Home Blog

RENUNGAN MINGGU BIASA XI, 14 JUNI 2026

Rahmat Cuma Numpang Lewat

Renungan Minggu Biasa XI — 14 Juni 2026

Kel 19:2-6a | Rom 5:6-11 | Mat 9:36-10:8

Ada sebuah logika yang tampaknya masuk akal: kalau Allah tahu kita akan terus berdosa dan tetap mengampuni, bukankah itu justru memberi kita kebebasan untuk seenaknya?

Argumen ini bukan baru. Paulus sudah menghadapinya dua ribu tahun lalu, dan jawabannya singkat saja: “Mustahil.”

Tapi mengapa mustahil? Karena orang yang sungguh mengalami kasih yang datang lebih dulu — kasih yang hadir justru ketika kita tidak layak, tidak berjasa — tidak akan pernah merespons dengan “wah, bebas dong.”

Respons yang lahir dari pengalaman itu hanya satu: syukur yang mengubah.

Yang berkata “nanti seenaknya” adalah orang yang belum pernah benar-benar masuk ke dalam pengalaman itu.

Paulus menulis kepada jemaat di Roma dengan kalimat yang sederhana tapi mengejutkan: “Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Ketika kita belum baik. Ketika kita belum layak.

Paulus sendiri mengakui: jangankan mati untuk orang yang tidak layak, mati untuk orang baik pun jarang terjadi. Tapi itulah yang Allah lakukan. Dan dari situ Paulus menarik satu kesimpulan yang pasti: kalau waktu kita masih tidak layak saja Allah sudah bertindak, apalagi sekarang setelah kita didamaikan — keselamatan itu sudah selesai. Tinggal diterima.

Kasih Allah bukan respons atas kebaikan kita. Kasih Allah adalah inisiatif yang mendahului segalanya.

Injil hari ini memperlihatkan logika yang sama dalam tindakan nyata.Yesus melihat orang banyak — terlantar, lelah, seperti domba tanpa gembala — dan hatinya tergerak. Bukan sekadar merasa kasihan dari jauh. Ia terguncang dari dalam, dan tidak bisa diam.

Dari belas kasihan itu, Ia memanggil dua belas orang. Perhatikan siapa yang dipilih: nelayan, pemungut cukai, orang Zelot, bahkan seseorang yang sudah diketahui akan berkhianat. Tidak satu pun dari golongan yang dianggap suci waktu itu. Mereka adalah orang-orang biasa, dengan segala keterbatasan mereka.

Yesus tidak memilih berdasarkan kelayakan. Persis seperti kasih Allah yang Paulus ceritakan — inisiatif yang mendahului jasa.

Tapi ada satu kalimat di penghujung perikop ini yang menjadi kunci semuanya: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Rahmat bukan untuk dimiliki. Rahmat cuma numpang lewat. Diterima bukan untuk disimpan, tapi untuk diteruskan. Diberi banyak supaya memberi banyak. Diberi gratis supaya memberi gratis.

Ini bukan sekadar soal kemurahan hati. Ini adalah cara kerja anugerah itu sendiri.

Rahmat yang dimonopoli, dijadikan alat kekuasaan, diperjualbelikan — itu pengkhianatan. Tapi rahmat yang didiamkan saja, tidak diteruskan, tidak diapa-apakan — itu juga pengkhianatan. Hanya bentuknya lebih halus dan lebih mudah dimaafkan diri sendiri.

Maka pertanyaan yang sesungguhnya bukan soal apakah kasih Allah memberi kita kebebasan untuk seenaknya.

Pertanyaan yang sesungguhnya: sudahkah kita sungguh mengalami kasih itu? Mereka yang sudah mengalaminya — yang pernah berdiri dalam keadaan tidak layak dan tetap menerima anugerah — tidak akan bertanya soal “seenaknya.”

Mereka akan bertanya: kepada siapa rahmat ini harus kuteruskan hari ini?

Itulah murid Kristus: saluran rahmat, bukan pemiliknya.

Jadi, kamu gimana?

RA

 

RENUNGAN HR TUBUH DAN DARAH KRISTUS, 7 Juni 2026

Masih adakah Makanan yang benar-benar Makanan?

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus — 7 Juni 2026

Ul 8:2-3, 14b-16a | 1 Kor 10:16-17 | Yoh 6:51-58

 

Perhatikan apa yang kamu makan hari ini. Bukan soal enak atau tidak — tapi soal dari mana asalnya dan apa yang sudah terjadi padanya sebelum sampai ke piringmu.

Dulu jawaban pertanyaan itu sederhana. Tuhan menyediakan alam, alam menyediakan makanan. Padi tumbuh dari tanah, ikan hidup di sungai dan laut, sayuran tumbuh di kebun. Manusia tinggal menerima apa yang sudah disediakan. Seperti manna di padang gurun — turun setiap pagi, cukup untuk semua, gratis untuk semua. Yang menggerutu pun tetap diberi makan. Tuhan tidak pernah menyeleksi siapa yang boleh lapar.

Tapi pelan-pelan sesuatu berubah.

Sungai-sungai di sekitar kita berubah warna. Udara yang seharusnya gratis kini harus dibeli dalam bentuk ruangan ber-AC dengan filter udara. Air minum yang seharusnyavmengalir jernih kini datang dalam galon yang harus dibayar setiap minggu. Tanah yang dulu bisa ditanami kini tertutup beton. Untuk mendapatkan sayuran yang benar-benar segar, buah yang benar-benar matang di pohon, kita harus pergi ke supermarket premium dan membayar harga yang tidak semua orang mampu.

Ketika alam dihancurkan, yang pertama kehilangan selalu yang paling lemah.

