Kebaktian Kepada Hati Yesus Yang Mahakudus

326
Kebaktian Kepada Hati Yesus Yang Mahakudus
Silahkan memberi Rating!

Artikel Renungan Uskup Agung Jakarta, Mgr. I Suharyo ini, telah diterbitkan dalam Edisi Cetak Info Gembala Baik Agustus 2014. Silahkan lihat versi PDF-nya di Info Gembala Baik 07/03/2014

HATIKUDUSYESUS

Kebaktian kepada Hati Yesus Yang Mahakudus tersebar luas berdasarkan penglihatan-penglihatan yang diterima oleh Santa Margareta Maria Alacoque (1647-1690). Kebaktian ini terpusat pada “HATI”, yang memberi tempat luas untuk perasaan dan afeksi. Pengalaman dan perasaan manusiawi Yesus, khususnya kesengsaraan-Nya direnungkan dengan rasa haru dalam waktu yang lama, sampai seakan-akan orang beriman sendiri merasakan luka-luka tubuh dan jiwa Kristus dalam jiwa dan badan mereka sendiri. Orang terharu terutama karena kesengsaraan jiwa Yesus menunjukkan bahwa cinta-kasih-Nya yang tanpa batas tidak diterima oleh orang-orang berdosa. Oleh karena itu tumbuh keinginan dan kehendak yang sangat  kuat untuk membalas kasih Yesus dengan cinta-bakti yang bernyala-nyala.

Setelah Paus Pius IX (1856) memasukkan pesta Hati Kudus Yesus ke dalam penanggalan liturgi, beberapa Paus menulis  ensiklik berkenaan dengan pesta ini. Salah satu yang paling penting ialah yang ditulis oleh Paus Pius XII, yang menyatakan bahwa sembah bakti kepada Hati Kudus Yesus sangat bernilai dan penting dihayati oleh orang beriman.

Bentuk-bentuk kebaktian yang biasa dijalankan ialah Pesta Hati Yesus Yang Mahakudus,  (sejak Pius IX), perayaan hari Jumat pertama (sejak St.Margareta Maria Alacoque) yang terdiri dari jam kudus (dilakukan pada hari Kamis malam menjelang Jumat pertama) untuk mempersatukan diri dengan Yesus yang menderita dan ditinggalkan seorang diri di taman Getsemani, Misa dan komuni silih atas dosa terhadap Yesus dalam Sakramen Mahakudus yang tidak diperhatikan atau malahan dilukai Hati-Nya oleh dosa-dosa.

Salah satu teks Kitab Suci yang sangat erat berkaitan dengan hari raya ini ialah Yoh 19:31-37, yang menceritakan lambung Yesus ditikam, dan dari sana mengalir darah dan air (19:34). Peristiwa ini begitu penting dan ditekankan oleh Yohanes sampai ia mengatakan: “Dan orang yang melihat  hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya” (19:35). Peristiwa ini menjadi lambang yang menyatakan arti wafat Yesus di kayu salib, yang dapat dimengerti dengan baik kalau kita dapat menangkap lambang-lambang yang dipakai.

Pesta Hati Kudus mengajak kita untuk merenungkan sejarah hidup kita sebagai sejarah Allah yang memper-hati-kan kita dengan kasih-Nya yang tidak mengenal batas. Kasih itu tidak membiarkan kita berjalan menurut arah yang kita pilih sendiri. Kasih Allah mendidik kita, seperti dulu kasih yang sama mendidik umat Allah Perjanjian Lama (Hos 11:1-9) agar kita berani mengarungi samudera kehidupan. Kasih itu mendorong dan menggerakkan hati kita, agar kita pun selalu siap untuk membagikan kasih. +Mgr. Suharyo (**)