KEHENINGAN SUMBER JAWABAN SEJATI

197
KEHENINGAN SUMBER JAWABAN SEJATI
Silahkan memberi Rating!

Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) pada 20/ 05, merayakan Hari Komsos sedunia ke-46 bersama pegiat komunikasi paroki, kategorial dan para artis. Secara lebih khusus lagi dalam perayaan  ini digelar pula  kegiatan pemberian penghargaan berjudul INMI (Inter Merifika) Awards. Penghargaan ini ditujukan bagi media komunikasi berupa majalah maupun warta mingguan paroki dengan berbagai kategori. Ada kategori sampul (cover) terbaik, ada tulisan feature terbaik dan lain-lain.

Sebelum pagelaran ajang INMI Award, acara dimulai dengan misa meriah dipimpin Mgr. Ign. Suharyo, uskup KAJ didampingi koselebran Rm. Harry Sulistio, Pr, ketua Komsos KAJ dan Rm. Steven, Pr yang juga pegiat Komsos KAJ.

Mengawali kotbahnya Mgr. Ign. Suharyo mengajukan pertanyaan, mengapa hari Komunikasi Sosial selalu dirayakan seminggu sebelum hari Pentakosta? “Ini mengingatkan kita semua akan mandat perutusan Gereja supaya kita pergi ke seluruh dunia untuk mewartakan kabar gembira. Agar kita dapat mewartakan kabar gembira ini dengan baik maka kita perlu memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dan benar sehingga pewartawaan kita dapat diterima dengan baik. Supaya jangkauan pewartaan kita bisa lebih meluas kita perlu memanfaatkan peralatan komunikasi modern sebaik mungkin,” ungkap Mgr. Suharyo.

Mgr. Suharyo juga mengatakan bahwa tugas pewartawan ini begitu penting. “Karena itulah setiap tahun Paus menyiapkan pesan khusus dalam rangka peringatan hari Komsos sedunia,” tegas Mgr. Suharyo. Pada tahun ini Paus Benediktus XVI mengambil tema yang sangat spesifik yaitu Keheningan dan Kata Menuju Evangelisasi.

Merenungkan tema ini, kata Mgr. Suharyo, saya langsung teringat pengalaman beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke sebuah rumah retret.  Uskup tiba di rumah retret dimaksud sudah malam sekitar pukul 21. Sehingga rumah retret itu sudah gelap. Tetapi di beberapa sudut ada nyala lilin. “Saya mendekat ke lilin tersebut ternyata di sana ada seorang remaja laki-laki duduk sendirian dan sibuk menulis sesuatu di atas buku catatannya. Lalu saya bertanya sedang mengapain sendirian di kegelapan ini? Rupanya si remaja ini sedang mengikuti sebuah pembinaan rohani.  Kepada setiap peserta dipersilahkan berdiam diri di tempat masing-masing tanpa penerangan kecuali terang lilin. Setelah itu mereka diminta menuliskan pengalaman apa saja yang mereka dapatkan selama berdiam diri itu. Entah itu digigit nyamuk, entah itu rasa takut karena gelap atau apa saja yang penting mereka menuliskan segala sesuatu yang mereka rasakan.

“Pengalaman ini sangat luar biasa, karena kepada para remaja itu sejak dini telah diajarkan untuk berani berdiam diri dan menuliskan pengalaman, perasaan-perasaan selama berdiam diri itu. Ini sebuah pembinaan yang penting,” lanjut Mgr. Suharyo.

Mengapa penting berdiam diri? Dalam keadaan diam seseorang akan bisa merasakan dan mengalami jerit batinya yang terdalam secara bening dalam hening. Pada saat itulah sebenarnya setiap pribadi dapat melihat dengan jelas tujuan hidupnya dengan jelas.

“Diam itu  ibarat air keruh dalam sebuah gelas yang didiamkan. Hanya dalam satu malam akan terjadi pemisahan antara air bening dengan kotorannya. Saat diam dalam keheningan itu pula kita kita dapat mengenali apa yang sedang kita alami dan yang sedang terjadi di sekitar kita. “Saat itu kita akan bisa sampai melihat apa yang hakiki dan sejati atau melihat lebih dalam dari apa yang kelihatan,” tandas Mgr. Suharyo.

Karena itulah Rasul Johannes mengatakan :”Kami telah melihat dan menyaksikan bahwa Bapa telah mengutus anakNya. Padahal di tempat lain dia mengatakan bahwa tidak mungkin melihat Allah. Kesaksian Johannes inilah merupakan buah dari keheningan dan olah batin,” ungkap Mgr. Suharyo.

Tetapi Mgr. Suharyo juga mengatakan bahwa diam dalam keheningan juga bisa menimbulkan rasa gelisah dan  takut. “Mungkin kegelisahan saat diam inilah yang dimanfaatkan dunia hiburan, sehingga orang yang kesepian sering lari ke tempat-tempat hiburan. Padahal hiburan itu hanya menghilangkan kegelisahan sesaat, bukan yang sejati,” tegas Mgr. Suharyo. Karena itulah Uskup sangat menekankan keberanian kita untuk berdiam diri dan mengenali dan menyadari persoalan kita yang sesungguhnya dan yang sejati dan benar.

Yesus sendiri pun telah mengajarkan hal itu dalam Injil. Setiap kali Dia menyisihkan waktunya untuk pergi ke tempat sunyi untuk berdoa.

Selesai misa, seluruh hadirin diundang untuk menyaksikan pemberian INMI Award 2012. Hajatan yang diawali dengan makan malam bersama ini pun ternyata dihadiri juga beberapa artis katolik seperti  Lisa Aryanto, Mpok Hindun Fanny Rahmasari (MC), Bernadetha Cinta “Mama Mia”, dan tentunya juga para pengiat Komsos dari paroki-paroki Sekeuskupan Agung Jakarta.

Sonar Sihombing