Dan makanan yang tersisa? Semakin panjang prosesnya, semakin jauh dari aslinya. Pada akhirnya, makanan yang benar-benar makanan menjadi privilege — hanya untuk yang mampu membayar harganya.

Yesus berkata: “Dagingku adalah benar-benar makanan, dan darahku adalah benar-benar minuman.”

Kata benar-benar itu bukan hiasan. Di dunia yang semakin sulit menemukan makanan yang murni dan jujur — Yesus hadir dengan klaim yang radikal: ada satu makanan yang tidak bisa dirusak oleh tangan manusia manapun. Tidak bisa ditebang, tidak bisa diprivatisasi, tidak bisa tercemar oleh kerakusan siapapun.

Dan makanan itu tersedia untuk siapapun yang datang dengan rindu.

Bukan untuk yang mampu membayar saja. Bukan untuk yang tinggal di lokasi yang tepat.

Bukan untuk yang hidupnya sudah beres. Satu hosti yang sama, untuk semua yang datang. Siapapun yang merasa dirinya tidak layak maju — tapi kakinya tetap melangkah.

Tuhan tidak pernah menyeleksi siapa yang boleh lapar.

Menerima Tubuh dan Darah Kristus bukan hanya tindakan pribadi antara jiwa dan Tuhan. Ini adalah komitmen — bahwa kita menolak logika dunia yang menghancurkan makanan sejati demi kerakusan segelintir orang. Bahwa kita percaya Tuhan masih menyediakan, dan akan terus menyediakan, bahkan ketika manusia sudah menghancurkan hampir segalanya.

Sebab yang menjadi makanan itu adalah Tuhan sendiri. Dan Dia sendiri yang menyediakannya.

“Alam bisa dirusak. Tapi kehendak Tuhan untuk memberi diri-Nya — tidak.”

Jadi, kamu gimana?

RA

RENUNGAN HR RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS, 31 Mei 2026

Masuk ke Dalam, Bukan Sekadar Mengamati
Hari Raya Tritunggal Mahakudus — 31 Mei 2026
Kel 34:4b-6.8-9 | 2 Kor 13:11-13 | Yoh 3:16-18
Kalau hari ini ada yang meminta saya menjelaskan apa itu Allah Tritunggal — supaya sungguh-sungguh dimengerti — saya dengan jujur harus berkata: saya tidak bisa. Dan bukan karena saya tidak mau. Tapi hasilnya akan selalu menghasilkan perdebatan. Tidak pernah final. 
Santo Agustinus, salah satu teolog terbesar yang pernah dimiliki Gereja, menulis buku De Trinitate selama bertahun-tahun — lima belas jilid. Pada akhirnya, beliau tetap berdiri di hadapan misteri yang tidak bisa sepenuhnya dirangkum oleh kata-kata manusia. Jadi jika Agustinus saja angkat tangan, rasanya kita tidak perlu terlalu memaksakan diri.
Saya percaya — dan bacaan-bacaan hari ini justru mengundang kita ke arah itu — bahwa Allah Tritunggal bukan misteri untuk dipahami melalui penjelasan teoretik. Allah Tritunggal adalah Pribadi untuk dirasakan dan dialami.
Pun di dunia ini ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan teori, tapi dapat dimengerti lewat dirasakan dan dialami. 
Allah yang Terus Bergerak Mendekat
Bacaan pertama membawa kita ke Gunung Sinai dalam suasana yang tidak mudah. Musa naik membawa loh batu yang baru — karena yang lama sudah dihancurkan setelah umat Israel menyembah anak lembu emas. Ini bukan pertemuan pertama. Ini pertemuan setelah pengkhianatan.
Dan di situlah Allah hadir. Bukan dengan murka. Tuhan turun dalam awan, berdiri dekat Musa, lalu berjalan lewat di depannya sambil berseru menyatakan nama-Nya sendiri:
“TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kebenaran…”
Allah tidak memberi definisi tentang diri-Nya. Dia menyatakan nama dan karakter-Nya. Dan itu sendiri sudah merupakan pewahyuan — bukan informasi yang kita simpan di kepala, tapi pengalaman kehadiran yang menyentuh hati. Musa pun berdoa dengan sangat sederhana: “Berjalanlah, ya Tuhan, di tengah-tengah kami.”  Setelah semua yang terjadi, setelah dosa yang besar, Musa tidak meminta banyak. Hanya satu: hadirlah. Jalan bersama kami. Jangan tinggalkan kami.

Tiga Cara Hadir, Satu Gerakan Kasih
Di sinilah saya menemukan sesuatu yang indah dalam ketiga bacaan hari ini — ada gradasi kehadiran yang makin dalam.
Di Bacaan Pertama, Allah melintas di depan Musa. Hadir dari luar, menyertai perjalanan umat dari jarak tertentu.
Di Bacaan Kedua, Paulus menutup suratnya dengan berkat yang kita kenal baik: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Allah menyertai — lebih dekat, berjalan di sisi kita.
Tapi ada satu lapisan lagi. Roh Kudus tidak menyertai dari luar, tidak berjalan di sisi kita. Yesus berjanji bahwa Roh itu akan tinggal dan diam di dalam kita.
Bukan menemani — tapi menetap. Menep. Ada di dalam.
Inilah gerakan kasih Allah dalam Tritunggal — Bapa yang melintas dan menyertai, Putra yang berjalan bersama, Roh yang tinggal dan diam di dalam.
Satu gerakan yang terus mendekat, terus masuk, terus menetap.
Mengapa? Karena Kasih Sudah Diputuskan
Yohanes 3:16 — mungkin ayat yang paling sering kita dengar, paling sering tercetak di spanduk, paling sering dihafalkan. Tapi justru karena terlalu sering kita dengar, kadang kita tidak lagi sungguh-sungguh mendengarnya.

