Home Blog

HR RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN – MINGGU, 5 Mei 2026

Bacaan Liturgi Misa Sore
Bacaan Pertama, Kis 10:34a.37-43

“Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: ”Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret:

bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib.

Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.””

Bacaan Kedua, Kol 3:1-4

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”

Bacaan Injil, Lukas 24:13-35

“Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: ”Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”

Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: ”Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Kata-Nya kepada mereka: ”Apakah itu?” Jawab mereka: ”Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”

Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: ”Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: ”Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: ”Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.” Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.”

RENUNGAN PADAT

EMMAUS: MAKAN UNTUK MENGENALI 

Saya senang makan sate padang — bukan karena saya suka rasanya, tapi karena setiap suapnya membawa saya kembali bersama Ayah saya yang sudah almarhum. Ia yang dulu sering mengajak saya makan sate padang waktu kecil. Rasanya memang aneh di lidah saya, tapi saya selalu memesan. Karena bukan soal rasanya — tapi soal siapa yang hadir di balik makanan itu. Makanan bisa membangkitkan kehadiran seseorang yang sudah pergi.

Itulah yang terjadi di Emmaus. Dua murid berjalan meninggalkan Yerusalem dengan hati yang hancur. Mereka membawa rencana mereka sendiri yang sudah mereka anggap mati — “kami tadinya berharap…” Yesus datang berjalan bersama mereka, mendengar, membuka Kitab Suci. Tapi sepanjang perjalanan itu, mata mereka tetap tertutup. Sesuatu yang lain diperlukan.

Mereka tiba di Emmaus dan mengundang orang asing itu makan. “Tinggallah bersama kami.” Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya — dan di situlah mata mereka terbuka. Gerakan tangan itu. Mereka pernah melihatnya sebelumnya. Memori itu bangkit. Ia hadir. Nyata. Hidup. Dan begitu mereka mengenali-Nya, Ia lenyap — karena Ia tidak perlu ada secara fisik lagi. Mereka sudah tahu: Ia selalu ada.

Inilah undangan Ekaristi yang paling dalam. Bukan sekadar ritual, bukan sekadar kewajiban Minggu. Tapi momen pengenalan — saat kita duduk di meja yang sama dengan Dia yang kita kenal, dan mengizinkan memori itu bangkit. Dalam sepotong roti kecil yang dipecah, Ia hadir. Tangan yang sama. Kasih yang sama. Dan dari meja pengenalan itu, seperti dua murid yang berlari kembali ke Yerusalem, kita pun diutus pergi — dengan hati yang berkobar-kobar.

Selamat Paskah.

RA

 

HR Minggu Palma (Mengenangkan Sengsara Tuhan), 29 Maret 2026

Bacaan Pertama, Yes 50:4-7

Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan Allah telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.”

Bacaan Kedua, Flp 2:6-11

Saudara-saudara, walaupun dalam rupa Allah, Kristus Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

Bacaan Injil, Mat 26:14-27:66

RENUNGAN PADAT

HADIR dan MENEMANI YESUS

Saudara-saudari terkasi, hari ini kita memulai sebuah perjalanan.  Sebuah perjalanan yang mendalam. Masuk ke dalam misteri cinta Allah. Selama sepekan ke depan — Pekan Suci — Gereja tidak meminta kita untuk memahami segalanya. Kita juga tidak dituntut untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar. Gereja hanya mengundang kita untuk melakukan satu hal:

Menemani. Hadir. Datang.

Dalam kisah yang akan kita dengar hari ini, ada satu hal yang menyentuh hati saya — justru orang-orang yang paling dekat dengan Yesus, para murid-Nya, gagal melakukan satu hal itu. Yudas berkhianat. Petrus menyangkal. Mereka tertidur. Mereka lari. Mereka mengikuti dari jauh. Yesus seorang diri namun tegar karena Bapa selalu menyertai-Nya.

Yang menemani sampai akhir adalah mereka yang diam-diam hadir — dan tidak pergi.

Maka selama sepekan ini, saya mengundang Saudara-saudari untuk hadir. Datang. Bukan hanya Kamis Putih, Jumat Agung, dan Malam Paskah — tapi juga Senin, Selasa, Rabu. Namanya juga Pekan Suci — Semana Sancta — seminggu penuh, bukan tiga hari saja. Jangan cuma hadir sebagian, jumat saja, sabtu saja atau malah minggu Paskah saja.

