Beriman Untuk Bertindak Adil

178
Beriman Untuk Bertindak Adil
Silahkan memberi Rating!

Pada 20 Februari, dunia memperingati Hari Keadilan Sosial. Dalam kesempatan itu pun Sekretaris Jenderal PBB, Boom Kim-aan menyerukan agar semua umat manusia berupaya mewujudkan keadilan social.

Meskipun bukan dalam rangka memperingati Hari Keadilan Sosial, pada misa novena ke-7 dalam rangka Perayaan 100 Tahun Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan juga mengambil tema “Beriman Untuk Bertindak Adil”. Keadilan sudah menjadi barang yang sangat mahal dewasa ini. Bertindak sebagai konselebran utama dalam misa novena ke-7 adalah Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta.

Dalam kotbahnya Mgr. Suharyo menandaskan bahwa keadilan adalah buah dari keutamaan-keutamaan  iman yang berasal dari Yesus sendiri. “Kalau iman layu muncullah kenistaan/ketidakadilan. Karena itu kita perlu mengenal dengan baik siapa Yesus yang menjadi sumber iman kita,” ungkap Mgr. Suharyo.

Lebih jauh Uskup menjelaskan siapa Yesus itu. “Yesus adalah tabib yang menyembuhkan. Ia menyembuhkan orang buta, orang tuli, orang kusta dan macam-macam. Tetapi adalah bagian kedua dari lebar kehidupan Yesus. Sebelumnya Yesus adalah salah satu dari pembaptis setelah dibaptis oleh Yohannes,” lanjut Uskup.

Tetapi mengapa Yesus mau dibaptis  oleh Yohannes Pembaptis bukan pembaptis lain?  Menurut Mgr. Suharyo ada dua alas an mengapa Yesus mau dibaptis oleh Yohannes. Pertama, karena Yohannes membaptis sebagai tanda pertobatan. “Pertobatan itu berlaku harus dilakukan oleh setiap orang dan tidak mengecualikan para pejabat dan petinggi. Jadi sifatnya inklusif,” jelas Mgr. Suharyo.

Kedua, baptisan Yohannes diikuti oleh persyaratan perubahan hidup. Sementara baptisan yang dilakukan oleh pihak lain hanya sekedar mengikuti ibadat. ”Tak heran banyak yang bertanya kepada Yohannes apa yang harus mereka lakukan setelah dibaptis. Kepada pemungut  pajak Yohannes mengatakan jangan menarik pajak lebih dari yang diharuskan. Kepada prajurit Yohannes mengatakan jangan memeras.”

Menurut Mgr. Suharyo, kegiatan membaptis pun sempat juga dilakukan oleh Yesus. ”Lihatlah, orang yang engkau baptis dahulu (baca : Yesus), sekarang telah membaptis di  seberang sana  dan orang berbondong-bondong mengikutinya,” ungkap murid Yohannes kepadanya.

Namun, kegiatan membaptis ini tidak lama diemban oleh Yesus. Pada lembaran kedua kehidupanNya, Yesus justeru lebih mewartakan Kerajaan Allah dengan mengadakan penyembuhan. Hal ini Dia tempuh karena melihat kondisi masyarakat Israel saat itu yang sangat memprihatinkan. ”Dimana-mana terjadi ketidak adilan. Rakyat menderita dan miskin karena sistim yang berlaku.  Dia hendak menerjang ketidak adilan itu,” jelas Mgr. Suharyo.

Rakyat miskin karena harta mereka dirampas oleh serdadu Romawi. ”Agama pun ikut menindas rakyat. Rakyat miskin disebut karena Allah tidak mencintai mereka. Orang penyakitan, bisu-tuli atau kusta karena Allah mengutuk mereka. Situasi inilah yang menggerakkan Yesus untuk meujudkan keadilan,”  lanjut Uskup.

Terutama hal itu dilihat Yesus ketika orang miskin menyumbangkan semua uangnya di bait Allah. Sementara para polisi bait Allah selalu mencari-cari cacat   hewan kurban yang dibawa umat untuk dipersembahkan (disembelih) sehingga terpaksa mengganti dengan hewan kurban yang diperdagangkan di halaman bait Allah itu. ”Disini harga menjadi sangat mahal. Artinya bait Allah hanya monopoli orang yang mampu membeli hewan kurban yang super mahal itu. Kondisi inilah yang membuat Yesus sangat marah dan mengusir para pedagang itu,” ungkap Mgr. Suharyo.

Di lain pihak ini pula yang menjadi awal ketidak senangan banyak pihak terutama para pemimpin dan pemuka agama yang kehilangan pendapatan. Inilah yang mengancam hidup Yesus, tetapi, lanjut Uskup,  Yesus tidak takut dia tegar untuk menampilkan wajah Allah. ”Umat berdosa tetapi diampuni. Ketidakadilan dijawab dengan cinta kasih. Jadi Yesus tidak berhenti pada mencari kebenaran saja tetapi diikuti dengan pengampunan. Demikian juga keadilan dicari tetapi tidak hanya berhenti pada mencari keadilan melainkan diikuti dengan cinta kasih.

Mgr. Suharyo pun menceritakan contoh kongkrit mengnai mencari kebenaran dan keadilan tetapi tidak berhenti disitu saja melainkan dilanjutkan dengan pengampunan dan kasih. ”Kisah ini luput dari pemberitaan media massa. Di kota Prabumulih, Sumatera Selatan beberapa waktu lalu ada pengadilan terhadap seorang  nenek yang diajukan ke pengadilan karena mencuri ketela sebuah perusahaan besar,” ungkap Uskup.

Rupanya sang nenek mencuri ketela dari perkebunan sebuah perusahaan besar dan ketahuan. Padahal si nenek terpaksa mencuri ketela itu karena anaknya sakit dan cucunya kelaparan.

Oleh sang direktur perusahaan si nenek ditangkap dan dibawa ke polisi dan akhirnya disidang di pengadilan. Oleh jaksa penuntut umum si nenek didakwa bersalah dan harus dihukum untuk memberi pelajaran bagi orang lain juga. Si nenek dituntut penjara  tiga bulan atau bayar denda Rp1 juta.

Sang hakim pun akhirnya memutuskan si nenek dihukum sesuai tuntutan jaksa. Tetapi hakim tidak berhenti disitu. ”Karena kita telah membiarkan nenek ini kelaparan maka kita pun dihukum Rp50.000 per orang,” tegas hakim.  Sang hakim melepas toganya dan memasukkan uang Rp1 juta  ke bentangan toga itu. Kemudian dia menyuruh panitera untuk mengumpulkan denda dari semua pengunjung yang ada di ruang sidang ke dalam bentangan  toga sang hakim termasuk dari direktur perusahaan dan para jaksa penuntut. Setelah dihitung uang terkumpul sebesar Rp3,5 juta. Kemudian Rp1 juta dibayarkan sebagai hukuman bagi sang nenek dan sisianya Rp2,5 juta diberikan kepada sang nenek.

”Semoga dalam menegakkan keadilan kita tidak berhenti hanya sekedar mencari kebenaran dan keadilan, melainkan harus dilanjutkan dengan pengampunan dan kasih. Kasih dan pengampunan adalah juga inti iman kita.  Hanya dengan demikianlah keadilan sosial akan bisa terujud,” tandas Mgr. Suharyo. Selamat meujudkan keadilan sosial…!

 

 

Sonar Sihombing