 

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16)

 

Tindakan kasih Allah sudah selesai dan tuntas. Sudah diputuskan. Tidak bisa ditarik kembali. Tidak bisa dirubah. Allah tidak sedang mencoba mengasihi dunia. Dia sudah mengasihi. Selesai. Final.
Dan yang dikasihi bukan dunia yang sudah baik, bukan dunia yang sudah layak.
“Dunia” dalam Injil Yohanes justru sering berarti dunia yang menolak terang, yang hidup dalam kegelapan. Yang tak beraturan, tidak konsisten, selalu berubah-ubah. Tapi justru dunia itulah yang dikasihi. Seperti Israel yang sudah berjanji setia lalu mengkhianati Allah di padang gurun — tapi Allah tetap datang.Tetap berjalan di tengah-tengah mereka.
Inilah jawaban atas pertanyaan yang mungkin kita ajukan diam-diam: mengapa Allah mau terus bergerak makin dekat kepada manusia yang begitu sering jatuh? Karena kasih itu sudah diputuskan dari kekal. Dan kasih yang sudah diputuskan tidak menunggu kelayakan.

Undangan untuk Masuk, Bukan Sekadar Mengamati
Tapi ada satu hal yang perlu kita sadari. Untuk benar-benar merasakan dan mengalami Allah Tritunggal, kita tidak bisa berdiri di luar. Tidak bisa hanya mengamati, menilai, dan melihat dari jarak aman.
Bayangkan seseorang yang ingin mengenal sebuah keluarga. Ia bisa berdiri di luar rumah, mengamati dari jendela, mencatat siapa yang keluar masuk. Tapi ia tidak akan pernah benar-benar mengenal keluarga itu — sampai ia masuk, duduk bersama mereka, makan semeja, berbagi cerita, tinggal di sana.
Allah Tritunggal adalah relasi. Bapa, Putra, dan Roh Kudus hidup dalam kesatuan yang saling masuk ke dalam satu sama lain — saling menembus, saling berdiam. Para teolog menyebutnya perichoresis. Dan kita diundang masuk ke dalam dinamika itu.
Yesus mengundang kita: “Tinggallah di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu.” Dua arah. Bukan hanya Dia yang masuk ke dalam kita — tapi kita pun dipanggil untuk masuk ke dalam Dia. Bukan sebagai penonton. Tapi sebagai seseorang yang sungguh masuk — yang membiarkan dirinya dicengkeram oleh kasih Bapa, yang mau berjalan bersama Kristus dalam hidup sehari-hari, yang membuka hati bagi Roh untuk tinggal dan bekerja dari dalam.
Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukan undangan untuk memecahkan misteri. Ini undangan untuk masuk ke dalam misteri itu — dan tinggal di sana. Bersama Bapa yang menjadi asal dan tujuan kita. Bersama Putra yang menemani setiap langkah perjalanan. Bersama Roh yang sudah ada di dalam — menunggu kita sadar akan kehadiran-Nya, dan menyerahkan diri untuk digerakkan oleh-Nya.
Jadi, kamu gimana?
RA

Kebisingan Digital, Uskup Didik Ingatkan Komsos Tak Sekadar Pengguna Teknologi

Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo (Mgr Didik). Foto: Komsos KAP

PONTIANAK, 27 MEI 2026 – Teknologi komunikasi, internet, hingga kecerdasan buatan (AI) bergerak sangat cepat dan jadi realitas keseharian. Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Agustinus Tri Budi Utomo atau Mgr Didik, menegaskan, Gereja Katolik sama sekali tidak menolak kemajuan itu.

Dia mengingatkan, pemanfaatan teknologi komunikasi tidak sekadar alat teknis, melainkan sarana menghadirkan wajah dan suara Allah yang penuh kasih. Pegiat komunikasi harus aktif menghadirkan wajah kasih Allah di ruang digital.

“Pesan Paus Leo IV, komunikasi haruslah menjadi sarana pewartaan kasih, kebenaran, dan persaudaraan. Dunia digital sering menghadirkan kebisingan, sarana kebencian, dan ruang manipulatif. Jangan hanya jadi pengguna, tetapi teknologi harus menghadirkan wajah kasih Allah bagi dunia,” kata Mgr Didik, Rabu (27/05/2026) di Pontianak.

Penegasan itu dia sampaikan pada Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII yang digelar di Pontianak. Keuskupan Agung Pontianak menjadi tuan rumah “gawe nasional” yang berlangsung sejak Selasa (26/05/2026) hingga Minggu (31/05/26).

PKSN merupakan bagian integral dari peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, sebagai momentum strategis Gereja Katolik Indonesia merespons tantangan etis di era digital. Memadukan refleksi iman, kajian akademis, dan kekayaan budaya nusantara.

Persaudaraan dalam Keberagaman

Semangat persaudaraan itu sangat terasa sejak Misa Pembukaan PKSN XIII di Katedral Santo Yosef, pagi harinya. Sebelum misa dimulai, kehangatan relasi multi-kultur terpancar melalui tarian Jai khas Flores, mengiringi Mgr Didik dan Uskup Agung Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, serta sejumlah pastor konselebran, melintasi lorong menuju pintu Katedral.

Keberagaman yang harmonis terasa kental saat perarakan mencapai tangga Katedral, saat tarian etnik Dayak menyambut mereka. Ratusan peserta PKSN dari keuskupan se-Indonesia, menghadiri misa itu.

Para peserta dibekali pemahaman melalui seminar nasional “Membumikan Pesan Paus untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 60 tahun 2026”. Sebagai keynote speaker, Mgr Didik mengajak para pegiat komunikasi seluruh keuskupan di Indonesia, untuk “masuk ruang hening” merefleksikan esensi komunikasi sebagai anugerah Tuhan, sekaligus menjawab seruan Paus untuk menjaga wajah dan suara manusia.

