Surat Vikjen untuk Umat Beriman dalam Merayakan Rabu Abu 18 Februari 2015 dan Imlek 19 Februari 2015

384
Surat Vikjen untuk Umat Beriman dalam Merayakan Rabu Abu 18 Februari 2015 dan Imlek 19 Februari 2015
Silahkan memberi Rating!
Para Pastor ytk., dan Seluruh Umat Beriman Allah
Melalui email ini kami kirimkan Surat Vikjen dan lampiran tentang usul bagi umat beriman dalam menghormati dan merayakan Imlek (19 Februari 2015) yang malam perayaannya bertepatan dengan hari Rabu Abu (18 Februari 2015).
Terima kasih 🙂
Salam,
Felix Iwan Wijayanto
Sekretaris DKP
Sekretariat Dewan Karya Pastoral (DKP)

Keuskupan Agung Jakarta
Gedung Karya Pastoral lt. 1
Jl. Katedral 7 Jakarta 10710
Telp. 021-3519193

Surat Edaran Usulan ini Tidak Boleh Dipotong-Potong!

2015-01-21 Surat Vikjen ttg Imlek

Usulan untuk disampaikan kepada Umat beriman yang masih Menghormati dan Merayakan Imlek

Bagaimana menjawab pertanyaan umat tentang Rabu Abu yang bertepatan dengan malam tahun baru Imlek 2015?

  1. Dialog dengan Budaya Tionghoa

Gereja Katolik sangat mendukung makna peristiwa budaya Imlek yang masih dihayati oleh sebagian orang Tionghoa yang beragama Katolik. Ada makna hormat kepada Tuhan, leluhur dan sesama manusia (yang lebih tua), Syukur, persaudaraan, berbagi dan solidaritas terhadap sesama yang menderita. Berbicara tentang malam Imlek, ada berbagai kebiasaan bagi penganut agama Konfusianisme. Ada yang berkumpul bersama keluarga di Rumah untuk berdoa kepada Tien (Tuhan) bersyukur atas tahun yang berlalu dan mohon bimbingan untuk ditahun mendatang. Sepanjang pengetahuan yang amat terbatas, biasanya orang Tionghoa pada malam itu ciacay tidak makan makanan yang berjiwa (Daging dll). Maksudnya adalah supaya membersihkan diri dalam rangka menyambut tahun baru Imlek. Saling mengucapkan selamat tahun baru dilakukan pada hari raya Imlek (tgl 19 Feb 2015, keesokan hari) setelah sembayang di Klenteng-klenteng dan berbagi rezeki kepada kaum papa. Biasanya merayakan Imlek sambil makan-makan bersama keluarga besar di rumah orang tuanya (anak tertua kalau orang tuanya sudah meninggal) dan berbagi Angpao.

Mengenai kebiasaan makan bersama dengan keluarga di malam Imlek, tidak diketahui kapan kebiasaan itu muncul (perlu pengkajian lebih lanjut).

  1. Usulan Solusinya :

Diharapkan umat beriman mempertimbangkan dialog dengan budaya Tionghoa ini. Semoga umat beriman semakin dewasa dalam memilah mana yang bermakna dari suatu ajaran Gereja dan Budaya. Oleh karena itu kami menawarkan arahan sebagai berikut, Rabu Abu, tgl 18 Febuari 2015 tetap berjalan seperti biasa dan perayaan Imlek dirayakan  pada keesokan harinya. Umat tetap berpuasa dan pantang. Makan kenyangnya di malam Imlek bersama keluarga dengan pantang Daging, atau Rokok atau ikan atau Jajan, silahkan umat berdiskresi sendiri. Pada hari raya Imlek umat beriman bisa makan bersama keluarga dalam persaudaraan setelah beribadah.