Hari Studi KAJ: “Ikuti Arahan Data Statistik KAJ”

862
Vikjen KAJ, Rm. Subagyo, Pr saat sedang berbincang dengan Ibu Ery Seda, Salah satu narasumber.
Hari Studi KAJ: “Ikuti Arahan Data Statistik KAJ”
Silahkan memberi Rating!
Vikjen KAJ, Rm. Subagyo, Pr saat sedang berbincang dengan Ibu Ery Seda, Salah satu narasumber.

Berpastoral berdasar data sudah menjadi komitmen Keuskupan Agung Jakarta. Data-data sudah dikumpulkan dari paroki-paroki sekeuskupan. “Kita sudah menetapkan Arah Dasar Pastoral 2010-2015. Mudah-mudahan dengan data-data kuantitatif statistik dan kualitatif yang bersumber dari umat lewat proki masing-masing, kebijakan yang kita tempuh bisa sesuai dengan kebutuhan riil,” ungkap Vikjen KAJ, Rm. Yohannes Subagyo, Pr.
Membaca dan memaknai data-data itulah yang dilakukan oleh sosiolog UI Francisia SSE Seda pada Hari Studi Komisi-Komisi KAJ, 17 Maret 2012 lalu di Aula Paroki St. Theresia, Jakarta. Pertemuan ini dihadiri perwakilan dari seluruh Komisi yang ada di KAJ dan dibuka resmi oleh Vikjen KAJ Rm. Yohannes Subagyo, Pr.
Banyak informasi menarik yang diungkap Francisia dari data-data statistik yang dia , dapatkan dari Sekretariat KAJ itu. Dari data 2005 – 2007 yang kemudian dilengkapi data 2010 dan bahkan data 2012 Francisia membuat analisis sosiologis yang dia sebut sebagai Gambaran Umum Gereja Katolik KAJ.
Secara umum perkembangan umat katolik di KAJ sebenarnya tidaklah mencolok yaitu :

Tahun-Total (Jiwa)
2005 : 445.288
2006 : 447.857
2007 : 448,754*)
2010 : 468,928**)

Sumber : Gereja KAJ: Anlisis Sosiologis
*) jumlah paroki KAJ : 59 paroki
**) jumlah paroki KAJ: 61 paroki

“Jumlah warga katolik di KAJ tidaklah signifikan bila dibanding dengan jumlah penduduk Jakarta yang sudah mencapai 12 juta jiwa. Sehingga kekhawatiran berbagai pihak akan laju perkembangan umat katolik di KAJ saya kira tidaklah berdasar,” ungkap Francisia.
Data per 2012, di KAJ ada 62 paroki yang terdiri dari 8 dekanat. Sebanyak 43 paroki berada di wilayah DKI Jakarta , 8 paroki di wilayah Bekasi (Jawa barat) dan 12 paroki di Tangerang (Provinsi Banten).
Perkembangan umat katolik di KAJ juga bisa dilihat dari data penerima sakramen baptis. Peserta baptis usia 0-7 tahun lebih besar dibanding peserta yang berusia di atas 7 tahun. Penerima sakramen baptis pada 2007 yang 0-7 tahun mencapai 7.071 jiwa sedangkan di atas 7 tahun (permandian dewasa) 5.188 jiwa.
Dari data baptisan usia diatas 7 tahun memperlihatkan bahwa peserta baptis ini kebanyakan kedua orang tuanya non katolik (2.427 jiwa), yang salah satu orangtuanya katolik 907 jiwa dan yang kedua orang tuanya katolik 756 jiwa. “Artinya secara menyeluruh peserta baptis di KAJ masih didominasi warga katolik sendiri,” tegas Francisia.
Data penerima sakramen perkaawinan juga menunjukkan pernikahan antar katolik jauh lebih besar dibanding katolik dengan agama lain. Angka statistik 2007 menunjukkan bahwa perkawinan antar sesama katolik 2.917 orang, antar katolik dan kristen 721 orang, antar katolik dengan Islam 233 orang, katolik dengan Budha 460 orang. Tetapi ada perkawinan antara katolik dengan katekumen sebanyak 114 orang, katolik dengan Khong Hu Chu hanya 22 orang. “Artinya data ini menunjukkan hanya 114 orang yang pindah ke katolik karena perkawinan,” jelas Francisia.
Justeru yang menjadi menarik dari data-data yang ada adalah persebaran umat katolik yang terjadi KAJ. “Umat katolik saat ini berkembang pesat di pinggiran Jakarta. Sebalik justeru jumlah umat di DKI menurun. Itu diperlihatkan data-data jumlah umat di paroki berikut ini,” ujar Francisia.