“Bukan hanya Gereja yang menjadi ruang aman dan kudus, tapi bagaimana ruang media sosial kita juga menjadi ruang yang aman dan suci. Bukan malah memprovokasi kebencian di sosial media. Kemajuan teknologi harus jadi pilar penjaga martabat manusia,” papar Mgr Didik.

Gereja mengajak umat menjadi manusia yang otentik, bukan dengan membenci teknologi. Tidak terpancing mengadopsi kepalsuan, tetapi kritis berhadapan dengan deepfake.

Dalam forum yang sama, Rektor Universitas Pradita, pakar teknologi informasi, Prof. Richardus Eko Indrajit, menegaskan, penggunaan AI cukup sekadar alat, bukan sebagai pengganti manusia. AI bersifat melayani perjumpaan, bukan menggantikannya.

“Wajah adalah icon Allah, dia sakral. Wajah dan suara manusia tidak untuk dipalsukan, karena sifatnya unik dan tak bisa ditiru. Kecuali dapat izin dari orangnya, untuk kepentingan yang baik,” tegas Eko.

Di sela paparannya, Eko menampilkan contoh video singkat yang dia buat dengan suatu aplikasi AI, menampilkan podcast antara dirinya dengan Paus Leo IV. Dia menambahkan, video tersebut hanya boleh dipergunakan jika mendapat izin dari Vatican, tidak boleh langsung disebarkan.

Prof. Richardus Eko, pakar teknologi informasi (tengah). Foto: Komsos KAP

Kaum Muda yang Tergoda Viralitas

Mempertajam pemahaman peserta, talkshow digelar untuk kaum muda dan Bapak-bapak Katolik. Kesempatan ini mengetengahkan pengalaman nyata pegiat komunikasi digital.

Talkshow Orang Muda memperbincangkan pentingnya menjaga privasi dari bahaya penipuan digital. Ketua Komisi Kepemudaan KWI, RD. Frans Kristi Adi, menyinggung kecenderungan kaum muda untuk selalu viral dan terlihat “keren” di media sosial. Penggunaan AI sering jadi pilihan untuk mendukung kecenderungan itu.

“Bisa saja kita terlihat hangat di media sosial tapi di dunia nyata menjadi dingin,” kata Adi, mengingatkan AI hanya alat bantu yang tidak pernah mampu menggantikan hati nurani manusia.

Influencer lokal yang telah melanglang buana ke sejumlah negara, F. Deliana Winki atau Delly Sape’, mengatakan, justru ciri khas diri yang asli yang harus ditampilkan, bukan realitas palsu.

Dia mencontohkan dirinya, seorang gadis muda pemain sape’–alat musik petik tradisional Dayak–membranding diri dengan identitas budaya lokal. Sape’ menjadi pilihan karena alat musik itu mewakili “suara hutan” yang lekat dengan komunitas masyarakat Dayak.

“Andalkan Tuhan dalam setiap usaha. Aku bisa sampai ke Vatikan karena berkat Tuhan. Setiap pribadi itu unik,” ujar Delly Sape’.

F. Deliana Winki (Delly Sape’), influencer lokal berbagi pengalaman dan tips untuk kaum muda. Foto: Komsos KAP

Bapak-bapak Penjaga Keluarga

Di talkshow khusus Bapak-bapak Katolik, tampil artis senior Lisa A. Riyanto, selain dua pembicara perempuan lainnya. Lisa mengingatkan pentingnya peran kaum bapak menjaga keharmonisan keluarga di tengah pesatnya AI.

Dia mengatakan, teknologi seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan anggota keluarga, bukan justru menjauhkan hubungan yang sudah dekat..

“Kebiasaan sederhana seperti makan bersama, saling mengabari melalui grup keluarga di WhatsApp saat berjauhan, dan meluangkan waktu untuk berbincang secara langsung sebagai cara menjaga kehangatan dalam keluarga,” ujar penembang lagu lawas “Terserah Kasih” ini.

Lisa punya tips bagi kaum bapak, agar keluarga tetap harmonis di tengah berisiknya AI. Memperbanyak komunikasi tatap muka jangan sampai terlewat di tengah kenyataan hampir semua orang memiliki gawai.

“Komunikasi yang hanya melalui media sosial kerap memunculkan salah paham, karena perbedaan nada bicara maupun penafsiran bahasa. Interaksi langsung kunci utama kehangatan dalam keluarga,” ujar Lisa.

Tak hanya itu, Lisa menganjurkan kaum Bapak tidak melupakan permainan tradisional untuk menghangatkan relasi orangtua dan anak. Seperti permainan gasing dan kelereng, agar anak-anak tidak hanya terpaku pada game online di handphone. (*)

Paus Leo XIV Mengeluarkan Ensiklik Pertamanya yaitu “Magnifica Humanitas” Terkait AI

Paus Leo XIV: AI Harus Melayani Kemanusiaan

VATICAN CITY, SELASA– Paus Leo XIV hari Selasa, 25 Mei 2026, merilis ensiklik pertamanya, “Magnifica Humanitas: Tentang Melindungi Pribadi Manusia di Zaman Kecerdasan Buatan,” di Aula Paus Paulus VI, Vatikan. Dalam pidatonya, Paus menyerukan perlindungan kemanusiaan, promosi kebenaran, martabat kerja, keadilan sosial, dan perdamaian.

Ensiklik ini diterbitkan menandai peringatan ke-135 Ensiklik Rerum Novarum, yang diterbitkan Paus Leo XIII, 1891. Ensiklik “Rerum Novarum” Tentang Hal-hal Baru membahas hak dan kewajiban buruh, majikan, hak milik pribadi, serta menolak kapitalisme ekstrem maupun komunisme.

