Surat Keluarga Oktober 2014: “BUDI PEKERTI MEMBUAT KELUARGA KATOLIK BERCAHAYA”

247
Surat Keluarga Oktober 2014: “BUDI PEKERTI MEMBUAT KELUARGA KATOLIK BERCAHAYA”
Silahkan memberi Rating!

 
 

090212-edutaiment2

Dalam suatu kesempatan, seorang ibu mengeluhkan teman anak-anaknya yang setiap kali bermain di rumahnya. Bukan karena mereka banyak saja, tetapi mereka dianggap tidak sopan dan sangat buruk tingkah lakunya kepada orang yang lebih tua. Sering ia mengeluh pada anaknya sendiri yang bingung antara membela teman-temannya atau membenarkan kata-kata ibunya yang memang telah diterapkan di  rumah itu.

Setiap kali masuk rumah, anak-anak usia belasan tahun itu hanya berkata, “Hai Tante!” pada si ibu. Kemudian anak anak itu tak peduli lagi dengan keberadaan si empunya rumah dan langsung main beberapa alat musik di rumah itu.  Mereka juga makan minum di ruangan musik dan meninggalkan kotoran yang banyak di situ. Jika kekurangan makanan, mereka ambil sendiri makanan di kulkas tanpa bicara apa apa, meskipun si ibu ada di sekitarnya. Tentu hal ini membuat si ibu jengkel dan menyampaikan hal itu pada anaknya.

Apakah ini suatu generation gap? Apakah ini karena mereka masih berusia 14 tahun? Apakah ini karena si ibu yang terlalu menuntut dan kurang mengerti anak-anak remaja? Ataukah ada suatu proses belajar yang hilang dalam diri anak anak remaja itu? Kita sering menjumpai dan maklum dengan tingkah laku anak-anak itu kereta menganggap mereka belum dewasa. Akhir-akhir ini rentang ketidaksopanan dan ketidakmengertian anak-anak akan tata krama atau etiket bergaul dengan orang yang lebih tua bisa lebih luas lagi.

Banyak juga para OMK di tingkat mahasiswa tidak mengerti bagaimana bergaul dengan orang yang lebih tua. Beberapa dari mereka bahkan tidak tahu melobi, menghibur, meminta sesuatu, dan memberi salam pada orang tua. Masalah dengan orangtua mereka sendiri banyak terjadi. Seringkali dugaannya adalah soal lingkungan yang membuat tidak sopan atau soal “anak-anak sekarang”. Masalah tidak sesederhana itu : menyalahkan suatu masa dan berhenti berusaha.

Jika anak remaja mulai tidak bisa diajak berbicara, melawan tanpa alasan, atau bahkan sering “kabur-kaburan” dari rumah, maka Anda mempunyai masalah dengan mereka. Anak-anak perlu mendapat pola pendidikan nilai dan relasi di rumah. Mereka tidak mendapatkannya dengan sempurna di luar rumah, karena lingkungan luar adalah lapangan praktik, bukan tempat belajar pertama. Tempat pertama adalah bersama keluarganya.

Pendidikan etiket atau tata Krama adalah pendidikan yang sangat halus yang harus dilatihkan di rumah, sebagai tempat pertama pendidikan terjadi. Anggapan bahwa anak dan orangtua adalah sahabat tidak sama dengan menyingkirkan pelajaran menghormati orangtua seperti kebiasaan orang Indonesia pada umumnya. Persahabatan anak dan orangtuanya adalah suatu status mental, bukan suatu cara bergaul orang-orang seusia atau teman sekelas.

Bayangkanlah jika anak Anda memegang kepala Anda karena jengkel atau marah. Atau meninju Anda karena kecewa permintaannya tidak dipenuhi? Apakah Anda akan merasa malu atau biasa-biasa saja? Jika Anda merasa malu, berarti cara didik Anda belum tepat. Inilah yang saya maksudkan dengan perbedaan antara status mental sebagai sahabat dan cara bergaul yang seharusnya. Lihatlah ayat dalam Amsal 15:20: Anak yang bijak menggembirakan ayahnya, tetapi orang yang bebal menghina ibunya.

Keluarga-keluarga Katolik yang terkasih, ketika seorang anak merasa tidak ada batas antara dirinya dengan orangtua, barangkali mereka akan kehilangan hormat juga pada nasihat dan pengaruh baik dari orangtuanya. Masa pendidikan moral dan etiket anak jadi terganggu. Yang saya maksudkan bukanlah soal kegembiraan atau fun di rumah karena anak-anak dan orangtua dekat saja. Ini adalah persoalan pendidikan moral dan nilai.

Justru ketika kita menempatkan diri sewajarnya sebagai orangtua, anak anak selain mendapat pendidikan yang wajar, juga mendapatkan cara bergaul denga orang tua atau orang yang lebih dewasa yang lain dengan lebih baik. Penempatan ini membuat anak anak sadar tempatnya. Mereka akan tahu bahwa mereka perlu bertingkah laku tertentu agar dapat bergaul wajar dengan lingkungan sekitarnya.

Anak-anak Katolik harus belajar menjadi anak-anak yang tahu tata karma, terdidik dalam pergaulan dan akhirnya menjadi anak-anak yang berbudaya Indonesia yang benar. Hal ini berguna bagi anak-anak kita agar mereka dapat belajar sesuatu yang berguna dari orangtuanya. Hal ini nanti akan berujung juga pada hal iman keluarga. Kitab Amsa mengingatkan kita juga dalam Amsal 10:1: Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya.

Pendidikan iman bukanlah hal yang tidak mungkin atau amat sulit dilakukan. Orangtua akan mudah mengajarkan apa saja jika mereka mempunyai wibawa sebagai orangtua yang dapat diteladani. Saat itu tidak akan dapat digantikan oleh orang lain. Mengerti bagaimana membangun hubungan yang sewajarnya. Kalau dulu orangtua menggunakan kekerasan atau sikap otoriter, sekarang dengan keteladanan dan kewajaran bergaul orangtua-anak.

Saat ini sedang dimulai sinode luar biasa tentang keluarga di Roma. Bapak Uskup Ignatius Suharyo juga menghadirinya. Semoga Bapak Uskup membawa “oleh-oleh” istimewa untuk seluruh keluarga di Keuskupan Agung Jakarta ini. Semoga Anda semua juga menjalankan hidup berkeluarga dengan baik dan disiplin. Melakukan kewajiban agama dan melakukan hukum kasih dengan rajin.

Semoga bulan Maria juga menyemangati setiap kita untuk bersikap iman yang teguh, tak tergoyahkan dan berani mengambil bagian dalam penyebaran iman di dalam keluarga kita masing-masing dan lingkungan sekitar. Tuhan memberkati

Mzm.119:2: Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,

Rm. Alexander Erwin MSF