Roh Kudus sudah datang — sejak hari itu, sekali dan untuk selamanya memenuhi Gereja. Pentakosta adalah syukur atas apa yang sudah terjadi, sekaligus pengakuan bahwa Gereja yang berdiri sampai hari ini berdiri atas kekuatan Roh yang telahdiberikan itu, dan bukan atas kekuatannya sendiri.
Lukas mencatat peristiwanya dengan detail yang menarik. Angin keras memenuhi seluruh rumah, dan lidah-lidah api hinggap di atas mereka — masing-masing dari mereka — satu per satu, secara personal dan pribadi. Roh Kudus menyentuh Petrus sebagai Petrus, Maria sebagai Maria, Yohanes sebagai Yohanes, dan dari perjumpaan yang personal itulah mereka mulai berbicara, masing-masing dengan caranya sendiri.
Yang terjadi kemudian sering disebut mukjizat bahasa. Yang sungguh luar biasa adalah ini: orang-orang dari berbagai bangsa mendengar, dan mereka mengerti — masing-masing dalam bahasanya sendiri. Roh tidak menghapus perbedaan bahasa, melainkan menembus perbedaan itu.
Ada yang menyebut Pentakosta sebagai kebalikan Babel. Babel adalah momen ketika manusia memaksakan keseragaman — satu bahasa, satu menara, satu proyek besar atas kehendak sendiri. Pentakosta justru sebaliknya: satu Roh yang bekerja melalui semua bahasa yang sudah ada, membiarkan setiap bangsa tetap menjadi dirinya sendiri. Babel takut pada perbedaan dan berusaha menghapusnya, sementara Pentakosta merayakan perbedaan karena percaya Roh cukup besar untuk bekerja di dalamnya.
Paulus menegaskan hal yang sama dalam suratnya kepada jemaat Korintus. Dari satu Roh yang sama mengalir karunia-karunia yang beragam, dan Paulus sama sekali tidak meminta karunia-karunia itu diseragamkan. Justru keunikan masing-masing karunia itulah yang membuat Tubuh Kristus menjadi penuh. Yang dipentingkan adalah arahnya: satu tujuan, membangun Tubuh Kristus dalam kasih.Yesus sendiri sudah menunjukkan pola ini sejak awal. Ia hadir dalam konteks yang sangat spesifik — berbicara dalam bahasa yang dimengerti orang-orang di depan-Nya, bertemu mereka tepat di mana mereka berada. Para rasul melanjutkan cara yang sama: Paulus di Areopagus mengutip penyair Yunani, bukan Taurat. Misi adalah perjumpaan yang sungguh-sungguh — Kristus yang datang dalam bahasa mereka, melalui para rasul yang hadir dengan seluruh diri mereka.
Injil hari ini menutup semuanya dengan sangat indah. Yesus masuk ke ruangan yang terkunci sementara para murid ketakutan dan bersembunyi, dan kata pertama yang keluar dari mulut-Nya adalah: “Damai sejahtera bagi kamu.” Para murid yang bersembunyi itu disambut dengan damai, bukan dihadapkan dengan kegagalan mereka. Lalu Ia menghembuskan Roh, dan dalam hembusan yang sama itu Ia memberikan wewenang pengampunan — damai dan pengampunan yang tidak bisa dipisahkan.
Pengampunan itu menciptakan ruang di mana orang tidak perlu sempurna dulu untuk diterima, tidak perlu seragam dulu untuk dihargai. Berbeda itu tidak apa-apa, bahkan berbeda karena salah pun tidak apa-apa, karena di hadapan Tuhan selalu pengampunan. Gereja yang sungguh dipenuhi Roh adalah Gereja yang cukup lapang untuk menampung perbedaan itu tanpa buru-buru menyeragamkan atau menghakimi, karena kadang justru dari yang sedikit berbeda itulah kita belajar sesuatu yang tidak bisa kita pelajari dari tempat lain. Roh Kudus sudah datang. Ia tinggal dan terus bekerja — mengolah keunikan kita masing-masing menjadi bagian dari karya-Nya yang besar.