Lewat “Rerum Novarum”, Gereja Katolik memberikan suaranya, tanggapan publiknya tentang masalah sosial yang begitu besar, yang dihadapi dunia modern. Pada masa itu (1891) dunia sedang dibentuk ulang oleh batu bara, uap, dan ekonomi industri yang tidak diatur. Para pekerja dihancurkan oleh roda mesin baru. Segelintir industrialis mengendalikan kekayaan dalam skala yang belum pernah dilihat dunia.

Perubahan radikal sedang terjadi dalam politik, ekonomi, dan masyarakat. Revolusi Industri berada di puncaknya. Perpindahan besar-besaran masyarakat desa ke pusat-pusat industri yang kumuh mengganggu cara hidup jutaan orang yang telah dikenal selama beberapa generasi. Migrasi massal dari Eropa memecah belah keluarga. Para pekerja menanggung jam kerja yang melelahkan, upah yang sedikit, dan kondisi yang berbahaya, sementara segelintir elite mengumpulkan kekayaan yang sangat besar.

Jurang antara yang kaya dan miskin, begitu dalam dan lebar. Pada saat yang sama, gerakan sosialis semakin mendapatkan momentum, mengadvokasi tindakan drastis seperti penghapusan kepemilikan pribadi. Tulisan-tulisan Karl Marx telah berakar dalam gerakan komunis yang meluas.

Sekarang, dengan menerbitkan ensiklik “Magnifica Humanitas”, sekali lagi Gereja berbicara dari tradisi refleksi selama dua ribu tahun tentang makna kehidupan manusia.

Zaman AI

Dalam pidatonya saat merilis ensiklik itu, Paus Leo XIV mengatakan ensiklik “Magnifica Humanitas” sebagai tanggapan Gereja terhadap tantangan yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan (AI). Lalu, ia menyerukan agar AI “dilucuti” dari logika dominasi, pengucilan, dan perang.

Paus menjelaskan bahwa “Magnifica Humanitas” muncul dari mendengarkan secara luas para ilmuwan, insinyur, pendidik, pemimpin politik, dan keluarga yang prihatin tentang masa depan generasi muda. Pada saat yang sama, Paus mengatakan bahwa ia telah mendengar “suara-suara yang sangat mengkhawatirkan” mengenai sistem senjata otonom dan algoritma yang mampu menolak akses ke perawatan kesehatan, pekerjaan, atau keamanan berdasarkan data yang tidak adil dan bias.

Dari proses perenungan tersebut, kata Paus, muncul keyakinan yang diungkapkan dengan jelas dalam ensiklik tersebut: “kecerdasan buatan perlu dilucuti senjatanya.”

Mengakui kekuatan ungkapan tersebut, Paus Leo XIV mengatakan bahwa beratnya momen saat ini membutuhkan kata-kata yang mampu “membangkitkan hati nurani dan menunjukkan jalan ke depan bagi umat manusia.”

Martabat Manusia

Dengan mengambil paralel dari “Rerum Novarum”, Paus mendesak komunitas global untuk menempatkan kemajuan teknologi demi martabat manusia, solidaritas, dan kebaikan bersama.

Di bagian lain pidatonya, Paus menggambarkan revolusi teknologi saat ini sebagai “titik balik penting” yang sebanding dengan pergolakan yang dihadapi oleh Paus Leo XIII selama Revolusi Industri.

“Umat manusia, yang diciptakan oleh Tuhan dalam segala keagungannya, saat ini menghadapi pilihan penting: membangun Menara Babel yang baru atau membangun kota tempat Tuhan dan umat manusia tinggal bersama,” katanya.

Menurut Paus Leo XIV , kecerdasan buatan sudah menyentuh banyak bidang kehidupan kita dan memengaruhi keputusan yang membentuk koeksistensi manusia, seraya mencatat bahwa hal itu juga “secara dramatis mengubah cara perang dilakukan.”

Dengan menarik paralel langsung dengan ensiklik penting Paus Leo XIII tahun 1891, “Rerum Novarum”, Paus Leo XIV mengatakan bahwa Gereja saat ini juga dipanggil untuk menafsirkan “hal-hal baru” zaman ini dalam terang Injil dan martabat manusia.

Tentang Ensiklik

Menurut etimologinya, ensiklik (dari bahasa Yunani egkyklios, kyklos yang berarti lingkaran) adalah surat edaran. Elizabeth Huddleston dalam Church Life Journa_l, 25 Maret 2025, menjelaskan demikian: Ensiklik adalah surat pastoral dari Paus yang ditujukan kepada semua uskup Gereja Katolik untuk disebarkan kepada seluruh umat beriman, “to all people of good will.”

Surat-surat ini merupakan bagian dari wewenang pengajaran biasa Paus. Ensiklik mencakup berbagai topik, termasuk masalah iman dan moral, isu-isu sosial, dan petunjuk bagi umat beriman. Ensiklik dicirikan oleh sifat didaktiknya, menawarkan pengajaran dan bimbingan komprehensif tentang isu-isu kontemporer. Meskipun tidak memiliki status hukum formal seperti bulla (surat keputusan), ensiklik memiliki bobot doktrinal yang signifikan dan sering dianggap sebagai sumber otoritatif pengajaran Katolik.

Dalam Catholic Review (2026) Father Joseph Parisi menjelaskan secara singkat, demikian: Ensiklik adalah surat pastoral yang ditulis oleh Paus dan ditujukan kepada seluruh Gereja. Surat-surat ensiklik umumnya membahas masalah iman atau moral, mendorong peringatan atau devosi saleh tertentu, atau membahas masalah disiplin Gereja yang harus dipatuhi secara universal.

