Setahun, Darah, dan Rosario dari Pasir Sungai Han
Ada papan kecil berwarna kuning di depan pintu masuk itu.
“Mohon Alas Kaki Dilepas.”
Saya membacanya, mengangguk, lalu duduk sebentar untuk melepas sepatu. Tapi di dalam, ketika saya mulai berjalan dan melihat satu per satu apa yang ada di ruangan itu — saya sadar: bukan cuma alas kaki yang perlu dilepas untuk masuk ke tempat ini.

Galeri Kemartiran Santo Andreas Kim Tae-gon baru saja diresmikan oleh Bapa Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, sebagai bagian dari perayaan ulang tahun pertama Paroki Santo Andreas Kim Taegon, Puspa Gading. Satu tahun. Angka yang terdengar kecil untuk sebuah paroki.
Tapi satu tahun bukan angka kecil di sini.
Andreas Kim Taegon baru kurang lebih setahun menjadi imam ketika ia ditangkap dan dieksekusi — di tepi Sungai Han, Seoul, tahun 1846, di bawah Dinasti Joseon yang melarang agama Kristen. Ia ditahbiskan pada 17 Agustus 1845. Imam muda. Baru saja memulai. Tapi kesaksiannya tidak tanggung-tanggung.
—
Saya punya hubungan tersendiri dengan tempat ini. 22 Agustus 2013, tepat setelah tahbisan imam saya, saya bertugas di sini — waktu itu masih stasi, bergantung pada induknya, Paroki Kelapa Gading, Gereja Santo Yakobus. Sampai awal 2014. Saya, imam baru yang juga baru seumur jagung, ikut bertumbuh di komunitas yang waktu itu juga masih sedang mencari bentuknya.
Perjalanan menuju paroki itu panjang. Dan kini gerejanya sudah berdiri megah — dengan gaya arsitektur yang tidak menyembunyikan akar spiritualnya: Korea, dari ujung atap hingga ornamen pilarnya.
—
Di tengah galeri, sebuah patung Andreas berdiri di atas penopang bulat yang dikelilingi panel-panel kisah hidupnya — berputar seperti lingkaran waktu.

Tahun 2019 silam, saat masih bertugas di Paroki Ciputat, saya mengunjungi situs ziarah di Korea Selatan — tempat para martir Korea dimakamkan. Saya masih ingat udaranya. Hening yang berbeda. Berat, tapi damai.
Galeri ini membawa saya kembali ke sana — tapi dari dalam Puspa Gading.
Diorama-diorama di sepanjang dinding menceritakan perjalanan St. Andreas Kim Tae-Gon secara runtut: pembaptisannya, studi untuk menjadi imam, penahbisan, Misa perdana yang dipersembahkan diam-diam di pedesaan Korea — karena saat itu beriman saja sudah cukup untuk dibunuh. Sampai pada momen ketika ia tertangkap di tepi laut — saat sedang membuka jalur masuk bagi para misionaris lain. Dan akhirnya: eksekusi di tepi Sungai Han.

Saya berdiri cukup lama di depan diorama itu.
Ada sesuatu yang berbeda ketika sejarah tidak hanya dibaca — tapi dilihat, didekati, dirasakan dari jarak yang sangat dekat. Miniatur-miniatur itu kecil, tapi berat.
Dan di ruang berikutnya, kata-kata Andreas sendiri tertulis besar di dinding — dalam bahasa Indonesia, Korea, dan Inggris — di atas siluet-siluet para martir yang berdiri berdampingan.
Saya membaca pelan-pelan. Dan ketika mata saya bergeser ke sudut kanan — di balik kaca, diam, tidak ramai — ada dua butir rosario.
Dibuat dari pasir. Pasir tepi Sungai Han. Pasir yang menyerap darah Andreas dan para martir lainnya pada hari eksekusi mereka.
Asli. Dibawa dari sana.

Masih banyak yang ada di dalam galeri ini yang tidak saya ceritakan di sini. Sengaja.
Ada hal-hal yang tidak cukup hanya dibaca. Harus didatangi. Harus dirasakan dari dekat. Masuk ke dalam.
Galeri Kemartiran Santo Andreas Kim Taegon kini terbuka di kompleks Gereja Santo Andreas Kim Taegon, Puspa Gading. Datanglah. Lepaskan alas kakimu di depan pintu itu.
Dan bersiaplah melepas lebih dari sekadar itu.
—
Selamat Hari Ulang Tahun yang pertama Paroki Puspa Gading, Gereja St. Andreas Kim Taegon.
22 Mei 2026
Rm Reynaldo Antoni Haryanto, Pr











