Penculikan Massal Dorong Pengungsian Warga Kristen di Suriah
Silahkan memberi Rating!

KOMPAS.com – Penculikan hampir 100 orang Kristen Asiria oleh milisi Negara Islam atau ISIS di Suriah telah mendorong keluarga-keluarga yang ketakutan meninggalkan rumah mereka, kata para aktivis Rabu (25/2/2015, saat Washington bersumpah untuk mengalahkan kelompok militan itu.

Hampir 1.000 keluarga telah meninggalkan desa-desa di Provinsi Hasakeh di Suriah timur laut sejak penculikan pada Senin lalu. Demikian menurut data Assyrian Human Rights Network yang berbasis di Swedia. Sekitar 800 keluarga mengungsi di kota Hasakeh dan 150 lainnya di Qamishli, sebuah kota Kurdi di perbatasan dengan Turki, kata kelompok itu, yang menambahkan bahwa jumlah pengungsi itu sekitar 5.000 jiwa.

Sementara sebagian besar dari mereka disandera adalah perempuan, anak-anak atau orang tua.

news_9936_1388471836

Amerika Serikat dan PBB telah mengecam penculikan massal itu dan menuntut pembebasan para sandera. Praktik penculikan massal semacam itu baru pertama kali terjadi di negara yang dikoyak perang tersebut.

“Aksi terbaru ISIS menyasar kelompok minoritas agama hanya menjadi bukti lanjutan atas perlakuan brutal dan tidak manusiawi mereka terhadap semua orang yang tidak setuju dengan tujuan busuk mereka,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jen Psaki. Komentar senada dilontarkan Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Bernadette Meehan. “Masyarakat internasional bersatu dan tidak terpengaruh dalam tekad untuk mengakhiri kebejatan ISIS. Amerika Serikat akan terus memimpin perlawanan untuk menumbangkan dan akhirnya mengalahkan ISIS.”

iraqchristians

Dewan Keamanan PBB juga mengecam penculikan itu dan menuntut agar para sandera dibebaskan segera dan tanpa syarat.

Osama Edward, direktur Assyrian Human Rights Network, mengatakan dia yakin penculikan tersebut terkait dengan kekalahan ISIS belakangan ini dalam menghadapi serangan udara pimpinan AS yang dimulai di Suriah pada September lalu. “Mereka membawa sandera untuk menjadikan mereka sebagai perisai manusia,” katanya kepada AFP.

Dia mengatakan, ISIS, yang berperang melawan para pejuang Kurdi di darat, mungkin mencoba untuk menukar orang-orang Asiria itu dengan anggota ISIS yang ditahan. Menurut Osama, tujuan ISIS adalah mengusai desa Kristen Asiria Tal Tamer, dekat jembatan yang menghubungkan Suriah dengan Irak.

news_19561_1406728473

Menurut Syrian Observatory for Human Rights, para pejuang Kurdi telah merebut kembali tiga desa Asiria dan sebuah desa Arab di dekatnya pada Rabu. “Unit Perlindungan Rakyat (YPG) Kurdi telah merebut kembali Tal Shamiran, Tal Masri, Tal Hermel dan Ghbeish,” kata direktur Observatory, Rami Abdel Rahman. Namun pertempuran terus berlanjut di daerah itu.

Di Tal Shamiran, para milisi membakar sebagian dari sebuah gereja. Dan di desa Arab Ghbeish, ISIS memenggal empat orang, dan membakar rumah-rumah dan sebuah sekolah. Mereka menuduh para penduduk desa “berkolaborasi” dengan pejuang Kurdi.

ISIS, yang juga menguasai wilayah luas di Irak, tahun lalu telah mendeklarasikan sebuah “khilafah” Islam di daerah yang dikuasai dan telah melakukan kekejaman luas.

news_19561_1406729262-300x200

Orang-orang Asiria, salah satu dari komunitas Kristen tertua di dunia, telah berada di bawah ancaman yang meningkat sejak ISIS menguasai sebagian besar Suriah.

Pekan lalu, ISIS cabang Libya merilis sebuah video yang menunjukkan pemenggalan 21 warga Kristen Koptik, sebagian besar asal Mesir.

Edward, yang berasal dari Provinsi Hasakeh di mana terdapat 35 desa Asiria, mengatakan milisi masuk ke rumah-rumah warga pada malam hari saat orang-orang sedang tidur. Para sandera kemudian dibawa ke Shaddadi, sebuah provinsi yang menjadi basis ISIS.

