Kerahiman yang Memerdekakan dalam Allah Tritunggal

565
Allah Tritunggal, saling melengkapi untuk mewujudkan kerahiman Allah yang memerdekakan. Sumber : http://www.catholicjournal.us/wp-content/uploads/Trinity-Sunday-1.jpg
Kerahiman yang Memerdekakan dalam Allah Tritunggal
Silahkan memberi Rating!

Setiap kali berdoa, “Kemuliaan” seringkali didoakan sebagai bentuk keyakinan kita akan tiga pribadi Allah yang maharahim yakni sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Mengapa Allah mau hadir dalam tiga pribadi ini yang cukup rumit untuk dijelaskan? Pertanyaan ini memang dapat dijawab oleh pengalaman iman kita akan Allah yang hidup.

Allah Tritunggal, saling melengkapi untuk mewujudkan kerahiman Allah yang memerdekakan.Sumber : http://www.catholicjournal.us/wp-content/uploads/Trinity-Sunday-1.jpg
Allah Tritunggal, saling melengkapi untuk mewujudkan kerahiman Allah yang memerdekakan. Sumber : http://www.catholicjournal.us/wp-content/uploads/Trinity-Sunday-1.jpg

Sebuah keluarga biasanya memiliki anggota keluarga yakni seorang ayah, kemudian ada ibu, serta anak-anaknya. Setiap anggota keluarga ini tentu memiliki peran khusus masing-masing. Peran yang berbeda ini berfungsi untuk saling melengkapi dan tidak untuk saling menggantikan atau bertukar peran. Contohnya, ayah tidak mungkin menggantikan peran ibu dalam mengandung dan melahirkan anak, atau anak menggantikan ayah untuk bekerja tanpa bekal pengetahuan yang cukup. Hal ini sama dengan kedudukan Allah sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Allah dapat sebagai Bapa, tetapi Bapa tidak dapat sebagai Putra atau Roh Kudus.  Allah yang Tritunggal ini saling melengkapi sehingga memperlihatkan kerahiman yang memerdekakan.

Peran Allah sebagai Putra yakni Yesus Kristus ditunjukkan Yohanes 5:31, “Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar.” dan didukung oleh Yohanes 8:17, “Dan dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua orang adalah sah.”. Yesus Kristus datang ke dunia ini untuk mewartakan kesaksian tentang kerajaan Sorga. Yesus yang menjadi manusia di dunia pun tidak sendiri dan melibatkan Allah Bapa yang melihat dari Sorga. Nah, apa jadinya apabila peran ini Yesus ditukar dengan Bapa? Tentu, pengalaman seorang ayah yang lebih banyak dari pengalaman seorang anak saling melengkapi, sehingga kesaksian Yesus menjadi kurang kalau tidak dilengkapi oleh Allah BapaNya. Dalam Yohanes 4:10, Yesus mempertegas, “Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaan-Nya.”. Allah Putra juga rela wafat di salib untuk dikorbankan bagi para sahabatnya dan peran ini tidak mungkin digantikan oleh Allah Bapa atau Allah Roh Kudus.

Sebuah paket dikirimkan melalui perantaraan kurir untuk mengantarkan paket itu sampai tujuan. Jika hal-hal tentang kerajaan Sorga ingin disampaikan ke dunia oleh Allah Bapa, maka Allah Roh Kudus yang berperan. Dalam Lukas 3:22, “Dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”. Roh Kudus memiliki peran yang cukup penting, yakni menghubungkan kerajaan Sorga yang nan jauh dimata dengan dunia kita. Maka, dalam pribadi Allah Putra, Yesus juga dibantu oleh Allah Roh Kudus untuk menyampaikan warta dari Sorga yang disampaikan Allah Bapa untuk diwartakan kembali oleh Yesus. Roh Kudus juga memiliki keunikan karena sebagai pembawa pesan baik, Dia juga memiliki hadiah bagi kita, yakni tujuh karunia Roh Kudus. Kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, takut akan Allah, dan kesalehan adalah karunia Roh Kudus. Jika memang kita percaya Allah Roh Kudus tinggal di dalam kita dan kita mau mengembangkan dan menuai karunia Roh Kudus pada lahan atau kemapuan yang kita punya, pasti kita akan memetik sembilan buah roh kudus, yakni kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Sebagai Bapa yang mengasihi anak-anaknya, tentunya Allah ingin mewujudkan kerahimannya kepada kita semua. Putranya yang terkasih telah dikurbankan karena besarnya kerahiman Allah demi memerdekakan kita semua dari perbudakkan dosa. Terlebih, pada hari Pentakosta, Allah juga turun ke dunia dalam wujud roh kudus setelah 10 hari, Sang Putra kembali naik ke Surga. Allah kita memang Maharahim, tetapi apakah kita masih mewujudnyatakan hal ini di dunia yang semakin tak terarah? Apakah kita sadar juga kerahiman Allah ini perlu diwujudnyatakan agar kemerdekaan ini juga semakin dirasakan? Apakah kita benar-benar merdeka dari dosa-dosa yang membelenggu kita? Pada intinya, kita seharusnya memang mengimani dan mendukung Allah Tritunggal yang bekerjasama untuk mewujudkan kerahiman demi memerdekakan manusia dari dosa yang membelenggu dan lebih peka lagi terhadap panggilan Allah entah dalam wujud Bapa, Putra, atau Roh Kudus.

Octavianus Bima Archa Wibowo
@patungbw27