Pemilu serentak 2019, merupakan salah satu satu pilar demokrasi di Indonesia. Karena itu diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas pemilu agar dapat mencapai sasaran yang lebih substansial. “Berdasarkan Pasal 4 UU Nomer 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, jelas bahwa pemilu harus dilaksanakan berdasarkan prinsip azas langsung, umum, bebas, rahasia jujur dan adil.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bekasi mensosialisasikan surat suara untuk Pemilihan Umum (Pemilu), 17 April 2019. Sosialisasi itu dilakukan KPU Bekasi bersama umat katolik Ibu Teresa Paroki Cikarang di Sekolah Pangudiluhur Kota DeltaMas, Bekasi, Minggu 3 Maret 2019.
Materi sosialisasi yang dibawakan KPU, terkait lima model surat suara pemilu 2019, diantaranya surat suara pemilihan DPRD Kabupaten, DPRD provinsi, DPR-RI, DPD, serta Presiden dan Wakil Presiden.
Ketua komisioner KPU Kabupaten Bekasi Jajang Wahyudin bersama
Ketua Komisioner KPU Bekasi Divisi Sosialisasi Pendididikan Pemilih Partisipasi Masyarakat dan SDM Arif Noorman N, serta Ketua Bawaslu Kabupaten Bekasi syaiful Basri, menjelaskan, ada lima surat suara yang akan diberikan kepada pemilih untuk pemilu 17 April mendatang.
“Tujuan diadakan sosialisasi ini untuk memperkenalkan kepada masyarakat Bekasi serta umat Gereja Paroki Ibu Teresa Cikarang, untuk memahami tahapan-tahapan pada Pemilu 2019 dan berharap namanya terdaftar pada TPS setempat”, ucap Jajang.
Selain memperkenalkan jenis surat suara, KPU juga mensosialisasikan tata cara penjoblosan, sah dan tidak sahnya surat suara yang dicoblos. Menurutnya, surat suara dinyatakan sah apabila dicoblos satu kali atau lebih pada kotak yang disiapkan. Untuk surat suara DPRD kabupaten DPRD provinsi dan DPR-RI, yang dicoblos adalah nama calon. Surat suara yang dicoblos lebih dari dua nama calon dalam satu partai, dinyatakan sah untuk suara partai politik. Tetapi apabila yang dicoblos lebih dari satu partai politik, maka akan dinyatakan tidak sah.
Sementara untuk pemilihan DPD, dinyatakan sah apabila mencoblos nama calon, foto calon dan nomor urut calon, selama tidak keluar dari kota yang telah disiapkan. Sedangkan untuk pemilihan presiden, dinyatakan sah jika mencoblos nomor urut Paslon, gambar paslon, dan partai pengusung. Dinyatakan tidak sah apabila mencoblos diluar dari kotak atau memilih lebih dari satu paslon.
Sosialisasi Pemilu 2019 di Paroki Cikarang
Peringatan Pesta Pelindung Stasi St. Polikarpus
Bacaan – bacaan Kitab Suci pada Perayaan Ekaristi Minggu ini mengajarkan umat beriman untuk mampu mengasihi dan mengampuni orang – orang yang telah berbuat kurang baik kepada kita.
Bacaan Pertama berkisah tentang Daud yang tidak mendendam kepada Saul walau Saul amat membenci Daud. (1 Sam 26 : 2,7-9,12-13,22-23)
Dalam Bacaan Injil, Yesus meminta kita untuk mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang membenci kita. (Luk 6:27-38)
Pesan dua Bacaan tersebut selaras dengan pengalaman hidup Santo Polikarpus yang pada hari ini, Sabtu, 23 Pebruari diperingati oleh Gereja khususnya oleh Paroki Grogol, sebagai peringatan Pesta Pelindung Stasi St. Polikarpus.
St Polikarpus yang hidup di akhir abad pertama, diangkat sebagai Uskup Smyrna, Turki di usia tuanya. St Polikarpus dihukum mati dengan cara dibakar hidup – hidup karena menolak mengingkari imannya. St Polikarpus tidak mendendam kepada para algojo, tetapi mendoakan mereka.
Pastor Serfi Fangohoi MSC yang memimpin Perayaan Ekaristi pesta pelindung Stasi St Polikarpus mengajak umat mensyukuri perayaan ini dengan:
• Mengingat jasa orang – orang yang telah berjuang dan mengupayakan berdirinya Stasi St Polikarpus
• Umat membangun persekutuan, persaudaraan dan pengenalan akan Allah
• Semangat St Polikarpus dan para pendiri stasi harus terus dipelihara, dilanjutkan dan diperbarui
Perayaan Ekaristi menjadi lebih hidup dan berkesan dengan persembahan tarian dari anak – anak BIA serta Lagu – lagu bergaya nusantara oleh Paduan Suara Wilayah Grogol 2.