Datang ke Misa harian. Duduk sebentar di depan Sakramen Mahakudus. Ikuti perjalanan ini hari demi hari.

Bukan karena kita sudah mengerti segalanya. Tapi justru karena kita belum mengerti — dan kita mau menemani.

Kehadiran kita sendiri sudah merupakan sebuah doa.

Mari kita mulai perjalanan ini.

RA

Renungan Minggu Prapaskah V, 22 Maret 2026

Bacaan Pertama

Yehezkiel 37:12-14 TB
Berginilah Firman Tuhan Allah, “Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel. [13] Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya. [14] Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, Tuhan, yang mengatakannya dan membuatnya.”

Bacaan Kedua

Roma 8:8-11 TB
Saudara-saudara, mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. [9] Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. [10] Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. [11] Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.

Bacaan Injil

Yohanes 11:1-34, 36-45 TB
[1] Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. [2] Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. [3] Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: ”Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” [4] Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: ”Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” [5] Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. [6] Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; [7] tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: ”Mari kita kembali lagi ke Yudea.” [8] Murid-murid itu berkata kepada-Nya: ”Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” [9] Jawab Yesus: ”Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. [10] Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” [11] Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: ”Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” [12] Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: ”Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” [13] Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. [14] Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: ”Lazarus sudah mati; [15] tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” [16] Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: ”Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” [17] Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. [18] Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. [19] Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. [20] Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. [21] Maka kata Marta kepada Yesus: ”Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. [22] Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” [23] Kata Yesus kepada Marta: ”Saudaramu akan bangkit.” [24] Kata Marta kepada-Nya: ”Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” [25] Jawab Yesus: ”Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, [26] dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” [27] Jawab Marta: ”Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” [28] Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: ”Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” [29] Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. [30] Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. [31] Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. [32] Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: ”Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” [33] Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: [34] ”Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: ”Tuhan, marilah dan lihatlah!”
[36] Kata orang-orang Yahudi: ”Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” [37] Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: ”Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” [38] Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. [39] Kata Yesus: ”Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: ”Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” [40] Jawab Yesus: ”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” [41] Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: ”Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. [42] Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” [43] Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: ”Lazarus, marilah ke luar!” [44] Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: ”Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” [45] Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.

Renungan Padat

HIDUP — LEBIH DARI SEKADAR BERNAPAS

Saudara-saudari terkasih, 
Ada yang bilang, manusia paling takut bukan pada kematian — tapi pada hidup yang terasa sudah mati. Masih bernapas, tapi kosong di dalam. Masih bangun pagi, tapi tidak tahu untuk apa.
Minggu ini Yesus mengajak kita masuk ke Betania. Ke sebuah rumah yang berduka. Ke depan sebuah kubur.
Lazarus bukan orang asing bagi Yesus. Ia sahabat. Keluarga. Dan ketika Lazarus sakit, Marta dan Maria mengutus orang untuk memberitahu Yesus — dengan harapan Ia akan segera datang.
Tapi Yesus tidak langsung datang. Dan Lazarus mati.
Empat hari kemudian Yesus tiba. Marta menyongsong-Nya dengan kalimat yang mungkin pernah juga kita ucapkan: “Tuhan, seandainya Engkau ada di sini lebih awal…”
Kalimat orang yang percaya — tapi sedang tidak mengerti. Kita semua pernah ada di situ.

Yang terjadi kemudian mengejutkan. Yesus tidak langsung bertindak. Ia tidak langsung berkhotbah. Ia melihat Maria menangis, melihat semua orang berduka —
dan Yesus menangis.
Dua kata dalam bahasa Yunani: ἐδάκρυσεν ὁ Ἰησοῦς. Ayat terpendek dalam Alkitab. Tapi dalamnya luar biasa. Allah kita bukan Allah yang menonton dari jauh. Ia masuk ke dalam duka kita. Ia merasakan apa yang kita rasakan.
Lalu Ia berdiri di depan kubur dan berteriak: “Lazarus, keluarlah!”
Bukan “hai orang mati.” Tapi nama. Lazarus. Personal. Spesifik.
Dan Lazarus keluar — masih terbungkus kain kafan, tapi hidup.
Mereka meminta Lazarus sembuh. Yesus memberi Lazarus bangkit dari kematian. Skala yang berbeda sama sekali.