Bs6SV9GCQAAxr7g

Para milisi itu telah mengintimidasi penduduk desa itu selama berminggu-minggu. “Orang-orang telah memperkirakan serangan itu, tetapi mereka berpikir bahwa entah tentara Suriah, yang hanya berjarak 30 kilometer dari sana, atau pejuang Kurdi atau serangan udara koalisi (yang dipimpin AS) akan melindungi mereka,” kata Edward.

Sementara itu, di Washington, Menteri Luar Negeri John Kerry mengatakan Amerika Serikat dan Iran punya “kepentingan bersama” dalam mengalahkan ISIS tetapi musuh lama AS itu tidak mau bekerja sama untuk melakukan hal itu. “Mereka benar-benar menentang ISIS dan mereka sebenarnya sedang bertempur dan mengeliminasi anggota ISIS di sepanjang perbatasan Irak yang dekat dengan Iran dan punya keprihatinan serius tentang apa yang akan dilakukan terhadap wilayah tersebut,” kata Kerry kepada anggota parlemen. “Jadi kita memiliki setidaknya kepentingan bersama, jika bukan sebuah upaya kerja sama.”

irakkristen

Sementara itu, Uskup Agung Katolik Hasakeh-Nisibi di Suriah menuduh Turki telah membiarkan para milisi ISIS yang bertanggung jawab atas penganiayaan terhadap orang-orang Kristen Suriah menyeberangi perbatasan tanpa diperiksa. Di sisi lain, Turki mencegah orang Kristen untuk melarikan diri. “Di utara, Turki membiarkan melalui truk-truk, para milisi Daesh (ISIS), minyak, gandum dan kapas dicuri dari Suriah: semua itu dapat menyeberangi perbatasan tetapi tidak seorang pun (dari komunitas Kristen) boleh lewat,” kata Jacques Behnan Hindo.

Sebelum perang saudara di Suriah meletus tahun 2011, ada 30.000 orang Asiria di negara itu. Saat itu, Suriah memiliki populasi orang Kristen sekitar 1,2 juta orang.

REFLEKSI IMAN:

Akhir-akhir ini kita sering disuguhi berita menyeramkan bagaimana saudara/i seiman kita dikejar-kejar, dianiaya, dan dibunuh dengan kejam. Banyak dari mereka berpindah-pindah tempat tinggal hanya agar tetap hidup. Kita dianggap kafir hanya karena perbedaan iman. Sejarah penganiyaan Kristiani seperti terulang kembali.

Kita ingat dahulu pada Jaman Tuhan, Jaman Para Murid dan Gereja Perdana, Gereja selalu dikejar-kejar, dianiaya dan dibunuh dengan sangat kejam (diadu dengan binatang buas, disalib, dibakar, dipenggal, dsb). Namun akhirnya Tuhan sendiri memenangkan Gereja-Nya.

Bukankah Yesus sendiri bersabda: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah,” (Yohanes 12:24). Darah para martir itu telah menjadi benih mati dan pupuk bagi iman untuk bertumbuh.

Bukankah juga, bahwa Tuhan sendiri juga sudah meramalkan bahwa: “Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci” (Matius 24:9-10).

Marilah kita berdoa khusus bagi Gereja kita yang dianiaya, bahwa meskipun mengalami penganiayaan dan pembunuhan yang paling kejam pun, mereka ini tetap memelihara iman mereka tidak tercemar. Meskipun jauh dari segala kesenangan, tertutup dari sinar matahari, dan tinggal di dalam gelap di dalam tanah, dibakar, dianiaya dan dibunuh dengan disiksa secara kejam; mereka tidak mengeluh sedikit pun.

Kita yakin dan percaya akan sabda Kristus bahwa ketika kita menderita, wafat dan disalibkan bersama DIA: “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan AKU di dalam Firdaus,” (Luk 23:43).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan Yesus, pada masa prapaskah ini, kami berdoa khusyuk pada-Mu memohon ampun atas segala dosa-dosa kami. Terlebih kami sadar bahwa dosa-dosa kamilah yang sudah menyakiti-Mu. Secara khusus ya Tuhan, kami turut bersedih akan putera-puteri-MU yang dikejar-kejar, dianiaya dan dibunuh dengan sangat kejam. Semoga Engkau sendiri hadir dalam mujizat dan rahmat penguatan pada mereka, agar mereka betul-betul setia hingga Engkau sendiri memanggil mereka dan menganugerahi mahkota martir penuh kemenangan iman. Ya Tuhan kami percaya bahwa justru dalam kemalanganlah maka Kekuatan-Mu akan semakin nyata terlihat. Dan bagi mereka para penganiaya dan pembunuh itu ya Tuhan, kiranya ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Sebab Engkaulah Kristus Tuhan yang sudah wafat namun bangkit untuk menyelamatkan hidup kami, yang berkuasa kini dan selama-lamanya. Amin.

(Rk)