Setelah Perayaan Ekaristi, umat bersama Pastor, Dewan Paroki dan Dewan Stasi mengadakan ramah tamah berupa santap malam bersama dengan hiburan tarian dari ibu – ibu WKRI cabang St Kristoforus dan Vokal Grup OMK.
.
.
.
Komsos – Benny, Ridwan, Vivi, Alberto
Sumbangan Darah 100 Umat Paroki Ibu Teresa Bagi Kemanusiaan
Tepat setelah Misa Mingguan di Gereja Paroki Ibu Teresa Cikarang, Bekasi, Minggu 23 Februari 2019. Digelar acara donor darah rutin yang diadakan setiap tiga bulan sekali oleh Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) Elza Cikarang, bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Bekasi, sejak 2002 acara ini diadakan, kali ini yang ke-62.
Syarat pendonor usia sudah 17 tahun dan dibatasi hingga enam puluh tahun. Walaupun pada kondisi tertentu membolehkan usia 16 tahun, selama kriteria secara kesehatan dan kondisi darah memenuhi. Karena dalam penelitian ditemukan efek samping akan dialami lebih banyak pada usia muda, salah satunya reaksi vasovagal dengan gejala seperti pingsan.
“Tujuan dari diadakannya acara aksi donor darah ini, untuk membantu program Palang Merah Indonesia menyediakan darah untuk mereka yang membutuhkannya”, ucap dokter Riani dari PDKK Elza.
Dikutip dari Media Tempo, data WHO di Indonesia pertahun membutuhkan sekitar 5,1 juta kantong darah, sementara yang tersedia hanya 4,2 juta kantong. Masih banyak rumah sakit yang memerlukan darah, ini terjadi karena kurang sadarnya pengetahuan masyarakat dari manfaat donor darah.
Adapun manfaat dari donor darah tersebut diantaranya, menurunkan resiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah, menurunkan resiko kanker, meningkatkan produksi darah, membantu menurunkan berat badan, membuat hidup lebih sehat secara psikologois dan memperpanjang usia.
Rekoleksi Tim PDPKK St.Kristoforus
Bertempat di Wisma Cengkih, Cijeruk – Bogor, 16 – 17 Pebruari 2019, Tim PDPKK St. Kristoforus mengadakan rekoleksi dengan bimbingan Pastor Agustinus Handoko MSC.
Selaras dengan tema Ardas KAJ, rekoleksi kali ini mengambil tema : “Pelayan Berhikmat, Komunitas Bermartabat”
Pst. Handoko MSC mengingatkan 4 penyakit yang wajib diperhatikan dalam pelayanan:
AIDS – Amarah Iri Dendam Serakah
Dan untuk menjadikan pelayanan kita berdayaguna dan semakin baik, maka para pelayan harus menjadi “SMART Person”
S mile adalah hiasan wajahnya
M aturity adalah penampilannya
A cceptable adalah dasar hidupnya
R espectful adalah ekspresi dirinya
T hankfulness adalah landasan imannya
Melalui beragam acara di rekoleksi ini, diantaranya pengajaran, games dan doa, Tim PDPKK pulang dengan tambahan semangat dalam karya pelayanan.
.Komsos.
Dialog Kebhinekaan dan Camp Kebangsaan dari Cikarang
Di tengah maraknya kasus intoleransi umat beragama di negara kita, di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Lippo Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Jumat 15 Februari 2019. Sebagai wujud kerja nyata persaudaraan sebangsa dan setanah air, berkumpulah para pemuka agama. Ketua Forum Perdamaian Umat Sedunia KH. Abdul Muhaimin, Ustad Solahudin, Pendeta GKI Omo Haslim, Pendeta GKI Febrita Melati, Pastor Ibu Teresa Paroki Cikarang Romo Antonius Antara Pr. Hadir pula dari Ahmadiyah Tambun dan Cikarang. Mereka mengadakan Dialog Kebhinekaan dan Camp Kebangsaan.
Antusias terlihat dari peserta yang memenuhi gedung pertemuan. Mereka hadir dengan latar belakang agama yang berbeda.
Dalam dialognya Muhaimin bertukar pikiran tentang pelayanannya. “Kita harus memanusiakan manusia dan harus melayani tanpa pandang bulu, tidak mempersoalkan perbedaan yang ada,” kata Muhaimin.
Mencintai Indonesia adalah dengan tetap saling meyakinkan agar hidup teguh berdampingan dalam keberagaman dan bersaudara di tengah perbedaan. Inilah perwujudan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam kesempatan yang sama, Romo Antonius Antara Pr dari Paroki Ibu Teresa Cikarang mengajak kita semua untuk bergandengan tangan dengan semua warga bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama, tingkat ekonomi, pilihan politik dan perbedaan yang lain. “ Mari secara bersama-sama kita membangun persatuan dan persaudaraan menuju kokohnya persatuan Indonesia,” ucap Antara, seraya mengajak peserta diskusi.