Doa kita sering meminta kesembuhan. Tuhan kadang memberi kebangkitan. Dan itu butuh melewati kematian dulu.
Apa “kubur” dalam hidupmu hari ini? Mimpi yang sudah lama dikubur. Hubungan yang sudah membeku. Iman yang hampir padam. Atau dirimu sendiri yang dulu — yang entah sejak kapan hilang.
Yesus tidak berpaling dari kubur itu. Ia menangis bersamamu — dan kemudian Ia memanggil namamu.
Namamu. Bukan nama orang lain.
Keluarlah.

Jadi, kamu gimana?
RA

 

 

RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH IV, 15 Maret 2026

Bacaan Pertama, 1Sam 16:1b.6-7.10-13a
Setelah Raja Saul ditolak, berfirmanlah Tuhan kepada Samuel, “Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.”
Ketika anak-anak isai itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: ”Sungguh, di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapi-Nya.”  Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: ”Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”
Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: ”Semuanya ini tidak dipilih Tuhan.” Lalu Samuel berkata kepada Isai: ”Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: ”Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: ”Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.” Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu Tuhan berfirman: ”Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya.
Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh Tuhan atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.
Bacaan Kedua, Ef 5:8-14
Saudara-saudara, memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.  Sebab menyebutkan saja pun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
Itulah sebabnya dikatakan: ”Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”
Bacaan Injil, Yoh 9:1-41
“Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: ”Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.”
Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: ”Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: ”Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.
Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: ”Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?” Ada yang berkata: ”Benar, dialah ini.” Ada pula yang berkata: ”Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Orang itu sendiri berkata: ”Benar, akulah itu.” Kata mereka kepadanya: ”Bagaimana matamu menjadi melek?” Jawabnya: ”Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.”
Lalu mereka berkata kepadanya: ”Di manakah Dia?” Jawabnya: ”Aku tidak tahu.”
Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: ”Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.”
Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: ”Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata: ”Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?”
Maka timbullah pertentangan di antara mereka. Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: ”Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?” Jawabnya: ”Ia adalah seorang nabi.”
Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya dan bertanya kepada mereka: ”Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?” Jawab orang tua itu: ”Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.”
Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: ”Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.”
Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: ”Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.” Jawabnya: ”Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.
Kata mereka kepadanya: ”Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?” Jawabnya: ”Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?” Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: ”Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang.”
Jawab orang itu kepada mereka: ”Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.”
Jawab mereka: ”Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu mereka mengusir dia ke luar.
Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: ”Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya: ”Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya.” Kata Yesus kepadanya: ”Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” Katanya: ”Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah-Nya.
Kata Yesus: ”Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: ”Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: ”Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.””

