Home Blog Page 2

TAHBISAN DIAKON KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA – 25 MEI 2026

Salam Kasih Kerahiman Allah,

Pada hari Senin, 25 Mei 2026 pkl 17.00 di Gereja St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga – Paroki Katedral,

Bapa Uskup Ignatius Kardinal Suharyo akan menerimakan Tahbisan Diakon bagi 4 Frater Keuskupan Agung Jakarta.

Keempat frater tersebut adalah :
1. Frater Benidiktus Enrico Gunawan (Fr. Enrico)
2. Frater Thomas Aryangga Abimanyu (Fr. Ar)
3. Frater Victor Galih Pratiknyo (Fr. Galih)
4. Frater Yohanes Febriyanto Rete (Fr. Febri)

Tayangan tahbisan akan disiarkan langsung dari Gereja Katedral di kanal Youtube Komsoskaj

Renungan HR Kenaikan Tuhan, 14 Mei 2026

TUGASNYA SUDAH SELESAI

Hari Raya Kenaikan Tuhan — Kamis, 14 Mei 2026

Kis. 1:1-11 | Ef. 1:17-23 | Mat. 28:16-20

Seandainya saya hadir pada waktu itu, saat Yesus naik ke surga disaksikan para Murid-Nya. Sebelum kakinya terangkat, ada satu pertanyaan yang mau saya lontarkan kepada Yesus. 

“Yesus, apa rasanya menjadi manusia?” 🫣

Kehadiran-Nya di dunia ini menjadi manusia adalah saat Yesus merasakan segalanya. Merasakan dunia ini dari dalam — masuk ke dalam kehidupan yang berantakan, kacau, tidak pasti, penuh kepedihan. Ia hadir di dunia yang persis seperti dunia kita sekarang, dunia yang serba berubah dan penuh hal-hal yang tidak bisa kita kontrol.

Lantas, saya membayangkan Ia akan menjawab: menjadi manusia itu menyenangkan, menggembirakan, punya ibu, keluarga, sahabat, makan dan minum.  Tapi sekaligus pedih, sulit, dan berat. Ia tahu rasanya lapar dan lelah. Ia tahu rasanya dikhianati oleh orang yang dekat, ditinggalkan oleh sahabat-sahabat-Nya sendiri. Ia tahu rasanya hidup di tengah kekacauan yang tidak ada habisnya.

Dan justru karena itu, kata-kata terakhir-Nya sebelum naik ke surga menjadi begitu dalam dan begitu personal: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”

Ini janji yang lahir dari pengalaman — dari Allah yang sudah pernah ada di sini dan tahu persis rasanya dunia ini. Ia naik ke surga dengan tubuh yang masih menyimpan bekas luka, bekas paku dan bekas tombak. Ia tidak lupa.

Mungkin kalau bisa, Ia ingin terus ada di sini. Tugas-Nya sudah selesai, dan cara kehadiran-Nya berubah — dalam Roh, Ia mengasihi manusia terus dengan kasih yang permanen, konsisten, penuh komitmen. Ia mencintai dengan penuh dunia yang selalu tidak konsisten ini.

Paulus berdoa supaya kita sampai pada pengenalan yang sungguh-sungguh tentang Yesus — sampai pada titik merasakan-Nya. Mata hati yang terang, pengharapan yang hidup, dan kuasa Allah yang bekerja di tengah-tengah kita. Merasakan bahwa di dalam kekacauan hidup kita, ada sesuatu yang jauh lebih besar yang hadir.

Saya teringat sebuah pengalaman pastoral. Seorang yang sedang bergumul dengan banyak hal sekaligus — relasi yang retak, pekerjaan yang tidak pasti, lelah yang menumpuk. Ia datang bukan dengan pertanyaan teologi, melainkan dengan satu kerinduan sederhana: ingin merasakan bahwa ia tidak sendirian. Dan di situlah Injil berbicara paling keras — bukan dalam argumen, melainkan dalam kehadiran.

Yesus mengutus kita karena kita sudah merasakan Allah di tengah ketidakteraturan kita sendiri, dan pengalaman itulah yang perlu dibagikan kepada dunia.

Kasih-Nya tidak pergi bersama Dia naik ke surga. Ia hadir dalam Roh, menyertai setiap langkah kita, di tengah segala kekacauan hidup kita masing-masing.

“Aku menyertai kamu senantiasa.” Pegang kata-kata itu.

Jadi, kamu gimana?

RA

RENUNGAN MINGGU PASKAH VI, 10 Mei 2026

Bacaan Pertama, Kis 8:5-8.14-17

Waktu terjadi penganiayaan terhadap Jemaat di Yerusalem, Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan. Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu.

Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.”
‭‭
Bacaan Kedua, 1Ptr 3:15-18

“Saudara-saudar terkasih, kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat. Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,”

Bacaan Injil, Yoh 14:15-21

Pada perjamuan malam terakhir, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

RENUNGAN PADAT

Perpisahan biasa meninggalkan kekosongan. Perpisahan Yesus justru mengisi.

Di kayu salib, Yesus menyerahkan segalanya. Tubuh-Nya. Nyawa-Nya. Dan Roh-Nya.

Selama Roh terikat pada satu tubuh jasmani, Ia hanya bisa hadir di satu tempat. Satu waktu, satu wajah, satu titik. Tapi kini Roh itu bebas. Dan Ia mengisi Tubuh yang jauh lebih besar: Gereja.

Kisah Para Rasul hari ini memperlihatkan betapa cepatnya Roh itu bergerak. Filipus — seorang diakon — pergi ke Samaria. Tempat yang pernah dikunjungi Yesus sendiri. Dan yang ia lakukan persis sama: mewartakan Injil, mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan orang lumpuh. Bukan karena Filipus luar biasa. Tapi karena Roh yang sama sedang berkarya melalui dirinya.

Ketika Petrus dan Yohanes tiba dan menumpangkan tangan, Roh Kudus turun atas orang-orang Samaria. Sudah kelihatan di sini: diakon membaptis, rasul menumpangkan tangan. Struktur Gereja bukan birokrasi — ia adalah cara Roh mengalir secara teratur dan sah ke setiap anggota Tubuh.

Lalu 1Petrus bicara tentang umat biasa — mereka yang hidup di tengah lingkungan yang mungkin tidak ramah, bahkan memusuhi.

“Kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan di dalam hatimu.” Bukan dulu bicara soal kesaksian ke luar. Pengudusan ke dalam dulu. Kristus harus bertakhta di kedalaman hati — baru dari situ mengalir keluar sebagai kesaksian. Lemah lembut. Penuh hormat. Siap menderita karena berbuat baik. Ini wajah Roh yang berbeda dari mukjizat di Samaria — tapi Roh yang sama. Tanda-tanda besar untuk para rasul dan diakon. Kesetiaan yang sunyi dan teguh untuk umat di tengah keseharian.

Yesus pergi. Tapi Ia tidak meninggalkan. Ia hadir bukan lagi dalam satu tubuh yang terbatas — tapi dalam Tubuh yang tersebar di seluruh dunia, sepanjang zaman. Dalam diakon yang mewartakan. Dalam uskup yang menumpangkan tangan. Dalam umat yang menguduskan Kristus dalam hati dan berani bersaksi dengan lembut dan hormat.

