Sinode berakhir dengan mempertegas ajaran Gereja

129
Vincent Kardinal Nichols dari Westminster, Inggris, berbicara dengan Raymond Kardinal Burke, pejabat Vatikan.
Sinode berakhir dengan mempertegas ajaran Gereja
Silahkan memberi Rating!
Vincent Kardinal Nichols dari Westminster, Inggris, berbicara dengan Raymond Kardinal Burke, pejabat Vatikan.
Vincent Kardinal Nichols dari Westminster, Inggris, berbicara dengan Raymond Kardinal Burke, pejabat Vatikan.
 
 

Setelah beberapa hari perdebatan terkait laporan pertengahan sinode, Sinode Uskup tentang Keluarga menyepakati dokumen akhir berdasarkan pada ajaran Gereja. Namun, Sinode itu gagal mencapai konsensus mengenai pertanyaan-pertanyaan terutama isu-isu kontroversial seperti umat Katolik bercerai dan menikah lagi secara sipil lalu menerima Komuni, serta pelayanan pastoral bagi pasangan sejenis.

Diskusi-diskusi di aula Sinode telah memanas setelah  laporan pengantar jangka menengah pada 13 Oktober menggunakan bahasa yang kurang etis terhadap orang-orang dengan cara hidup bertentangan dengan ajaran Gereja, termasuk umat Katolik bercerai dan menikah lagi secara sipil, kumpul kebo dan pernikahan sesama jenis.

Ringkasan dari diskusi kelompok, yang diterbitkan pada 16 Oktober, menunjukkan mayoritas Bapa-Bapa Sinode menginginkan dokumen akhir untuk lebih mempertegas ajaran Gereja dan memberi perhatian lebih pada keluarga-keluarga yang hidupnya mengikuti ajaran Gereja.

Laporan akhir, dimana Bapa Suci memerintahkan untuk diterbitkan menyusul kesimpulan sinode, menampilkan lebih banyak kutipan dari Kitab Suci, serta referensi pada Katekismus Gereja Katolik dan ajaran Beato Paus Paulus VI, Santo Yohanes Paulus II, dan Paus Emeritus Benediktus XVI.

Bapa-Bapa Sinode memilih pada masing-masing dokumen dengan 62 paragraf. Mayoritas menerima semuanya, tapi tiga Bapa Sinode tak setuju, namun telah mendapatkan dua pertiga mayoritas yang biasanya diperlukan untuk persetujuan dokumen sinode.

Dua dari paragraf tersebut berhubungan dengan sebuah proposal dari Walter Kardinal Kasper dari Jerman yang akan membuat lebih mudah bagi umat Katolik bercerai dan menikah lagi secara sipil lalu menerima Komuni. Dokumen itu mencatat perbedaan pendapat tentang topik dan direkomendasikan akan dikaji lebih lanjut.

Bagian dokumen tentang homoseksualitas, yang juga mendapat persetujuan supermayoritas, secara signifikan mengubah laporan paruh sinode.

Judul asli – “menyambut kaum homoseksual” – diubah menjadi “pelayanan pastoral kepada orang-orang dengan orientasi homoseksual.”

Pastor Federico Lombardi, juru bicara Vatikan, mengatakan kepada para wartawan bahwa tidak ada supermajoritas menunjukkan kurangnya konsensus dan membutuhkan diskusi lebih lanjut, namun ia menekankan bahwa tidak ada dokumen yang menjadi beban doktrinal.

Laporan akhir sinode akan berfungsi sebagai agenda untuk Oktober 2015 berkaitan dengan sinode dunia tentang keluarga, yang akan membuat rekomendasi kepada Bapa Suci.

Paus Fransiskus mengatakan ia menyambut ekspresi tak setuju dari sinode itu.

Sementara meyakinkan majelis bahwa kesatuan Gereja tidak dalam bahaya, Paus Fransiskus memperingatkan terhadap beberapa godaan yang katanya telah hadir selama dua minggu sinode.

Uskup Agung Joseph E. Kurtz dari Louisville, Kentucky, ketua presiden Konferensi Waligereja Amerika Serikat, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia “bersyukur bahwa klarifikasi dan pendalaman refleksi alkitabiah dan teologis muncul secara konsisten” melalui laporan akhir. (ucanews.com)