‭‭Renungan Padat
MELIHAT, TAPI MASIH SEORANG DIRI
Kalau saya yang menjadi orang buta itu, saya akan meminta Yesus untuk tidak menyembuhkan mata saya. Untuk apa melihat, kalau yang akan saya jumpai adalah orang-orang yang menyakitkan? Lebih baik tetap buta — gelap, damai, tenang. Mungkin kegelapan itu justru tempat persembunyian yang paling aman.
Mengapa Engkau memelekkan mataku, padahal aku tidak mau? – begitu isi hati saya saat mencoba merasakan hati orang buta itu. 
Yesus melakukannya karena Ia melihat dengan cara yang berbeda total dari cara manusia melihat.
Samuel hampir salah pilih raja karena ia melihat penampilan. Allah mengoreksinya: “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah.” Di Yohanes 9, semua orang melihat orang buta ini sebagai jalan buntu — disingkirkan keluarganya, dikucilkan petinggi agamanya, diabaikan tetangganya. Tidak ada harapan.
Tapi Allah melihat sesuatu yang tidak dilihat siapapun: tempat yang sempurna untuk menanam pekerjaan-Nya. Tempat yang sempurna untuk menanam bukanlah taman yang sudah indah mempesona. Tapi tanah yang hancur lebur, rusak dan tidak pernah dihampiri orang. 
Maka Yesus datang — tanpa diminta, berinisiatif sendiri, seperti Allah yang selalu mendahului. Dari debu tanah Ia menciptakan mata yang belum pernah ada, seperti dulu Ia membentuk Adam. Orang itu tidak sekadar disembuhkan. Ia dicipta kembali. Ia lahir untuk kedua kalinya.
Tapi cahaya fisik itu tidak mengubah dunia di sekelilingnya. Tetangga curiga. Farisi menginterogasi. Orang tuanya lari.
Ia melihat — tapi masih sendirian. Persis seperti waktu ia buta.
Dan kini ia sadar: selama buta ia sudah bertanya apa yang salah dengan saya? Sekarang matanya terbuka — dan ia melihat bahwa yang salah bukan dirinya. Yang salah adalah dunia di sekelilingnya. Lahir sekali saja sudah menyakitkan. Ia harus lahir dua kali.
Namun tepat di titik paling gelap itulah Kerajaan Allah tumbuh — bukan karena situasinya membaik, tapi justru berhadapan dengan pengasingan dan konfrontasi. Setiap tekanan menjadi bahan bakar bagi api kecil yang sudah Yesus pantik di dalam dirinya.
Kita bisa ikuti perjalanannya: “Orang yang disebut Yesus itu…”“Ia adalah nabi”“Ia datang dari Allah” — hingga “Tuhan, aku percaya.” Dan ia menyembah.
Senjatanya hanya satu kalimat yang tidak bisa digoyahkan siapapun: “Aku tadinya buta, sekarang aku melihat.” Seperti berkata: “Aku tadinya tidak ada, sekarang aku hidup. Dulunya saya mungkin mati dan buta, tapi sekarang saya melihat dan hidup. Cuma itu yang saya tahu.”
Dunia itu — mau kita buta atau melihat — akan bisa tetap jahat kepada kita. Satu-satunya yang berubah adalah kesadaran kita. Kemampuan membedakan cara dunia melihat dan cara Allah melihat — distingsi itu — hanya bisa lahir dari mata yang sudah diterangi Allah. Bukan dari usaha kita sendiri. Itu anugerah.
Maka seperti yang dikatakan Paulus: “Dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Hiduplah sebagai anak-anak terang.”
Pilihannya jelas: aku memilih taat kepada Dia yang telah membuatku melihat — bukan kepada dunia yang membuangku.
Bersukacitalah — karena tadinya kamu buta, sekarang melihat.
Bersukacitalah — karena tadinya kamu tidak ada, sekarang kamu hidup, dan akan hidup untuk selamanya. 

Jadi, kamu gimana?

RA

 