Kita adalah Tubuh-Nya yang baru. Dan Roh yang sama — yang dulu membuat Filipus mampu melakukan apa yang dilakukan Yesus di Samaria — Roh itu tinggal dalam diri kita.

— 

Jadi, kamu gimana?

RA

SPIRITUALITAS “TINGGAL” Dalam Yohanes 15:9-11 Dan Kisah Emaus Lukas 24:13-35 oleh Jacobus Tarigan, Pr

Ilustrasi. AI Gemini

SALAH satu tema paling mendalam dalam spiritualitas Injil Yohanes adalah kata “tinggal”. Dalam Yohanes 15:9–11 Yesus berkata: “Tinggallah di dalam kasih-Ku.” Ajakan ini bukan sekadar undangan moral agar manusia tetap setia kepada Tuhan. Di dalamnya tersimpan suatu spiritualitas yang sangat mendalam: spiritualitas persekutuan, kehadiran, dan persatuan hidup dengan Kristus. Tema yang sama secara indah muncul kembali dalam kisah para murid Emaus (Luk 24:13–35), ketika kedua murid memohon: Mane nobiscum, Domine! “Tinggallah bersama kami, Tuhan.” Dua teks ini sebenarnya saling menerangi. Yohanes 15 memperlihatkan undangan Allah agar manusia tinggal dalam kasih-Nya, sedangkan kisah Emaus memperlihatkan kerinduan manusia agar Tuhan tetap tinggal bersamanya. Di antara keduanya terbentang spiritualitas Gereja sepanjang zaman. Tulisan ini hendak merefleksikan makna teologis dan liturgis dari kata “tinggal” dalam terang Injil Yohanes dan pengalaman Emaus, serta relevansinya bagi kehidupan Gereja dewasa ini.

I. MAKNA “TINGGAL” DALAM INJIL YOHANES

1. Kata Menein: Tinggal sebagai Persekutuan Hidup

Dalam Injil Yohanes, kata Yunani yang dipakai adalah μένειν (menein) yang berarti: tinggal, menetap, berdiam, bertahan dalam suatu relasi. Kata ini muncul berulang kali dalam Injil Yohanes dan menjadi salah satu kata kunci teologi Yohanes. “Tinggal” bukan sekadar keberadaan fisik atau kedekatan sementara, melainkan menunjuk pada kedalaman relasi eksistensial. Karena itu ketika Yesus berkata: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh 15:4), Yesus sedang berbicara tentang persatuan hidup antara Allah dan manusia. Relasi ini bersifat timbal balik yakni manusia tinggal dalam Kristus,dan Kristus tinggal dalam manusia. Di sini iman kristiani tidak dipahami terutama sebagai sistem hukum atau kewajiban moral, tetapi sebagai kehidupan bersama Kristus.

2. Tinggal dalam Kasih

Dalam Yohanes 15:9 Yesus berkata: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku.” Kalimat ini sangat penting karena memperlihatkan bahwa kasih Kristus berasal dari kasih Bapa sendiri. Artinya: kasih yang dialami murid bukan kasih manusiawi biasa, melainkan partisipasi dalam kasih Tritunggal. Dengan demikian, “tinggal dalam kasih” berarti: hidup dalam arus kasih Allah, membiarkan diri dicintai Tuhan, dan tetap berada dalam relasi itu. Spiritualitas Yohanes bukan spiritualitas aktivitas yang gelisah, melainkan spiritualitas kedalaman.

Dunia modern sering menilai manusia dari produktivitas dan pencapaian. Namun Injil Yohanes memperlihatkan bahwa akar kehidupan rohani justru terletak pada kemampuan untuk tinggal bersama Tuhan.

3. Tinggal dan Buah Rohani

Yesus melanjutkan: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak.” (Yoh 15:5). Menarik bahwa buah bukan dihasilkan pertama-tama oleh usaha manusia, tetapi oleh persatuan dengan Kristus. Cabang tidak menghasilkan buah karena bekerja keras sendirian, melainkan karena tetap melekat pada pokok anggur. Di sini Yesus memperlihatkan hukum dasar kehidupan Rohani yaitu tanpa tinggal bersama Kristus, segala aktivitas rohani menjadi kering. Karena itu Gereja sepanjang sejarah selalu memahami doa, adorasi, liturgi, dan keheningan sebagai ruang untuk “tinggal” bersama Tuhan.

II. “MANE NOBISCUM DOMINE”: SPIRITUALITAS EMAUS

1. Jalan Kekecewaan dan Kehilangan Harapan

Kisah Emaus (Luk 24:13–35) dimulai dengan dua murid yang berjalan meninggalkan Yerusalem. Mereka kecewa dan kehilangan harapan setelah kematian Yesus. Menarik bahwa Yesus berjalan bersama mereka, tetapi mereka tidak mengenali-Nya. Ini menggambarkan pengalaman rohani manusia: Tuhan hadir, tetapi hati manusia sering tertutup oleh kesedihan, luka,dan kekecewaan. Namun Yesus tidak meninggalkan mereka. Ia mendekati mereka dan berjalan bersama mereka.

2. “Tinggallah Bersama Kami”

Saat hari mulai malam, kedua murid berkata: Mane nobiscum, Domine, quoniam advesperascit”(Tinggallah bersama kami, sebab hari telah menjelang malam) (Luk 24:29). Kalimat ini menjadi salah satu doa paling indah dalam tradisi Gereja. Di sini tampak bahwa manusia pada akhirnya merindukan kehadiran Tuhan. Setelah hati mereka disentuh oleh Sabda, mereka takut kehilangan Dia. Doa ini lahir dari kerinduan, kerapuhan, dan kesadaran bahwa tanpa Tuhan hidup menjadi gelap. Jika Yohanes 15 memperlihatkan undangan Tuhan kepada manusia: “Tinggallah dalam kasih-Ku,” maka Emaus memperlihatkan jawaban manusia: “Tinggallah bersama kami.”

3. Puncak Emaus: Pemecahan Roti

Permohonan itu dijawab Yesus bukan dengan teori, melainkan dengan tindakan liturgis: “Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka.” (Luk 24:30). Pada saat itulah mata mereka terbuka. Kisah Emaus memperlihatkan struktur dasar liturgi Gereja: Liturgi Sabda yaitu Yesus menjelaskan Kitab Suci. Dan Liturgi Ekaristi yang mana Yesus memecahkan roti. Dan justru dalam pemecahan roti itulah para murid mengenal Yesus. Karena itu spiritualitas “tinggal” mencapai puncaknya dalam Ekaristi.Dalam Ekaristi: Kristus tinggal bersama Gereja, Gereja tinggal dalam Kristus.

Ilustrasi. AI Gemini

III. “TINGGAL” SEBAGAI SPIRITUALITAS LITURGI

1. Liturgi sebagai Tempat Tinggal Allah

Liturgi bukan sekadar rangkaian ritus religius. Liturgi adalah tempat Allah tinggal bersama umat-Nya. Dalam seluruh sejarah keselamatan, kerinduan terbesar Allah adalah tinggal bersama manusia: Allah berjalan bersama Adam, Allah tinggal dalam Kemah Pertemuan, Allah hadir dalam Bait Allah, dan akhirnya Allah tinggal dalam Kristus. Puncaknya tampak dalam Yohanes 1:14: “Sabda itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.” Kata “tinggal” di sini secara harafiah berarti “mendirikan kemah”. Allah berkemah di tengah manusia. Liturgi Gereja melanjutkan misteri ini.