Mempertahankan Pancasila dan kebhinnekaan, keutuhan dan kedamaian berbangsa dan bernegara, dengan mencintai sesama dalam bingkai NKRI, serta menjaga kerukunan antar umat beragama merupakan tugas kita bersama sebagai bangsa dan rakyat Indonesia, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
Baksos KKMK St.Kristoforus 9 Februari 2019
Berbagai kegiatan bisa dilakukan di akhir pekan. Bagi teman-teman KKMK St.Kristoforus, kegiatan akhir pekan kali ini, memiliki kesan yang sangat mendalam.
Karena pada Sabtu, 9 Februari 2019 lalu, KKMK St.Kristoforus mengadakan kunjungan ke Yayasan Tri Asih.
Beragam kegiatan telah dirancang. Mulai dari sambutan, pemberian bantuan, dan permainan lapangan. Semuanya dikemas dalam kegiatan bersama. Sehingga kegiatan ini terasa begitu padat dan menyenangkan.
Kunjungan kali ini pun memberikan manfaat tersendiri. Dedikasi para pengurus Yayasan Tri Asih dalam melayani para anak berkebutuhan khusus di tempat ini, menjadi motivasi bagi KKMK St.Kristoforus untuk terus melayani sepenuh hati.
.Komsos.
Surat Keluarga Februari 2019: “KASIH MEMBUTUHKAN INSPIRASI”
“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”(Mat.19:6)
mengasihi itu tidak pernah berpura-pura
sebab keluarga bukanlah sandirawa
yang sedang dimainkan
oleh orang-orang yang berjanji setia
Keluarga Katolik yang terkasih, Februari selalu menjadi bulan keluarga bagi kita semua. Ada acara Valentine’s day, ada acara Imlek, yang semuanya mempunyai tema sama: keluarga sebagai tempat persemaian kasih. Membayangkan valentine’s day selalu dengan nostalgia percintaan dan kasih-kasihan yang menentramkan mimpi. Tetapi perjuangan pada saat berkeluarga adalah tantangan yang tak akan pernah berhenti dibahas.
Selamat Hari Raya Imlek untuk Anda yang merayakan dan selamat Hari Kasih Sayang untuk kita semua! Saya merasa senang menyapa Anda dengan berita kasih, karena di sana saya membagikan apa yang selalu menjadi impian saya bagi seluruh keluarga di Keuskupan Agung Jakarta ini. Rukun dan saling mencintai di dalam keluarga adalah mimpi yang bisa diwujudkan.

Kadang saya berpikir bahwa kesetiaan pada satu orang itu suatu bakat. Saya benar-benar bertanya, mengapa orang sulit untuk setia kepada pasangannya, sedangkan yang lain bisa setia sampai di usia perkawinan yang sangat panjang? Apakah ada orang-orang tertentu yang tidak berbakat menikah dan artinya dia tidak cocok menikah dengan seorang saja di dunia ini? Saya ikut bahagia menyaksikan mereka yang bisa setia kendati hidup tidak selalu mudah dilalui berdua.
Keluarga-keluarga Katolik terkasih, Gereja tidak pernah salah membuat peraturan dan hukum yang menjabarkan bagaimana kasih harus dilakukan. Gereja ingin kasih itu tampak jelas melalui kesetiaan. Orang yang kita pilih adalah manusia biasa, tidak pernah sempurna. Kalau kita menjalankan hukum kasih dengan sadar dan tulus, maka kekuatan untuk setia dan tidak terbagi lebih mudah dilakukan.
Hanya memang kebanyakan pasangan tidak selalu dapat menjalankan prinsip-prinsip hidup bersama dengan damai sejahtera. Mereka sering tidak mengerti bagaimana menjalani hidup berdua dengan saling mencintai, pengertian tak terbatas, pengampunan tak terbatas, penguasaan diri tak terbatas, penerimaan tak terbatas, dengan kelembutan, kemurahan hati, kebaikan, dan kemauan untuk terus melakukan komunikasi satu sama lain. Sebenarnya, ketidakmengertian itu tidak harus menjadi halangan.
Mengikuti retret dan rekoleksi bagi pasangan katolik belum menjadi habit. Pasangan banyak yang lebih memilih menjalani nasib sebagai orang yang awam, tak punya pengetahuan hidup bersama dan komunikasi yang sepadan dan penuh kasih. Mereka lebih suka disembuhkan oleh waktu, sementara waktu itu sulit dating karena satu sama lain kurang terbuka dank eras hati. Masalah jadi berlanjut menjadi kekeringan. Seandainya mereka tahu bahwa masalah tidak harus terjadi jika mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan inspirasi, tentu mengasihi dan hidup bersama tidak lagi menjadi kesulitan yang memakan energy teramat banyak.