Berlari Bersama Tuhan

Berlari Bersama Tuhan
Refleksi Seorang Imam tentang Tubuh, Disiplin, dan Panggilan
Setiap pagi, sebelum kota Jakarta benar-benar bangun, saya sudah mengikat tali sepatu dan melangkah keluar. Bukan karena ingin menjadi atlet. Bukan karena mengejar medali. Saya berlari karena saya adalah seorang imam — dan saya percaya bahwa tubuh ini pun adalah bagian dari panggilan saya.
Kita sering berbicara tentang pertumbuhan rohani, tentang doa, tentang pelayanan. Namun ada satu dimensi yang kerap luput dari perhatian para pelayan Gereja: dimensi tubuh. Manusia adalah kesatuan tubuh, jiwa, dan roh. Ketiganya tidak bisa dipisahkan. Ketiganya harus tumbuh bersama, sehat bersama, dijaga bersama. Mengabaikan tubuh bukan tanda kesalehan — itu kelalaian atas anugerah Tuhan.
Komitmen Kecil yang Setia
Saya tidak memulai dengan target besar. Saya memulai dengan langkah-langkah kecil yang konsisten. Tiga hingga empat kali seminggu, saya berlari. Bukan selalu jauh. Bukan selalu cepat. Kadang tubuh meminta istirahat — dan saya belajar mendengarkannya. Karena mendengarkan tubuh juga bagian dari kebijaksanaan.
Dalam setahun, berat badan saya turun sepuluh kilogram. Kapasitas jantung dan paru-paru saya meningkat drastis. Tetapi yang lebih berharga dari angka-angka itu adalah sesuatu yang terjadi di dalam diri saya: saya menjadi lebih fokus, lebih sabar, lebih tahan dalam menghadapi tantangan pelayanan. Daya tahan fisik ternyata membentuk daya tahan mental dan spiritual.
Saya percaya ada prinsip rohani yang bekerja di sini: komitmen kecil yang dijalani dengan setia akan melahirkan kapasitas untuk menanggung komitmen-komitmen yang lebih besar. Orang yang setia dalam perkara kecil akan dipercaya dalam perkara besar. Lari pagi adalah sekolah kesetiaan yang sederhana namun nyata.
Doa yang Bergerak
Saya pernah berlari di tepi laut Barcelona, subuh-subuh, ketika rombongan ziarah masih terlelap. Udara dingin, langit mulai terang, suara ombak Mediterania menemani langkah kaki saya. Dalam kesunyian dan ritme lari itu, saya merasakan sesuatu yang sulit saya namai — semacam doa yang bergerak. Tubuh bergerak, napas berirama, dan hati bersyukur.
Tradisi Ignatian mengajarkan bahwa Allah hadir dalam segala hal — in omnibus. Dalam doa, dalam pelayanan, dalam percakapan, dalam keindahan alam. Mengapa tidak juga dalam langkah-langkah lari pagi? Tubuh yang bergerak dalam kesadaran dan syukur juga adalah bentuk ibadah.
Tanggung Jawab atas Anugerah
Tubuh ini bukan milik saya sepenuhnya. Ia adalah anugerah yang dipercayakan. Dan anugerah menuntut tanggung jawab. Seorang imam yang jatuh sakit karena mengabaikan kesehatan bukan hanya menanggung akibatnya sendiri — pelayanan ikut terdampak, umat ikut merasakan.
Saya ingin melayani dengan panjang umur dan kualitas. Saya ingin hadir di depan altar, di rumah umat, di ruang-ruang rapat dengan tubuh yang segar, pikiran yang jernih, dan hati yang penuh. Bukan ngos-ngosan di tengah khotbah. Bukan kelelahan kronis yang menutupi sukacita panggilan.
Jaga tubuhmu. Bukan demi penampilan. Bukan demi rekor. Tetapi karena tubuhmu adalah bait Roh Kudus, kendaraan panggilan, dan tanda syukur atas hidup yang dikaruniakan. Mulailah kecil. Mulailah hari ini. Dan jalani dengan setia.
RA — Seorang imam yang masih terus belajar berlari, lahir batin, bersama Tuhan.

RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH III, 8 Maret 2026

Bacaan Pertama, Kel 17:3-7

Sekali peristiwa, setelah bangsa Israel melewati padang gurun Sin, dan berkemah mereka di sana, kehausanlah mereka di sana. Maka bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: ”Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”

Lalu berseru-serulah Musa kepada Tuhan, katanya: ”Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!” Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: ”Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.”

Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai Tuhan dengan mengatakan: ”Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?””

Bacaan Kedua, Rom 5:1-2,5-8

Saudara-saudara, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati –. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”

Bacaan Injil, Yoh 4:5-42

Sekali peristiwa sampailah Yesus ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: ”Berilah Aku minum.” Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: ”Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya: ”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

Kata perempuan itu kepada-Nya: ”Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” Jawab Yesus kepadanya: ”Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Kata perempuan itu kepada-Nya: ”Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

Kata Yesus kepadanya: ”Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” Kata perempuan itu: ”Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: ”Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” Kata perempuan itu kepada-Nya: ”Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” Kata Yesus kepadanya: ”Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.

Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Jawab perempuan itu kepada-Nya: ”Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Kata Yesus kepadanya: ”Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”

Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorang pun yang berkata: ”Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?”

Sementara itu perempuan tadi meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: ”Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus.

Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: ”Rabi, makanlah.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: ”Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?” Kata Yesus kepada mereka: ”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

Banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: ”Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, dan mereka berkata kepada perempuan itu: ”Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.””

Renungan Padat

​Setelah padang gurun dan puncak gunung tinggi, peziarahan masa Prapaskah kini membawa kita ke sebuah sumur di desa Sikhar, Samaria. Di sana, pusat cerita bukanlah soal air fisik, melainkan sebuah perjumpaan yang tidak biasa antara Yesus dan seorang perempuan Samaria.