2. Ekaristi dan Kehadiran yang Tinggal

Dalam adorasi Ekaristi, Gereja sebenarnya sedang menghidupi spiritualitas Yohanes 15 dan Emaus. Di sana umat tidak pertama-tama “melakukan sesuatu”, melainkan: tinggal, diam, memandang, dan membiarkan diri dipandang oleh Kristus. Santo Yohanes Paulus II dalam dokumen Mane Nobiscum Domine menegaskan bahwa Gereja hidup dari Ekaristi karena di sanalah Kristus tetap tinggal bersama umat-Nya. Maka setiap perayaan Ekaristi sesungguhnya merupakan jawaban atas doa Emaus: “Tinggallah bersama kami, Tuhan.”

Doa Emaus: “Tinggallah bersama kami, Tuhan.”

3. Krisis Manusia Modern: Tidak Mampu Tinggal

Salah satu krisis manusia modern adalah ketidakmampuan untuk tinggal: tinggal dalam keheningan, tinggal dalam doa, tinggal dalam relasi, tinggal dalam kasih. Manusia modern terus bergerak, tetapi sering kehilangan kedalaman. Karena itu ajakan Yesus: “Tinggallah di dalam kasih-Ku,” menjadi sangat profetis. Dunia menawarkan hiburan cepat, tetapi Kristus menawarkan kediaman. Dunia menawarkan pelarian, tetapi Kristus menawarkan persekutuan.

IV. SUKACITA YANG LAHIR DARI “TINGGAL”

Yesus berkata: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” (Yoh 15:11). Menarik bahwa sukacita dalam Injil Yohanes lahir bukan dari keberhasilan duniawi, melainkan dari tinggal dalam kasih Kristus. Di sini dapat dibedakan dua nuansa sukacita dalam tradisi Latin: Gaudium dan “Laetitia”. Kata “Gaudium berarti sukacita batin yang mendalam. tenang, spiritual, tidak tergantung keadaan luar. Inilah sukacita yang lahir karena manusia mengetahui dirinya dicintai Allah. Dan kata latinLaetitia” artinya kegembiraan yang memancar keluar. wajah yang teduh, keramahan, harapan, dan kehangatan. Jika gaudium adalah akar sukacita, maka laetitia adalah bunganya. Dan keduanya lahir dari tinggal bersama Kristus.

Penutup

Spiritualitas kristiani pada akhirnya adalah spiritualitas “tinggal”. Yesus mengundang“Tinggallah di dalam kasih-Ku.” Dan Gereja menjawab: Mane nobiscum, Domine! “Tinggallah bersama kami, Tuhan.” Di antara dua seruan ini terbentang seluruh misteri hidup Gereja. Yakni Allah yang mencari manusia,dan manusia yang merindukan Allah. Keduanya bertemu dalam Ekaristi, tempat Kristus tetap tinggal bersama Gereja-Nya. Karena itu iman kristiani bukan pertama-tama tentang melakukan banyak hal bagi Tuhan, melainkan belajar tinggal bersama-Nya. Dan mungkin di situlah letak damai terdalam manusia bukan ketika ia memiliki segalanya, melainkan ketika ia akhirnya menemukan tempat tinggal bagi hatinya di dalam Kristus. “Mane nobiscum, Domine”(Tinggallah bersama kami, Tuhan) agar kami tetap tinggal dalam kasih-Mu (JT).

KARDINAL SUHARYO: INI DUA ALASAN PENTINGNYA BAHASA INDONESIA DIGUNAKAN VATIKAN

Jakarta, Selasa (05/05/2026) – Ada dua alasan utama, penggunaan bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatikan penting dan strategis. Yang pertama adalah dari sudut diplomasi internasional. Dan, yang kedua adalah dari sudut dinamika Gereja Katolik Indonesia,

Demikian disampaikan Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo saat menerima kunjungan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesiia (PWKI) di Wisma Keuskupan Agung Jakarta pada Senin (04/05/2026). Dalam kunjungan tersebut, PWKI melaporkan kegiatan kunjungan ke Vatikan pada pekan terakhir pada Maret 2026.

Dalam kesempatan itu, PWKI juga menyerahkan oleh-oleh dari Duta Besar RI untuk Takhta Suci M Trias Kuncahyono berupa buku “75 Tahun Hubungan Diplomatik antara Indonesia dan Takhta Suci”. Buku tersebut diterbitkan PWKI dan Palmerah Syndicate.

Rombongan PWKI yang hadir adalah Mayong Suryo Laksono (Penasihat), AM Putut Prabantoro (Founder), Asni Ovier Dengan Paluin (Ketua), Lucius Gora Kunjana dan Stanislaus Jumar Sudiyana (Sekretaris), Bonfilio Mahendra Wahanaputra (Hubungan Antarlembaga), serta Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto (Hubungan Luar Negeri). PWKI adalah inisiator dibalik digunakannya bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatikan.

Kardinal Suharyo menyambut baik ditandatanganinya MoU penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News.

“Kehidupan Gereja Katolik Indonesia itu sangat maju, dinamikanya sangat hidup, namun kekurangannya informasinya tidak tersebar luas. Karena itu bagi saya pribadi yang paling diharapkan adalah bagaimana cerita-cerita mengenai gereja di Indonesia yang menginspirasi itu tersebar luas dan bisa dimengerti oleh forum luar negeri,” tandasnya.

Diurai lebih lanjut bahwa, menyusul penandatanganan MOU penggunaan bahasa Indonesia secara resmi, komunikasi yang selama ini terhambat diharapkan dapat dibuka. Banyak cerita positif dari Indonesia selama ini tidak dapat dikomunikasikan secara internasional. Semoga sekarang sudah mendapat pintu masuknya. Setelah MOU ini, diharapkan cerita positif tentang Indonesia banyak dan dapat disebarkan ke seluruh dunia,” ujar Kardinal Suharyo.

Pada 10 April 2024, secara resmi delegasi PWKI yang dipimpin oleh Mayong Suryo Laksono berpamitan kepada Kardinal Suharyo terkait rencana kerjasama penggunaan bahasa Indonesia oleh Vatikan. Inisiasinya secara resmi sendiri sudah dilakukan pada bulan Juni 2022. Dan penandatanganan MOU penggunaan bahasa Indonesia secara resmi dilaksanakan pada 25 Maret 2026. PWKI hadir dalam penandatangan MOU antara Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Vatikan dan Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komisi Komsos KWI) di Vatikan.

Kardinal Suharyo: Harapan Gereja Katolik Indonesia

Mayong Suryo Laksono (Penasihat), AM Putut Prabantoro (Founder), Asni Ovier Dengan Paluin (Ketua), Lucius Gora Kunjana dan Stanislaus Jumar Sudiyana (Sekretaris), Bonfilio Mahendra Wahanaputra (Hubungan Antarlembaga), serta Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto (Hubungan Luar Negeri). PWKI adalah inisiator dibalik digunakannya bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatikan.

Dalam pertemuan pada sore itu, Kardinal Suharyo juga mengingatkan berbagai persoalan yang mungkin dihadapi dalam konteks penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News nanti.

