Misa Buka Tahun Bersama Eks Seminari Indonesia

219
Misa Buka Tahun Bersama Eks Seminari Indonesia
Silahkan memberi Rating!

Bertempat di Aula Seminari Menengah Wacana Bakti, Jakarta (22/1), eks seminari dari seluruh Indonesia berkumpul dan misa bersama dalam rangka buka tahun 2012. Dalam  wadah Paguyuban Gembala Utama (PGU) para mantan seminaris bersama-sama dengan keluarganya hadir dalam misa yang dipersembahkan oleh  Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo, Pr. Misa mengambil tema : “Teman Seperjalanan Selamanya!”

Meski berlangsung sederhana dan hanya setengah hari, namun ada semangat yang selalu dihidupkan oleh para eks seminari. Menjadi kader katolik yang 100% Indonesia dan 100% katolik. “Dalam paguyuban ini para eks seminari akan berupaya mengawal gereja dan mendampingi para imam kita. Agar kasus seperti yang terjadi di Gereja GKI Yasmin Bogor tidak sampai menimpa gereja kita,” ungkap Putut Prabantoro, eks seminari Mertoyudan yang menjadi ketua umum PGU.

Putut mengakui bahwa PGU  selama ini  hanya paguyuban eks seminari Mertoyudan. “Tetapi sejak tahun lalu, para pendiri PGU seperti Yakob Oetama, sudah menyatakan PGU terbuka untuk seluruh eks seminari se-Indonesia. Sebab dengan latar belakang pendidikan seminari umumnya  memiliki kemiripan semangat. Semangat seminari inilah yang ingin kita bawa dan kembangkan dalam kehidupan bergereja dan  berbangsa,” harap Putut.

Lebih jauh Trian Koentjoro yang juga alumni Seminari Mertoyudan dan kini wakil pemimpin redaksi Kompas mengatakan sebagai alumni seminari kita memiliki tiga tugas utama yaitu :

  • Membantu seminari dalam bentuk apapun sesuai kemampuan dan keadaanmu
  • Ikut meneguhkan dan menyemangati para pastor dengan menyapa mereka pastor setempat kemana pun kita berkunjung.  Itu namanya menjadi teman seperjalanan selamanya
  • Membangun dan merajut hubungan eks seminari (PGU) seluas-luasnya. Hanya dengan kekuatan jaringan ini kita bisa mempertahankan dan memperjuangan  keberadaan gereja kita di bumi pertiwi ini. Kita bisa berjuang bersama-sama.

Sedangkan dalam kotbahnya Mgr. Suharyo menekankan betapa pentingnya terus menghidupkan semangat ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. “Dalam ekaristi hanya ada 4 (empat) kata yang selalu diulang-ulang yaituYesus mengambil : roti, memberkati, memecah-mecahkan dan membagi-bagikan,” jelas Mgr. Suharyo.

 Sebagai manusia yang terpilih menjadi murid dan pengikut Kristus kita adalah roti ekaristi yang istimewa. Sebagai roti kita terberkati karena mendapat penebusan Kristus.   Tetapi berkat yang kita dapatkan itu  bukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Kita akan dipecah-pecah artinya kita   harus rela berkorban seperti Yesus mengorbankan diri demi keselamatan umat manusia. Berkat yang dipecah-pecah itu kemudian dibagi-bagikan.

“Jadi segala yang kita miliki bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk dibagikan dengan sesama. Inilah artinya kita menjadi teman seperjalanan selamanya. Artinya kita harus jadi martir, rela dipecah-pecah dan dibagi-bagikan atau rela berkorban. Dua kata kunci terakhir (dipecah-pecah dan dibagi-bagikan) memang yang terberat bagi kita,” tandas Mgr. Suharyo. Mgr. Suharya mengatakan salah satu contoh kongkrit pengorbanan itu adalah berkorban demi meujudkan cita-cita komunitas PGU ini. “Inilah salah satu tugas perutusan kita sebagai pengikut dan murid-murid Kristus sesuai dengan kisah pemanggilan para  murid Kristus dalam Injil hari ini ,” tandasnya.

Menurut Mgr. Suharyo ceita tentang panggilan para murid Kristus sudah biasa kita baca atau dengar karena Injil ini sudah berulang kali kita baca maupun dengar. Tetapi apa yang membuatnya menjadi menarik adalah ketika merenungkan kisah panggilan kita masing-masing.

Saya pernah dengar dan ceritakan kisah panggilan iman seorang gadis cilik siswi kelas I SMP bernama Agnes.  Gadis bertubuh kecil bila dibandingkan dengan teman seusianya, lahir dalam keluarga yang beda agama. Ibunya katolik dan ayahnya non katolik. Naas Agnes kecil sudah ditinggal meninggal ibunya ketika dia berusia satu bulan.  Dia pun dibesarkan oleh kakek dan neneknya yang beragama katolik.

Kemalangankembali  menimpa hidup Agnes. Ketika dia duduk di kelas VI neneknya meninggal mengikuti kakeknya yang sudah lebih dahulu meninggal. Ayahnya yang sudah menikah kembali denganibu tirinya yang  agama non katolik menjemputnya.  “Kalau mau ikut saya harus ikut dan turut segalanya kepada saya termasuk masalah agama!”

Agnes kecil hanya bertahan tiga hari di rumah ayah dan ibu tirinya. Setelah itu dia minggat tanpa tahu kemana harus pergi. Ketika  sore hari pelariannya, dia sudah kecapaian. Dia terduduk di tepi jalan dan terus menerus menangisi nasibnya. Sepasang suami-istri rupanya memperhatikan dari jauh Agnes kecil ini. Karena hari semakin larut malam dan Agnes tetap terduduk di tempatnya, pasangan suami-istri itu akhirnya mendekati Agnes dan mengajaknya ke rumah mereka.

Setelah mendengarkan kisah Agnes, pasangan suami istri menawarkan diri menjadi orang tua asuh Agnes dan tinggal di rumah itu. Agnes segera menerima tawaran itu karena pasangan suami istri itu adalah pasangan katolik. “Kisah ini diceritakan oleh Romo paroki Janggor Klaten kepada saya ketika Agnes akan menerima krisma lima tahun lalu,”  jelas Mgr. Suharyo.

Rupanya pastor paroki tersebut sempat juga menanyakan apa alasan Agnes sehingga memutuskan meninggalkan rumah ayah dan ibu tirinya.  Jawaban Agnes sangat polos : ”Kalau saya di rumah ayah dan ibu tiri saya siapa yang akan mendoakan kakek, nenek dan ibu saya? Kalau saya di rumah ayah dan ibu tiri saya saya nggak mungkin ke gereja,” jelas romo paroki mengutip pernyataan Agnes.

“Inilah jawaban yang tulus dan sederhana tetapi menunjukkan dan menggambarkan iman Agnes yang sangat mendalam dan kesadarannya akan ekaristi yang dia terima setiap minggu di gereja. Belum tentu setiap orang bisa menjawab pertanyaan ini dengan sejelas jawaban Agnes termasuk kalau diajukan kepada saya,” tandas mgr. Suharyo. Inilah iman yang hidup dan menghidupi.

Dalam kesempatan itu juga pengurus PGU meminta pengalaman dari masing-masing eks seminari mengenai apa saja yang telah mereka lakukan terhadap almamaternya. Tergambar bahwa perahatian alumni seminari terhadap almamaternya sangat besar. Berbagai upaya penggalangan dana diupayakan untuk menunjang kegiatan di almamaternya masing-masing.

Sonar Sihombing.