​Dari Kisah Yesus dan perempuan Samaria ini muncul beberapa pertanyaan dalam diri saya. Wanita mana yang mengambil air tepat pukul dua belas siang? Sementara air adalah kebutuhan pokok yang biasanya dicari sejak pagi hari di awal hari untuk kebutuhan satu hari itu? Tentu ini sebuah anomali. Ada sesuatu yang sedang dihindari oleh perempuan ini: tatapan mata dan penghakiman sesama penduduk desa. Ia sedang bersembunyi di balik terik matahari untuk menutupi rasa malunya.

Saya merasa kisah ini too good to be true. Banyak tanda-tanda simbolik yang ditampilkan. Yesus yang datang ke daerah Samaria. Yesus duduk di pinggir sumur. Kedatangannya yang pas berjumpa dengan seorang perempuan Samaria di siang hari. Yesus yang selalu duduk di sumber air sementara yang lain datang dan pergi menjumpai-Nya. 

Seperti kebanyakan orang pada umumnya, perempuan Samaria ini tidak langsung percaya. Ia sempat sangsi. Semua berubah ketika Yesus mengetahui segala hal tentang diri-Nya. Siapa yang bisa berbuat demikian selain Allah sendiri. Ia yang mengetahui setiap sejarah hidup dan hati manusia. Rupanya, sentuhan personal ini mengenai hati perempuan Samaria. Dengan bebas, ia memutuskan untuk percaya. 

Tanda simbolik keputusan ini terlihat ketika ia meninggalkan tempayan airnya. Tindakan ini sejajar dengan Petrus dan Andreas yang meninggalkan jalanya di danau Galilea. Tempayan itu—yang tadinya menjadi alasan utamanya datang ke sumur—kini tak lagi penting. Ia telah menemukan “Air Hidup” yang sesungguhnya.

​Ia pun pergi memberi kesaksian kepada orang-orang sekampungnya. Perempuan yang tadinya menarik diri, kini menjadi pembawa kabar sukacita. Lantas, orang-orang ini datang kepada Yesus, berjumpa langsung, dan menjadi percaya.

​Lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya sendiri. Mereka berkata kepada perempuan itu: ”Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”

Jadi, perjumpaanmu dengan Yesus bagaimana?

RA

API KARUNIA TUHAN – PERTOBATAN EKOLOGIS

🔥API KARUNIA TUHAN – BAPA KARDINAL MENGAJAR

_Tema:_
”PERTOBATAN EKOLOGIS – Tanggung Jawab Merawat Bumi”

Renungan awal oleh :
🎤 Rm. Edi Mulyono, SJ ( VIKEP KAJ )

⛪ Tempat : GRHA PEMUDA, Lantai 4, Jl. Katedral, Jakarta Pusat
🗓️ Hari/Tanggal : Sabtu / 14 Maret 2026 
⏰ Waktu : Pk 09.00 – Pk 12.00 WIB

Biaya pendaftaran (sebagai pengganti konsumsi) ditransfer ke:
BCA 5440343343 atas nama Keuskupan Agung Jakarta Rp. 50.001/ orang (mohon ditambah angka 1)

Harap menuliskan nama peserta di kolom berita transfer

Silahkan klik link pendaftaran di bawah ini ⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️
https://akt.kaj.or.id/

Terbuka untuk UMUM (kuota terbatas)
Pendaftaran akan ditutup tanggal 7 Maret 2026 atau jika kuota sudah PENUH terlebih dahulu

Informasi (WA ONLY):
wa.me/+6282297771015 (Ernie)
wa.me/+628111180888 (Pauline)

Terima kasih. Tuhan memberkati Anda sekeluarga. Amin

RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH II, 1 Maret 2026

Bacaan Pertama, Kej 12:1-4a

Kejadian 12:1-4
[1] Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: ”Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; [2] Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. [3] Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” [4] Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya.