“Misalnya, dulu pernah edisi bahasa Indonesia dari Radio Veritas di Filipina. Karena biayanya makin lama makin besar akhirnya diputuskan KWI untuk dihentikan. Itu sudah lama sekali. Jadi tantangannya seperti itu, tidak mudah,” ucap Mgr Suharyo.

Di sisi lain, Kardinal Suharyo mengatakan bahwa Gereja Katolik Indonesia sebenarnya lebih lebih maju, terutama dibandingkan di Eropa. Dia mencontohkan soal agenda yang akan dibahas pada Sinode atau sidang para Uskup di Roma, Juni mendatang.

“Yang dibicarakan nanti sebenarnya sudah kita lakukan di sini 20 tahun lalu. Tema berjalan bersama, misalnya, kan kita sudah sejak awal berjalan bersama, seolah-olah itu barang baru,” katanya.

“Kita sudah punya dewan paroki sejak tahun berapa itu, ada ketua lingkungan, wilayah. Itu kan berjalan bersama. Tidak pernah seorang uskup itu mengambil keputusan sendiri.Tetapi diberikan kepada paroki-paroki,” ujarnya.

Kardinal Suharyo menambahkan, jika melihat sejarah sejak tahun 1934 Gereja Katolik Indonesia sudah membicarakan apa yang dibicarakan di Konsili Vatikan II tahun 1962. “Gaudium et Spes bahwa gereja dalam dunia itu sudah dicetuskan oleh Rm Soegijapranata pada tahun 1934 dan itu tidak diberitakan luas,” imbuhnya.

Kata Kardinal Suharyo, dirinya membaca artikel terbitan tahun 1974 mengenai gereja Indonesia yang ditulis dalam bahasa Belanda yang bunyinya “Kring: Menuju Gereja yang Lain”. Menurut Kardinal Suharyo, di tulisan tersebut sudah sangat jelas orientasi gereja Katolik Indonesia sekurang-kurangnya di tanah Jawa tahun 1974. Berbeda sekali dengan orientasi gereja Katolik di Eropa sana,” ucapnya.

Oleh karena itu, Kardinal Suharyo menegaskan bahwa Gereja Indonesia maju sekali baik pemikiran-peemikirannya maupun praktik-praktiknya. “Sinode yang berlangsung satu bulan baru membicarakan. Kita di Indonesia sudah melaksanakan, sayangnya informasi tentang itu tidak keluar,” jelasnya.

Ketua PWKI Asni Ovier menambahkan, PWKI siap membantu upaya untuk mewujudkan penggunaan Bahasa Indonesia di Vatican News. Menurut Ovier, mengingat PWKI merupakan insiatior penggunaan Bahasa Indonesia dan terlibat aktif hingga Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani, PWKI ikut bertanggung jawab atas pelaksanaan MOU tersebut.

“Kami menyadari bahwa dalam pelaksanaannya nanti Komisi Komsos KWI yang memiliki otoritas. Sebagai tanggung jawab kami adalah memberi masukan kepada Komsos KWI. Dan diharapkan bahwa semua akan berjalan lancar dan memberikan harapan baik bagi bangsa, negara dan Gereja Katolik Indonesia,“ ujar Ovier.

Ovier menegaskan bahwa konten isu yang akan diangkat nantinya menyangkut perdamaian, toleransi dan kerukunan, hubungan antaragama, kemanusiaan dan kebhinnekaan. (PWKI)

RENUNGAN MINGGU PASKAH V, 3 Mei 2026

Bacaan Pertama, Kis 6:1-7
Di kalangan jemaat di Yerusalem, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena dalam pelayanan sehari-hari pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan.
Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: ”Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan firman Allah untuk melayani meja. Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.”
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itu pun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.”
Bacaan Kedua, 1Ptr 2:4-9
Saudara-saudara terkasih,  datanglah kepada Kristus, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: ”Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.”
Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: ”Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.” Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang menakjubkan. 

Bacaan Injil, Yoh 14:1-12
Dalam amanat perpisahannya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ”Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.
Kata Tomas kepada-Nya: ”Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.
Kata Filipus kepada-Nya: ”Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: ”Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.
Renungan Padat
LEBIH DARI SEKEDAR MANUAL BOOK
Bayangkan sebuah koperasi kecil yang didirikan sepuluh orang. Semua berjalan lancar — sampai anggotanya membesar, kebutuhan meledak, dan para pendiri masih ingin mengurus semuanya sendiri. Itulah persis yang terjadi di Gereja perdana.
Kis 6 mencatat sebuah krisis kecil yang berbahaya: janda-janda dari kelompok Yunani diabaikan dalam pembagian harian. Muncullah sungut-sungut — kata yang berat dalam tradisi Alkitab, gema dari padang gurun. Para rasul sadar: mereka tidak bisa sekaligus melayani firman, berdoa, sekaligus mengurus distribusi sosial. Maka dipilihlah tujuh orang — dikenal baik, penuh Roh Kudus — dan ditumpangi tangan untuk pelayanan karitatif.
Hasilnya? Firman Allah makin tersebar, jumlah murid makin bertambah.
Gereja baru saja bereklesiologi yang hidupTidak ada aturan baku. Manakala masalah dan kesulitan datang, keluhan didengar, dicari solusi, semua harus terlayani. 
Surat Petrus memberikan dasarnya: setiap orang yang datang kepada Kristus dipanggil menjadi batu hidup — material pembangunan Gereja. Bukan satu batu untuk seluruh gedung. Bukan satu tangan untuk semua pekerjaan. Masing-masing batu punya posisi, punya fungsi, punya kontribusi unik dalam bangunan yang sama.

Lalu datanglah Injil, dan Tomas bertanya dengan jujur: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi. Bagaimana kami tahu jalannya?”
Tomas sedang meminta SOP. Panduan teknis. Peta jalan yang bisa dipegang. Wajar sekali — siapa pun yang akan diberi tugas besar, ingin tahu dulu prosedurnya. Yesus tidak menjawab dengan manual book. Tidak ada sistem baku, tidak ada KPI, tidak ada protokol kaku. Yesus menjawab dengan diri-Nya sendiri: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.”
Itulah yang membuat iman Kristiani berbeda dari sistem etika manapun. Bukan kepatuhan pada aturan, melainkan relasi dengan seorang Pribadi. SOP-nya adalah Yesus sendiri —yang hidup, yang hadir, yang berkarya bersama kita.
Itu persis yang Yesus tawarkan. Bukan “buang semua aturan” — tapi “kenali Aku sampai kamu tidak butuh SOP lagi, karena kamu sudah tahu bagaimana Aku berpikir dan bergerak.”
Dan Yesus melanjutkan dengan sesuatu yang mengejutkan: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan yang lebih besar.” Kepergian Yesus bukan kehilangan — melainkan distribusi. Karya yang selama ini terpusat pada satu sosok, kini tersebar ke banyak tangan, banyak profesi, banyak konteks hidup. Dokter yang merawat dengan penuh kasih. Guru yang mendidik dengan sabar. Pengacara yang membela yang lemah. Seniman yang menciptakan keindahan. Semua adalah batu hidup. Semua sedang mengerjakan “pekerjaan yang lebih besar.”
Kita sering gelisah — seperti para murid — ketika merasa kehilangan pegangan.
Kita ingin SOP yang jelas, petunjuk yang pasti, panduan langkah demi langkah.
Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi Yesus mengundang kita melampaui kecemasan itu: percayalah kepada-Ku.
Minggu ini, tanyakan kepada diri sendiri: di mana posisiku sebagai batu hidup dalam bangunan Gereja?
Apa “pekerjaan yang lebih besar” yang dipercayakan Tuhan kepadaku — sesuai profesi, talenta, dan panggilanku?
Dan apakah aku sudah membiarkan Yesus sendiri menjadi jalanku — bukan sekadar aturan yang kuikuti, tetapi Pribadi yang kuikuti?

