagi karena semua sudah terjamin akan terpenuhi. Kita hanya fokus pada apa yang harus kita lakukan.
Pernah saya baca di sebuah berita tentang terjadinya penurunan permainan sebuah tim sepakbola yang dulunya pernah juara. Ternyata, banyak pemain yang hak gajinya belum dibayarkan, sehingga mereka tidak bisa bermain secara optimal dan memberikan yang terbaik.
—
Injil hari ini juga bicara soal hak. Pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang Farisi melalui orang-orang Herodian untuk mencobai Yesus. “Bolehkah kami membayar pajak kepada kaisar atau tidak?”. Kita semua tau, Yesus menjawab, berilah kepada kaisar apa yang menjadi hak-nya, dan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah.
Yang wajib diberikan kepada Kaisar/Negara merupakan hak negara. Jawaban berdasarkan koin berwajah Kaisar. Ini bisa dibaca dalam konteks pengantar di atas, supaya penyelenggaraan negara demi kesejahteraan rakyat dapat berjalan dengan berhasil. Idealnya demikian.
Lalu apa yang berwajah Allah – sehingga wajib diberikan kepada Allah. Sementara Allah tidak butuh apa-apa sehingga harus diberikan. Hanya ada satu penjelasan dalam kitab Kejadian, Manusia adalah gambar Allah. Dengan demikian, manusia sejak awal dipanggil untuk menampakkan kemuliaan Allah. Kita memberikan hak Allah untuk menampakkan kemuliaan-Nya dengan jalan semakin menjadi manusia.
Menjadi semakin manusia artinya menjadi sebagaimana tujuan ia diciptakan. Hidup berdampingan dan harmoni dengan alam ciptaan, mengelola dan merawatnya. Hidup bersatu dengan sesama manusia yang lain, mengasihi dan mencintai.
Paulus membingkai wajah kemanusiaan yang menampakkan kemuliaan Allah itu dengan tiga kata: iman, kasih, pengharapan — persis itulah yang dilihatnya hidup dalam jemaat Tesalonika.”
—
Jadi, kamu gimana?
RA