Bacaan Kedua, 2Tim 1:8b-10

Saudaraku terkasih, berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Yesus. [9] Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. Semuanya ini  telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman, dan semua itu sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus. Dengan Injil-Nya Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Bacaan Injil, Mat 17:1-9

Sekali peristiwa, Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. [2] Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. [3] Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. [4] Kata Petrus kepada Yesus: ”Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” [5]

Sementara Petrus berkata begitu, turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: ”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” [6] Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. [7] Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: ”Berdirilah, jangan takut!” [8] Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.

[9] Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: ”Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

RENUNGAN PADAT

DI BALIK LELAH YANG “SEPADAN”

​Pernahkah Anda merasa sangat lelah dalam sebuah pelayanan atau tanggung jawab, lalu tiba-tiba muncul pertanyaan di benak: “Buat apa saya melakukan semua ini? Kenapa saya harus repot-repot?”

​Pertanyaan jujur ini juga sempat hinggap di hati saya minggu ini. Sejak Selasa hingga Jumat lalu, saya berada di Bandung untuk menghadiri Rapat Tahunan Ke-52 Signis Indonesia, sebuah asosiasi mandiri para pekerja media Katolik di seluruh Indonesia. Mengenang perjalanan ini, saya teringat dua tahun lalu rapat ini diadakan di Ruteng, tahun lalu di Palembang, dan kali ini di Kota Kembang.

​Sebagai perwakilan dari Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), ada sebuah pergolakan batin yang sering muncul: “Apa sebetulnya urgensi KAJ menjadi bagian dari asosiasi ini?” Secara logika manusia, KAJ mungkin tidak “butuh” Signis. KAJ memiliki sumber daya manusia yang mumpuni, dana yang mencukupi, hingga perlengkapan yang sangat lengkap. KAJ bisa berjalan sendiri tanpa harus repot berorganisasi di tingkat nasional.

​Namun, melalui permenungan di tengah hiruk-pikuk rapat, saya menyadari bahwa kehadiran KAJ di sana bukan soal “butuh” secara logistik, melainkan soal esensi kita sebagai Gereja.

Belajar “Turun Gunung”

​Kehadiran KAJ adalah soal Solidaritas. KAJ tidak ingin menjadi Gereja yang hanya asyik duduk di “puncak gunung” dengan segala privilese yang ada. Seperti Yesus yang mengajak murid-murid-Nya turun dari kemuliaan Gunung Tabor untuk menghadapi realitas di lembah kehidupan, KAJ pun dipanggil untuk bersolidaritas dengan keuskupan-keuskupan lain di Indonesia yang mungkin tidak memiliki kemudahan yang sama.

​Kehadiran kita juga soal Jejaring. Kita diingatkan bahwa kita bukan pulau yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tubuh Gereja Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke, bahkan bagian dari Gereja Universal.

Panggilan untuk “Menderita” demi Injil

​Jujur saja, ikut berorganisasi itu melelahkan. Apalagi ketika saya kembali dipercaya mengemban tugas sebagai bendahara asosiasi, mengelola dana yang tidak sedikit dengan tanggung jawab yang besar. Capek, kesal, pusing—itu manusiawi.

​Namun, di tengah rasa lelah itu, sabda Tuhan dalam bacaan kedua hari ini (2 Tim 1:8) seolah menyapa langsung: “Berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Kristus.” St. Paulus tidak menjanjikan pelayanan yang selalu mulus. Ia justru mengajak kita untuk berani “menderita”. Pusing, capek, dan waktu yang tersita adalah bentuk nyata dari penderitaan kecil bagi Injil. Pertanyaannya kemudian: Sepadankah penderitaan itu kita pilih dan tekuni?

Jawaban di Puncak Tabor

​Bagi saya, jawabannya jelas: SANGAT SEPADAN! Jika saya boleh sedikit “menderita” demi Dia yang hari ini menampakkan kemuliaan-Nya di hadapan Petrus, Yakobus, dan Yohanes; demi Dia yang disebut Bapa sebagai “Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia,” maka segala rasa pening itu tidak ada artinya. Kelelahan kita belum seberapa dibanding penderitaan yang Yesus pilih agar kelak kita semua bisa bersatu dalam kemuliaan-Nya.

