MENCARI TUHAN DI ALAM HENING DI PERTAPAAN OSK

Deburan hujan deras selama perjalanan dari Desa Tegalsalam ke Desa Depok di Baturaden, Banyumas, Purwokerto, Jateng 4 april 2016 membuat perasaan hati adem. Meskipun harus berdesak-desakan di mobil dinas Keuskupan Semarang. Tiba Desa Depok, kami parkir langsung di samping rumah penduduk setempat yang bukan Katolik tetapi saudara dari keluarga Muslim. Dengan senyum ramah mereka menyambut kedatangan kami. Rupanya selama ini mereka sudah menjadi bagian penting bagi para peziarah yang datang ke lokasi Oasis Sungai Kerit (OSK) tempat khusus pertapaan bukan hanya kepada para kaum klerus tetapi juga bagi para awam.

Di tempat yang hanya difasilitasi jalan setapak bersemen itu dikhususkan kepada pihak-pihak yang ingin mencari Tuhan dalam keheningan dalam bentuk pertapaan dan meditasi.Tak jauh dari cerita pertapaan yang identik dengan gua-gua di sisi gunung dan lembab serta gelap, pertapaan OSK pun demikian. Pertapaan ini berada tepat di kaki Gunung Cendana dan hanya berjarak 10 km dari Gunung Slamet. “Bak harumnya Kayu Cendana” maka tak lama lagi wangi pertapaan OSK di kaki G. Cendana ini pasti akan juga menyebar ke seantero nusantara.

Rm. Maximilian mengukuhkan komitmen ke-5 volunteer dan Kaul sementara Suster calon pengikut Pelayan Pertapaan

Itu terlihat misalnya ketika Minggu 4 April 2016 ada 5 orang sukarelawan yang menyatakan kesiapannya dan komitmennya selama enam bulan ikut melayani di OSK. Selain ke-5 relawan itu ada pula seorang suster yang ikut mengikrarkan kaul sementaranya untuk jadi anggota komunitas pertapaan ini. Jadi ketertarikan orang untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan ini sebuah harapan besar di masa datang.

Seperti sejarah singkat OSK yang dituturkan oleh romo pimpinan pertapaan ini Rm. Maximilian Rukmito Er Dio, seorang imam pertapa, nama-nama lokasi maupun gunung yang ada di sekitar pertapaan secara tidak sengaja sangat mendukung visi dan misi Keuskupan Purwokerto dalam pengembangan OSK. Nama di Baturaden ini misalnya berasal dari dua kata bahasa Jawa  yaitu batur dan raden. Batur berarti “Abdi Sedang”; Raden berarti Tuan. Konon nama ini dibuat karena di lokasi ini jaman dahulu terjadi pernikahan antara seorang abdi dengan putri raja (tuan putri). “Cerita ini sangat cocok untuk menggambarkan “Pernikahan Rohani” yang diistilahkan ole St. Avilla. Pernikahan Rohani adalah kemampuan kita sebagai hamba menyatukan diri kita dengan Allah Yang Maha Kuasa,” jelas Rm. Maximilian.

Kali Cimanggis yang telah dibaptis menjadi Sungai Kerit

Selain itu nama G. Slamet juga sangat dekat dengan nama lain yang disapa oleh umatNya  dalam Perjanjian Lama sebagai Gunung Batu Keselamatan (Mzr. 89:27). Sementara Sungai Kerit adalah nama Sungai dimana Nabi Elia dalam perjanjian Lama disapa Tuhan dan diberi makan oleh burung dalam pertapaannya. Kini sungai yang mengalir di kawasan pertama yaitu Kali Cimanggis telah pula dibaptis menjadi Sungai Kerit.

Mencari Tuhan merupakan usaha manusia untuk mendekatkan diriNya kepada Penciptanya. Sedang sang Pencipta dengan belas kasihnya yang sangat besar telah menebus kembali manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dengan mengutus PutraNya sendiri. “Itulah makna terdalam dari penebusan manusia yaitu Allah yang penuh belas kasih, melebihi segala kedosaan dan kesalahan manusia,” jelas Rm. Maximilian.

Sungguh sebuah pengalaman yang sangat berharga bisa ikut meditasi sambil misa selama 2 jam di pertapaan ini pada Hari Minggu Kerahiman Ilahi 4 April 2016. Secara mendalam kita diajak untuk menyatakan Yesus sebagai sumber keselamatan dinyanyikan berulang-ulang dan membangkitkan kesadaran akan kebenaran itu.

Tapak luar Goa Pertoban

Rm. Maximilian juga yakin bahwa kehadiran pertapaan ini akan mampu melahirkan para pendoa bagi keselamatan manusia dan dunia. “Bangkitnya ISIS yang telah menelan ratusan ribu korban termasuk para imam dan suster merupakan tanda-tanda zaman yang harus kita cermati. Bom di Brussel, di kafe Australia dan di berbagai negara Eropa lainnya harusnya akan menjadi sebuah kesadaran baru bagi manusia yang  semakin menjauh dari Allah. Disinilah peran para pendoa dan pertapa memohon belas kasihan Allah bagi kita manusia dan dunia,” ungkapnya.

Dengan berkembangnya semangat pertapaan dan doa meditatif ini Rm. Maximilian berharap akan semakin banyak jiwa terselamatkan. “Bermistik dalam kesunyian doa meditative adalah suatu retret unik untuk menyucikan diri sendiri, dan mempersembahkan waktu berkualitas untuk Tuhan dan menumbuhkembangkan tempat persamaian hidup kontemplatif,” jelas Rm. Maximilian.

Contoh gubuk yang dibangun kecil-kecil untuk para pertapa

Karena itu selain mempersiapkan metode khas kontemplasi yang dia sebut Meditasi Cinta Kasih Ilahi (MCKI) di tempat ini telah pula didirikan beberapa pondok. Pondok-pondok itu berfungsi untuk  penampungan  para peserta tapa. Gubuk-gubuk yang dibangun itu kecil-kecil hanya dua hingga tiga kamar dalam satu gubuk. Tujuannya agar bangunan yang hadir tidak sampai mengganggu lingkungan (pohon, landskap) yang telah lebih dahulu ada.

Disini pun gua-gua meditasi dan tapa dibangun di batu-batu besar yang ada di lokasi. Sehingga sama sekali tidak merusak atau mengubah kondisi awalnya. Air yang bersumber dari mata air dicelah batu-batu besar itu dimanfaatkan sebagai sarana untuk lebih mendekatkan para pertapa pada alam dan Penciptanya.

Para calon pertapa bisa dalam bentuk rombongan dengan jumlah tertentu. Perorangan pun bisa tetapi harus bergabung dengan rombongan lain atau perorangan lainnya hingga mencapai jumlah tertentu. Anda tertarik bertapa di OSK, silahkan mengunjunginya.

 

Sonar Sihombing

Pengurus Komisi Komunikasi Sosial KAJ