‭‭–
Jadi, kamu gimana?
RA

PENDAFTARAN RUN FOR KTG (Terbuka Untuk Umum) dalam Rangka 🎉 HUT Paroki Puspa Gading ke-1 🎉

Dalam rangka memeriahkan HUT Paroki Puspa Gading yang pertama, kami mengundang seluruh umat untuk berpartisipasi dalam Run for KTG yang akan diselenggarakan di:

📍 Sedayu City Kelapa Gading 

🗓 Jadwal :
Hari Sabtu, 23 Mei 2026, Pukul : 06.00 – Selesai

HADIAH:

5K Kategori Laki & Perempuan, Masing-masing
Podium 1 – Rp. 1.500,000,-  + Medali🎖️
Podium 2 – Rp. 1.000.000,-  + Medali🎖️
Podium 3 – Rp. 750.000,-  + Medali🎖️

2K Dewasa

Medali🎖️

2K – Kids (satu kategori mix laki perempuan)
Podium 1 – Rp. 1.500,000,-  + Medali🎖️
Podium 2 – Rp. 1.000.000,-  + Medali🎖️
Podium 3 – Rp. 750.000,-  + Medali🎖️

All Finisher : Medali🎖️

 

📋 Pendaftaran :

Run for KTG terdiri dari 2K untuk anak dan 5K untuk dewasa.
Untuk pendaftaran 2K untuk anak sudah termasuk dengan pendamping dewasa 1 orang.
Silakan mengisi form pendaftaran melalui tautan di bawah ini.
Pendaftaran ditutup pada 10 Mei 2026
💰 Kontribusi Komitmen :
2k – Anak & Pendamping : Rp 300.000,-
2k – Dewasa : Rp 225.000,-

5k – Dewasa : Rp 225.000,-

📌 Pembayaran :
🏦 Bank : BCA
👤 Nama Rekening : PGDP RK ST Andreas Kim Tae Gon
🔢 No. Rekening : 6322011888

Mohon melampirkan bukti transfer saat melakukan pendaftaran.

Mari tunjukkan sportivitas dan semangat kebersamaan kita.
Ayo daftar dan ramaikan HUT Paroki Puspa Gading ke-1! 🎊👟
Pertanyaan lebih lanjut dapat hubungi Panitia Pendaftaran
Ivonne : 08161926195

“Menjaga Wajah dan Suara Kita” Refleksi atas Pesan Paus Leo XIV di Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 Tahun 2026

Ilustrasi: Gemini AI

Tahun ini, Gereja Katolik merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-60. Untuk momen itu, Paus Leo XIV mengeluarkan sebuah pesan dengan judul yang sederhana namun menghunjam: Menjaga Suara dan Wajah Manusia. Bukan panduan algoritma. Bukan tips konten viral. Tapi sebuah undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya: di tengah derasnya arus digital, apakah kita masih menjaga diri kita sendiri?

Pertanyaan itu relevan bagi semua orang — bukan hanya mereka yang aktif memposting setiap hari, tetapi juga bagi mereka yang merasa aman karena memilih untuk tidak hadir di media sosial sama sekali. Karena kenyataannya, tidak ada yang benar-benar “tidak hadir” di ruang digital. Dan dari sinilah kita mulai.

Tidak Ada Posisi Netral

Banyak orang merasa bisa memilih untuk tidak ada di media sosial sebagai bentuk perlindungan diri. Pilihan itu bisa dipahami — bahkan dihormati. Namun ada satu kenyataan yang perlu kita hadapi bersama: ruang digital tidak menunggu persetujuan kita.

Seseorang bisa memfoto kita di gereja, di jalan, di acara keluarga. Dalam hitungan detik, foto itu sudah ada di internet — dengan caption yang orang lain tulis, dengan cerita yang orang lain pilih, dengan framing yang sama sekali bukan milik kita. Wajah kita sudah ada di sana, tanpa kita minta.

Maka pertanyaannya bukan lagi: mau hadir atau tidak? Pertanyaannya adalah: siapa yang akan mendefinisikan kehadiran kita itu? Ketika kita hadir dengan sadar, kita memiliki suara untuk memberikan konteks. Ketika kita absen, wajah kita tetap muncul — hanya saja tanpa suara kita sendiri.

Tidak ada posisi netral. Yang absen pun sudah hadir, hanya saja tanpa kendali atas dirinya sendiri.

Bukan Soal Teknologi, Melainkan Soal Manusia

Yang membuat pesan Paus Leo XIV tahun ini berbeda adalah titik tolaknya. Beliau tidak memulai dari data pengguna media sosial. Tidak dari ancaman kecerdasan buatan. Beliau memulai dari pertanyaan yang paling mendasar: siapa itu manusia?

“Wajah dan suara adalah ciri khas setiap orang. Keduanya menunjukkan jati diri yang unik dan tidak tergantikan, serta menjadi dasar dari setiap perjumpaan antarmanusia.”

– Paus Leo XIV, Pesan HKSS ke-60 –

Dalam bahasa Yunani kuno, kata untuk pribadi manusia adalah prósōpon — yang berarti wajah; sesuatu yang hadir di depan orang lain dan memungkinkan perjumpaan terjadi. Dalam bahasa Latin, persona berasal dari per-sonare — melalui suara. Kita adalah wajah kita. Kita adalah suara kita.

Tantangan terbesar era digital bukan soal apakah kita punya konten yang bagus. Tantangannya adalah ini: apakah wajah dan suara yang kita tampilkan di dunia digital itu benar-benar kita? Atau sudah menjadi versi lain — yang dibentuk oleh tekanan algoritma, oleh keinginan untuk disukai, oleh ketakutan dihakimi?

Paus mengingatkan bahwa sistem algoritmik mampu memengaruhi perilaku manusia secara halus, bahkan mengubah cara kita memandang diri sendiri — sering kali tanpa kita sadari sepenuhnya. Inilah yang dimaksud dengan tantangan yang sesungguhnya: bukan mesin yang jahat, melainkan diri kita yang perlahan kehilangan bentuknya sendiri.

Kabar yang Jarang Diberitakan

Di tengah narasi yang sering kita dengar — bahwa generasi muda meninggalkan Gereja — ada sisi lain yang jarang mendapat tempat di pemberitaan. Dan sisi lain itulah yang justru menjadi tanda zaman yang perlu kita baca dengan cermat.

Di Prancis, negara yang dikenal sebagai salah satu yang paling sekuler di Eropa, baptisan orang dewasa muda meningkat lebih dari empat kali lipat dalam empat tahun terakhir. Paskah 2025 mencatat rekor baptisan dewasa, naik 45% dari tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat, beberapa keuskupan melaporkan kenaikan konversi hampir 50%. Di kampus-kampus universitas, antrean kelas persiapan baptis mencapai rekor.