​Menariknya, di akhir bacaan Injil (Mat 17:9), Yesus meminta para murid untuk tidak menceritakan penglihatan itu kepada siapa pun. Ini adalah sebuah pesan yang sangat dalam: menderita bagi Injil akan terasa sangat manis ketika penderitaan itu kita simpan dalam batin dan biarkan hanya Tuhan yang tahu. Ternyata, ada kemanisan yang luar biasa ketika kita melayani tanpa perlu tepuk tangan dunia, namun cukup dengan kesadaran bahwa Tuhan melihat ketulusan kita.

Refleksi untuk Kita:

Hari ini, apa yang membuatmu merasa lelah dalam hidup atau pelayananmu? Jangan menyerah. Pandanglah Yesus di Gunung Tabor, dan sadarilah bahwa setiap tetes keringatmu demi kasih adalah investasi kemuliaan yang takkan sia-sia. Sebab bagi Dia, semuanya sangat sepadan.

Jadi, kamu gimana?
RA

RENUNGAN MINGGU PRAPASKAH I, 22 Februari 2026

Bacaan Pertama, Kej 2:7-9; 3:1-7
Ketika Tuhan Allah menjadikan langit dan bumi, Ia membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. 
Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. 
Dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh Tuhan Allah ular adalah binatang yang paling cerdik. Ular itu berkata kepada perempuan itu: ”Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”  Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: ”Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”  Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: ”Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”  Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. [Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
Bacaan Kedua, Rom 5:12-19
Saudara-saudara,  dosa telah masuk ke dalam dunia lantaran satu orang, dan karena dosa itu, masuklah juga maut. Demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.  Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.  Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.
Bacaan Injil, Mat 4:1-11
Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Tetapi Yesus menjawab: ”Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”  Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,  lalu berkata kepada-Nya: ”Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: ”Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”  Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,  dan berkata kepada-Nya: ”Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.”  Maka berkatalah Yesus kepadanya: ”Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.
Renungan Padat
Kesetiaan di Tengah Padang Gurun

Rekan-rekan terkasih, gema Rabu Abu masih terasa di dahi kita.
Abu itu bukan sekadar seremoni tahunan.
Itu adalah undangan untuk masuk ke padang gurun rohani selama 40 hari.
Dan di Minggu Prapaskah I ini, sabda Tuhan menantang kita:
Seberapa setia kita sebenarnya kepada Allah?
Apa yang membuat Adam dan Hawa jatuh?
Mereka lupa siapa diri mereka. Seperti kita juga kadang lupa siapa diri kita. 
Manusia diciptakan oleh kasih Allah, dibentuk dari debu, hidup karena
napas-Nya.
Martabat manusia terletak pada ketaatan kepada Sang
Pencipta — bukan pada ambisi untuk menjadi seperti Allah.
Dosa pertama lahir ketika manusia menolak keterbatasannya dan ingin
mengambil alih peran Tuhan.
Di taman Eden yang indah, yang serba ada, manusia masih merasa kurang.
Sebaliknya, di padang gurun yang kering dan sunyi, Yesus justru
mengalami kepenuhan.
Yesus memasuki padang gurun dalam kepenuhan Roh Kudus dan
kepenuhan kasih Bapa. “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah
Aku berkenan.”
Ia membiarkan diri-Nya dibimbing oleh Roh. Ketaatan-Nya sebagai Anak
kepada Bapa menjadi sumber kepenuhan-Nya.
Yesus tidak membuktikan diri sebagai Anak Allah dengan mukjizat instan,
sensasi, atau kekuasaan.
Menjadi Anak Allah bukan soal memanipulasi
keadaan demi kenyamanan diri.
Menjadi Anak Allah adalah keberanian untuk tetap setia pada kehendak
Bapa — bahkan ketika lapar, sendirian, dan tidak dimengerti.
Maka Prapaskah bukan sekadar menahan makan.
Ini saatnya masuk ke
padang gurun batin dan bertanya:
Di mana kita menyandarkan hidup?
Pada roti duniawi yang selalu membuat kita merasa kurang? Atau pada
Sabda Allah yang membuat kita cukup?
Karena kepenuhan Roh Kudus dan kasih Allah, beranikah kita berkata
“cukup” kepada dunia?
Sebab hanya orang yang tahu dirinya milik Allah tidak perlu membuktikan
apa pun kepada dunia.

Jadi kamu gimana?
RA

Terbaru

Populer