Paus Fransiskus: Evolusi Itu Riil dan Tuhan Bukanlah Penyihir

126
Paus Fransiskus: Evolusi Itu Riil dan Tuhan Bukanlah Penyihir
Silahkan memberi Rating!

 

 

1354064Paus-Baptis-Bayi780x390

Paus Fransiskus kembali melemparkan pernyataan-pernyataan progresif saat mengemukakan pidato pada Pontifical Academy of Sciences, Selasa (28/10/2014). Paus menyinggung teori Big Bang serta menyampaikan dalam pertemuan di Vatikan itu, bahwa tak ada kontradiksi pada keyakinan akan Tuhan dengan teori-teori ilmiah umum perihal ekspansi evolusi alam semesta kita.

“Waktu kita membaca kisah Penciptaan dalam kitab Kejadian, kita menghadapi resiko memikirkan Tuhan juga sebagai seseorang penyihir, yang dengan suatu tongkat sihir dapat melakukan semuanya. Tetapi, itu tidak selalu demikian, ” kata Fransiskus. ” Dia (Tuhan) membuat manusia serta membiarkan mereka berkembang sesuai hukum internal yang Dia berikan pada masing-masing orang hingga mereka mencapai kepenuhan panggilanNya.”

Paus tak menyinggung permasalahan pelik (sekurang-kurangnya untuk beberapa orang Kristen) berkenaan apakah manusia berasal dari kera.

Golongan ateis memiliki pendapat bahwa pemahaman perihal Big Bang serta apa yang nampak dari peristiwa kosmik itu telah menyingkirkan keyakinan pada suatu hal yang Ilahi. Berkenaan hal semacam itu, Fransiskus terang tak sepakat. Dia mengulangi ide perihal Tuhan bukanlah “pesulap”, satu entitas yang menyihir seluruhnya jadi ada, semuanya selalu ada proses terlebih dahulu.

“Tuhan bukanlah seseorang dewa atau penyihir, namun Pencipta yang bikin semua hal jadi hidup,” kata Bapa Suci. “Evolusi di alam tak bertentangan dengan ide penciptaan lantaran evolusi membutuhkan penciptaan makhluk yang berevolusi.”

Dengan kata lain, meminjam ide dari zaman Pencerahan, Tuhan lebih kepada seorang pembuat jam daripada tukang sihir. Pemikiran sejenis itu bukanlah hal baru untuk Gereja Katolik, yang sepanjang enam dekade, mulai sejak reformasi Paus Pius XII, sudah mensupport kepercayaan bakal evolusi yang teistik.

Suatu artikel th. 2006 di harian paling utama Vatikan juga menghindari Gereja Katolik dari ide perihal “teori design yang cerdas”, yang disebutkan tak bisa di ajarkan di sekolah-sekolah sebagai ilmu pengetahuan. Catholic News Service, yang merangkum artikel itu, menuturkan apa yang membedakan pemikiran Vatikan dari pemahaman yang lebih sekuler perihal evolusi.

Apa yang Gereja tegaskan yaitu bahwa hadirnya manusia mengandaikan satu aksi yang berniat dari Tuhan, serta bahwa manusia tak dapat cuma dipandang juga sebagai product dari suatu sistem evolusi, kata artikel itu. Unsur spiritual manusia tidaklah suatu hal yang dapat di kembangkan dari seleksi alam, namun membutuhkan satu ” lompatan ontologis “.

Pendahulu Fransiskus yang lebih konservatif, yakni Paus Benediktus XVI, berpedoman pandangan ini serta memiliki pendapat bahwa perbincangan di kelompok orang Amerika pada golongan kreasionis serta mereka yang mensupport evolusi “tak masuk akal”. Pada th. 2007, dia ajukan pertanyaan, kenapa “Beberapa orang yang yakin pada Sang Pencipta tak dapat mengerti evolusi, serta mereka yang mensupport evolusi mesti menyingkirkan Tuhan?”

Pada hari Selasa itu, Paus Fransiskus juga mengemukakan suatu ensiklik kecil perihal hak-hak orang miskin, ketidakadilan berkenaan pengangguran, serta pentingnya perlindungan lingkungan. Ia menyatakan bahwa dia tak tengah berkhotbah perihal komunisme, namun perihal Injil. Dia menyampaikan, orang miskin perlu tanah, atap diatas kepala mereka, serta pekerjaan. Dia tahu benar bahwa “bila saya mengulas hal semacam ini, sebagian orang bakal memikirkan bahwa Paus itu komunis. Dan mereka salah”.

“Mereka tak tahu bahwa kasih pada orang miskin adalah pusat dari Injil,” tuturnya. “Menuntut hal semacam ini tak mengagumkan, karena ini adalah Ajaran Sosial Gereja.”

Pernyataan Fransiskus pada World Meeting of Popular Movements itu di sampaikan dalam bahasa ibunya, yakni Spanyol, setebal enam halaman, dengan spasi tunggal. Fransiskus sudah dicap marxis oleh beberapa komentator konservatif AS berkenaan kritik kerasnya perihal ekses kapitalis, permintaannya bahwa pemerintah harus mendistribusikan faedah sosial pada mereka yang memerlukan, serta seruannya pada gereja untuk jadi “gereja miskin, dan untuk orang miskin”. (internasional.kompas.com)