Dekanat – Jumlah Umat (jiwa)
Jakarta Pusat :  26.897
Jakarta Utara : 58.982
Jakarta Selatan : 32.577
Jakarta Barat I : 21.225
Jakarta Barat II : 87.046
Jakarta Timur : 58.209
Bekasi : 77.906
Tangerang : 106.086

Dari data di atas terlihat bahwa umat di dekanat Tangerang yang terdiri dari Paroki Bintaro, Bintaro Jaya, Ciledug, Ciputat, Citra Raya, Curug, Karawaci, Pamulang, Serpong dan Tangerang terdapat jumlah umat terbesar yaitu 106.086 jiwa. Ini berarti hampir ¼ atau tepatnya 22,6% dari total umat katolik KAJ.

“Bahkan lebih spesifik lagi paroki dengan jumlah umat terbesar di KAJ adalah Paroki Serpong sebanyak 22.830 jiwa, kemudian diikuti Paroki Tangerang 21.828 jiwa dan posisi ketiga adalah di Paroki Bekasi dengan jumlah umnat paroki 21.748 jiwa,” jelas Francisia.
Dekanat Jakarta Barat II merupakan wilayah terbesar kedua dengan jumlah umat 87.046 jiwa. Di dekanat ini tercakup Paroki Bojong Indah, Cengkareng, Grogol, Kapuk, Kedoya, Kosambi, Meruya, Tomang. Sebagian sudah masuk Provinsi Banten.
Sedangkan dekanat Bekasi merupakan dekanat dengan jumlah umat terbesar ke-3 di KAJ.
Secara sosiologis menurut Francisia ada berbagai hal menarik yang bisa diungkapkan dari persebaran umat ini dan bahkan bisa menjadi dasar utama dalam pelayanan pastoral KAJ. “Apakah paroki dengan jumlah umat di bawah 5.000 jiwa masih perlu diperhatikan? Atau perlu dimerger dengan paroki yang berdekatan guna mengefektifkan pelayanan para romo dan sumberdaya lainnya,” gugat Francisia.
Dari hasil penelitian di Paroki Bekasi, menjelang perayaan Paskah seperti saat ini para romo di paroki ini kewalahan meski sudah dilayani oleh empat orang romo. “Untuk pengakuan dosa seorang romo bisa 6-7 jam duduk di kamar pengakuan,” ungkap Francisia.
Menurut analisis Francisia, semakin besarnya jumlah umat KAJ di pinggiran Jakarta khususnya di sebelah Timur dan Barat Jakarta karena di wilayah ini terdapat kawasan industri dan berbagai perusahaan. “Disana menumpuk umat katolik yang menjadi karyawan maupun buruh yang merupakan urbanisasi dari berbagai daerah. Di lain pihak semakin banyak keluarga muda Jakarta yang mengambil perumahan di pinggiran karena belum mampu menjangkau harga rumah di DKI karena begitu mahal,” jelas Francisia.
Di lain pihak fenomena ini mungkin membuat warga non katolik wilayah pinggir Timur dan Barat DKI merasa terancam dengan berkembang pesatnya umat katolik di wilayah mereka. “Maka terjadilah berbagai permasalahan sosial seperti gangguan terhadap pelaksanaan ibadat dan semakin susahnya ijin pendirian rumah ibadat bahkan gangguan secara fisik,” jelas Francisia.
Data lain yang dibahas adalah keberadaan para imam dan peran awam di dalam kegiatan menggereja di KAJ.
Peran para katekis semakin penting apalagi dengan keterbatasan jumlah para imam di KAJ. “Tren keterbatasan imam ini tampaknya akan masih berlanjut karena semakin susahnya menarik pemuda-pemudi Jakarta menjadi imam, bruder maupun suster,” ungkap Francisia. Pada 2007 jumlah seminaris hanya 87orang demikian juga seminari tinggi hanya 83 orang.
Keinginan mengandalkan peran katekis di KAJ tampaknya juga masih berat. Karena dari 1.179 orang katekis pada 2007 yang purna waktu hanya 24 orang selebihnya hanya paruh waktu. “Kalau kita benar-benar mau mengikuti arah dasar pastoral 2010-2015 maka peran katekis ini harus mendapat perhatian. Sebab merekalah perpanjangan tangan para imam untuk menyampaikan ajaran agama katolik. Sehingga sasran untuk memperdalam iman akan Yesus dalam Ardas 2010-2015 bisa terujud,” ungkap Francisia.
Dari data para imam yang ada terlihat KAJ masih sangat tergantung kepada imam-imam tarekat. Jumlah imam diosesannya sangat sedikit. Data 2012 memperlihatkan total imam di KAJ 325 orang dengan penugasan di paroki 156 orang dan 159 orang imam non paroki. Dari 325 jumlah imam di KAJ hanya ada 52 orang imam diosesan. Sisanya adalah imam dari 20 tarekat. “Masih perlu upaya lebih besar lagi untuk terus mengembangkan panggilan di KAJ dan menarik mereka menjadi imam diosesan,” ungkap Francisia.
Dari berbagai hal yang diungkapkan dari data-data statistik ini romo Vikjen Yohannes Subagyo, Pr berharap bisa diaplikasikan dalam berbagai kebijakan di KAJ.

Sonar Sihombing