Banyak masalah telah dilalui oleh para ahli, diteliti, dicoba, diterapkan, dan akhirnya dirumuskan untuk menjadi pedoman sehari-hari. Semuanya itu bisa dilakukan dengan senang hati melalui latihan-latihan rohani dan ”latihan hidup” yang diajarkan dan diinspirasikan dalam rekoleksi atau retret. Tetapi siapa yang mau menekuni prosesnya? Masih banyakkah orang yang peduli pada perkawinannya? Masih maukah mereka menerima kiat-kiat dan bahkan usaha penyembuhan pada hidup perkawinan mereka?
Saya menghimbau agar Anda bersama pasangan, dan bahkan kalau perlu bersama anak-anak, menyediakan waktu untuk mengikuti rekoleksi atau retret atau seminar keluarga setahun minimal sekali. Keikutsertaan ini adalah sebuah investasi dan tindakan preventif sebelum masalah terjadi. Dalam program-program itu, Anda berdua akan memperoleh cara baru untuk mengatasi kesulitan bicara, memaafkan, memahami, menerima kekurangan, dan membangun intimitas yang seharusnya bagi pasangan menikah.
Mengapa Anda belum terbuka hatinya? Saya masih berpikir positif bahwa Anda sibuk. Saya ingin menerima suatu kenyataan bahwa Anda sangat kekurangan waktu dengan pekerjaan dan profesi Anda dalam hidup sehari-hari. Saya ingin mengerti bahwa untuk acara-acara seperti ini ada dana yang harus Anda sediakan. Tetapi saya juga ingin Anda jauh dari masalah yang membawa Anda pada budaya kematian, seperti perceraian, perpisahan, pemukulan, perselingkuhan, atau perawatan yang buruk pada pasangan dan anak-anak Anda. Sungguh Anda membutuhkan itu semua. Setiap tahun, sekurang-kurangnya, Anda berdua mengikuti rekoleksi atau retret bersama.
Hati saya sangat sedih melihat Anda berdua-dua, kadang sendirian juga, dating kepada saya maupun kepada para imam di paroki Anda untuk mendapatkan inspirasi ketika masalah sudah begitu sulit diperbaiki. Saya melihat banyak masalah bisa dipangkas, jika kita mempunyai waktu untuk belajar menangani keluarga kita. Sungguh, saya masih percaya bahwa ajaran Gereja adalah ajaran yang masuk akal dan benar: kita setia pada orang yang kita pilih untuk menjadi pasangan kita seumur hidup.
Keluarga-keluarga terkasih, semoga Anda tetap teringat akan perlunya menjaga cinta bagi Anda berdua. Anda tidak lupa menyertakan sentuhan, pelukan, belaian pada orang-orang terkasih Anda, kan? Anda juga masih suka memuji pasangan, kan? Anda masih memberi waktu berkualitas bagi pasangan dan anak-anak, kan? Anda juga masih suka memberi orang-orang tercinta hadiah, kan? Dan anda masih setia melayani keluarga tanpa keluhan dan kata-kata kesal, bukan? Jika ini Anda lakukan dengan disiplin dan penuh ketulusan, barangkali Anda sudah dapat melanjutkan relasi Anda dalam situasi rukun dan damai.
Selamat menjalani hidup berkeluarga! Jalanilah hidup yang baik, setia, tekun berdoa, dan mengusahakan hidup bersama yang saling membuat rasa nyaman. Tuhan tidak tidur melihat umat-Nya yang tekun berharapan baik. Tuhan melihat hati! (I Sam.16:7). Lanjutkan hidup keluarga Anda dengan tetap memegang iman: Allah memberkati dan melindungi keluarga Anda. Jangan takut, sebab janji Tuhan selalu digenapi dengan damai sejahtera.(Yos.23:14).
Rm. Alexander Erwin Santoso MSF
Baptisan Anak, Gereja St.Kristoforus
Salah satu tujuan perkawinan adalah melahirkan dan mendidik anak – anak pada Iman yang akan menghantar mereka menuju keselamatan. Untuk itu Suami dan Istri adalah pendidik Iman yang pertama dan utama sehingga anak – anak mengasihi Allah dan sesama.
Demikian pesan Pastor Serfi MSC kepada para orang tua 11 anak yang pada hari Sabtu, 25 Januari 2019, menerima Sakramen Baptis di gereja Santo Kristoforus.

Selain itu, beliau juga berpesan kepada Para Wali Baptis untuk membantu orang tua mengupayakan anak – anak ini dapat berkembang menjadi seorang Kristiani sejati.
Liputan : Komsos | Alberto, Benny HS















