
Masih adakah Makanan yang benar-benar Makanan?
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus — 7 Juni 2026
Ul 8:2-3, 14b-16a | 1 Kor 10:16-17 | Yoh 6:51-58
Perhatikan apa yang kamu makan hari ini. Bukan soal enak atau tidak — tapi soal dari mana asalnya dan apa yang sudah terjadi padanya sebelum sampai ke piringmu.
Dulu jawaban pertanyaan itu sederhana. Tuhan menyediakan alam, alam menyediakan makanan. Padi tumbuh dari tanah, ikan hidup di sungai dan laut, sayuran tumbuh di kebun. Manusia tinggal menerima apa yang sudah disediakan. Seperti manna di padang gurun — turun setiap pagi, cukup untuk semua, gratis untuk semua. Yang menggerutu pun tetap diberi makan. Tuhan tidak pernah menyeleksi siapa yang boleh lapar.
Tapi pelan-pelan sesuatu berubah.
Sungai-sungai di sekitar kita berubah warna. Udara yang seharusnya gratis kini harus dibeli dalam bentuk ruangan ber-AC dengan filter udara. Air minum yang seharusnyavmengalir jernih kini datang dalam galon yang harus dibayar setiap minggu. Tanah yang dulu bisa ditanami kini tertutup beton. Untuk mendapatkan sayuran yang benar-benar segar, buah yang benar-benar matang di pohon, kita harus pergi ke supermarket premium dan membayar harga yang tidak semua orang mampu.
Ketika alam dihancurkan, yang pertama kehilangan selalu yang paling lemah.
Dan makanan yang tersisa? Semakin panjang prosesnya, semakin jauh dari aslinya. Pada akhirnya, makanan yang benar-benar makanan menjadi privilege — hanya untuk yang mampu membayar harganya.
—
Yesus berkata: “Dagingku adalah benar-benar makanan, dan darahku adalah benar-benar minuman.”
Kata benar-benar itu bukan hiasan. Di dunia yang semakin sulit menemukan makanan yang murni dan jujur — Yesus hadir dengan klaim yang radikal: ada satu makanan yang tidak bisa dirusak oleh tangan manusia manapun. Tidak bisa ditebang, tidak bisa diprivatisasi, tidak bisa tercemar oleh kerakusan siapapun.
Dan makanan itu tersedia untuk siapapun yang datang dengan rindu.
Bukan untuk yang mampu membayar saja. Bukan untuk yang tinggal di lokasi yang tepat.
Bukan untuk yang hidupnya sudah beres. Satu hosti yang sama, untuk semua yang datang. Siapapun yang merasa dirinya tidak layak maju — tapi kakinya tetap melangkah.
Tuhan tidak pernah menyeleksi siapa yang boleh lapar.
—
Menerima Tubuh dan Darah Kristus bukan hanya tindakan pribadi antara jiwa dan Tuhan. Ini adalah komitmen — bahwa kita menolak logika dunia yang menghancurkan makanan sejati demi kerakusan segelintir orang. Bahwa kita percaya Tuhan masih menyediakan, dan akan terus menyediakan, bahkan ketika manusia sudah menghancurkan hampir segalanya.
Sebab yang menjadi makanan itu adalah Tuhan sendiri. Dan Dia sendiri yang menyediakannya.
“Alam bisa dirusak. Tapi kehendak Tuhan untuk memberi diri-Nya — tidak.”
—
Jadi, kamu gimana?
RA







![Senin, 25 Mei 2026, Pk. 17.00 WIB [LIVE] “Tahbisan Diakon Keuskupan Agung Jakarta” – bersama +Uskup Ignatius Kardinal Suharyo](https://www.kaj.or.id/wp-content/uploads/2026/05/FIX_20260524_160440_0000-1-100x70.png)