Paus Fransiskus, misalnya, menerbitkan tiga ensiklik: “Lumen Fidei” atau Terang Iman (2013); “Laudato Si’”, Terpujilah Engkau, Tuhanku (2014), dan “Fratelli Tutti”, Semua Bersaudara (2020). (KBRI Takhta Suci)

Senin, 25 Mei 2026, Pk. 17.00 WIB [LIVE] “Tahbisan Diakon Keuskupan Agung Jakarta” – bersama +Uskup Ignatius Kardinal Suharyo

Tahbisan Diakon: Frater Ar, Frater Febri, Frater Enrico dan Frater Galih

Senin, 25 Mei 2026, Pk. 17.00 WIB di Gereja St. Perawan Maria Diangkat ke Surga

#KardinalSuharyo #KeuskupanAgungJakarta #TahbisanDiakon

 

RENUNGAN HR PENTAKOSTA, 24 MEI 2026

SATU ROH, BANYAK WAJAH

Hari Raya Pentakosta — 24 Mei 2026

Kis. 2:1-11 | Mzm. 104 | 1Kor. 12:3b-7,12-13 | Yoh. 20:19-23

 

Roh Kudus sudah datang — sejak hari itu, sekali dan untuk selamanya memenuhi Gereja. Pentakosta adalah syukur atas apa yang sudah terjadi, sekaligus pengakuan bahwa Gereja yang berdiri sampai hari ini berdiri atas kekuatan Roh yang telahdiberikan itu, dan bukan atas kekuatannya sendiri.
Lukas mencatat peristiwanya dengan detail yang menarik. Angin keras memenuhi seluruh rumah, dan lidah-lidah api hinggap di atas mereka — masing-masing dari mereka — satu per satu, secara personal dan pribadi. Roh Kudus menyentuh Petrus sebagai Petrus, Maria sebagai Maria, Yohanes sebagai Yohanes, dan dari perjumpaan yang personal itulah mereka mulai berbicara, masing-masing dengan caranya sendiri.
Yang terjadi kemudian sering disebut mukjizat bahasa. Yang sungguh luar biasa adalah ini: orang-orang dari berbagai bangsa mendengar, dan mereka mengerti — masing-masing dalam bahasanya sendiri. Roh tidak menghapus perbedaan bahasa, melainkan menembus perbedaan itu.
Ada yang menyebut Pentakosta sebagai kebalikan Babel. Babel adalah momen ketika manusia memaksakan keseragaman — satu bahasa, satu menara, satu proyek besar atas kehendak sendiri. Pentakosta justru sebaliknya: satu Roh yang bekerja melalui semua bahasa yang sudah ada, membiarkan setiap bangsa tetap menjadi dirinya sendiri. Babel takut pada perbedaan dan berusaha menghapusnya, sementara Pentakosta merayakan perbedaan karena percaya Roh cukup besar untuk bekerja di dalamnya.
Paulus menegaskan hal yang sama dalam suratnya kepada jemaat Korintus. Dari satu Roh yang sama mengalir karunia-karunia yang beragam, dan Paulus sama sekali tidak meminta karunia-karunia itu diseragamkan. Justru keunikan masing-masing karunia itulah yang membuat Tubuh Kristus menjadi penuh. Yang dipentingkan adalah arahnya: satu tujuan, membangun Tubuh Kristus dalam kasih.Yesus sendiri sudah menunjukkan pola ini sejak awal. Ia hadir dalam konteks yang sangat spesifik — berbicara dalam bahasa yang dimengerti orang-orang di depan-Nya, bertemu mereka tepat di mana mereka berada. Para rasul melanjutkan cara yang sama: Paulus di Areopagus mengutip penyair Yunani, bukan Taurat. Misi adalah perjumpaan yang sungguh-sungguh — Kristus yang datang dalam bahasa mereka, melalui para rasul yang hadir dengan seluruh diri mereka.
Injil hari ini menutup semuanya dengan sangat indah. Yesus masuk ke ruangan yang terkunci sementara para murid ketakutan dan bersembunyi, dan kata pertama yang keluar dari mulut-Nya adalah: “Damai sejahtera bagi kamu.” Para murid yang bersembunyi itu disambut dengan damai, bukan dihadapkan dengan kegagalan mereka. Lalu Ia menghembuskan Roh, dan dalam hembusan yang sama itu Ia memberikan wewenang pengampunan — damai dan pengampunan yang tidak bisa dipisahkan.
Pengampunan itu menciptakan ruang di mana orang tidak perlu sempurna dulu untuk diterima, tidak perlu seragam dulu untuk dihargai. Berbeda itu tidak apa-apa, bahkan berbeda karena salah pun tidak apa-apa, karena di hadapan Tuhan selalu pengampunan. Gereja yang sungguh dipenuhi Roh adalah Gereja yang cukup lapang untuk menampung perbedaan itu tanpa buru-buru menyeragamkan atau menghakimi, karena kadang justru dari yang sedikit berbeda itulah kita belajar sesuatu yang tidak bisa kita pelajari dari tempat lain. Roh Kudus sudah datang. Ia tinggal dan terus bekerja — mengolah keunikan kita masing-masing menjadi bagian dari karya-Nya yang besar.
— 
Jadi, kamu gimana?
RA

Galeri Kemartiran St. Andreas Kim Tae-gon, Paroki Puspa Gading

Setahun, Darah, dan Rosario dari Pasir Sungai Han

Ada papan kecil berwarna kuning di depan pintu masuk itu.

“Mohon Alas Kaki Dilepas.”

Saya membacanya, mengangguk, lalu duduk sebentar untuk melepas sepatu. Tapi di dalam, ketika saya mulai berjalan dan melihat satu per satu apa yang ada di ruangan itu — saya sadar: bukan cuma alas kaki yang perlu dilepas untuk masuk ke tempat ini.