Yang lebih menarik: mereka yang masuk dan tinggal ini hadir di Misa lebih sering dari generasi di atas mereka. Lebih terlibat. Lebih berkomitmen. Ini bukan Katolik nominal — ini Katolik yang dipilih dengan sadar, dengan mata terbuka, setelah menimbang berbagai pilihan.

Apa yang mendorong mereka? Data menunjuk ke satu arah: mereka menemukan orang-orang Katolik yang hadir secara otentik di ruang digital. Bukan karena kontennya viral, melainkan karena wajah dan suara yang nyata menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan algoritma mana pun.

Ada satu tanda zaman lain yang tak kalah menarik: kebangkitan audio analog. Generasi yang tumbuh di era streaming tanpa batas justru kembali membeli vinyl dan kaset — bukan karena nostalgia, melainkan karena mereka rindu sesuatu yang memaksa kehadiran penuh. Kamu tidak bisa scroll sambil mendengarkan vinyl. Kamu harus ada, dengan seluruh dirimu.

Liturgi kita adalah analog. Dupa, air suci, piala, anggur dan air, gerakan tubuh, keheningan di depan tabernakel — semua itu hambatan yang disengaja, yang memaksa kehadiran penuh. Di tengah dunia yang serba instan dan nirkabel, Gereja adalah salah satu tempat paling “analog” yang tersisa. Dan justru itulah yang sedang dicari.

Dua Keberanian yang Dibutuhkan

Dari semua yang telah kita uraikan, ada dua keberanian yang kiranya perlu kita miliki — baik sebagai individu maupun sebagai komunitas beriman.

Keberanian pertama: menjadi diri yang asli di mana pun kita berada. Ini adalah pekerjaan yang mendahului segala strategi digital. Ruang digital hanya bisa memancarkan apa yang sudah terbentuk di kehidupan nyata. Seseorang yang dikenal jujur, hangat, dan bisa dipercaya dalam kesehariannya — ketika ada framing yang salah tentangnya di media sosial, orang-orang yang mengenalnya akan menjadi pembela paling efektif. Bukan karena diminta, melainkan karena mereka tahu: itu bukan orangnya.

Identitas yang kuat dan berakar adalah perlindungan terbaik di era deepfake dan disinformasi. Jauh lebih andal dari pengaturan privasi di akun mana pun.

Keberanian kedua: membawa wajah yang asli ke ruang digital. Bagi mereka yang terpanggil untuk hadir aktif di sana, prinsipnya satu: tampillah sebagai diri sendiri. Bukan versi yang dipoles untuk menyenangkan algoritma, bukan persona yang dibentuk oleh ekspektasi penonton.

“Menyerahkan proses kreatif dan fungsi mental serta imajinasi kita kepada mesin berarti mengubur talenta yang kita terima untuk bertumbuh sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Itu berarti menyembunyikan wajah kita sendiri dan membungkam suara kita.”

– Paus Leo XIV, Pesan HKSS ke-60 –

Kita tidak perlu viral. Kita tidak perlu sempurna. Kita perlu hadir — sebagai diri sendiri, dengan seluruh kedalaman yang telah dibentuk oleh perjalanan hidup kita masing-masing.

Ilustrasi: Gemini AI

Platform Mana yang Layak Dipercaya?

Pertanyaan praktis yang sering muncul adalah: platform mana yang sebetulnya layak dipercaya sebagai sarana komunikasi yang otentik? Jawabannya bisa kita temukan dari satu pertanyaan sederhana: di platform ini, apakah wajah dan suara seseorang bisa hadir dengan utuh, atau mudah dipotong dan diframing ulang?

YouTube dan podcast adalah yang paling direkomendasikan. Video atau audio panjang memberi konteks yang utuh — penonton melihat wajah, mendengar suara, dan merasakan cara berpikir seseorang secara menyeluruh. Konten semacam ini susah dimanipulasi karena keseluruhannya ada di sana. Live streaming juga masuk kategori ini: justru karena siaran langsung, tidak bisa diedit. Yang menyaksikannya tahu bahwa mereka sedang melihat sesuatu yang nyata.

Video pendek seperti Reels atau Shorts bisa dipakai, tetapi dengan sangat selektif. Wajah dan suara masih hadir, namun konteksnya sangat terbatas. Satu kalimat yang dipotong bisa kehilangan seluruh maknanya. Format ini paling baik digunakan untuk mengundang orang menuju konten yang lebih panjang — bukan untuk menyampaikan pesan yang memerlukan kedalaman.

Teks pendek tanpa wajah dan suara — status di Twitter/X, caption singkat di Facebook — adalah yang paling berisiko. Algoritmanya dirancang untuk mendorong reaksi cepat dan emosional, bukan refleksi yang dalam. Satu kalimat bisa dicabut dari konteksnya dan diberi makna yang sepenuhnya berbeda. Untuk pesan yang penting dan bernilai — medium ini bukan pilihan yang bijak.

Waspada terhadap Sumber Tanpa Wajah dan Suara

Prinsip di atas berlaku tidak hanya bagi mereka yang memproduksi konten, tetapi juga bagi kita semua sebagai penerima informasi. Di sinilah kewaspadaan yang lebih luas dibutuhkan.

Ketika kita menerima sesuatu — berita, klaim, ajakan, peringatan — ada satu pertanyaan yang perlu kita tanyakan lebih dulu: siapa yang bicara? Ada wajahnya? Ada suaranya? Ada orangnya yang bisa dimintai pertanggungjawaban?

Akun tanpa foto profil yang jelas. Nama yang tidak bisa ditelusuri. Narasi yang kuat dan meyakinkan, tetapi orangnya tidak kelihatan. Itu bukan tanda kerendahan hati. Itu tanda bahaya.

Paus Leo XIV mengingatkan bahwa algoritma mampu memengaruhi perilaku manusia secara halus, bahkan menulis ulang cara kita memahami sesuatu — tanpa kita sadari sepenuhnya. Salah satu cara paling efektif untuk melakukan itu adalah lewat konten-konten yang tidak punya wajah. Karena ketika tidak ada wajah, tidak ada pertanggungjawaban. Ketika tidak ada suara, tidak ada perjumpaan yang nyata.

Yang tersisa hanya pesan — yang bisa direkayasa, dimanipulasi, dan disebarkan oleh siapa saja untuk kepentingan apa saja.

Maka ketika kita menerima informasi — terutama yang mengundang emosi kuat, yang mendorong kita untuk segera meneruskan — ada baiknya kita berhenti sejenak. Tanyakan: ada orangnya? Ada wajahnya? Ada suaranya? Jika tidak ada — curigai dulu. Jangan teruskan dulu.

Dan satu hal lagi yang perlu kita sadari: setiap kali kita meneruskan sesuatu, kita juga sedang meminjamkan wajah kita. Kita sedang meminjamkan suara kita — untuk pesan yang mungkin kita sendiri tidak sepenuhnya memahami asalnya.

Menjaga wajah dan suara kita berarti juga memilih dengan bijak apa yang kita teruskan — dan apa yang kita biarkan berhenti di tangan kita.

Penutup: Sebuah Undangan

“Kita membutuhkan agar wajah dan suara kembali mencerminkan pribadi manusia. Kita perlu menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam tentang manusia, dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi.”

