Kardinal Suharyo dan Tokoh Agama Hadiri Peringatan Sumpah Pemuda di Halaman Gereja Katedral

213
Kardinal Suharyo dan Tokoh Agama Hadiri Peringatan Sumpah Pemuda di Halaman Gereja Katedral

Hai para pemuda dan pemudi Indonesia. Apa yang bisa kalian ingat dari hari-hari ini? Apakah semangat dari para pendahulu itu masih tersisa di dada kita semua? Apakah keinginan untuk bersatu itu masih ada? Kenapa sekarang kita diserang badai perbedaan yang makin tajam?

Rentetan pertanyaan itu menandai akhir pertunjukan video mapping yang ditampilkan pada dinding muka Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, atau yang biasa dikenal sebagai Gereja Katedral, Jakarta, Senin (28/10/2019) malam. Tidak kurang dari 12 proyektor menembakkan citra video ke bagian muka gereja yang telah berusia lebih dari 100 tahun itu.

Malam itu, 91 tahun yang lalu, Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 ditutup, dan menghasilkan resolusi, ”Sumpah Pemuda”. Selama tiga hari berturut-turut, 26-28 Oktober 2019, bagian muka Katedral Jakarta menjadi kanvas untuk lukisan cahaya video mapping dalam rangka memperingati tonggak sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia tersebut.

Selama 15 menit, ratusan hadirin yang memenuhi halaman Gereja Katedral dipuaskan dengan permainan cahaya yang ditampilkan. Para penonton seakan mendapatkan kursus kilat akan sejarah pergerakan kemerdekaan.

Tokoh-tokoh yang terlibat dalam pendirian organisasi Boedi Oetomo ditampilkan di awal pertunjukan, mulai dari Dr Soetomo, Wahidin Sudirohusodo, hingga KH Ahmad Dahlan dan RM Tirto.

Kemudian, pertunjukan dilanjutkan dengan tampilan gambar para tokoh Kongres Pemuda I (30 April-2 Mei 1926) dan Kongres Pemuda II (27-28 Oktober 1928). Tokoh-tokoh pemuda itu antara lain Soenario, J Leimena, S Mangoensarkoro, hingga WR Supratman, M Yamin, dan Soegondo Djojopoespito.

Para tokoh proklamasi pun ditampilkan di antara relief neogotik Katedral, dari dwitunggal Soekarno-Hatta hingga tokoh muda Sutan Syahrir.

Lalu, di tengah pertunjukan, para hadirin disuguhi sentuhan aransemen komposer Addie MS pada karya klasik Alfred Simanjuntak, ”Bangun Pemuda Pemudi”. Lirik lagu itu pun disorotkan ke muka Katedral sehingga tidak sedikit hadirin yang turut bersenandung.

Merawat sejarah

Melalui video mapping itu, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ingin menghidupkan ingatan bahwa kesadaran kolektif berbangsa tidak hanya bermula saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, tetapi telah lama sebelumnya.

”Sumpah Pemuda bersama-sama dengan Kebangkitan Nasional 1908 dan dimaklumatkannya Pancasila sebagai landasan negara kita adalah tonggak-tonggak sejarah yang sangat menentukan bagi bangsa Indonesia,” kata Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo dalam pidatonya saat menyambut ratusan hadirin yang memadati halaman depan Katedral Jakarta.

Suharyo mengatakan, video mapping adalah upaya KAJ untuk merawat kembali ingatan bersama—tidak hanya akan Sumpah Pemuda—tetapi juga komitmen para pendiri bangsa yang sepakat mewujudkan cita-cita kemerdekaan dengan dasar persaudaraan yang melampaui sekat-sekat agama, suku, ataupun ras.

”Dengan merawat ingatan bersama secara kreatif, kita akan mempunyai kekuatan bersama yang besar untuk terus mempererat persaudaraan, untuk terus bersama-sama mengatasi segala macam tantangan bangsa kita,” kata Mgr Suharyo didampingi para pemuka lintas agama.

Sejarawan Anhar Gonggong sepakat dengan Suharyo. Menurut dia, persatuan sebagai aspek yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia yang beragam, terwujudkan secara nyata saat Kongres Pemuda II.

Saat itu, para pemuda dengan beragam latar belakang dapat mengesampingkan perbedaan dan menggelar dialog dan kemudian bersatu, bergotong royong, untuk kemajuan bersama bangsa Indonesia.

”Sumpah Pemuda dan bahkan Indonesia dilahirkan oleh anak-anak muda dengan kecerdasan otak dan kecairan hati,” kata Anhar.

Melalui rekaman video, Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar pun menyatakan bahwa generasi muda Indonesia saat ini harus meneladani para pendahulu. Mereka dapat menyingkirkan perbedaan identitas dan bekerja sama demi lahirnya bangsa Indonesia yang merdeka.

”Mari kita menciptakan bangsa Indonesia yang sangat kuat, apa pun agamanya, apa pun etniknya, apa pun jenis kelaminnya, mari kita bahu-membahu sebagai warga negara Indonesia untuk mengangkat martabat keindonesiaan sehingga dapat memiliki daya saing internasional dan insya Allah akan berjaya di masa datang,” kata Nasaruddin.

Sumber: https://bebas.kompas.id/baca/utama/2019/11/01/gereja-katedral-dan-sumpah-pemuda-1928/