Sebelum masuk, alas kaki dilepas. Tapi ada yang lebih dari itu yang diminta oleh tempat ini.

Galeri Kemartiran Santo Andreas Kim Tae-gon baru saja diresmikan oleh Bapa Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, sebagai bagian dari perayaan ulang tahun pertama Paroki Santo Andreas Kim Taegon, Puspa Gading. Satu tahun. Angka yang terdengar kecil untuk sebuah paroki.

Tapi satu tahun bukan angka kecil di sini.

Andreas Kim Taegon baru kurang lebih setahun menjadi imam ketika ia ditangkap dan dieksekusi — di tepi Sungai Han, Seoul, tahun 1846, di bawah Dinasti Joseon yang melarang agama Kristen. Ia ditahbiskan pada 17 Agustus 1845. Imam muda. Baru saja memulai. Tapi kesaksiannya tidak tanggung-tanggung.

Saya punya hubungan tersendiri dengan tempat ini. 22 Agustus 2013, tepat setelah tahbisan imam saya, saya bertugas di sini — waktu itu masih stasi, bergantung pada induknya, Paroki Kelapa Gading, Gereja Santo Yakobus. Sampai awal 2014. Saya, imam baru yang juga baru seumur jagung, ikut bertumbuh di komunitas yang waktu itu juga masih sedang mencari bentuknya.

Perjalanan menuju paroki itu panjang. Dan kini gerejanya sudah berdiri megah — dengan gaya arsitektur yang tidak menyembunyikan akar spiritualnya: Korea, dari ujung atap hingga ornamen pilarnya.

Di tengah galeri, sebuah patung Andreas berdiri di atas penopang bulat yang dikelilingi panel-panel kisah hidupnya — berputar seperti lingkaran waktu.

Di jantung galeri, St. Andreas berdiri. Di sekelilingnya, delapan panel menceritakan perjalanan hidupnya — dari pembaptisan hingga kemartiran.

Tahun 2019 silam, saat masih bertugas di Paroki Ciputat, saya mengunjungi situs ziarah di Korea Selatan — tempat para martir Korea dimakamkan. Saya masih ingat udaranya. Hening yang berbeda. Berat, tapi damai.

Galeri ini membawa saya kembali ke sana — tapi dari dalam Puspa Gading.

Diorama-diorama di sepanjang dinding menceritakan perjalanan St. Andreas Kim Tae-Gon secara runtut: pembaptisannya, studi untuk menjadi imam, penahbisan, Misa perdana yang dipersembahkan diam-diam di pedesaan Korea — karena saat itu beriman saja sudah cukup untuk dibunuh. Sampai pada momen ketika ia tertangkap di tepi laut — saat sedang membuka jalur masuk bagi para misionaris lain. Dan akhirnya: eksekusi di tepi Sungai Han. 

Andreas tertangkap saat menjalankan misi membuka jalan bagi para misionaris lain untuk masuk Korea.

Saya berdiri cukup lama di depan diorama itu.

Ada sesuatu yang berbeda ketika sejarah tidak hanya dibaca — tapi dilihat, didekati, dirasakan dari jarak yang sangat dekat. Miniatur-miniatur itu kecil, tapi berat.

Dan di ruang berikutnya, kata-kata Andreas sendiri tertulis besar di dinding — dalam bahasa Indonesia, Korea, dan Inggris — di atas siluet-siluet para martir yang berdiri berdampingan.

Saya membaca pelan-pelan. Dan ketika mata saya bergeser ke sudut kanan — di balik kaca, diam, tidak ramai — ada dua butir rosario.

Dibuat dari pasir. Pasir tepi Sungai Han. Pasir yang menyerap darah Andreas dan para martir lainnya pada hari eksekusi mereka.

Asli. Dibawa dari sana.

“Iman kita adalah harta yang paling berharga. Jagalah itu lebih dari hidupmu sendiri, karena imanlah yang membawa kita pada kehidupan kekal.” — Santo Andreas Kim Taegon

Masih banyak yang ada di dalam galeri ini yang tidak saya ceritakan di sini. Sengaja.

Ada hal-hal yang tidak cukup hanya dibaca. Harus didatangi. Harus dirasakan dari dekat. Masuk ke dalam. 

Galeri Kemartiran Santo Andreas Kim Taegon kini terbuka di kompleks Gereja Santo Andreas Kim Taegon, Puspa Gading. Datanglah. Lepaskan alas kakimu di depan pintu itu.

Dan bersiaplah melepas lebih dari sekadar itu.



Selamat Hari Ulang Tahun yang pertama Paroki Puspa Gading, Gereja St. Andreas Kim Taegon. 


22 Mei 2026
Rm Reynaldo Antoni Haryanto, Pr




Waspada Hoax Terkait Kardinal Suharyo tentang Program Bantuan DAP Timor Leste

PEMBERITAHUAN DAN IMBAUAN KEWASPADAAN PUBLIK

Telah ditemukan sebuah akun/Page Facebook yang diduga menyalahgunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan mencatut nama tokoh Gereja Katolik untuk menyebarkan informasi palsu serta berpotensi melakukan penipuan online (online scam), yaitu:

Facebook Page “Kardinal Ignatius Suharyo H” di https://www.facebook.com/people/Kardinal-Ignatius-Suharyo-H/61574353449220/

Akun tersebut diduga menggunakan:

Manipulasi gambar dan video (deepfake/AI-generated content),

Klaim bantuan dana fiktif untuk masyarakat Timor Leste,

Narasi “Program Bantuan DAP” tidak memiliki dasar resmi,

Penyalahgunaan nama dan figur Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo untuk membangun kepercayaan publik.

Sejumlah media dan lembaga pemeriksa fakta telah menyatakan bahwa klaim bantuan dana tersebut adalah hoaks dan berpotensi menjadi modus penipuan digital.