– Paus Leo XIV, Pesan HKSS ke-60 –

Esai ini bukan ajakan untuk semua orang tiba-tiba membuat kanal YouTube. Bukan pula ajakan untuk menghapus semua akun media sosial. Ini adalah undangan yang jauh lebih mendasar dari itu: kenali dirimu.

Ketahui siapa kamu, apa yang kamu yakini, apa yang kamu perjuangkan. Karena dari kedalaman itulah komunikasi yang sejati lahir — bukan dari strategi konten, bukan dari tips algoritma, melainkan dari perjumpaan yang nyata antara satu pribadi dengan pribadi yang lain.

Di ruang digital yang penuh wajah-wajah palsu, filter, dan konten yang direkayasa — kehadiran yang otentik adalah sesuatu yang langka. Langka berarti berharga. Dan yang berharga akan ada yang mencari.

Kamu memiliki sesuatu yang tidak bisa disimulasikan oleh mesin mana pun: dirimu yang sesungguhnya, dengan seluruh cerita hidupmu, dengan seluruh pergumulan dan keyakinanmu.

Jangan sembunyikan itu.

Jaga wajahmu. Jaga suaramu. Karena dunia sedang sangat membutuhkan keduanya. (*)

 

KomsosKAJ · Rm. Reynaldo Antoni Haryanto, Pr

Komisi Komunikasi Sosial · Keuskupan Agung Jakarta · 2026

Memulihkan Rasa: “Gereja di Tengah Kota yang Kehilangan Kepekaan”

Ilustrasi: Gemini AI

Ada sesuatu yang diam-diam kita sedang kehilangan. Bukan benda, bukan uang, bukan waktu — tetapi rasa. Kemampuan manusiawi yang paling mendasar untuk merasakan dunia sebagaimana adanya.

Rasa adalah jembatan antara manusia dan realitas. Matahari menimbulkan panas di kulit. Es menyentuhkan dingin di jari. Jalan yang rusak menggetarkan tubuh. Hujan menyegarkan paru-paru. Semua itu bukan sekadar data sensorik — itu adalah cara kita hadir di dunia, cara kita tahu bahwa kita hidup, bahwa ada dunia di luar diri kita yang nyata dan perlu direspons.

Namun perlahan, tanpa kita sadari, lapisan demi lapisan teknologi dibangun di antara kita dan realitas itu. AC menggantikan angin. Mobil menggantikan kaki. Layar menggantikan muka. Mal menggantikan pasar. Setiap lapisan hadir dengan alasan yang masuk akal — kenyamanan, efisiensi, keamanan. Tapi akumulasi dari semua lapisan itu menghasilkan sesuatu yang mengkhawatirkan: manusia yang hidup di dalam gelembung, yang tidak lagi tahu seperti apa rasanya dunia di luar.

Di Atas Sadel, Mengenal Kota

Saya rutin bersepeda ke kantor. Setiap hari saya merasakan panas matahari Jakarta di tengkuk, keringat yang mengalir, bising kendaraan yang masuk ke telinga, polusi yang tercium, getaran jalan berlubang yang terasa di telapak tangan. Banyak orang bertanya mengapa tidak naik mobil saja.

Jawabannya sederhana: karena dengan sepeda, saya tahu Jakarta. Bukan sebagai pemandangan dari balik kaca, tapi sebagai kenyataan yang dirasakan tubuh. Jalan berlubang itu bukan statistik — saya merasakannya. Panas itu bukan data cuaca — saya menanggungnya. Dan karena saya merasakannya, saya tidak bisa berpura-pura bahwa itu tidak ada.

Inilah yang terjadi ketika rasa diputus: kita menjadi penonton, bukan peserta. Dan penonton tidak merasa perlu berbuat apa-apa.

Kota yang Dirancang untuk Tidak Merasakan

Jakarta, saya khawatir, sedang dibangun untuk mematikan rasa itu secara sistematis. Perhatikan polanya: jalan layang memindahkan kita dari jalan kampung; apartemen vertikal menggantikan gang yang hiruk-pikuk; ojek online meniadakan kebiasaan menunggu bareng di pinggir jalan sambil berbincang dengan orang asing. Semua pertemuan yang tidak direncanakan, semua kontak yang tidak nyaman, semua momen yang memaksa kita bersentuhan dengan realitas sesama — satu per satu dihapus.

Ini bukan kebetulan. Manusia yang tidak merasakan kota tidak akan marah dengan kotanya. Warga yang terisolasi dalam kenyamanan pribadi tidak akan menuntut ruang publik yang layak. Orang yang tidak pernah kepanasan tidak akan peduli dengan mereka yang tidak punya AC. Mematikan rasa adalah cara paling halus untuk mematikan kepedulian, dan akhirnya mematikan resistensi.

Sentir: Warisan Ignatian yang Terlupakan

Ignatius dari Loyola, dalam Latihan Rohani-nya, menggunakan sebuah kata yang sering luput dari perhatian: sentir — merasakan. Bagi Ignatius, perjalanan rohani bukan pertama-tama soal memahami doktrin yang benar, melainkan soal merasakan kehadiran Allah dan gerak Roh dalam kehidupan konkret. Consolation dan desolation — dua konsep kunci dalam discernment Ignatian — bukan abstraksi teologis. Mereka dirasakan di dalam tubuh dan jiwa, dalam riak perasaan yang nyata.

Karena itu, tradisi Ignatian tidak pernah mengajak kita untuk melarikan diri dari dunia demi mencapai yang rohani. Sebaliknya, semangat contemplativi in actione — berkontemplasi dalam tindakan — justru mendorong kita masuk lebih dalam ke dalam dunia dengan mata dan hati yang terbuka. Bukan pelarian ke ketenangan buatan, melainkan keterlibatan penuh dengan realitas.

Prinsip Finding God in All Things — mencari dan menemukan Allah dalam segala hal — menjadi tidak mungkin dijalankan oleh orang yang terus-menerus membentengi dirinya dari pengalaman langsung. Bagaimana kita bisa menemukan Allah dalam penderitaan sesama, jika kita tidak membiarkan diri kita benar-benar merasakan penderitaan itu? Bagaimana kita bisa menemukan Allah dalam wajah orang miskin, jika kita hanya mengenalnya sebagai data statistik dari balik layar kaca mobil?

Dan di balik semua ini berdiri misteri Inkarnasi. Allah tidak mengirim memo, tidak mengirim sinyal digital. Allah masuk ke dalam rasa yang asli — lapar, haus, lelah, panas terik di Galilea, debu jalan yang menempel di kaki. Inkarnasi adalah pernyataan paling radikal bahwa pengalaman tubuh adalah jalan yang sah menuju Allah — bukan hambatan yang harus diatasi.

Ilustrasi: Gemni AI

Gereja sebagai Ruang Pemulihan Rasa

Di tengah arus ini, gereja dipanggil untuk menjadi ruang yang melawan — bukan dengan slogan, tetapi dengan keputusan-keputusan konkret tentang bagaimana ruang ibadah itu dibangun dan dirasakan.

Karena itulah saya menahan perbaikan AC di Gereja Loyola. Bukan karena tidak peduli dengan kenyamanan umat, tetapi karena percaya bahwa gereja bukan pelarian dari dunia — gereja adalah ambang batas antara yang sakral dan yang sehari-hari. Orang masuk membawa seluruh hidupnya: kelelahan minggu ini, gerahnya perjalanan tadi, beratnya beban yang dipikul. Dan semua itu adalah bahan doa yang otentik — bukan sesuatu yang harus disterilkan sebelum masuk ke hadirat Tuhan.