Cek : https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/6208686/cek-fakta-hoaks-video-kardinal-ignatius-suharyo-soal-bantuan-dana-pembangunan-gereja?utm_source=chatgpt.com

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk:

1. Tidak mempercayai informasi bantuan dana yang tidak berasal dari kanal resmi.

2. Tidak memberikan data pribadi, nomor rekening, OTP, ataupun melakukan transfer uang.

3. Tidak mengklik tautan mencurigakan yang dibagikan akun tersebut.

4. Segera melaporkan akun/Page tersebut ke Facebook sebagai:

* Scam/Fraud
* False Information
* Impersonation

agar Meta segera menutup halaman Facebook tersebut.

Laporan masyarakst dapat membantu mencegah lebih banyak korban penipuan digital dan penyebaran disinformasi berbasis AI.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Humas KAJ

RENUNGAN MINGGU PASKAH VII – 17 Mei 2026

HADIR DENGAN WAJAH dan SUARAMU

Minggu Paskah VII — 17 Mei 2026 | Hari Minggu Komunikasi Sedunia

Kis. 1:12-14 | Mzm. 27 | 1Ptr. 4:13-16 | Yoh. 17:1-11a

Dalam bacaan Pertama, ketika mencatat peristiwa di ruang atas itu,

Lukas repot-repot menyebut nama mereka satu per satu — Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, dan seterusnya. Mereka yang berkumpul bukan sekadar gerombolan orang tanpa identitas, melainkan pribadi-pribadi dengan nama, wajah, dan sejarah masing-masing yang hadir secara penuh bersama satu sama lain.

Di antara mereka ada Maria, ibu Yesus. Lukas tidak mencatat satu kata pun yang ia ucapkan. Ia hadir — dengan dirinya, dengan wajahnya — dan kehadiran itu sendiri sudah menjadi bagian dari doa komunitas.

Menarik untuk direnungkan bahwa dalam ruang digital, keheningan seseorang sering dibaca sebagai ketidakhadiran. Kalau tidak membalas, tidak berkomentar, tidak bereaksi, kita anggap ia tidak ada. Tapi kehadiran Maria di ruang atas itu membuktikan sebaliknya — diam bukan berarti absen.

Paus Leo XIV dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sedunia tahun ini menulis bahwa wajah dan suara adalah ciri khas unik setiap pribadi, unsur yang paling mendasar dari setiap perjumpaan sejati. Komunikasi yang otentik mensyaratkan kehadiran — dengan nama, wajah, dan suara yang nyata, bukan simulasi.

Ruang atas itu sendiri hanyalah tempat menumpang — sementara, bukan rumah. Mereka tinggal di sana bukan untuk menetap, melainkan untuk bersiap. Bersiap untuk keluar dan pergi ke seluruh dunia, membawa seluruh diri mereka ke mana pun mereka diutus.

Dan Petrus sudah mengingatkan bahwa jalan itu tidak selalu mulus. Ia mengajak mereka untuk bersukacita dalam penderitaan Kristus, karena pergi dan hadir secara penuh memang ada konsekuensinya — ada panas, ada penolakan, ada keringat — namun justru dalam kehadiran yang total itulah ada sukacita yang tidak bisa diperoleh dengan cara lain.

Dalam doanya, Yesus mengucapkan kalimat yang sederhana namun dalam: “Inilah hidup yang kekal: bahwa mereka mengenal Engkau.” Artinya mengenal secara personal dan relasional, bukan sekadar memiliki informasi tentang seseorang. Pengenalan semacam ini tidak datang seketika dan tidak bisa disingkat. Ia tumbuh lewat waktu yang dilalui bersama, percakapan yang kadang tidak selesai, bahkan perdebatan kecil yang justru membuat dua orang semakin sungguh-sungguh melihat satu sama lain.

Yesus sendiri menjalani proses ini bersama para murid-Nya selama tiga tahun — jalan bersama, makan bersama, salah paham, dan berdamai kembali. Ia menyatakan nama Bapa bukan lewat pengumuman dari langit, melainkan dengan hadir sepenuhnya di tengah manusia, hingga di kayu salib Ia bisa berkata tetelestai — sudah selesai, paripurna, tidak ada yang tertinggal.

Saya teringat sebuah pengalaman pastoral. Sebuah komunitas orang muda di paroki yang nyaris lenyap setelah pandemi. Yang dibutuhkan ternyata bukan program besar atau konten media sosial yang menarik, melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana — pergi camping bersama tiga hari dua malam, main, keringetan, berebut kamar mandi, tanpa agenda rohani yang berat. Dari sanalah mereka mulai saling mengenal, dan dari pengenalan itu komunitas tumbuh dengan cara yang tidak bisa direncanakan dari balik layar.

Proses mengenal tidak bisa dipercepat dan tidak bisa dipindahkan sepenuhnya ke dalam dunia digital. Dunia Digital tidak pernah bisa membawa kepenuhan. Dalam zaman ketika wajah bisa dipalsukan dan suara bisa disimulasi oleh kecerdasan buatan, Gereja justru dipanggil untuk menjadi komunitas yang mempertahankan kehadiran yang otentik — dengan wajah dan suara yang sungguh-sungguh manusiawi. Seperti para rasul di ruang atas, seperti Maria yang diam namun sungguh ada.

Karena hanya dengan hadir sepenuhnya, kita bisa sungguh-sungguh mengenal. Dan hanya dalam pengenalan yang tumbuh perlahan itulah kita menemukan hidup yang kekal — bukan di tempat yang jauh, melainkan dalam relasi yang nyata dengan Allah dan sesama.

Selamat merayakan Hari Minggu Komunikasi Sedunia. Hadirlah dengan wajahmu.

Jadi kamu gimana?

RA

Terbaru

Populer