Gereja yang terlalu dingin secara tidak sadar menyampaikan pesan: tinggalkan duniamu di luar pintu. Padahal misa justru mengundang sebaliknya — bawa duniamu ke sini, letakkan di altar, dan terimalah kekuatan untuk kembali ke sana dengan lebih utuh.

Keheningan yang Tidak Membutuhkan Kesunyian

Untuk alasan yang sama, saya menangguhkan rencana meredam suara kebisingan dari arah rel kereta Cik Di Tiro.

Suara kereta itu bukan gangguan. Suara itu adalah Jakarta yang masuk ke dalam doa. Di balik setiap rangkaian kereta ada ratusan manusia — yang lelah, yang buru-buru, yang membawa harapan dan kekecewaan. Ketika suara itu masuk ke dalam gereja di tengah keheningan misa, ia bukan memecah keheningan — ia mengisi keheningan itu dengan realitas yang harus kita doakan.

Keheningan sejati bukan absennya suara. Keheningan sejati adalah kedalaman batin yang tidak tergoyahkan oleh suara dari luar. Dan itu adalah latihan spiritual yang jauh lebih tinggi — karena keheningan yang hanya bisa hadir dalam kondisi sunyi adalah keheningan yang rapuh, bergantung pada kondisi eksternal. Keheningan yang lahir di tengah deru kota adalah keheningan yang bisa dibawa ke mana-mana: ke pasar, ke kantor, ke keluarga, ke kehidupan yang tidak pernah sunyi.

Ignatius sendiri menemukan kedalaman spiritualnya bukan di biara yang terpencil, melainkan di jalanan, di rumah sakit, di lorong-lorong kota. Contemplativi in actione bukan hanya slogan — itu adalah deskripsi nyata tentang bagaimana seorang Ignatian berdoa: dengan mata terbuka, dengan telinga yang mendengar suara dunia, dengan hati yang tetap tertambat pada Allah di tengah kebisingan.

Rasa sebagai Jembatan Menuju Tindakan

Semua ini bermuara pada satu keyakinan: rasa adalah jembatan menuju tindakan. Orang tidak bergerak karena tahu sesuatu itu benar secara intelektual. Orang bergerak karena merasakan sesuatu itu penting dengan seluruh keberadaannya.

Liturgi, dalam pengertian yang paling dalam, adalah sekolah rasa. Bukan sekadar ritual yang dijalankan, tetapi pembentukan kepekaan manusiawi yang terus-menerus. Orang masuk dengan rasa yang tumpul karena terlalu lama di dalam gelembung — dan diajak keluar dengan rasa yang diasah, siap merasakan dunia lebih dalam.

Ite, missa est. Pergilah, kamu diutus. Bukan pergilah, kamu sudah selesai. Pengutusan itu bukan sekadar kata-kata di akhir misa — ia harus terasa di tubuh, dimulai dari gereja yang tidak memutus umat dari realitas dunia di luar.

Gereja yang memulihkan rasa adalah gereja yang menolak menjadi gelembung. Gereja yang membiarkan panas, bising, dan semua ketidaknyamanan kota sedikit masuk ke dalamnya — supaya umat yang keluar tidak perlu beradaptasi lagi dengan dunia nyata, karena mereka tidak pernah meninggalkannya.

Itu gereja yang benar-benar hadir di kota. Dan dari kehadiran yang sungguh-sungguh itulah lahir kepedulian yang sungguh-sungguh — kepedulian yang tidak cukup hanya dipikirkan, tetapi harus dirasakan, dan akhirnya diperjuangkan.

Ditulis dari kegelisahan seorang pastor yang memilih bersepeda di Jakarta.

RENUNGAN MINGGU PASKAH IV, 26 April 2026

Bacaan Pertama, Kis 2:14a.36-41
Pada hari Pentakosta bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada orang-orang Yahudi: ”Seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ”Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka: ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”
Dan dengan banyak perkataan lain lagi Petrus memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: ”Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”
Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.”
‭‭
Bacaan Kedua, 1Ptr 2:20b-25
Saudara-saudara terkasih, jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Bacaan Injil, Yoh 10:1-10
Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”
Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.
Maka kata Yesus sekali lagi: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Renungan Padat
MASUK MELALUI PINTU YANG BENAR
Yesus berbicara tentang domba, kandang, dan pintu. Tapi sebelum sampai ke “Akulah Gembala yang Baik” — yang akan kita dengar minggu depan — Ia memperkenalkan diri dengan cara yang lebih mengejutkan:
“Akulah pintu.”
Bukan hanya penunjuk jalan. Bukan hanya pemandu. Pintunya sendiri adalah pribadi-Nya.
Petrus hari ini muncul di dua bacaan sekaligus — dan keduanya berbicara tentang pintu yang sama dari dua sisi yang berbeda. Di Kisah Para Rasul, Petrus berdiri di depan orang banyak dan berbicara keras: “Yesus yang kamu salibkan itu — Dialah Tuhan dan Mesias.” Tidak ada diplomasi.
Orang-orang itu tertikam hatinya dan bertanya: “Apa yang harus kami perbuat?”
Jawaban Petrus sederhana: bertobatlah dan dibaptislah. Itu pintu masuknya.
Pertobatan dan pembaptisan bukan ritual kosong — itu langkah konkret untuk melewati pintu yang bernama Yesus.
Tapi Petrus di Surat Pertamanya bicara kepada mereka yang sudah ada di dalam. Dan ternyata masuk melalui pintu yang benar bukan akhir dari perjalanan. Justru di sanalah tuntutan hidup yang baru dimulai. Jangan berbuat dosa lagi. Ketika menderita — jangan membalas. Ketika dihina — jangan mengancam. Hidup untuk kebenaran, bahkan ketika itu terasa berat.
Standar yang tinggi. Tapi Petrus tidak membiarkannya mengambang sebagai aturan abstrak. Ia menunjuk langsung pada satu teladan konkret: Yesus sendiri. Di sinilah ada ironi yang indah.
Yesus adalah pintu — tapi Ia juga yang paling tahu rasanya berada di luar. Ia yang menanggung penderitaan tanpa membalas, diam seperti domba di hadapan pencukurnya. Gembala yang menjadi domba. Pintu yang merasakan sendiri apa artinya melewati penderitaan dari arah yang paling dalam.
Maka tuntutan hidup setelah masuk melalui pintu itu bukan beban dari luar. Itu undangan untuk mengikuti jejak Dia yang sudah lebih dulu melewatinya — dari arah yang lain.
“Kamu sesat seperti domba,” kata Petrus, “tetapi sekarang kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.”
Kita semua pernah mencari pintu yang lain — pintu kenyamanan, pintu pengakuan, pintu yang tidak menuntut apa-apa. Dan kita tahu hasilnya. Pintu yang benar hanya satu. Dan di sana ada Dia yang mengenal nama kita, yang sudah lebih dulu menanggung apa yang kita takutkan, yang mengundang kita masuk — bukan untuk hidup semau kita, tapi untuk hidup seperti Dia.
Jadi, kamu gimana?
RA

‭‭

Terbaru

Populer